Artikel

The Beginning

Banyak dari kita pernah memikirkan tentang bagaimana awal penciptaan kehidupan, awal mula dari dunia, awal mula dari peradaban. Pertanyaan seperti ini sering kali mendapat jawaban demi jawaban yang spekulatif. Bahkan pertanyaan semacam ini sudah muncul sejak zaman dahulu kala. Pada masa purba pun, hal ini telah menjadi pertanyaan semua orang. Alkitab dimulai dengan Kitab Kejadian, bahasa Inggrisnya berasal dari bahasa Yunani yang adalah “genesis”, artinya permulaan. Dalam kitab ini, Allah menceritakan bagaimana awal mulanya keberadaan, awal mulanya dunia, awal mulanya manusia, awal mulanya sejarah, awal mulanya dosa, awal mulanya keselamatan, dan awal mulanya umat Allah.

Namun salah satu perdebatan yang sering muncul adalah mengenai berapa lama Allah menciptakan dunia ini. Alkitab menyebutkan dengan jelas bahwa Allah mencipta selama 6 hari. Alkitab memakai kata yôm (RED: hari). Pertanyaannya, apakah “hari” ini sama seperti kita hari ini? Apakah 1 hari adalah 24 jam seperti kita hari ini? Ataukah “hari” ini menyatakan waktu yang lebih panjang? Banyak teori berusaha menjawabnya.

Dalam bahasa Ibrani, yôm ini bisa dipakai untuk beberapa makna, baik yang menyatakan 1 hari (24 jam) maupun hari dalam pengertian day-age. Dan pertanyaan akan berapa lama Allah mencipta tidak dapat diselesaikan hanya dengan mengetahui makna akan terminologi tersebut. Tetapi adanya satuan waktu, yaitu yôm menyatakan dengan jelas bahwa ada suatu jangka waktu yang Allah gunakan untuk mencipta. Pertanyaan ini tidak mudah diselesaikan. Dan isu ini bahkan akhirnya menuju kepada banyak penyesatan. Ada yang percaya 1 hari waktu itu adalah 24 jam, dan mereka akan percaya kepada “young earth theory”. Namun teori ini tidak cocok dengan teori geologi modern pada umumnya. Geologi modern hari ini percaya bahwa usia bumi adalah sekitar 4,5 miliar tahun. Sedangkan teori “day-age” tadi tampak lebih cocok dengannya, tetapi dengan menerima teori ini, banyak orang Kristen yang akhirnya takut bisa menerima teori evolusi nantinya.

Sebenarnya hal ini bukanlah hal yang sangat krusial untuk kita ketahui secara pasti. Hal ini tidak berkenaan dengan keselamatan, atau iman inti kita sebagai orang Kristen. Jika hal ini sangat krusial untuk semua orang Kristen ketahui, Alkitab pasti memberi tahu kita dengan jelas. Fakta yang penting kita ketahui adalah Allahlah yang menciptakan semuanya, termasuk kita manusia dan semua yang lain. Hubungan kita dengan alam dinyatakan dengan jelas dalam kitab ini. Tuhan menentukan manusia menjadi penguasa atas bumi yang mengatur semuanya. Lebih terutama lagi, hubungan manusia dengan Penciptanya pun dinyatakan secara jelas di sini. Kita adalah ciptaan dan Allah adalah Pencipta. Urutan atau ordo ini penting untuk diketahui oleh kita, orang Kristen.

Namun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan orang yang skeptis terhadap Alkitab, kita tetap perlu mempelajari sejauh mana kita dapat mengetahui mengenai penciptaan ini. Juga dalam menjawab orang-orang yang menerima teori evolusi pun, kita perlu tahu makna akan Kitab Kejadian ini dengan lebih mendetail. Kontroversi bermunculan karena sedikit yang kita ketahui mengenai penciptaan. Jika kita mau menerima teori geologi modern yang mengatakan bahwa usia bumi adalah 4,5 miliar tahun, apakah Tuhan menciptakan dengan masa sedemikian dan pernyataan 6 hari dalam Alkitab hanyalah sebuah bahasa simbolis? Ataukah Tuhan dari awal menciptakan dunia yang sudah berusia tua? Adakah teori evolusi yang theistik? Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini inilah latar belakang dari penulisan artikel ini. Artikel ini tidak dituliskan untuk memberikan penjelasan tambahan kepada Kitab Kejadian, namun hanya memberikan gambaran teori-teori yang ada dengan kesulitan-kesulitannya.

Maka kita akan mulai dengan membahas beberapa teori yang menjadi perdebatan. Kita akan membahas kekuatan dan kelemahan dari masing-masing teori yang ada.

1. Teori pewahyuan

Teori ini menyatakan bahwa 6 hari adalah waktu Tuhan mewahyukan kepada Musa, bukan waktu durasi penciptaan. Teori ini tampaknya cerdas, namun teori ini sangatlah lemah. Tuhan memang mewahyukan Kitab Kejadian kepada manusia, tetapi Kejadian 1-2 lebih banyak berbicara tentang penciptaan dibanding pewahyuan. Tidak ada bukti yang secara gamblang mengemukakan bahwa hari-hari itu adalah tanda pewahyuan kepada Musa, dibanding dengan hari-hari dalam proses penciptaan. Keluaran 20:11 dengan jelas mengatakan fokus pada penciptaannya. Dalam 6 hari Tuhan menciptakan, dan bukan dalam 6 hari Tuhan mewahyukan penciptaan-Nya

2. Gap theory

Teori ini menyatakan adanya gap di antara Kejadian 1:1 dan Kejadian 1:2. Ayat 1 menceritakan penciptaan awal oleh Tuhan dan ayat 2 menceritakan kekacauan yang terjadi setelahnya. Sehingga ayat 3-31 mengisahkan penciptaan ulang alam semesta. Teori ini dipopulerkan oleh Alkitab Scofield tahun 1909. Dan teori ini seakan cocok dengan kajian ilmiah modern. Tetapi teori ini juga lemah karena tata bahasa dalam Kejadian 1:2 tidak menyatakan demikian. Kata “waw” dalam bahasa Ibrani berfungsi sebagai kata sambung, disusul dengan kata subjek dan predikat. Hal ini menggambarkan kalimat sebelumnya adalah suatu konteks dari informasi di kalimat setelahnya, dan bukan menceritakan sebuah kejadian yang berurutan. Jadi awal penciptaan bumi adalah tak berbentuk dan kosong, dan bukan menjadi tak berbentuk dan kosong.

3. The intermitten-day theory

Teori ini menyatakan 1 hari adalah 24 jam, tetapi ada jarak antara hari-hari tersebut. Dikatakan aktivitas penciptaan Allah dilakukan dalam jarak antara hari-hari tersebut. Teori ini memang secara pintar mencoba menyatukan konsep 24 jam per hari yang disertai adanya pemanjangan waktu melalui gap antara hari-hari tersebut. Akan tetapi, Kitab Kejadian tidak mengatakan apa-apa mengenai adanya gap tersebut. Jadi teori ini hanya menyimpulkan sesuatu dari ketiadaan dan ini bukanlah fondasi yang kukuh.

Selain itu, hal ini juga akan bertabrakan dengan Kitab Keluaran 20, di mana dikatakan dengan jelas “6 hari Tuhan menciptakan langit dan bumi”. Bahasa ini menyatakan Tuhan yang menciptakan dalam jangka waktu 6 hari ini bukan mencipta di antara gap hari-hari tersebut. Lebih lagi ada suatu pola yang dinyatakan untuk manusia bekerja dan beristirahat. Tuhan menyatakan suatu pola untuk bekerja di mana manusia bisa menirunya sebagai pola untuk manusia bekerja.

4. Religion-only theory

Teori ini menyatakan bahwa apa yang Allah nyatakan hanyalah untuk menyediakan ajaran religius mengenai Allah. Informasi dalam Kitab Kejadian tidak menyatakan apa-apa untuk disimpulkan secara kajian ilmiah, apalagi menentangnya. Pernyataan akan teori ini bisa berbeda-beda. Ada yang menyatakan bahwa Alkitab hanya menyediakan jawaban bagi pertanyaan “siapa” dan “kenapa”. Sedangkan sains menjawab pertanyaan “bagaimana”. Mereka yang memegang teori ini menyatakan tidak perlu ada konflik antara agama dan sains karena masing-masing membahas hal yang berbeda. Ada lagi yang lain menyatakan Kejadian 1 ini hanyalah salah satu mitos dari mitos-mitos yang banyak beredar di Timur Dekat Kuno (Ancient Near East) pada masa itu. Teori ini juga lemah, karena Alkitab menceritakan dengan jelas bahwa Allah bekerja dalam sejarah. Alkitab tidak hanya berbicara dalam ranah agama saja.

Alkitab dengan peduli memberitahukan kita mengenai “siapa” dan “kenapa”. Akan tetapi, Alkitab juga tidak total menolak pertanyaan “bagaimana”. Kedua pertanyaan itu tidak bisa dipisahkan secara sempurna karena fokus Alkitab adalah pada Allah dan pekerjaan-Nya. Allah kita adalah Allah yang bekerja dalam ruang dan waktu. Dia bekerja secara spesifik di dalam penciptaan dalam Kejadian 1 dan Allah juga bekerja dalam sejarah. Dia memanggil Abraham, membebaskan umat-Nya dari Mesir, membangkitkan Daud sebagai raja, dan Dia bekerja secara klimaks pada inkarnasi, kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus. Kita tidak bisa mengotak-ngotakkan Dia dalam lingkup yang lebih sempit yaitu hanya dalam agama. Dia bisa berbicara, jika Ia inginkan, mengenai tema apa pun yang Dia suka. Bahkan tanpa Allah membicarakannya kepada kita, sesungguhnya kita tidak mungkin dapat menemukan kebenaran tersebut.

Tentu saja, Alkitab memiliki tujuan utamanya dan kita seharusnya menginterpretasikan suatu kitab berdasarkan tujuan utama tersebut. Memang setiap pasal dalam Alkitab bisa memiliki beberapa tujuan penulisannya, tetapi tetap tidak menjadikan kitab itu bertentangan dengan tujuan utama Alkitab secara keseluruhan. Kita harus tetap melihat Kejadian 1 sebagai satu bagian dalam Kitab Kejadian. Lalu Kitab Kejadian adalah satu bagian dalam kumpulan Pentateukh. Seluruh Pentateukh adalah bagian dari kumpulan kitab-kitab Perjanjian Lama (PL), kanonisasi pertama. Dan satu bagian kitab PL ini merupakan bagian dari satu Alkitab. Kitab Kejadian menceritakan kisah akan orang-orang seperti Nuh, Abraham, Ishak, Yakub, dan Yusuf, yang hadir dalam sejarah dan melewati tempat serta kurun waktu tertentu. Referensi demi referensi baik akan Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru menyatakan bahwa orang-orang ini adalah nyata dan bukan tokoh kisah fiksi atau semi-fiksi. Adam, Nuh, Abraham, Ishak, dan Yakub bahkan ada dalam daftar leluhur dari Kristus. Kitab Kejadian memilih cerita yang mau diceritakan dan tidak. Namun apa yang diceritakan adalah kisah yang benar-benar terjadi. Fakta bahwa Kejadian 1 ada di dalam Kitab Kejadian mengonfirmasi bahwa apa yang diceritakan dalam Kejadian 1 juga merupakan suatu hal yang benar-benar terjadi dalam ruang dan waktu dan bukan sesuatu yang dibuat-buat. Tuhan menunjukkan kisah Kejadian ini awalnya kepada orang-orang Israel, dan setelah rencana-Nya tergenapi, Ia juga bercerita kepada orang-orang lain sepanjang zaman. Namun Ia tidak menunjukkan kitab ini hanya kepada orang-orang berbudaya modern. Allah tidak menggunakan terminologi-terminologi modern atau menceritakan dengan sangat mendetail akan hal yang dibongkar oleh sains modern. Dia berbicara dalam bahasa yang sangat biasa. Sebagian alasannya adalah agar setiap orang dalam budaya apa pun tidak mempunyai alasan yang cukup untuk mengingkari Tuhan yang sejati. Sebagian alasan yang lain adalah supaya orang-orang yang telah Tuhan bukakan hatinya bisa mendapatkan petunjuk akan kebenaran asli tentang penciptaan. Tuhan memberikan kita Kitab Kejadian untuk menjadi suatu fondasi yang membuat kita mengenali-Nya sebagai Allah yang sejati dan kita sadar akan relasi kita dengan-Nya. Kita ada untuk memuji-Nya akan segala yang Tuhan berikan di dunia ciptaan-Nya. Itulah tujuan dari Kejadian 1 ini, yaitu untuk menyatakan siapa Tuhan, di mana posisi kita, dan di mana posisi ciptaan lainnya. Kita jangan sampai mengotak-ngotakkan Kitab Kejadian hanya untuk aspek agamawi saja, tetapi juga jangan seperti ahli sains modern yang membaca Kitab Kejadian seperti membaca buku kajian ilmiah.

5. Teori day-age

Orang yang menganut teori ini menyatakan 1 hari dalam Kitab Kejadian itu tidak harus mempunyai panjang 24 jam. Teori ini menyatakan 1 hari adalah jangka waktu yang lama. Periode 1 hari tersebut bergantung pada usia bumi dan itu bukan 24 jam. Teori ini berdasarkan kepada kata “yôm” dalam Alkitab dan bisa dipakai dalam berbagai konteks:

  1. 1 periode adanya cahaya—Tuhan mengatakan terang itu “siang” (Kej. 1:5)
  2. 1 periode adanya cahaya dan kegelapan bersama (24 jam) (Est. 4:16)
  3. Rentang waktu yang tidak spesifik dan memiliki karakter yang berbeda:• Pada hari Tuhan Allah telah membuat bumi dan langit (Kej. 2:4).
    • Hari Tuhan dekat (Zef. 1:14).
    • Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu (Ams. 24:10).
    • Sebab TUHAN mendatangkan hari pembalasan... (Yes. 34: 8).

Sebenarnya kata “yôm” yang pertama dan kedua merujuk kepada waktu 1 hari berjumlah 24 jam. Penggunaan waktu saat adanya cahaya dan saat adanya malam dalam Alkitab juga sering kali memiliki makna yang literal. Kata “yôm” memang bisa juga digunakan untuk menggambarkan makna “pada masa tertentu”. Namun, biasanya penggunaan seperti ini selalu ada dalam konteksnya, apalagi hari penciptaan dikonfirmasi di Keluaran 20.

6. Teori analogi hari

Teori ini menyatakan bahwa hari dalam Kejadian 1 ini adalah hari-hari yang menjadi analogi bagi manusia bekerja. Dan teori ini menyatakan bahwa panjang harinya tidak perlu sama dengan hari seperti sekarang. Bisa lebih panjang atau lebih pendek. Teori analogi hari ini cukup mempunyai kelebihan karena memang Tuhan ada mengatakan mengenai hari dalam penciptaan sebagaimana Ia menetapkan hari Sabat (Kel. 20:8-11). Tetapi analogi ini tidak dengan jelas menyatakan berapa lama 1 hari itu. Lalu analogi ini mempunyai kelemahan, yaitu ketika Tuhan mengatakan istirahat itu bukan hanya 1 hari, tetapi selamanya. Sejak hari ke-7 sampai saat ini, Tuhan sudah beristirahat dari kegiatan mencipta-Nya. Tuhan beristirahat bukan berarti Tuhan lepas tangan atas ciptaan-Nya. Tuhan memang tidak lagi mencipta saat ini, tetapi Ia tetap aktif menopang alam semesta.

7. Young-earth creationism

Teori ini dianut oleh banyak orang dan menyatakan bahwa bumi dan semesta ini hanya berusia beberapa ribu tahun dan bukan miliaran tahun. Mereka mengerti Kejadian 1 berbicara mengenai 24 jam dalam 1 hari. Dan orang yang menganut teori ini menantang kajian ilmiah untuk merevisi klaim mereka. Adanya perselisihan ini menjadi ciri dari mereka yang berpegang kepada teori ini. Ada berbagai teknik kajian ilmiah untuk menemukan usia dari berbagai benda purbakala. Ada yang memakai kecepatan cahaya. Pada astronomi, kecepatan cahaya dipakai untuk menentukan usia dan jarak dari benda-benda angkasa. Ketika ada kesimpulan suatu galaksi yang berjarak ratusan ribu tahun cahaya, maka artinya perlu ratusan ribu tahun cahaya agar cahaya yang ada dipantulkan balik ke kita. Dengan teori itu, mereka menyimpulkan bahwa benda-benda langit tersebut sudah ada paling tidak 30.000 tahun cahaya. Tetapi sebenarnya cara ini memakai lebih banyak asumsi dalam perhitungannya, apalagi terhadap benda-benda yang jauh. Ukuran mereka menjadi lebih tidak akurat. Ada yang memakai cara radioaktif. Cara ini menggunakan zat radioaktif untuk menilai usia suatu benda dari berapa banyak peluruhannya. Ada yang menggunakan radiokarbon, potasium-argon, rubidium-strontium, samarium-neodymium, dan lain-lain. Respons dari orang yang menganut teori young-earth creationism ini ada berbagai macam. Ada yang mengatakan metode penilaian usia tersebut salah. Ada yang berusaha mencari celah dan menunjukkan berbagai kelemahan dari metode-metode tersebut. Jumlah argumen-argumen mereka sangatlah banyak. Satu yang utama dari kritik orang yang menganut teori young-earth creationism ini adalah cara mereka mengukur usia benda tersebut berdasarkan asumsi proses fisika yang terjadi di masa lampau. Para ilmuwan tersebut mengasumsikan apa yang terjadi saat ini, waktu peluruhan dan prosesnya, adalah sama dengan apa yang terjadi pada masa lampau. Kecepatan cahaya dahulu adalah sama dengan saat ini. Radioaktif juga demikian. Namun tentu semua itu bukanlah asumsi yang valid.

Perspektif mana pun yang kita ambil, haruslah sejalan dengan prinsip Alkitab. Alkitab dengan jelas menyatakan Allah yang mengatur alam semesta ini. Dunia ini bukanlah ada dalam genggaman sesuatu yang impersonal, atau aturan mekanis. Tuhanlah yang mengatur semua itu secara pribadi. Keteraturan yang kita lihat dalam alam semesta ini semata-mata melukiskan kesetiaan Allah dan konsistensi Dia.

Di satu sisi kita bisa melihat konsistensi Allah dalam regularitas, menjadikan kita bisa berpegang pada-Nya. Tetapi juga di sisi lain, karakter Allah yang memimpin dunia ini secara pribadi tidak menjadikan kita bisa langsung mengekstrapolasikan kejadian di masa lampau tanpa menghiraukan apa yang Allah ingin lakukan di masa lampau.

Karakter Allah, tujuan-Nya, dan kehendak-Nya adalah segala aspek yang menjadikan apa yang telah ada dan terjadi di masa lampau. Allah memerintah dalam konsistensi dan keteraturan. Tetapi kita bisa melihat ada masa-masa di mana Allah menyatakan keajaiban-Nya dengan menghadirkan hal-hal yang tidak biasa, yang kita sebut sebagai mujizat.

Ada juga beberapa titik kejadian yang menjadikan dunia ini berubah. Misalnya, titik awal mula penciptaan, di mana dunia belum ada, lalu titik setelah 6 hari penciptaan, titik kejatuhan manusia, di mana dinyatakan alam terkena dampak dari dosa, walaupun tidak jelas diceritakan apa dampaknya secara konkrit, tetapi jelas ada perubahan terjadi pada alam ini. Lalu ada masa air bah Nuh, dan dunia pasti berbeda antara sebelum dan sesudah masa itu. Waktu masa nanti ketika adanya langit dan bumi yang baru, saat itu juga pasti terjadi perubahan pada dunia ini. Titik-titik ini melukiskan adanya perubahan yang dilakukan oleh Tuhan yang mengatur dunia ini. Jadi sekali lagi, semua teori yang ada masih banyak yang berupa asumsi.

Kajian ilmiah terus berubah. Teori baru meruntuhkan teori yang lama. Kita bisa terus menemukan alternatif yang baru. Tetapi satu hal yang kita harus ingat bahwa yang tetap adalah perkataan firman Tuhan. Kajian ilmiah bisa salah, tetapi firman Tuhan tetap untuk selamanya (1Ptr. 1:25; Yes. 40:8; Mat. 24:35).

Thressia Hendrawan

Pemudi FIRES

Sumber:

  1. Poythress. Christian Interpretation of Genesis 1. 2013. R&R Publishing: USA.
  2. https://answersingenesis.org/.
  3. Arnold, Bill T. Encountering Biblical Studies: Book of Genesis. 2003. Baker Academic.

Thressia Hendrawan

April 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲