Artikel

Seri Biografi Misionaris: William Chalmers Burns: Pahlawan Besar Tiongkok

William C. Burns (1815-1868) adalah anak ketujuh dari sepuluh bersaudara Skotlandia. Orang tuanya adalah orang yang saleh dan menarik. Orang-orang menggambarkan ayahnya sebagai orang yang “lemah lembut, terhormat, murah hati, penuh dengan pikiran-pikiran yang baik, kasih yang tulus, simpati yang segar dan hangat, bersungguh-sungguh tanpa kemuraman, periang, bahkan kadang-kadang santai namun tidak meremehkan.” Sedangkan ibunya sebagai orang yang “aktif, bersemangat, penuh kehidupan dan tidak bisa diam, matahari kegembiraan, dan malaikat rumah yang bersinar terang.” Bersama dengan orang tuanya, kerohanian Burns dibentuk melalui sesi setengah jam pembacaan Alkitab bersama sebelum sarapan dan jam-jam katekisasi serta doa yang teratur pada malam hari Sabat.

Meskipun demikian, saat Burns mulai dapat memutuskan sendiri menggapai cita-citanya, dia masuk ke profesi hukum dan mengabaikan harapan ayahnya untuk meneruskan pelayanan gerejawinya. Pertimbangan apakah yang dipikirkan Burns saat ingin menjadi pengacara? Yaitu pikiran mengenai pengacara yang kaya dan memiliki rumah bagus. Namun pimpinan Tuhan tidak mungkin kalah dari pemikiran serta keputusan manusia. Sebelum melanjutkan lebih jauh profesi hukumnya, Burns tergerak untuk menjadi pendeta dan mendaftar sebagai mahasiswa theologi di University of Glasgow. Setelah lulus dari Glasgow, di dalam proses panggilannya ini, Burns terus menggumulkan, mempersiapkan, dan menghargai panggilan sebagai penginjil ke mana saja gereja menempatkannya. Berapa lamakah Burns menunggu sampai bisa melakukan pekerjaan misionaris itu ke luar negeri? Hasratnya untuk mengabarkan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Kristus tertunda selama sembilan tahun. Pada waktu dalam penantiannya selama sembilan tahun, di berbagai tempat di Skotlandia dia bekerja keras dan belajar terus melayani Tuhan, sehingga ketika panggilan Tuhan itu tiba, dia dapat menjawab, “Aku di sini, utuslah aku.” Burns bisa saja dipilih ke India, Arab, Eropa, dan lain-lain. Namun Tuhan mengatur pelayanannya ke Tiongkok, sebagai ladang pelayanan terbesar di dunia.

Saat awal pelayanannya di Skotlandia, Burns dapat dikatakan sebagai seorang yang berkobar-kobar dalam menyatakan kehendak Allah. Dia berkhotbah secara tekun dan sungguh-sungguh dalam setiap perkataannya. Di dalam beberapa kesempatan ibadah, dia berkhotbah dengan luar biasa, menggugah para pendengarnya. Dia betul-betul mendesak orang-orang berdosa untuk segera berdamai dengan Kristus dan menerima tawaran pengampunan-Nya. Dalam satu kesempatan di kota Kilsyth, dia berkhotbah di sebuah tenda selama dua jam kepada kurang lebih 9.000 orang. Di lain kesempatan, Burns pernah khotbah di mana pendengarnya mayoritas adalah pendeta. Burns tidak ragu untuk mengadakan panggilan pertobatan kepada para pendeta yang hadir di sana. Bahkan, pernah suatu kali Burns mengadakan kebaktian di kota Dundee setiap hari selama berminggu-minggu, sehingga seluruh kota tergugah.

Burns memiliki hati seluas dunia. Dia pernah mengatakan, “Kerinduan hati saya adalah untuk pergi satu kali mengelilingi dunia sebelum saya mati, dan mengabarkan satu undangan Injil ke dalam telinga setiap makhluk.” Kalimat ini menjadi sebuah kenangan di hati orang-orang yang mengetahuinya. Dia ingin jadi berkat bagi banyak bangsa. Kerinduan hatinya ini dimulainya dengan berkhotbah di kota-kota Skotlandia. Setelah Dundee dan Kilsyth, dia mengadakan Kebaktian Kebangunan Rohani di Perth dan Aberdeen. Hal yang terjadi di Aberdeen sangat unik. “Khotbah-khotbah di hadapan banyak pendengar yang penuh memadati tiga gereja pada setiap hari Sabat; persekutuan-persekutuan doa di pagi dan sore hari, ceramah umum petang setiap hari sepanjang minggu, dan umumnya ditambah lagi satu jam konseling, pengajaran, dan doa bagi mereka yang karena kekhawatirannya yang besar masih tertahan setelah kebaktian yang panjang itu selesai, dengan percakapan sambil berjalan di sekitar gereja, dan pembahasan dengan orang-orang yang mencari tahu dan para murid yang masih muda usia dan pada segala jam yang tersedia, merupakan sejarah pekerjaannya sehari-hari… seluruhnya selama berminggu-minggu.”

Ketika dia melayani dengan semangat, ada orang yang mulai bertanya, bagaimana Burns membiayai hidupnya? Burns berpandangan bahwa itu adalah rasa ingin tahu yang paling umum dimiliki banyak orang. Meskipun orang pada umumnya tahu bahwa Tuhan pasti peliharakan hidupnya, Burns memberi jawaban pada mereka bahwa dia belum pernah meminta satu penny dari siapa pun. Lalu biayanya dari mana? Dari orang-orang yang tergerak secara rela hati mengirimkan dana kepadanya tanpa diminta dan sebagian tanpa nama. Burns dipelihara Tuhan. Kebutuhan pribadinya tercukupi, dan dia juga jarang kekurangan untuk memberi kontribusi dengan bebas untuk pekerjaan Tuhan dan untuk saudara dalam Kristus yang berkekurangan. Doa Burns, “Oh, Tuhan, lindungilah saya dari ketamakan, dan buatlah saya mampu dengan rasa syukur dan sukacita yang melimpah untuk memberikan semua yang tidak saya perlukan untuk mendukung perluasan kerajaan-Mu yang diberkati di dalam dunia malang yang rusak ini!”

Setelah melayani di berbagai kota di Skotlandia, tibalah Burns ke dalam pergumulan pelayanan yang dinanti-nantikannya. Tujuan semula Burns adalah pergi ke daerah-daerah yang belum mengenal Kristus, tetapi Tuhan melatihnya di kota-kota yang membutuhkan kebangunan rohani. Ia kemudian menelusuri kembali beberapa peristiwa dari pekerjaannya yang berbuah lebat dulu, tetapi sekarang tidak merasakan adanya petunjuk untuk meneruskan pelayanan itu lagi sekalipun didesak dengan undangan-undangan untuk khotbah. Akhirnya dia putuskan untuk berbicara kepada Komisi Luar Negeri Gereja Presbiterian untuk menanyakan apakah ada lowongan melayani dalam bidang misi. Komisi tersebut sudah menunggu selama dua tahun lebih untuk memilih pendeta atau penginjil dari Skotlandia yang cocok, akan tetapi hasilnya nihil. Mereka tidak menemukan wakil-wakil yang sesuai, sampai akhirnya mereka meminta kesediaan Burns.

Burns mendapatkan kesempatan bergumul selama dua bulan untuk berdoa dan mempertimbangkan tawaran tersebut. Dia mengakui, “Sekarang menjadi sedemikian kuat sehingga saya merasa bahwa saya tidak bisa ragu-ragu akan pentingnya kerelaan saya untuk pergi, dan pada hari Senin saya menulis untuk menyampaikan hal itu. Saya melihat bahwa saya akan menyepelekan profesi saya sebagai penginjil, dan dengan demikian melukai kehormatan Yesus, kalau saya terlihat menunda-nunda lebih lama lagi.” Burns memutuskan untuk pergi ke Tiongkok.

Akan tetapi beberapa hambatan muncul. Pertama, negara itu sebagian besar masih tertutup bagi pengabaran Injil. Kedua, ternyata persediaan misionaris dalam kondisi itu telah cukup, sehingga komisi memutuskan untuk menunda kepergian Burns ke Tiongkok dan sebagai gantinya perjalanan misi ini diubah ke India Tengah. Jawaban Burns mengejutkan, “Saya sama sekali tidak merasa simpati sedikit pun dengan usulan mereka untuk menarik diri sehingga mereka tidak menghormati perintah dan janji Yesus…” Burns memutuskan untuk bertemu Sinode membicarakan hal tersebut. Di dalam rapat komisi, setelah konsultasi begitu lama mereka menyimpulkan bahwa tetap Tiongkok tidak boleh diabaikan dan gereja akan tetap mengutus Burns. Sebuah pertemuan diadakan kembali dan Burns membuka diri sepenuhnya untuk penahbisannya. Dia katakan bahwa ia hanya ingin pergi sebagai penginjil, bukan untuk melaksanakan sakramen-sakramen, “Kristus tidak mengutus saya untuk membaptiskan, tetapi untuk mengabarkan Injil.” Setelah banyak berdiskusi, keesokan harinya Burns ditahbiskan dan segera akan berangkat ke Tiongkok. Karena ketika ia ditanya dalam diskusi, seberapa cepat ia akan siap untuk memulai pekerjaannya, ia menjawab dengan spontan, “Besok!”

Melihat pelayanannya yang begitu padat sebelum menjadi misionaris di Tiongkok, orang-orang berkata, “Kita mengenangnya dengan takjub. Di sini ada seorang manusia yang memadatkan pekerjaan yang memerlukan waktu bertahun-tahun menjadi berbulan-bulan – dari berbulan-bulan menjadi berminggu-minggu – dari berminggu-minggu menjadi berhari-hari. Pekerjaan seumur hidup dipadatkan dalam satu musim dingin ini di Edinburgh.”

Sebelum benar-benar memasuki tanah Tiongkok, Burns mengalami ujian seperti para misionaris lain pada umumnya yang hendak berangkat menggunakan kapal laut. Di kapal laut Mary Bannatyne, fisik dan kesetiaan Burns diuji. Setelah tujuh minggu di atas kapal ia menulis, “Sebagian besar saya menderita, dan masih menderita hampir tiap hari karena rasa mual yang menghalangi saya untuk belajar lebih intensif. Bagaimanapun, saya mampu belajar bahasa Mandarin sedikit demi sedikit tiap hari, dan kadang-kadang saya membuat kemajuan yang lebih besar. Pekerjaan ini menyenangkan dan menguntungkan karena Alkitab yang menjadi buku teks saya, dan dengan pertimbangan akan tujuan akhir yang telah ada di depan mata…” Burns mampu mengadakan kebaktian dengan kelasi-kelasi kapal dua kali seminggu di bagian depan atas kapal dan berbagai pelayanan lainnya di kapal tersebut.

Setelah berlayar lima bulan lebih, mendaratlah kapal tersebut di teluk Hongkong dan mengakhiri perjalanan panjang yang berbahaya di laut. Setelah mendarat, Burns menulis, “Rasa syukur karena luputnya kami dari bahaya karam, sekarang tampak semakin besar, ketika kami mendengar beberapa hari yang lalu bahwa kapal Anne and Jane dari London, yang sama-sama berlayar di Laut Jawa, terhempas di pantai dekat Manila dan sepenuhnya hilang. Akan tetapi semua, kecuali salah satu anak buah kapal dan seorang penumpang, dapat diselamatkan… sebuah kapal lainnya juga nyaris celaka, tiba di Manila tanpa tiang layar sama sekali.”

Negeri Tiongkok atau negeri Sinim (seperti yang dikatakan Alkitab), negeri yang paling banyak penduduknya di seluruh dunia, di sanalah Burns tiba untuk menyerahkan seluruh sisa hidupnya. Pertama yang perlu dia kerjakan adalah memiliki harapan untuk meningkatkan bahasa Mandarinnya. Untuk menguasai bahasa mereka secepat mungkin, setiap hari Burns mengikuti kebaktian berbahasa Mandarin di rumah misi, dan memberikan pelajaran bahasa Inggris kepada dua bocah laki-laki yang membayar Burns dengan bahasa Mandarin mereka, ia berusaha keras agar sedapat mungkin berbicara dengan mereka; kadang-kadang berhasil dimengerti, dan kadang-kadang hanya menghasilkan senyuman saja. Tetapi itu usaha yang menggembirakan ketika bisa menjelaskan kepada mereka dengan beberapa patah kata yang menunjuk kepada Anak Domba Allah yang menanggung dosa dunia. Langkah selanjutnya dari Burns adalah benar-benar memasuki kawasan tempat tinggal orang-orang Tiongkok, di mana dia bisa mengidentifikasikan dirinya secara penuh dengan orang-orang yang dilayaninya. Setelah itu, Tuhan membuka jalan untuk Burns agar membuka sekolah kecil bersama rekan-rekan yang Tuhan beri. Di sekolah itu Burns dipaksa benar-benar untuk terus berbahasa Mandarin.

“Tiga pintu” yang menjadi pokok doa Burns dalam pelayanannya di Tiongkok; Pertama, pintu masuk ke dalam bahasa, kedua, pintu akses ke dalam negeri Tiongkok, dan ketiga, pintu hati orang-orang yang dibukakan bagi kebenaran Tuhan. Tuhan menjawab doa Burns. Dia berkeliling untuk berkhotbah kepada puluhan desa dan kota, pelayanan ke penjara, menyusun kamus bahasa Mandarin, menerjemahkan seluruh Alkitab (dengan bantuan beberapa rekannya) ke bahasa Mandarin, menerjemahkan 50 bab buku devosi Peep of Day,menerjemahkan buku Pilgrim’s Progress karya John Bunyan ke dalam bahasa Mandarin, dan menerjemahkan sejumlah himne ke dalam bahasa Mandarin. Nama William Chalmers Burns harum di setiap daerah yang pernah dikunjunginya. Ketika Burns sempat kembali ke Skotlandia, dia pun menceritakan kisahnya di Tiongkok. Hal ini membangkitkan orang-orang Skotlandia pada misi di Tiongkok.

Meskipun kelihatannya pelayanan Burns begitu banyak menghasilkan buah sulung dan buah-buah lainnya, Tuhan mengizinkan Burns untuk melihat sebuah kesedihan besar. Kesedihan itu ditunjukkan oleh kedua orang yang dilayaninya, yaitu seorang penunggu kapel dan seorang pengkhotbah. Kedua orang ini sudah mengakui iman Kristen. Akan tetapi mereka tidak memiliki bukti adanya karya anugerah, mereka kembali di bawah pengaruh candu. Itu sangat menggetarkan hati Burns.

Di dalam seluruh kehidupan pelayanannya, Burns merupakan teladan dalam menyerahkan seluruh hidupnya untuk pelayanan di Tiongkok. Seorang misionaris London Missionary Society mengatakan, “Ia menikmati ketenangan dan kemewahan dengan hanya memiliki sedikit barang yang perlu diurusi. Ia senang untuk hidup dengan sedikit kebutuhan saja, agar dapat memberi lebih banyak untuk pekerjaan Allah. Ia seorang sahabat yang murah hati kepada orang miskin, rumah-rumah sakit, dan untuk berbagai rencana misi.” Banyak orang mengatakan Burns adalah “Pahlawan Besar Tiongkok”. Dia mengabdikan 20 tahun hidupnya di Tiongkok, demi pekerjaan Allah, demi pekerjaan sebagai penjala manusia dan penabur firman Tuhan. William Chalmers Burns adalah seorang penginjil yang pernah menorehkan keindahan Injil di tanah Tiongkok.

Ev. Nathanael Marvin Santino
Pembina Pemuda Remaja GRII Semarang

Catatan:
– Awal-awal pelayanannya, Burns dibimbing untuk berkhotbah tanpa teks. Bukan karena dia lalai belajar, melainkan agar dia boleh belajar dan berdoa untuk waktu yang lebih lama; dan dalam mengkhotbahkan pokok-pokok yang telah dipersiapkan, agar dia lebih peka merasakan dukungan ilahi daripada biasanya. Para pendengar juga tampaknya merefleksi lebih dalam, dan dia diberi tahu tentang beberapa yang diam-diam meneteskan air mata mendengar firman Tuhan.
– Moto keluarga William C. Burns adalah Selalu Siap. Inilah yang menjadikannya memiliki semangat juang yang tinggi ketika diminta menjadi gembala sidang sekaligus penginjil yang mengerjakan berbagai pelayanan di sebuah gereja. Dia berkhotbah dan mengajar dalam 1 minggu 5 kali, mengajar sebagai dosen Yunani, dan juga ada waktu berdoa dan membaca esai-esai yang berhubungan dengan misi-misi luar negeri.
– Di Edinburgh dan Glasgow, ada keputusan untuk mengoperasikan kereta api di hari Sabat. Jiwa Burns serasa diaduk-aduk sampai ke dasarnya karena masalah ini, ia menganggap hari Sabat sebagai penjaga kekristenan Skotlandia. Hal itu membuat Burns khotbah di stasiun kereta api. Ia khotbah pada jam 7 pagi dan 6 sore di mana waktu itu merupakan iklan keberangkatan kereta api. Kebaktian itu dihadiri begitu banyak orang. Sedangkan pada jam 11 dan 2 siang, Burns tetap berkhotbah di gereja tempat dia melayani. Bagi Burns, manusia ketika bekerja di hari Sabat, dia sedang melupakan hukum Tuhan. Burns melakukan 2 khotbah di stasiun kereta api dan 2 khotbah di gereja selama 3 bulan. Jemaat yang melihat perjuangan dan keberanian Burns begitu kagum sekaligus hormat kepadanya.
– Burns merupakan salah satu pengkhotbah yang handal. Di provinsi Ontario dan Quebec, dia meningkatkan bahasa Perancisnya agar dapat menginjili penduduk wilayah itu.
– Pernah ada penilaian pada Burns bahwa dia adalah “Pendeta terbaik yang pernah kami dengar berkhotbah!”
– Burns pernah bertemu dengan Hudson Taylor yang memberi pengaruh kepadanya secara mendalam. Burns mengikuti contoh yang diberikan Taylor. Taylor mengenakan pakaian Tionghoa yang dapat mengurangi banyak gangguan terhadapnya ketika berkhotbah di tengah orang banyak.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲