Artikel

"Simplisitas" ala Kristen

Pecinta film pasti sangat dekat dengan istilah spoiler. Ya, itu adalah sebuah kata yang mewakili realitas yang paling dibenci oleh para pecinta film. Kita lebih senang dengan mengetahui keseluruhan film dan bukan hanya bagian-bagian kecil dari apa yang kita tonton. Bagaimana mungkin kita dapat menikmati secara penuh sebuah film jika sudah tahu sebagian atau seluruh bagiannya? Tentu itu adalah hal yang tidak menyenangkan, bukan? Implikasi dari pikiran seperti ini tentunya berdampak pada kesimpulan dan penilaian kita akan sebuah film yang kita tonton. Coba bayangkan kalau kita sedang menonton sebuah film di bioskop yang bercerita tentang peperangan antara jagoan dan musuh yang paling kita benci, dan hampir dari seluruh film itu secara implisit menyatakan bahwa jagoan kita pada akhirnya akan kalah dalam pertempuran, sehingga kita memutuskan untuk pergi dengan kesal dan terus memikirkan kejadian dari film itu sepanjang hari. “Ah, itu adalah sebuah film yang menyebalkan,” mungkin ujar diri kita. Namun, yang terjadi di akhir film tersebut justru adalah sebuah plot twist yang tidak kita duga sebelumnya, “Jagoan kita menang!” Tetapi sudah terlambat, karena kita sudah terlanjur membuang energi dan waktu kita yang tidak perlu untuk tenggelam dalam kekesalan yang terus menghantui kita sepanjang hari. Sungguh itu adalah suatu kesia-siaan yang tidak perlu, bukan?

Ilustrasi di atas mau mengajarkan kepada kita satu hal yang penting sekali, yakni kita tidak dapat mengambil satu bagian tertentu dan menjadikannya seolah-olah sebagai suatu keseluruhan dalam sistem berpikir kita. Ini adalah suatu kesalahan yang serius dalam sistem berpikir, apalagi kalau sudah menjadi presuposisi kita nantinya. Kesalahan seperti ini akan melahirkan banyak sekali kesalahan lainnya di dalam seluruh wilayah cara berpikir kita. Bahayanya, cara berpikir irasional seperti ini juga ada dalam sistem bertheologi kita.

Dr. Richard Pratt bercerita bahwa dia pernah menjenguk seorang teman Kristen yang sakit di sebuah rumah sakit, dan ia mengajukan sebuah pertanyaan dengan maksud untuk menguatkan temannya, kira-kira seperti ini, “Apakah kamu sudah berdoa kepada Tuhan?” Mendengar jawaban dari temannya itu, ia sangat terkejut, “Allah kan Maha berdaulat, mengapa saya harus berdoa lagi kepada-Nya?” Dari percakapan singkat ini, kita bisa melihat suatu pemikiran yang irasional, dan boleh dikatakan tidak bertanggung jawab, terhadap iman Kristen secara holistik. Ia membuat kebenaran yang parsial itu seolah-olah menjadi kebenaran yang utuh dari iman Kristen. Ia tidak tahu bahwa memang Allah itu Maha berdaulat, tetapi Allah juga mengaruniakan sebuah kehendak kepada manusia supaya manusia dapat berespons kepada Allah. Hal seperti inilah yang terjadi di zaman sekarang, kita sebagai orang percaya dengan mudahnya merasa puas dengan apa yang sudah pernah kita dengar dari kecil tentang iman kita (baca: iman Kristen), tanpa menggumulkannya lebih jauh dan menuntut diri untuk mengejar seluruh kebenaran yang sudah Tuhan wahyukan kepada kita. Ini adalah suatu kesombongan yang terjadi di zaman kita dewasa ini. Kita kurang menghargai pentingnya doktrin. Kita kurang mengapresiasi perjuangan nenek moyang dan raksasa-raksasa iman kita dari zaman lampau. Kita hanya puas mendengar khotbah di hari Minggu dan tidak mendiskusikannya bersama-sama dengan teman seiman atau keluarga kita. Kita tidak punya minat untuk membaca buku-buku theologi yang berat. Kita bahkan tidak menunjukkan niat perjuangan kita di dalam mengenal iman yang katanya kita percayai itu. Dapatkah kita mengatakan bahwa kita adalah murid Kristus yang sejati? Kiranya Tuhan memberikan kita sebuah kesadaran untuk tetap sadar dalam memperhatikan dan membentuk kehidupan kekristenan kita.

Rista Benu

Pemuda FIRES

Rista Benu

November 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲