Artikel

Standing on the Shoulders of Giants: To Understand, to Honor and to Live in the Grand Legacy

Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun. Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu.
Ulangan 6:4-9

Like father like son. Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya.

Kedua frase tersebut begitu familiar, bukan? Sebagaimana seorang ayah, demikian pula anaknya; orang tua dan anak tidak akan jauh berbeda, demikian yang dimaksudkan frase tersebut. Kebanyakan kita secara umum akan menyetujui hal itu; kemiripan wajah, sikap, kebiasaan, bahkan penyakit, kita anggap wajar saja; namanya juga keturunan. Tetapi lucunya, sering kali pula itu tidak terjadi. Tidak perlu jauh-jauh, dalam keseharian kita, dalam lingkungan di sekitar kita, bukankah kita juga banyak melihat fenomena yang sebaliknya? Seorang yang agung karakternya bisa saja berasal dari keluarga yang rusak dan bejat, demikian sebaliknya, penipu terbesar bisa dilahirkan di dalam keluarga yang paling terpandang dan terpelajar. Mengherankan? Tidak terlalu.

Sejak permulaan, Alkitab sudah menyatakan kepada kita akan hal ini; Adam memiliki Kain sebagai putranya. Siapa yang mengajar Kain untuk membunuh? Lihatlah silsilah raja-raja Israel dan Yehuda di dalam Kitab Raja-raja. Mengapa raja yang sangat baik seperti Hizkia bisa memperanakkan penerus yang terus melakukan kekejian di mata Tuhan, seperti Manasye? Mengapa pula raja yang jahat seperti Amon bisa memiliki putra yang begitu dikasihi dan mengasihi Allah, seperti Yosia? Bahkan Daud, the man after God’s own heart, raja Israel yang dipilih dan diperkenan Tuhan sendiri, bisa memperanakkan seorang Absalom, yang akhirnya mau membunuh ayahnya sendiri. Cerita macam apa ini? Inilah realitas, firman Tuhan sudah membukakannya sejak awal. Jangan heran jikalau kita hari ini bisa melihat dengan mata kita sendiri orang-orang yang membangun kehidupannya dari nol, kemudian setelah hidup mapan, keturunan mereka tinggal menikmati, hidup rusak, dan akhirnya menghancurkan segala sesuatu yang sudah dibangun orang tuanya dengan susah payah. Jangan heran jikalau di lingkungan gereja, kita menyaksikan sendiri orang tua yang sangat rajin melayani Tuhan memiliki anak-anak yang hidupnya seperti tanpa Allah. Sekali lagi, Alkitab sudah memperingatkan manusia.

Yang mau dibicarakan di sini sesungguhnya bukanlah isu tentang faktor-faktor genetik dan biologis, melainkan tentang penerus dan yang diteruskan, tentang regenerasi dari nilai-nilai, tentang dioperkan atau tidaknya tongkat estafet visi dan perjuangan, tentang diturunkan atau tidaknya prinsip-prinsip yang menentukan berbagai hal vital di dalam kehidupan. Bukan hanya di dalam konteks hubungan darah atau keluarga, regenerasi juga harus terjadi di dalam setiap aspek hidup manusia: di dalam perusahaan, pendidikan, keagamaan, politik, pemerintahan, dan sebagainya. Ya, hal ini sangatlah natural terjadi; bahkan setiap sel dalam tubuh kita beregenerasi!

Kedatangannya tidak dapat dihindari, mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, ada saatnya yang terdahulu harus pergi dan menyerahkan tempatnya kepada penerusnya. Regenerasi sesungguhnya adalah sesuatu yang indah sekaligus menakutkan, sebuah pengharapan sekaligus sebuah kekhawatiran dari masa depan. Gereja Tuhan pun harus mengalami hal ini, kita melihat berbagai macam hal terjadi pada Gereja Tuhan di dalam perjalanan sejarah, dari generasi ke generasi Tuhan memimpin umat-Nya bergumul dengan berbagai goncangan dan tantangan dari dalam maupun dari luar Gereja. Tentu saja Tuhan tidak akan pernah gagal, janji-Nya akan Ia genapi, kebenaran Allah akan tetap bertahan dan menang, ini tidak perlu diragukan. Pertanyaannya hanyalah, kita, pemuda-pemudi di dalam Gereja Tuhan pada zaman ini, sedang dan akan menjadi generasi macam apa? Masuk lebih spesifik ke dalam konteks Gerakan dan Gereja Reformed Injili, sekali lagi, kita sedang dan akan menjadi generasi macam apa?

Ah, mengapa pula saya harus memikirkan semua itu? Bukankah yang paling penting adalah kondisi spiritualitas saya, relasi pribadi saya yang manis dengan Tuhan? Mengapa saya harus hidup dengan memikirkan sesuatu yang di luar diri saya, seolah hidup saya didefinisikan olehnya? Jawabannya sederhana saja, karena Alkitab tidak pernah mengajarkan kepada manusia untuk hanya peduli pada kondisinya sendiri. Allah menjanjikan kepada Abraham keturunan yang akan menjadi bangsa yang besar, Allah memanggil Israel keluar sebagai sebuah bangsa. Allah memanggil Gereja-Nya keluar dari perbudakan dosa sebagai umat kepunyaan-Nya. Umat Allah berarti Gereja-Nya, menyebut diri umat Allah berarti berbagian dan didefinisikan oleh bangsa kepunyaan-Nya. Pengenalan dan persekutuan pribadi dengan Allah merupakan fondasi untuk dapat menghidupi kehidupan bergereja yang sehat, sama sekali bukan meniadakannya.

Maka di manakah kita dalam Gereja Tuhan? Dan jikalau hari ini Tuhan memberkati kita dengan menaruh kita di dalam Gerakan dan Gereja Reformed Injili, apa yang kita pikirkan mengenainya? Apakah bagi kita Gereja ini tidak lebih dari sekadar tempat di mana kita bisa secara rutin mengikuti kebaktian setiap hari Minggu? Apakah bagi kita Gerakan ini adalah sekadar wadah yang darinya kita bisa mendapatkan banyak kebijaksanaan dan nilai hidup, tanpa pernah melihatnya sebagai panggilan Tuhan bagi setiap kita di dalam Kerajaan-Nya?

Mengerti atau menganggap sepi. Mengingat atau melupakan. Memperjuangkan atau menyampahkan. Meneruskan atau menghancurkan. Berkat atau kutuk. Generasi penerus selalu menjadi krusial, poin yang sangat kritis dari sebuah gerakan.

Kesulitannya bagi kita, pemuda di dalam gerakan ini, adalah bahwa sebagian besar kita pasti bukanlah orang yang menyaksikan bagaimana Gerakan dan Gereja Reformed Injili dirintis sejak awal. Kebanyakan kita baru berada di dalam gerakan ini di tengah-tengah, sebagian kita mungkin bahkan baru menjadi orang Kristen dalam beberapa tahun terakhir. Mungkin ketika kita menemukan Gerakan dan Gereja Reformed Injili, gedung yang dimiliki sudah begitu besar, events yang diadakan begitu banyak dan bisa menjaring ribuan orang, juga sangat diberkati Tuhan. Seperti tidak ada kesulitan yang terlalu berarti, Gerakan dan Gereja Reformed Injili memang begini; sangat established. Akibatnya, kita menjadi orang-orang tanpa pengenalan akan mengapa dan bagaimana gerakan ini didirikan.

Seorang kakak rohani pernah mengatakan kepada saya bahwa pemimpin dan Gembala Sidang kita, Pdt. Dr. Stephen Tong, adalah seorang yang dipanggil menjadi pioneer di dalam berbagai hal, sesuai visi yang Tuhan berikan sebagai panggilan-Nya. Yang beliau lakukan adalah seperti membuka jalan yang baru di tengah-tengah hutan rimba yang dipenuhi pepohonan, maka ia harus berpendirian sangat kuat, tanpa kompromi, berjalan di depan menerobos hutan, menebang pohon-pohon yang menghalangi, supaya sebuah jalan yang lurus boleh terbuka, supaya semakin banyak orang boleh ikut bersama-sama di dalam jalan itu; jalan yang Tuhan panggilkan untuk digarap oleh gerakan ini, bagi kekristenan di masa depan. Gambaran ini tidaklah sempurna, namun benar adanya. Mengertikah kita apa yang sesungguhnya sedang dikerjakan? Jalan macam apa yang telah terbuka dan perjalanan seperti apa yang harus dilanjutkan?

Gerakan ini dimulai dengan lutut dan air mata. Air mata seorang hamba Tuhan yang diberikan kepekaan dan kesadaran akan keadaan kekristenan yang porak-poranda dalam zaman ini. Motivasi mendirikan gerakan ini adalah murni berdasarkan panggilan Tuhan serta kebutuhan zaman dan bagi berlangsungnya kehidupan iman orang Kristen di dalam sejarah. Gerakan ini bukanlah sesuatu yang sama sekali baru dan tahu-tahu muncul entah dari mana; gerakan ini justru mau mengembalikan dan dengan setia meneruskan benang merah kekristenan di dalam sejarah, berdiri sebagai perwakilan kekristenan yang sah di dalam kekokohan warisan theologi sepanjang zaman dan semangat penginjilan yang dimandatkan oleh Kristus sendiri. Adakah panggilan yang lebih mulia daripada ini? Adakah yang lebih bernilai yang dapat dilakukan oleh manusia di dalam dunia, selain menggali, menjaga, dan memberitakan dengan setia kebenaran Tuhan yang Ia nyatakan di dalam firman-Nya dan di dalam sejarah? Adakah yang lebih indah, daripada diteruskannya tongkat estafet panggilan Tuhan bagi Gereja-Nya yang kudus dan am? Kita sungguh-sungguh bersekutu dengan seluruh umat Allah dan pahlawan-pahlawan iman yang pernah hidup dalam sejarah! Ya, kita adalah satu dengan pahlawan-pahlawan iman itu; dipersatukan dalam sebuah legacy yang dipercayakan Allah bagi Gereja-Nya; kebenaran firman-Nya, dan pimpinan Roh Kudus bagi penggenapan kehendak-Nya!

Maka kiranya kita tidak berhenti hanya pada apa yang dapat dilihat mata. Karena celakalah kita jikalau kita membuang legacy yang dipercayakan Tuhan bagi kita! Sejarah kita sebagai Gereja Tuhan sesungguhnya sudah begitu panjang, pembuangan sejarah ini berarti pembuangan identitas kita sendiri. Dan bagaimanakah sebuah generasi dapat meneruskan perjuangan pendahulunya, jikalau generasi itu tidak melihat, tidak memahami, dan tidak berbagian di dalamnya?

Remember your leaders, those who talk to you the word of God.
Consider the outcome of their life, and imitate their faith.
Hebrews 13:7

Bukanlah hal yang baru terjadi dalam dunia ini; generasi baru cenderung menganggap pemimpin-pemimpinnya sebagai orang-orang yang kuno, kolot dan konvensional, terlalu keras, dan kurang bijaksana.Sesungguhnya karakteristik demikian adalah natural saja. Para perintis tentu mempunyai kadar ketegasan dan kekokohan karakter tersendiri; bukankah perannya sebagai perintis menuntutnya demikian? Tanpa pengertian dan kerendahan hati yang cukup untuk belajar taat dan mau memahami prinsip-prinsip yang dimengerti para pemimpin iman yang darinya kita mewarisi sejarah, kita akan sulit untuk menjadi generasi penerus yang setia.

Pertama-tama, dari Alkitab kita dapat mempelajari mengapa dan bagaimana Allah sendiri merencanakan dan menjadikan rencana-Nya, bagaimana Ia bekerja. Demikian juga dengan para nabi dan rasul, yang melaluinya firman Tuhan diwahyukan; mengapa mereka melakukan ini dan bukan itu? Tuhan juga telah menyediakan raksasa-raksasa iman lain di dalam sejarah; Bapa-bapa Gereja, pemimpin-pemimpin jemaat, para Reformator, kaum Puritan, para theolog, sampai orang-orang yang Tuhan bangkitkan menjadi pemimpin-pemimpin kita hari ini. Sungguh, kita tidak pernah kekurangan teladan dan orang yang darinya kita dapat belajar! Kiranya kita tidak menjadi orang-orang tertinggal yang melepaskan hidupnya dari segala sesuatu yang sudah terjadi sepanjang perjalanan umat Allah dari permulaan sampai sekarang. Kiranya kita tidak menjadi pemuda-pemudi yang bodoh, mengira kita harus menghasilkan sendiri pemikiran-pemikiran baru, keputusan-keputusan baru, cara-cara baru, dan membuang seluruh sejarah di belakang kita. Kiranya kita tidak bersandar pada pengertian kita sendiri!

“I can see further than others because I am standing on the shoulders of giants.”
Isaac Watts

Salah satu hadiah terbesar Allah bagi Gereja-Nya adalah mereka, raksasa-raksasa iman yang oleh anugerah-Nya telah menancapkan pilar-pilar kebenaran yang diwariskan di dalam sejarah sebagai pusaka – sebagai legacy – bagi Gereja hari ini. Salah satu privilege yang sangat besar bagi pemuda-pemudi adalah boleh hidup sezaman dengan salah satu raksasa iman tersebut dan melihatnya dengan mata kepala kita sendiri. Mari kita, yang kecil dan remeh ini, berdiri di atas bahu mereka dan belajar melihat lebih jauh dari apa yang dapat dilihat oleh mata kita sendiri.

“Gerakan sejarah yang bermutu selalu mempunyai teori yang konsisten, strategi yang lincah, pengabdian yang tuntas, pengikut yang setia, dan pengaruh yang abadi, baik di dalam Gereja maupun masyarakat.”
Pdt. Dr. Stephen Tong

Kiranya Tuhan menjaga jalan kita tidak melenceng, sehingga kita dengan taat dan setia boleh menjadi generasi penerus Gereja yang mempermuliakan nama Tuhan, di dalam seluruh hidup kita, di dalam Gerakan dan Gereja Reformed Injili. Amin! Selamat belajar dan berjuang bersama-sama di tahun yang baru!

Lydiawati Shu
Pemudi FIRES

Lydiawati Shu

Januari 2015

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲