Artikel

Semangat Perjuangan Reformasi dan Umat Allah

Sudah lebih dari 500 tahun sejak Reformasi terjadi, dan hari ini kita dapat merasakan dampaknya yang cukup luas baik secara teritorial maupun dalam aspek kehidupan. Bukan hanya di dalam aspek theologi dan keagamaan, bidang-bidang studi lain seperti sosial, sains, seni, dan lain-lain, tidak terlepas dari pengaruh Reformasi. Di satu sisi kita harus bersyukur atas pekerjaan Tuhan tersebut. Jikalau Reformasi tidak terjadi, banyak berkat dan anugerah Tuhan yang saat ini kita rasakan dan nikmati, mungkin menjadi tidak ada. Namun, di sisi lain kita pun tidak boleh tutup mata terhadap fakta kerusakan yang ada dalam kekristenan saat ini. Apresiasi kekristenan, khususnya Kristen Protestan, terhadap gerakan Reformasi makin memudar, tidak banyak yang masih berjuang mempertahankan kobaran semangat perjuangan para reformator pada saat itu. Ditambah dengan tantangan semangat zaman yang secara perlahan merusak cara pandang kehidupan dari orang-orang Kristen saat ini, khususnya generasi muda. Salah satu contoh yang kita dapat lihat adalah dalam hal kesadaran generasi muda Kristen saat ini untuk belajar theologi yang sangat rendah. Diperlukan usaha yang keras untuk mengumpulkan para pemuda untuk menghadiri seminar atau pembinaan iman Kristen di gereja-gereja. Seminar theologi yang bisa dihadiri oleh ribuan orang pada zaman ini sudah dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa, sedangkan di sisi lain masih jutaan orang Kristen “buta” theologi. Mereka bisa saja dengan fasih menghafalkan banyak ayat Alkitab, tetapi seberapa jauh mereka mengerti dengan benar ayat-ayat ini? Pertanyaan yang lebih tajam lagi, seberapa jauh mereka mengenal akan Allah yang dinyatakan oleh Alkitab?

Masalah lain pun muncul di dalam kelompok orang Kristen yang seolah terlihat serius belajar theologi. Mereka mungkin begitu fasih menjelaskan berbagai deskripsi doktrin iman Kristen, bahkan bisa dengan lihainya mematahkan setiap serangan pemikiran terhadap iman Kristen. Namun, kembali yang menjadi pertanyaan adalah seberapa jauh mereka benar-benar mengerti dan berelasi secara pribadi dengan Allah Sang Pemilik kebenaran itu sendiri? Seberapa jauh mereka memperjuangkan kebenaran yang mereka pahami itu untuk secara nyata dipaparkan dalam setiap aspek kehidupan mereka? Segigih apa mereka dalam memperjuangkan pemberitaan Injil, sehingga kebenaran itu tersebar luas dan dikenal oleh banyak orang? Kebenaran yang sejati seharusnya membawa manusia yang mengenal kebenaran itu memiliki kehidupan yang makin berkenan di hadapan Allah dan hidup yang makin berbuah menjadi berkat bagi orang-orang di sekitarnya. Sehingga di dalam konteks ini, semangat Reformasi yang membawa kita untuk makin mengerti kebenaran firman Tuhan, bukanlah semangat yang menjadikan kita seorang akademisi theologi yang mengerti kebenaran secara kaku. Pdt. Stephen Tong mengatakan bahwa semangat Reformasi adalah semangat “to bring the whole church with the whole heart back to the whole Bible”.

Jikalau kita berkaca kepada perjuangan para reformator dan tokoh-tokoh Reformed di dalam sejarah, kita akan melihat sebuah perjuangan yang sepenuh hati dari mereka. Mereka adalah orang-orang yang berani berdiri tegak memperjuangkan kebenaran meskipun ditentang dan diancam oleh gereja pada zaman itu. Ancaman yang mereka hadapi bukan sekadar hukuman penjara atau diasingkan saja, tetapi nyawa pun menjadi taruhan mereka. Mengapa mereka memperjuangkannya hingga sedemikian rupa? Karena mereka sudah mempersembahkan seluruh hati mereka kepada Tuhan dan dengan setia memperjuangkan kehendak-Nya terjadi di dunia ini. Kita harus mengapresiasi perjuangan mereka, dan mengadopsi semangat yang sama untuk kita bawa di zaman ini. Khususnya pada tahun ini kita merayakan 400 tahun Canons of Dordt, kita pun harus belajar dari semangat perjuangan mereka dalam mempertahankan kemurnian doktrin kekristenan. Di tengah ancaman politik dan sosial, mereka tetap berdiri teguh mempertahankan ajaran yang lurus sesuai dengan firman Tuhan.

Berdasarkan refleksi ini, kita perlu bertanya apa yang menjadi dasar pemikiran kita dalam menjalani kehidupan sebagai seorang Kristen, khususnya dalam menjalani semangat Reformasi ini? Hal ini tidak terlepas dari panggilan kita sebagai umat Allah. Jikalau kita mengingat kembali akan ini, kita harus menyadari bahwa hidup kita berada di dalam ikatan perjanjian dengan Allah. Hal ini berarti, seluruh hidup kita berada di dalam status sebagai hamba yang mengabdi kepada Allah sebagai tuan kita. Sehingga, seluruh hidup kita harus menjalankan kehendak-Nya. Di sisi lain, relasi perjanjian kita dengan Allah menjadikan relasi ini bukan sebuah relasi yang dijalankan secara terpaksa atau sebuah ikatan yang legalis dan kaku, melainkan relasi yang hidup sebagaimana dua pribadi berelasi secara dinamis. Allah yang kita percayai dan berelasi secara covenant ini bukanlah Allah yang hanya diam di takhta-Nya dan mengatur hidup kita secara semena-mena. Allah yang kita percayai adalah Allah yang bukan hanya besar dan agung, tetapi juga Allah yang berinkarnasi, sehingga kita bisa berelasi dengan-Nya.

Selain di dalam ikatan relasi covenant dengan Allah, kita pun Tuhan tempatkan di dalam suatu konteks zaman di mana kita harus bergumul dalam menjalankan hidup sebagai umat Allah. Konteks dan tantangan zaman yang kita hadapi pada saat ini berbeda dengan tantangan yang dihadapi oleh para reformator, ataupun tokoh-tokoh besar di dalam Alkitab. Namun, terdapat prinsip-prinsip kebenaran dan kehidupan yang bisa kita pelajari dari kehidupan mereka, sebagai bekal atau dasar bagi kita bergumul di zaman ini. Kita pun menyadari bahwa apa pun yang menjadi konteks pergumulan ataupun tantangan zaman yang kita hadapi pada saat ini, Allah kita tetap adalah Allah yang sama berdaulat dan berkuasanya baik seperti zaman para reformator maupun tokoh-tokoh Alkitab. Di dalam kedaulatan-Nya, Allah berkuasa untuk mengontrol pergerakan arus sejarah. Sehingga walaupun banyak kesulitan yang akan dihadapi, kita dapat tetap tenang karena seluruh pergerakan sejarah tetap berada di dalam kontrol Allah.

Hal lain yang harus kita mengerti di dalam semangat Reformed adalah menjadikan Alkitab sebagai dasar dalam melakukan segala sesuatu karena Alkitab adalah firman Allah. Semangat Reformasi adalah semangat yang ingin membawa kembali gereja kepada kebenaran Alkitab yang sejati. Sehingga setiap hal yang dilakukan dalam Gerakan Reformasi pasti didasarkan atas prinsip kebenaran firman Tuhan. Tidak ada sedikit pun keraguan terhadap keabsahan dari Alkitab. Bahkan, Alkitab dijadikan dasar dan cara pandang dalam melihat seluruh aspek kehidupan ini. Ketiga aspek inilah yang seharusnya menjadi pendorong kita di dalam berjuang di zaman ini. Kebenaran yang firman Allah sudah diberikan kepada kita, Allah yang berdaulat mengontrol situasi di mana kita berada, dan ikatan relasi perjanjian kita dengan Allah, ketiga hal ini menjadi dasar dalam menjalankan panggilan kita sebagai umat Allah di zaman ini.

Sebagai bagian dari Gerakan Reformed Injili, kita perlu menyadari bahwa kita dipanggil untuk menyatakan kehendak Allah di dunia ini, di mana pun Tuhan menempatkan kita. Jikalau kita bersungguh-sungguh menyerahkan seluruh hidup kita untuk menjalankan kehendak Allah, segala cita-cita dan ambisi pribadi harus kita kesampingkan dan dengan rela menjalankan panggilan yang Allah berikan kepada kita. Kita harus selalu ingat, ketika kita menyerahkan diri kita kepada Tuhan, di saat itu jugalah kita memutuskan untuk menjadikan Tuhan sebagai tuan atas diri kita, bukan diri ini yang menjadi tuan atas diri sendiri. Selain menyadari status dan keberadaan kita, dalam menjalankan panggilan ini kita pun harus menjadikan firman Allah sebagai dasar di dalam mengambil keputusan hidup. Kita tidak lagi mengandalkan rasio, logika, atau pengalaman hidup kita, tetapi kita menjadikan firman Allah sebagai prinsip yang mendasari dan mengarahkan seluruh keputusan hidup kita. Hal ini bukan berarti kita membuang segala pengetahuan yang kita sudah pelajari, tetapi kita harus menggunakan dan menaklukkannya di bawah kebijaksanaan firman Allah. Dan yang terakhir, kita harus bersandar sepenuhnya kepada Tuhan, karena Dia adalah Allah yang mengontrol seluruh pergerakan sejarah, maka kita harus berserah kepada-Nya dan peka terhadap setiap pimpinan yang Ia berikan kepada kita melalui Roh Kudus. Di dalam cara hidup seperti inilah, kita akan memiliki kehidupan yang makin hari makin mengenal Allah yang Alkitab nyatakan, bukan lagi hanya melalui pembelajaran theologi secara akademis, tetapi secara nyata kita alami di dalam kehidupan ini. Kiranya Tuhan menolong kita menjadi seorang Kristen yang mengenal Allah yang hidup dan dengan semangat yang murni menjalankan kehendak-Nya.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Oktober 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Syalom.......!!! Selamat siang pa saya mau inggin bertanya berkolaborasi dengan zaman milenial pa,pertanyaannya...

Selengkapnya...

Sebenernya simple mengenai ilmu tentang hidup. Ya kita harus terima kenyataan , dan kita harus punya tujuan hidup....

Selengkapnya...

maaf ternyata kesalahan pada setingan di komputer saya, syalom

Selengkapnya...

hurufnya sulit di baca... mungkin akan leih baik klw menggunakan huruf standart syalom TUHAN MEMBERKATI

Selengkapnya...

Sepertinya bagian Penutup tidak menjawab pertanyaan. Sy sebagai org awam yg mau datang kpd TY jadi bingung dengan...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲