Artikel

Seorang Anak telah Lahir

Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar. Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan. Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian. Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai. Besar kekuasaannya, dan damai sejahtera tidak akan berkesudahan di atas takhta Daud dan di dalam kerajaannya, karena ia mendasarkan dan mengokohkannya dengan keadilan dan kebenaran dari sekarang sampai selama-lamanya. Cinta[1] dari TUHAN semesta alam akan melakukan hal ini.” (Yes. 9:1-6)

Perikop di atas merupakan penglihatan Nabi Yesaya yang mungkin sering kita dengar menjelang Natal, simply karena perikop ini membicarakan kedatangan Sang Anak dan segala jabatan-Nya. Namun apa makna penglihatan ini bagi Nabi Yesaya dan bagi kita sekarang? Apa signifikansi kedatangan Sang Anak baik di dalam keseharian kita maupun dalam dunia ini?

Nabi Yesaya memberikan penglihatan yang mungkin agak aneh bagi kita di masa ini. Imajinasi mengenai pembebasan kaum yang tertindas dan damai yang mengakhiri segala perang berdarah, damai yang kekal dan menetap, bermunculan terus-menerus dalam perikop ini. Imajinasi yang tampaknya begitu sosialis ini begitu menggugah dan terlalu liar untuk dituliskan pada zaman itu, apalagi imajinasi ini menyangkut kuasa politik besar di belakangnya, Asyur.

Pada mulanya, Nabi Yesaya memulai nubuat ini dengan gambaran sosial yang terjadi pada masa itu: kelaparan, penjajahan, dan perbudakan. Gambaran ini masih kita alami dengan jelas di sekitar kita, bentuknya saja yang mungkin berbeda. Namun, Nabi Yesaya menutup semua gambaran tersebut dengan harapan mesianik. Ia membiarkan penglihatan tentang kelahiran Sang Anak dan penampakan damai Ilahi yang bersinar dengan terang ke dalam konflik dan keseharian kita.

Tidak mudah untuk melihat dimensi-dimensi yang ditunjukkan secara bersamaan ini ketika kita terbiasa memisahkan iman dari politik, Tuhan dari pengalaman kita, dan ketika seseorang terbiasa memasukkan dosa pada kategori moral pribadi, atau mungkin merayakan Natal hanya “di dalam hati” dan dalam lingkungan privat. Namun, pesan dari Nabi Yesaya adalah visi yang realistis, dan apa yang dibincangkan olehnya adalah realitas visioner sekaligus revolusioner. Penglihatan ini adalah pesan Natal untuk semua orang, pesan yang dikirim ke kamp-kamp orang buangan, dan ke daerah kumuh orang miskin dan papa. Ini adalah berita yang berisi perlawanan kepada para kapitalis, panglima besar yang bersenjata, dan fanatik akan kekuasaan, atas kuasa jahat yang mencengkeram. Dan jika kita benar-benar mengerti apa artinya berita ini, hati kita akan diarahkan kepada Yesus Sang Pembebas, dan kepada kaum yang hidup dalam kegelapan dan yang menunggu-Nya, bagi kita.

Bangsa yang Berjalan dalam Kegelapan (Yes. 9:1)
Bangsa yang berjalan dalam kegelapan, atau siapa pun yang pernah menjadi bagian darinya, akan menemukan bahwa berita mengenai kelahiran Sang Anak ini begitu tak terbayangkan, namun memikat. Bangsa yang berjalan dalam kegelapan: siapakah mereka? Pada zaman Nabi Yesaya, sebutan ini digunakan untuk orang-orang dari Israel yang telah jatuh ke bawah kediktatoran Asyur. Setiap orang Israel ini mengetahui dengan jelas derap langkah sepatu penyerang, mantel-mantel perang berlumur darah, dan tongkat sipir yang mendisiplinkan mereka. Hari ini kita masih dapat melihat gambaran pejuang Asyur dan para penindas melalui lukisan-lukisan dalam dinding gua, lengkap dengan sepatu besi, jubah, dan tongkat mereka. Tetapi bagi Nabi Yesaya, Asyur lebih dari sekadar Asyur. Ia adalah wakil dari kekuatan yang memusuhi Tuhan, kekuatan kosmis yang melandasi semua penindasan yang tidak manusiawi: dosa. Nabi Yesaya memang melihat penderitaan Israel, umat-Nya, tetapi di sini ia berbicara tentang kesengsaraan yang meluas, tentang pertarungan kosmis yang dialami oleh orang-orang di mana-mana. Itulah sebabnya kata-kata dan gambarnya begitu terbuka sehingga setiap orang di setiap zaman dapat menemukan diri mereka di dalamnya: terpuruk dan tertindas dalam dosa.

Bangsa yang berjalan dalam kegelapan–Yesaya 8 memberi tahu kita siapakah mereka: “Mereka akan lalu-lalang di negeri itu, melarat dan lapar, dan apabila mereka lapar, mereka akan gusar dan akan mengutuk rajanya dan Allahnya; mereka akan menengadah ke langit, dan akan melihat ke bumi, dan sesungguhnya, hanya kesesakan dan kegelapan, kesuraman yang menghimpit, dan mereka akan dibuang ke dalam kabut.” Tuhan menyembunyikan wajah-Nya dari mereka, kaum keturunan Yakub. Tetapi alih-alih menunggu cahaya-Nya, mereka lari ke peramal dan cenayang, yang membuat mereka bertambah bingung.

Bangsa yang berjalan dalam kegelapan: bangsa-bangsa ini masih berteriak di zaman ini, berharap akan pembebasan di tengah dunia yang terpecah. Dunia yang terpecah ini makin lama makin memenjara kita. Namun sang nabi berkata, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar” (Yes. 9:1). Kepada orang-orang inilah–pertama-tama bagi mereka–cahaya bersinar dengan begitu cemerlang. Kepada orang-orang ini, Sang Anak dilahirkan, untuk kedamaian manusia. Apakah kita berbagian dalam bangsa yang beroleh terang ini, atau kita tetap melekat pada terang kita sendiri? Atau pada para peramal dan penafsir hidup, kepada orang-orang yang memberi tahu apa yang ingin kita dengar tentang nasib dan harapan kita?
 
Kemenangan Tuhan: Seperti Panen, seperti Membagi Jarahan (Yes. 9:2)
Gambaran akan damai dan kemenangan yang diberitakan oleh Nabi Yesaya jauh berbeda dengan apa yang kita pikirkan. Kemenangan Tuhan tidak terjadi melalui seperangkat persenjataan terbaru, atau hoaks-hoaks politisi, atau melalui aliansi dari kamar-kamar dagang. Tuhan memiliki kemenangan Ilahi-Nya sendiri, kemenangan Tuhan akan mengakhiri semua perang manusia dan kemenangan ini akan terjadi sekali untuk selamanya. Ini adalah kemenangan akhir, yang melayani perdamaian, bukan yang mengarah kepada perang berikutnya, seperti kemenangan-kemenangan melankolis biasa. Kemenangan Allah menjadi akhir dari kemenangan manusia. Orang-orang kehilangan selera mereka akan perang dan pertikaian, akan perebutan kekuasaan (Kej. 3:5). Pedang-pedang akan diubah menjadi mata bajak (Yes. 2:4) dan perjanjian damai menggantikan senjata nuklir.

Tetapi bagaimana semua ini dapat terjadi? Bukankah kita memerlukan senapan dan pasukan “perdamaian” untuk melawan penindasan? Bagaimana penindasan dan perang dapat dilawan dan diatasi tanpa membawa penindasan dan perang baru ke dalam dunia?

Semua imaji yang digunakan Nabi Yesaya untuk menggambarkan kemungkinan pada masa depan pada akhirnya berpusat pada satu fakta: kelahiran Sang Anak (Yes. 9:5). Pelucutan senjata (Yes. 9:3), sukacita (Yes. 9:2), dan terang yang besar (Yes. 9:1) semuanya terlimpah pada kelahiran pembawa damai Allah.

Sebab Seorang Anak Telah Lahir untuk Kita (Yes. 9:5)
Kenyataan bahwa masa depan kita berada dalam genggaman tangan seorang Anak kecil menunjukkan bahwa masa depan kita sepenuhnya ada di dalam inisiatif Allah. Itulah mengapa semua gambaran yang diberikan sang nabi sangat berbeda dari rencana dan kemungkinan-kemungkinan manusiawi kita. Dari perspektif manusia, yang bisa kita lihat di sini hanyalah kelemahan dan ketidakberdayaan, bukan kebanggaan dan kejantanan palsu yang ditawarkan oleh dunia.

Kerajaan damai datang melalui seorang Anak, dan pembebasan diberikan kepada orang-orang yang terpikat dan menjadi seperti anak kecil (Mat. 18:3) dengan tanpa belas kasihan dan tanpa pertahanan, melucuti setiap senjata yang ada melalui ketidakberdayaan mereka, dan membuat orang lain tidak berdaya karena mereka memiliki daya tarik yang memikat hati setiap orang. Mereka menggunakan kasih untuk melawan perbudakan dan kuasa kegelapan!

Pemerintahan Ada di Atas Bahunya (Yes. 9:5)
Anak ini menjadi pembebas kita, dan membawa perdamaian baru bagi dunia. Itulah mengapa pemerintahan-Nya berarti hidup, bukan kematian; perdamaian, bukan perang; kebebasan, dan bukan penindasan. Pemerintahan terletak pada bahu Anak yang tak berdaya, tidak berdosa, serta penuh harapan dan karunia.

Hal ini membuat awal baru bagi masa depan yang penuh makna. Kaum tertindas akan bebas dari penindasan. Dan mereka juga akan bebas dari mimpi kegelapan, visi penjungkirbalikan kekuasaan (Kej. 3:5). Mereka akan berdiri dan bersukacita, dan sukacita mereka membebaskan mereka dari senjata brutal yang mereka buat sendiri, dari struktur-struktur penuh dosa yang mereka buat, dan kemanusiaan baru akan dimungkinkan di dalam-Nya, tiada tuan atau hamba, yang menindas atau yang ditindas. Semua ini adalah inisiatif Tuhan yang penuh anugerah.

Cinta dari TUHAN Semesta Alam akan Melakukan Hal Ini (Yes. 9:6)
Tidak ada inisiatif lain yang dapat kita ambil dengan jaminan mutlak, untuk diri kita sendiri atau untuk orang lain. Tidak ada semangat lain untuk pembebasan dunia di mana kita dapat menempatkan harapan tertentu, sekecil apa pun.

Tentu saja ada banyak gerakan lain, dengan semangat yang sangat kuat untuk pembebasan, bahkan gerakan ini merasuk ke dalam gereja sendiri! Banyak anggota gereja dengan jargon realistis mereduksi kedatangan dan kuasa transformatif Sang Anak ke dalam kacamata sosialis. Ada pula orang-orang yang berada dalam kegelapan yang melulu berharap pembalasan Tuhan akan kaum yang menindas mereka, menemukan kepuasan dengan harapan bahwa pada Penghakiman Terakhir, semua musuh tak bertuhan yang menindas kita di sini akan dilemparkan ke dalam api neraka. Tetapi kebahagiaan macam apa yang membuat orang membalas dendam dan membutuhkan erangan orang terkutuk sebagai latar belakang demi kegembiraannya sendiri? Tuhan mewujud dalam bentuk seorang anak, bukan sebagai algojo! Itulah sebabnya Ia berdoa di atas salib, “Bapa, ampunilah mereka; karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.” Cinta inilah yang dibawa oleh Sang Anak untuk mentransformasi dunia, melalui orang-orang yang terpikat oleh cinta-Nya yang membebaskan.

Dengan Keadilan dan Kebenaran (Yes. 9:6)
Kita harus tahu ini jika kita ingin mulai hidup bersama-Nya, bahwa Ia akan membangun “kedamaian di bumi,” dan Ia akan “menegakkan perdamaian dengan keadilan dan dengan kebenaran.” Tetapi bagaimana bisa perdamaian berjalan bersama dengan keadilan? Apa yang kita kenal pada umumnya adalah damai berdasarkan ketidakadilan, dan keadilan berdasarkan konflik. Kehidupan keadilan adalah perjuangan. Di antara kita, perdamaian dan keadilan dipermainkan oleh oknum-oknum yang berjuang demi kekuasaan. Jargon-jargon “make America great again” atau “make Indonesia great again” menghancurkan keadilan dan hak asasi. Ia membuat seakan-akan kelemahlembutan membuat perdamaian menjadi rapuh. Namun berbeda dari semangat dari orang yang haus kekuasaan, Sang Anak membawa kecemburuan-Nya yang penuh kasih sebagai kekuatan. Semua sendi-sendi yang telah dipisahkan, disatukan kembali di dalam-Nya, dalam kedamaian yang adil dan dalam hak atas perdamaian.

Kasih ini tidak berarti menerima pelanggaran keadilan “demi perdamaian”, seperti yang orang-orang katakan. Tetapi itu tidak juga berarti melanggar perdamaian orang lain demi hak kita sendiri adalah hal yang baik. Perdamaian dan kebenaran hanya akan menjadi satu ketika manusia-manusia baru dilahirkan, dan Tuhan, yang telah menciptakan segala sesuatu, merajai dengan adil ciptaan-Nya. Ketika Sang Anak adalah Tuhan di dunia, tidak seorang pun akan ingin menjadi tuhan dan tuhan bagi orang lain lagi.

Terang Itu Bercahaya (Yoh. 1:5)
Nabi Yesaya memberi harapan tak terperi ini kepada bangsa yang berjalan dalam kegelapan, dan kepada kita. Sayangnya ia hanya bisa melihat semua harapan ini dalam bayang-bayang saja: bayangan atas Anak Ilahi, yang lahir untuk kebebasan dunia; ia memanggilnya Penasihat Ajaib, Pahlawan Perkasa, Bapa yang Kekal, Pangeran Damai.

Perjanjian Baru memberitakan kepada kita siapa Anak itu. Ia adalah Yesus Kristus, anak yang lahir di palungan, pengkhotbah di atas gunung, orang yang disiksa di kayu salib, dan pembebas yang bangkit. Ia adalah terang yang bersinar yang menghalau setiap kegelapan dalam dunia ini: segala kuasa dosa dan kejahatan.

Terang ini telah berada di tengah kita dan kekuatan-Nya menembus segala dosa dunia yang kelam. Ia mentransformasi kita untuk dapat hidup bagi-Nya dan menyaksikan terang ini ke dunia, membawa kebenaran dan keadilan melampaui batas-batas yang ada, serta menyemai kasih dan perdamaian di dalam Injil Sang Anak.

Mari kita menyambut Natal dengan hati yang gentar. Kiranya cinta TUHAN semesta alam beserta kita. Imanuel. Amin.

Robin Gui
Pemuda FIRES

Endnote:
[1] LAI menerjemahkan קִנְאַ֛ת (qi’nat) sebagai cemburu.

Robin Gui

Desember 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

Apa indikator bahwa gerakan Pentakosta Kharismatik dapat disebut sebagai gerakan pemulihan berikutnya?

Selengkapnya...

Saya diberkati oleh tulisan ini. Tapi pada akhir-akhir tulisan ada bbrp hal yang mengganggu saya, kenapa tulisan2...

Selengkapnya...

Terimakasih atas renungannya sangata memberkati

Selengkapnya...

Terima kasih..sangat memberkati!

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲