Artikel

Stubbornness of God

Kita pasti kesal dengan orang yang keras kepala. Cambridge Dictionary mendefinisikan keras kepala sebagai the quality of being determined to do what you want and refusing to do anything else atau the quality of being difficult to move, change, or deal with. Orang yang keras kepala hanya tahu melakukan yang ia mau dan sulit untuk berubah. Rasanya melelahkan berelasi dengan orang yang keras kepala. Apalagi jika orang itu adalah rekan sepelayanan yang terus melayani bersama kita. Kita sendiri pun pasti tidak senang jika dibilang keras kepala, karena terkandung nuansa yang sangat negatif di dalamnya. Namun, apakah keras kepala selalu negatif?

Bayangkan jika Nabi Yesaya adalah rekan sepelayanan kita. Kemungkinan besar kita sudah gugur di tengah jalan dan tidak melayani bersamanya lagi. Bayangkan saja, Yesaya secara khusus dipanggil Tuhan untuk terus menyerukan pertobatan kepada Israel dengan catatan mereka tidak akan bertobat. Kemudian, Yesaya bertanya kepada Tuhan, “Sampai berapa lama, ya Tuhan?” Lalu, Tuhan menjawab, “Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi” (Yes. 6:11). Dengan kata lain, Yesaya tidak tahu sampai kapan Ia harus menyerukan murka Tuhan kepada umat-Nya. Satu tahun melayani, tidak ada yang mendengar. Dua tahun melayani, belum ada hasil. Tiga tahun melayani, Yesaya masih terus melayani sampai akhirnya lebih dari setengah abad Yesaya memanggil Israel untuk bertobat tanpa didengar. Diperkirakan Yesaya melayani selama 58 tahun (739 SM–681 SM).

Jika saat itu ikut melayani bersama Yesaya, kita pasti sulit untuk dapat mengerti apa yang Yesaya kerjakan. Dalam beberapa tahun melayani bersama, kita akan mulai meragukan kredibilitas kenabian Yesaya dan tidak tahan dengan Yesaya yang keras kepala. “Apa gunanya kamu berlelah bicara kepada batu, berseru kepada bangsa yang mendengar tetapi tidak mendengar? Sudahlah, pelayananmu di sini sudah gagal, lebih baik kamu melayani yang lain atau pelayanan yang lain yang lebih berguna, toh sudah bertahun-tahun melayani tidak ada hasilnya, Israel tetap tidak bertobat.” Mungkin kita akan memberi saran seperti itu kepada Yesaya. Namun, Yesaya tetap keras kepala melayani Tuhan menyerukan seruan pertobatan kepada Israel sampai Ia harus mati digergaji oleh Manasye, Raja Yehuda.

Sebagai nabi, saat itu Yesaya memang tidak sendiri. Beberapa tahun setelah memulai pelayanannya, ada seorang nabi yang Tuhan bangkitkan untuk melayani satu zaman dengan Yesaya dan sama-sama memberitakan kehancuran Israel dan Yehuda. Nama nabi itu adalah Mikha. Mikha berasal dari kota di Kerajaan Selatan bernama Moresyet. Saat itu Israel sudah lama terpecah menjadi dua, yaitu Kerajaan Utara dan Kerajaan Selatan. Kerajaan Utara atau disebut Kerajaan Israel memiliki ibukota bernama Samaria, sedangkan Kerajaan Selatan atau disebut Kerajaan Yehuda memiliki ibukota namanya Yerusalem. Kedua kerajaan ini sama-sama sudah melanggar perjanjian dengan Allah.

Mikha dipanggil menjadi nabi Tuhan untuk menyatakan murka Allah atas Israel dan Yehuda. Apakah Nabi Yesaya kurang besar dan berpengaruh sampai Tuhan harus memunculkan nabi kecil ini? Dipanggilnya Mikha sebagai nabi menunjukkan kebebalan Israel yang tidak mampu lagi berespons terhadap Tuhan dengan ketaatan. Kerusakan Israel sangat parah hingga dua nabi pun akhirnya tidak cukup mempertobatkan mereka. Mikha menyatakan bahwa murka Tuhan sudah meluap hingga mencapai puncaknya dan tidak dapat ditahan lagi. Mikha dipenuhi dengan Roh Tuhan, dengan keadilan dan keperkasaan untuk memberitakan kepada Yakub akan pelanggarannya dan kepada Israel atas dosanya (Mi. 3:8). Tuhan meminta seluruh bumi memperhatikan dan mendengar (Mi. 1:2). Apa sebabnya? Tentu ini bukan hal remeh. Pasti ada hal serius yang Tuhan ingin sampaikan. Penyebabnya adalah Tuhan dari bait-Nya yang kudus senantiasa memperhatikan setiap kejahatan yang dilakukan umat-Nya (Mi. 1:2) dan kebusukan Israel ini sampai membuat Tuhan sendiri keluar dari tempat kudus-Nya dan turun ke bumi membawa murka-Nya yang tidak dapat dibendung (Mi. 1:3). Seluruh ciptaan harus berhadapan dengan murka Allah itu, gunung-gunung luluh, lembah-lembah terbelah seperti lilin mencair di depan api (Mi. 1:4). Tidak ada yang dapat menyembunyikan diri dari murka Allah. There is no place to hide. Ketika Tuhan menyatakan murka-Nya tidak ada satu pun makhluk yang dapat diam dengan tenang.

Tuhan murka oleh karena umat-Nya yang tidak setia. Israel seharusnya menjadi bangsa yang berbeda dari bangsa-bangsa yang lain, karena Tuhan secara khusus berelasi, mengasihi, dan menuntun mereka. Allah Israel (YHWH) adalah Allah yang telah membebaskan mereka dari perbudakan Mesir. Mereka adalah umat Tuhan yang adalah terang dan garam dunia di zaman itu, tetapi yang Israel lakukan justru membuang Allah dan menyembah allah-allah palsu seperti bangsa-bangsa lain. Israel layak dibuang oleh Tuhan. “Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang” (Mat. 5:13). Itu sebabnya, Tuhan sungguh-sungguh akan menghancurkan umat-Nya. Tuhan akan memakai bangsa kafir untuk menghancurkan umat kepunyaan-Nya.

Berita kehancuran Israel dan Yehuda inilah yang Mikha beritakan, yaitu bahwa Kerajaan Utara akan ditaklukkan oleh Kerajaan Asyur yang bengis dan jahat, juga Maresya (kota pusaka Yehuda) juga akan menjadi milik Asyur (Mi. 1:15a). Para bangsawan Israel dengan kemuliaannya akan dibawa ke pembuangan di Adulam, kota dengan banyak gua yang biasanya dipakai dalam peperangan (Mi. 1:15b). Tidak sampai di sana, kehancuran lebih besar akan datang kepada sisa Israel, yaitu Kerajaan Selatan. Yerusalem akan menjadi timbunan puing dan Bait Suci akan dihancurkan (Mi. 3:12). Babel akan memaksa mereka keluar dari kota dan tinggal di padang sampai ke Babel (Mi. 4:10). Sejarah mencatat, dalam pembuangan ketika Kerajaan Selatan berjalan keluar dari kota menuju Babel, mereka berjalan melewati Kerajaan Utara yang telah hancur, tidak ada lagi kejayaan Israel di sana, bangunan sudah menjadi puing (Mi. 1:6). Dengan mata kepala mereka sendiri mereka menyaksikan bahwa umat Tuhan tidak ada lagi, Kerajaan Utara sudah hancur dan mereka dari Kerajaan Selatan, umat Tuhan yang tersisa harus berjalan ke pembuangan di Babel. Perjalanan yang mereka tempuh adalah arah balik dari perjalanan Abraham ke Tanah Perjanjian. Bagi mereka, ini adalah peristiwa yang sangat menyakitkan, mereka sadar bahwa Tuhan telah membuang mereka sebagai umat perjanjian.

Tuhan tidak bermain-main menghancurkan umat-Nya. Seolah-olah Tuhan lupa akan janji-Nya kepada Abraham dan keturunannya. Bukankah Tuhan telah berjanji memberkati keturunan Abraham? Membuat jumlah keturunannya sangat banyak seperti bintang di langit dan pasir di laut? Jika Tuhan menghabisi Israel dan Yehuda, bagaimana Tuhan menggenapi janji-Nya? Begitu besar dosa Israel sehingga Tuhan harus memurkai Israel sedemikian seperti Ia tidak lagi memedulikan identitas Israel dan Yehuda sebagai umat-Nya. Masakan Tuhan tega menghabisi biji mata-Nya sendiri? Ya! Sebab kedegilan hati Israel.

Tuhan sudah menahan murka-Nya terhadap Israel yang sudah lebih dari 500 tahun memberontak kepada Tuhan. Tidak ada kecurangan yang Tuhan lakukan dalam perjanjian-Nya, tidak ada kejahatan yang Tuhan kerjakan kepada umat-Nya. Tuhan berkata, “Umat-Ku, apakah yang telah Kulakukan kepadamu? Dengan apakah engkau telah kulelahkan?” (Mi. 6:3). Sebaliknya, Tuhan terus menyatakan penyertaan kepada Israel dengan begitu spektakuler. Tuhan menuntun Israel keluar dari Mesir dan melepaskan Israel dari perbudakan (Mi. 6:4). Tuhan mau Israel bebas dari perbudakan dan menikmati Tuhan. Namun, Israel sudah melupakan segala kebaikan Tuhan. Israel telah menjadi tawar dan menganggap sudah sepatutnya Tuhan memberkati mereka. Israel hanya menginginkan berkat Tuhan tanpa pribadi-Nya. Makin umat Tuhan melihat kecil anugerah, makin besar pintu terbuka untuk dosa. Pintu gerbang Samaria terbuka lebar untuk dosa dan tertutup untuk Tuhan. “Pelanggaran Yakub itu apa? Bukankah itu Samaria?” (Mi. 1:5). Mereka mengabaikan nabi yang bersuara atas nama Tuhan. Bagaimana dengan Yerusalem, kota Allah? Tidak berbeda. “Dosa kaum Yehuda itu apa? Bukankah itu Yerusalem?” (Mi. 1:5).

Samaria menyakiti hati Tuhan dengan penyembahan berhala turun-temurun. Para raja Kerajaan Utara melanjutkan kejahatan Yerobeam bin Nebat. Riwayat kejahatan raja-raja Israel dicatat dalam Kitab Raja-raja. Ketika kita membaca kisah raja-raja Israel, kita akan menemukan nama Yerobeam terus disematkan kepada raja yang melanjutkan kejahatan yang dilakukannya. Siapa Yerobeam? Dia adalah raja pertama Kerajaan Utara setelah Israel terpecah menjadi dua kerajaan, sekaligus raja yang paling menimbulkan sakit hati Tuhan melampaui orang-orang yang mendahuluinya (1Raj. 14:9). Yerobeam tidak mau bangsa Israel beribadah kepada Tuhan dalam Bait Allah yang Salomo bangun di Yerusalem. Sebab, Ia takut jika bangsa Israel pergi mempersembahkan korban sembelihan di Yerusalem, hati mereka akan berbalik kepada Rehabeam, Raja Yehuda, lalu membunuh dia (1Raj. 12:27). Lalu, Ia membangun satu kuil penyembahan di utara (Dan) dan satu di selatan (Betel) agar bangsa Israel tidak perlu berjalan jauh ke Yerusalem. Namun, Yerobeam menggantikan ibadah yang diperintahkan Tuhan dan yang berkenan kepada Tuhan dengan ibadah yang menghina Tuhan dan sangat dibenci oleh Tuhan. 

Yerobeam membuat dua lembu emas untuk ditaruh di Betel dan satu lagi di Dan. Ini dosa besar yang sudah pernah terjadi juga di zaman Musa (Kel. 32:31). Sayangnya, raja-raja Kerajaan Utara tidak membuang kejahatan Yerobeam, mereka melestarikannya. Bagaimana dengan Kerajaan Selatan? Mereka tidak kalah jahat. Di masa pelayanan Nabi Mikha, Raja Ahas di Kerajaan Yehuda melakukan kejahatan seperti raja-raja Israel. Ia mempersembahkan anaknya sebagai korban seperti kejahatan bangsa-bangsa kafir yang Tuhan halau dari Israel (2Raj. 16:3). Selain itu, para pemimpin Israel tidak menjalankan keadilan, mereka berpihak kepada orang kaya dan menindas yang miskin (Mi. 3:1-3). Bukan hanya para pemimpin yang korup, tetapi nabi-nabi saat itu juga sangat kotor. Mereka adalah nabi-nabi palsu dan memberitakan berita palsu seperti Theologi Kemakmuran hari ini. Para nabi palsu itu bisa “dibeli” untuk menjanjikan kedamaian dan perlindungan dari Tuhan. Mereka berkata, “Bukankah Tuhan ada di tengah-tengah kita! Tidak akan datang malapetaka menimpa kita!” Di tengah-tengah berita palsu yang populis dan disenangi, bangsa Israel terusik mendengar Mikha yang berteriak bahwa Tuhan akan menarik anugerah-Nya dan membiarkan Israel dihabisi oleh bangsa kafir. Namun, Mikhalah nabi Tuhan yang sejati. Bersama Nabi Yesaya, Ia memberitakan berita penghakiman yang berasal dari Tuhan.

Nabi Mikha dan Yesaya sama-sama merindukan pertobatan Israel. Itulah sebabnya mereka menetapkan hati untuk terus menyatakan penghakiman Tuhan dan menolak untuk berhenti menyerukan seruan pertobatan. Penghakiman dari Tuhan harus dinyatakan, karena Tuhan adalah Tuhan yang adil. Ia tidak akan mengompromikan kekudusan-Nya dinodai oleh umat-Nya. Kekudusan dan keadilan Tuhan inilah yang membuat Nabi Mikha dan Yesaya keras kepala untuk tetap membawa penghakiman bagi Israel. Akan tetapi, Tuhan yang adil itu juga adalah kasih, maka setelah menyatakan penghakiman Tuhan, Mikha memberitakan pengharapan dan pemulihan dari Tuhan.

Tuhan bukan hanya bersungguh-sungguh membuang Israel, tetapi Tuhan juga bersungguh-sungguh mengumpulkan umat-Nya yang tersisa seperti menyatukan domba dalam kandang, di mana Tuhan akan menjadi gembala mereka yang membawa ke padang rumput yang baik dan Tuhan akan menjadi raja mereka yang berjalan di depan dan memimpin mereka (Mi. 2:12-13). Tuhan bukan hanya menghancurkan Bait Suci-Nya, tetapi Ia akan menegakkan kembali bait-Nya di atas gunung dan dipenuhi dengan kehadiran-Nya (Mi. 4:1) dan bangsa-bangsa akan berduyun-duyun ke sana (ay. 2). Tuhan menjadi raja seluruh bangsa yang membawa damai ke dunia dan menjadi hakim yang adil, sehingga tidak ada lagi yang berperang (ay. 3). Mereka akan duduk di bawah pohon anggur dan pohon ara (ay. 4).

Puncak dari pengharapan dan restorasi yang Tuhan janjikan terdapat dalam Mikha pasal 5. Mikha menubuatkan akan datangnya Raja Israel yang akan menyelamatkan mereka (Mesias). Raja Israel yang permulaannya sudah sejak purbakala itu akan datang dari Betlehem (ay. 1). Dia akan menggembalakan kaum sisa (remnant), takhta-Nya akan sampai ke ujung bumi (ay. 3), dan Dia akan menjadi damai sejahtera (ay. 4). Seluruh pengharapan dan restorasi yang Tuhan janjikan ini dapat kita lihat di dalam diri Kristus. Ia lahir di Betlehem menggenapi Mikha 5:1. Ia berkata kepada Natanael bahwa Ia melihatnya di bawah pohon ara dan Natanael sadar lalu menyebut Kristus sebagai raja orang Israel (Yoh. 1:49). Ia juga menggenapi janji-Nya untuk mendirikan kembali Bait Allah yang hancur, Ia berkata kepada orang Yahudi yang menantang-Nya, “Rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali” (Yoh. 2:19). Kristus sedang membicarakan kematian dan kebangkitan-Nya. Di dalam penderitaan dan kematian Kristus di atas kayu salib, terdapat penggenapan akan kehancuran Yerusalem dan Bait Suci (Mi. 3:12), murka Allah atas umat-Nya, dan pembuangan umat-Nya. Kristus telah menanggung semua itu, tubuh-Nya dihancurkan dengan cambuk, di kayu salib Ia menanggung murka Allah, dan Ia ditinggalkan oleh Allah Bapa dalam perkataan salib yang keempat ketika Ia tidak menyebut Allah Bapa sebagai Bapa, melainkan, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Melalui kebangkitan-Nya, Kristus telah mendirikan kembali Bait Allah. Dia telah menang atas maut, dosa telah dikalahkan, dan umat-Nya dari seluruh bangsa sudah diperdamaikan dengan Allah Bapa. Kepada Kristuslah bangsa-bangsa akan berduyun-duyun melalui pemberitaan Injil yang tersebar ke seluruh dunia. Ia adalah Sang Gembala, Sang Hakim yang adil, Sang Raja Israel, Sang Damai Sejahtera itu.

Hanya melalui Kristus kita dapat melihat Tuhan yang begitu keras kepala mengasihi dan mengampuni umat-Nya yang telah melawan, menghina, dan berbalik dari-Nya. Ia menetapkan untuk mengasihi umat-Nya dan kasih-Nya tidak dapat diubah, digoyang, dan dipengaruhi. Kebebalan umat Tuhan tidak dapat membatalkan janji Tuhan kepada kaum sisa akan keselamatan yang Tuhan genapkan di dalam karya keselamatan Kristus Yesus. Kekeraskepalaan Tuhan untuk mengampuni dan mengasihi kita sebagai umat-Nya memberi kekuatan untuk kita dapat terus mengagumi, mengasihi, dan melayani Dia. Tidak ada Tuhan seperti Tuhan yang mau mengampuni dosa umat-Nya dan menebus umat-Nya. Inilah inti dari seluruh pemberitaan Mikha yang tersimpan dalam arti namanya, yaitu Mikha atau Mikaiah yang berarti “Siapakah Tuhan yang seperti YHWH?”.

Sebagai orang Kristen yang hidup di zaman ini, kita dapat belajar dari kisah Mikha ini di dalam beberapa hal. Dari kehidupan bangsa Israel kita harus menyadari bahwa anugerah yang Tuhan berikan tidak bisa kita “take it for granted”. Setiap anugerah yang Tuhan berikan harus kita syukuri, bukannya menjadikan itu sebagai dasar kesombongan. Setiap anugerah yang Tuhan berikan selalu disertai dengan tanggung jawab untuk kita hidup menjalankan kehendak-Nya. Kita harus berjuang untuk menjalankan kehendak-Nya dan menjauhkan diri kita dari larangan-larangan-Nya. Sementara itu, dari perjuangan pelayanan Mikha maupun Yesaya, kita dapat belajar mengenai kesetiaan dalam melayani Tuhan. Ada kalanya pelayanan kita tidak memberikan hasil yang berarti, tetapi selama pelayanan yang kita kerjakan adalah kehendak Tuhan, maka kita harus dengan setia menjalankannya sebagai bagian dari ucapan syukur kita atas anugerah-Nya. Kiranya Tuhan menolong setiap kita untuk makin hidup sesuai dengan kehendak-Nya.

Evan Jordan
Pemuda FIRES

Evan Jordan

Juni 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk WRF General Assembly 2019 yang telah diadakan pada 8-12 Agustus 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Shalom Pak Pendeta. 1.Bagaimanakah saya boleh membeli buku hasil penulisan bapak? kerana saya berada di Malaysia...

Selengkapnya...

baik

Selengkapnya...

saya mau bertanya aja, kalau di katakan bahwa "when they were created, human can be self-centered",...atau...

Selengkapnya...

Terima kasih untuk renungan tentang kasih Allah.

Selengkapnya...

Asumsikan ada terbatas banyaknya bilangan genap jika dan hanya jika terdapat M yang merupakan bilangan terbesar dari...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲