Artikel

Sejarah Periode Bapa-bapa Gereja: Sebuah Gambaran Singkat

Pada bulan Februari sampai Mei, buletin PILLAR akan membahas tema besar mengenai “Sejarah Gereja”. Periode yang dibahas adalah mulai dari zaman Bapa-bapa Gereja, Medieval, Reformasi, dan sampai abad sekarang.

Melalui sejarah Gereja, kita akan sama-sama melihat pimpinan dan pemeliharaan Tuhan yang begitu nyata atas Gereja-Nya. Berbagai perubahan zaman telah dilalui, lengkap dengan segala jenis keunikan dan tantangannya. Gereja telah dan terus-menerus ditopang dari berbagai bentuk penganiayaan, ajaran sesat, hinaan kaum-kaum yang menolak firman Tuhan, dan segala kerusakan moral. Melalui artikel ini, mari kita sama-sama menghitung kembali dan mensyukuri anugerah Tuhan yang begitu indah dan besar atas Gereja-Nya.

Introduksi: Periode Para Rasul
Periode para rasul adalah suatu periode di mana Gereja mulai berkembang dengan begitu pesat. Salah satu titik awal dari pelonjakan signifikan ini adalah ketika tiga ribu orang memberi diri untuk dibaptis setelah mendengar khotbah Petrus. Setelah itu, jemaat mula-mula terbentuk, dan mereka terus-menerus bertambah secara jumlah. Pola perkembangan jumlah yang meningkat pesat tidak hanya terjadi pada bangsa Yahudi, melainkan juga pada bangsa-bangsa lain. Dalam aspek ini, Rasul Paulus merupakan alat yang begitu luar biasa dipakai Tuhan untuk terus memberitakan Injil di daerah Asia Kecil, Makedonia, dan Akhaya.

Di sisi lain, tantangan demi tantangan mulai dihadapi oleh jemaat mula-mula. Mulai dari pelayanan kepada janda-janda yang agak terabaikan, penganiayaan yang dimotori oleh orang-orang Yahudi, dan berbagai penyesatan yang menyusup masuk dalam jemaat. Tidak heran, dalam perpisahannya dengan penatua di Efesus, Rasul Paulus memperingatkan bahwa akan masuk serigala-serigala yang ganas dan tidak menyayangkan kawanan jemaat. Bahkan dari kalangan jemaat sendiri akan muncul guru-guru palsu yang akan menarik murid-murid dari jalan yang benar. Rasul Yohanes juga memberi peringatan akan munculnya Antikristus, yakni mereka yang menyangkal Yesus Kristus dan memberitakan berbagai macam dusta.
Penyebaran dan Perkembangan Gereja pada Abad Satu sampai Tiga
Perkembangan kekristenan di abad-abad awal tidak bisa dilepaskan dari diaspora yang tertulis dalam Kisah Para Rasul 8. Penganiayaan yang terjadi ternyata membawa berkat terselubung. Para jemaat yang tadinya terpusat di Yerusalem akhirnya tersebar di seluruh daerah Yudea dan Samaria. Mereka yang tersebar tetap melanjutkan pemberitaan Injil di daerah di mana mereka berada. Kita bisa melihat bagaimana Filipus akhirnya memenangkan daerah Samaria dan seorang sida-sida dari tanah Etiopia. Tuhan juga memakai Apolos, seorang Yahudi yang berasal dari Alexandria, untuk mengajar, memberitakan firman, dan menjadi orang yang sangat berguna bagi jemaat. Ia tidak jemu-jemu membantah orang-orang Yahudi di muka umum dan membuktikan dari Kitab Suci bahwa Yesus adalah Mesias.

Pada tahun 80-an, sebagian besar rasul sudah mati martir. Pada masa-masa ini, murid para rasullah yang akhirnya dipakai Tuhan untuk meneruskan perjuangan bagi Kerajaan Allah. Sebagai contoh adalah Ignatius dari Antiokhia dan Policarpus, yang keduanya merupakan murid langsung dari Rasul Yohanes. Dari periode ini sampai sekitar tahun 325 M sering disebut sebagai periode “Anti-Nicene Fathers” atau “Early Christianity”. Selain murid-murid langsung dari para rasul, Tuhan juga membangkitkan dan memakai hamba-hamba-Nya dari berbagai daerah lain. Buletin PILLAR pada edisi bulan Mei sampai Agustus 2012 telah membahas dengan lebih detail setiap tokoh-tokoh tersebut, seperti Irenaeus, Justin Martyr, Cyprianus, dan Clement dari Roma. Tokoh-tokoh tersebut memiliki peranan penting, khususnya dalam menghadapi ajaran-ajaran sesat yang terus menyusup ke dalam Gereja. Ajaran-ajaran sesat tersebut antara lain Marcionisme, Valentinianisme, dan Gnostisisme.

Dalam penyebarannya, gereja-gereja di berbagai lokasi telah dirintis. Yerusalem yang menjadi pusat perkembangan pertama, justru terus-menerus mendapatkan berbagai tantangan. Tahun 70-an, Yerusalem diserang dan dihancurkan oleh Roma. Bahkan pada abad kedua, Kaisar Hadrianus membangun kembali Yerusalem (yang juga mereka beri nama Aelia Capitolina) menjadi kota pagan untuk penyembahan dewa-dewa. Di Antiokhia, para pengikut Kristus untuk pertama kalinya disebut sebagai Kristen. Diduga kuat bahwa Injil Matius ditulis di kota Antiokhia. Untuk gereja di kota Roma, sangat mungkin bahwa gereja sudah berdiri bahkan sebelum Paulus mengunjungi Roma. Priskila dan Akwila yang adalah rekan sekerja Paulus juga berasal dari kota Roma. Clement dari Roma adalah salah satu pemimpin yang memiliki pengaruh dan meneruskan perjuangan para rasul. Ia pernah menuliskan surat yang bersifat pastoral kepada jemaat Korintus sehubungan dengan isu perpecahan yang sebelumnya juga pernah diangkat oleh Rasul Paulus. Didorong oleh Amanat Agung dari Yesus Kristus, orang-orang Kristen terus memberitakan Injil sampai daerah Persia, India, Etiopia, Arab, Armenia, Yunani, dan Siprus.

Desert Fathers & Gothic Christianity
Pada awal abad ketiga, mulai berkumpul sekelompok orang yang hidup sebagai biarawan di padang gurun Mesir. Cara hidup mereka begitu ketat dan penuh dengan penyangkalan diri. Mereka menolak segala jenis kenyamanan, bahkan sampai kepada hal yang sebetulnya lumrah seperti makan, mandi, dan istirahat. Disiplin yang tinggi, ketaatan penuh, kehidupan menyendiri, jam doa dan puasa yang panjang adalah beberapa ciri khas kumpulan ini. Kelompok ini sering disebut sebagai “Desert Fathers”. Salah satu tokoh yang paling terkenal adalah St. Antonius. Perkumpulan yang awalnya informal ini akhirnya terus bertambah secara jumlah dan menjadi cikal bakal Christian Monasticism. Gerakan ini mencapai puncaknya pada zaman Middle Ages di mana kehidupan membiara begitu diagungkan dan sangat dihormati.

Pada abad yang sama, juga terjadi penangkapan orang-orang Roma oleh kaum Goth. Suku Goth adalah suku yang berasal dari daerah bagian timur Jerman. Sandera dari insiden ini termasuk juga orang-orang Kristen. Namun melalui hal ini, justru terjadi asimilasi antara orang Kristen dengan kaum Goth. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, hampir sebagian besar kaum Goth menjadi orang Kristen. Gothic Christianity merupakan cikal bakal kekristenan bagi orang-orang Jerman.

Periode “Early Christianity” diakhiri dengan peristiwa Kaisar Konstantin yang menetapkan Kristen menjadi agama negara. Sejak saat itu, kekristenan memasuki suatu babak baru, yakni periode “The First Seven Ecumenical Councils”.

Refleksi
Melalui sejarah Gereja, kita bisa melihat kisah perjuangan para pahlawan iman, orang-orang yang terus bekerja keras untuk mempertahankan iman yang sejati kepada Kristus. Mereka tidak kenal lelah dan tanpa henti terus mengajar dan memberitakan Injil, tanpa takut penganiayaan besar yang menanti di depan mereka. Sebagian besar telah mencurahkan darahnya sebagai martir karena menolak untuk menyembah dewa-dewa dan kaisar. Di masa-masa awal yang begitu sulit inilah kekristenan justru terus berkembang. Semakin banyak orang mau mengikut Kristus dan rela mati mempertahankan iman. Justru suatu hal yang ironis terjadi ketika Konstantin mulai mengangkat kekristenan menjadi agama resmi negara. Mulai banyak orang yang menjadi Kristen dengan hati yang tidak murni yang akhirnya malah merusak kekristenan dan membuat kekristenan menjadi lumpuh.

Kita juga bisa menghayati cara hidup para Desert Fathers yang kental dengan penyangkalan diri. Mungkin kita merasa cara hidup seperti ini sudah tidak relevan dan begitu jauh dari konteks kita sekarang. Terlebih lagi, bisa saja kita justru menghina atau melayangkan kritik atas cara hidup mereka yang ekstrem dan menyiksa diri. Namun justru sebaliknya, kehidupan para Desert Fathers seharusnya menjadi cermin bagi kita sekarang. Sekali lagi kita bisa merenungkan dan mengoreksi diri mengenai berbagai macam hal yang sangat mungkin menggantikan posisi Kristus sebagai pusat hidup kita. Jangan-jangan kita sudah menjadi begitu terbiasa menukar posisi Tuhan, sehingga kehidupan yang menyangkal diri menjadi terasa begitu aneh bagi kita. Kehidupan para Desert Fathers juga bisa menjadi inspirasi bagi kita untuk hidup lebih sungguh-sungguh, berkomitmen, dan menaati Tuhan. Semoga artikel singkat ini bisa mengajak kita untuk sama-sama merenungkan dan mensyukuri penyertaan Tuhan yang begitu nyata atas Gereja-Nya sepanjang sejarah, khususnya dalam periode-periode awal perkembangannya.

Juan Intan Kanggrawan
Redaksi Bahasa PILLAR

Referensi:
http://www.ccel.org/s/schaff/history/About.htm
http://www.chinstitute.org/index.php/eras/early-church/
http://www.theologywebsite.com/history/

Juan Intan Kanggrawan

Februari 2013

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Nama
Kota
Alamat imel
Pastikan alamat imel anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui imel.
 
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk KKR Regional 2014 yang akan dilaksanakan di berbagai tempat di Indonesia untuk menyambut tahun ajaran baru 2014/2015. Berdoa untuk setiap tim yang akan melayani daerah-daerah terpencil di berbagai tempat.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Hi Aba, Saya sangat melihat semangatmu untuk membela pekerjaan Tuhan... dan Saya juga sangat melihat betapa gigihnya...

Selengkapnya...

Halo Danny, Apakah ada bagian dari artikel ini yang merangsang munculnya pertanyaan tersebut? Jika ya, boleh...

Selengkapnya...

Syalom saya mau bertanya kepada penulis ini, apakah artikel ini bisa kami muat di majalah pemuda di Gereja kami?...

Selengkapnya...

DH, Sehubungan pernytaan Pdt. Stephen Tong sbb : 6) Sunday Sabbath (Sabat hari Minggu). Mrs. White menuduh Paus...

Selengkapnya...

Shalom Saudara terkasih dalam nama Tuhan Yesus. Ternyata amat sulit sekali untuk menjadi umat kristus yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2014 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲