Artikel

The Broken Covenant Breaker

Hampir semua orang tidak suka berada di dalam posisi sebagai terdakwa. Bahkan di dalam posisi yang sudah terbukti bersalah sekalipun, tetap tidak mudah bagi seseorang menerima dan mengakui kesalahannya. Secara alami dari dalam hati dan pikiran kita, ada dorongan atau keinginan untuk membela diri, merasionalisasi kesalahan, atau memberikan alasan yang dapat menarik simpati, sehingga setidaknya dapat mengurangi hukuman atas kesalahan tersebut. Yang lebih parah dan lebih sering terjadi adalah orang-orang yang tidak bisa menerima kesalahannya dan dengan berbagai cara berusaha untuk membenarkan diri akhirnya justru dia melakukan kesalahan yang lebih besar lagi. Kondisi yang terakhir ini merupakan gambaran dari manusia yang sudah jatuh ke dalam dosa, lalu mereka memberikan dirinya terjerat lebih jauh di dalam dosa dengan melakukan perbuatan-perbuatan dosa lain yang memiliki tingkatan makin parah.

Inilah situasi dunia berdosa ini, yang kita semua pasti pernah mengalaminya di dalam tingkatan kefatalan yang berbeda-beda. Namun, di dalam hal ini kita dapat melihat suatu fakta bahwa dosa dan kesalahan itu bukan hal yang sepele. Sebuah kesalahan atau dosa yang terlihat sepele justru memiliki konsekuensi yang fatal, karena sifat dosa yang selalu menuntut orang berdosa untuk makin terjerumus ke dalam dosa yang lebih dalam. Hal inilah yang sering kali manusia, termasuk orang-orang Kristen, abaikan atau tidak sadari. Sebuah tindakan bersalah yang sepele dapat menuntun kita kepada akhir yang fatal dan mematikan.

Peristiwa kejatuhan manusia ke dalam dosa tidak bisa kita nilai sebagai hal yang sepele: hanya urusan makan buah yang dilarang Tuhan. Di balik tindakan manusia yang memutuskan untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat, terdapat motivasi yang berbahaya dan merupakan kejahatan besar di mata Allah. Apalagi hal ini dilakukan di dalam konteks manusia yang hidup di dalam ikatan perjanjian atau adanya sebuah tanggung jawab manusia kepada Allah yang adalah Pencipta sekaligus Tuhan (Lord) dari hidupnya. Perbuatan dosa pertama dari manusia pertama bukan hanya sebuah tindakan melanggar peraturan belaka, tetapi berkaitan dengan status relasi manusia dengan Allah yang berdaulat dan kekal. Itulah sebabnya, kejatuhan manusia ke dalam dosa merupakan hal yang sangat serius di hadapan Allah dan juga fatal di dalam sejarah umat manusia. Berikut ini kita akan melihat kejatuhan manusia ke dalam dosa di dalam konteks relasi kovenan (covenantal relationship). Peristiwa yang mengubah status relasi manusia di hadapan Allah dari yang seharusnya menjadi covenant keeper Allah menjadi covenant breaker Allah.

The Focal Point of the Covenant of Works
Seperti yang dibahas dalam artikel bulan lalu, Allah menciptakan manusia dengan tugas yang secara umum diberikan kepada mereka sebagai tanggung jawab manusia yang adalah gambar dan rupa Allah. Manusia memiliki tugas untuk menaklukkan dunia dan beranak cucu memenuhi bumi ini. Tugas ini Allah berikan dengan memberikan kemampuan kepada manusia untuk menjalankannya di dalam fungsi mereka sebagai nabi, imam, dan raja (true knowledge, true holiness, and true righteousness). Namun, bukan hanya perintah secara umum saja yang Tuhan berikan kepada manusia, terdapat juga perintah yang spesifik, yaitu larangan untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Sebuah larangan yang juga merupakan ujian ketaatan manusia kepada Allah, seperti yang dikatakan oleh Palmer O. Robertson:

“In considering the prohibition of Genesis 2:17, it is essential to appreciate the organic unity between this commandment and the total responsibility of man as created. The requirement concerning the tree of knowledge of good and evil must not be conceived of as a somewhat arbitrary stipulation without integral relation to the total life of man. Instead, this particular prohibition must be seen as the focal point of man’s testing.”

Robertson menekankan bahwa larangan makan buah pengetahuan yang baik dan jahat ini adalah aspek yang tidak terpisah dari perintah Allah secara umum kepada manusia di dalam covenant of works (menaklukkan bumi dan beranak cucu memenuhi bumi). Bahkan larangan ini adalah aspek yang paling inti (focal point) dari ujian ketaatan manusia. Sehingga, keberhasilan atau kegagalan dari ujian ini akan menentukan bagaimana kita menjalankan tanggung jawab kita sebagai gambar dan rupa Allah. Kegagalan kita dalam melihat kesatuan dari kedua aspek ini akan menjatuhkan kita kepada cara berpikir yang dualisme. Cara pandang dualisme ini membawa kita melihat aspek ketaatan kepada Allah sebagai hal yang bersifat rohani dan terpisah dari aspek yang bersifat jasmani atau tugas umum kita sebagai manusia. Kedua aspek ini seharusnya dilihat sebagai satu keutuhan ketaatan dari manusia yang berelasi dengan Allah.

Bukan hanya keutuhannya saja, tetapi kita juga harus dapat melihat aspek perintah spesifik Allah ini sebagai focal point yang menentukan relasi perjanjian manusia dengan Allah. Ketaatan kita kepada Allah akan menjadi poros atau dasar dalam keberhasilan kita menjalankan fungsi kita sebagai gambar dan rupa Allah. Ketidaktaatan kita kepada Allah akan menjadi penyebab dari kegagalan di dalam memelihara perjanjian kita dengan Allah. Kesatuan ini juga tergambar di dalam kehidupan relasi perjanjian tokoh-tokoh besar di dalam Alkitab. Robertson mengaitkannya seperti demikian:

“This same unity of universal covenantal relationship subsequently characterized the various administration of the covenant of redemption. Always the total life of participant in the divine covenant finds its ordering through the covenantal bond. God’s covenant with Noah embraces the total orientation of man to the creation. Under the Abrahamic covenant, the promises of land, seed, and blessing, coupled with the all-inclusive demand for Abraham to walk before God in “completeness” (Gen. 17:1) involve the broadest possible dimensions of human life. The summation of Mosaic law in terms of whole-souled love to God and neighbor depicts a covenantal relationship which encompasses every thought and action. The kingdom-covenant under David obviously intends to order the entire realm of existence of the servants of the King. Covenant-relationship involves total-life relationship. Rather than addressing itself to some ill-conceived “religious” aspect of man, the covenant of God is all-inclusive.

Melalui kesatuan inilah kita dapat melihat betapa krusialnya larangan Allah kepada manusia pertama untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Oleh karena itulah, seperti yang sudah dinyatakan di awal, kejatuhan manusia ke dalam dosa bukan sekadar makan buah, tetapi berkaitan dengan focal point dari perjanjian Allah dengan manusia pertama. Kegagalan dalam memelihara perjanjian ini menjadikan manusia sebagai perusak perjanjian dan berada dalam status sebagai seteru Allah, bukan lagi hamba atau umat-Nya. Ini adalah urusan kepada siapa manusia mau mengabdikan dirinya.

The Fall: Man as Covenant Breaker
Kejadian 3 menceritakan kisah tragis dari manusia ketika jatuh ke dalam dosa. Di dalam kisah ini kita melihat bagaimana Adam dan Hawa digoda oleh setan, melanggar perintah atau perjanjian mereka dengan Allah, dan hal ini mendatangkan hukuman bagi kehidupan mereka dan juga kutukan terhadap alam semesta itu sendiri (Kej. 3:1-19). Seperti yang sudah dijelaskan di atas, larangan Allah atas Adam dan Hawa untuk tidak memakan buah dari pohon pengetahuan yang baik dan jahat adalah focal point dari relasi perjanjian manusia dengan Allah. Relasi perjanjian Allah dengan manusia ditentukan oleh perintah tersebut. Jikalau Adam berhasil tunduk dan taat kepada Allah di dalam ujian ini, berkat yang Allah janjikan menjadi kepastian bagi kehidupan manusia. Di dalam ujian ini, manusia dituntut ketaatannya yang radikal kepada Allah.

Manusia sudah diberikan hak untuk dapat memakan buah dari setiap pohon di Taman Eden. Bahkan sebagai gambar Allah, manusia memiliki otoritas atau kuasa atas semua yang ada di taman ini. Namun, di dalam pengecualian yang Tuhan berikan inilah, justru manusia mengalami kegagalan. Larangan terhadap satu pohon inilah yang mengindikasikan bahwa setinggi-tingginya atau sebesar-besarnya kuasa manusia atas alam ini, manusia bukanlah Allah. Sebagai ciptaan Allah, ciptaan yang paling mulia, manusia harus tetap taat kepada setiap perintah Allah. Manusia harus tetap menyadari bahwa dirinya adalah ciptaan dan Allah adalah Sang Pencipta.

Di dalam konteks ini, larangan tersebut adalah firman Allah yang wajib ditaati. Sehingga poin pengujian Allah atas manusia di dalam konteks ini adalah pengujian kerelaan kesediaan manusia untuk mau menundukkan diri dan taat kepada perintah Sang Pencipta. Namun, ironisnya manusia memilih untuk memberontak kepada Allah. Kita bukan ditipu Iblis semata, bukan juga karena terlalu bodoh atau polos, dan bukan juga karena tidak tahu mana yang benar atau salah, tetapi karena kita pilih tidak mau taat kepada Allah. Di sinilah kefatalan kejatuhan manusia dalam dosa. Kita tahu jelas kita wajib taat kepada Allah, namun kita memberontak dan memilih tidak menaati-Nya.  

Alkitab mencatat, kejatuhan manusia ke dalam dosa ini adalah keinginan manusia yang ingin memiliki pengetahuan tentang yang baik dan jahat. Istilah “memiliki” di sini bukan sekadar perubahan dari tidak tahu menjadi tahu. Tetapi istilah ini menunjukkan bahwa manusia ingin menentukan sendiri mana yang baik dan mana yang jahat. Manusia ingin memiliki kuasa menentukan pengetahuan akan baik dan jahat. Manusia ingin bebas dari kontrol Allah, kebenaran Allah, serta pertanggungjawaban kepada Allah. Di sinilah kemudian manusia berubah menjadi seorang covenant breaker, yaitu seorang yang memberontak kepada Allah.

The Broken Covenantal Relationship that Broke Man’s Role
Kegagalan manusia di dalam menaati larangan Allah tersebut menjadikan manusia gagal untuk menjalankan perintah Allah yang umum. Manusia gagal untuk menjalankan fungsi dari gambar dan rupa Allah. Kejatuhan manusia menjadikan ketiga fungsi gambar dan rupa Allah gagal, malah menjadi berfungsi secara berlawanan dari seharusnya.

Di dalam fungsi sebagai nabi, seharusnya manusia hidup sebagai wadah kebenaran atau wahyu yang Allah berikan, baik secara umum melalui ciptaan maupun secara khusus melalui firman-Nya. Dengan rasio yang Tuhan berikan di dalam diri manusia, seharusnya manusia dapat memiliki true knowledge. Namun, kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikan rasio manusia rusak dan tidak dapat lagi mengenal kebenaran Allah dengan tepat. Alkitab berkali-kali menggunakan istilah “bodoh” bagi manusia berdosa. Segala sesuatu yang dunia anggap pintar merupakan kebodohan di mata Allah. Istilah “bodoh” di sini tidak sama dengan IQ atau kemampuan intelektual seseorang, tetapi dikaitkan dengan seberapa jauh manusia mengerti atau peka dalam mengetahui kebenaran yang Allah nyatakan, karena rusaknya relasi manusia dengan Allah Sang Penciptanya. Bukan hanya itu, manusia yang memberontak dengan berani membangun kebenarannya sendiri dan menolak kebenaran yang Allah nyatakan. Allah menggambarkan kebodohan umat-Nya yang dicatat di Yeremia 2:13, “Sebab dua kali umat-Ku berbuat jahat: mereka meninggalkan Aku, sumber air yang hidup, untuk menggali kolam bagi mereka sendiri, yakni kolam yang bocor, yang tidak dapat menahan air.” Manusia meninggalkan Sumber Air Hidup, lalu mencari air di kolam yang bocor. Manusia tahu dengan jelas dia perlu air, karena itu manusia mencari air. Manusia juga tahu Allah itu Sumber Air Hidup, yang tidak akan pernah kering, namun manusia meninggalkan-Nya. Ini pemberontakan! Ini kebodohan! We are hopeless and helpless!

Di dalam fungsi sebagai imam, seharusnya manusia hidup berdedikasi seluruhnya bagi kemuliaan Tuhan. Segala yang ia kerjakan di dalam dunia ini semuanya harus dikembalikan bagi kemuliaan Tuhan. Hal ini berkaitan dengan aspek arah hidup manusia yang seharusnya memiliki true holiness. Sebagaimana seorang imam harus memastikan setiap persembahan yang diberikan tidak bercacat, manusia seharusnya dengan sungguh-sungguh mengejar kesempurnaan di dalam apa yang ia lakukan sebagai persembahan yang harum di hadapan Allah. Namun, kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikan manusia tidak lagi memberikan kemuliaan kepada Tuhan. Mereka mencuri kemuliaan itu bagi diri sendiri. Kita cenderung mencari dan berusaha mati-matian mengejar yang terbaik bagi kemuliaan diri, tetapi bagi Tuhan hanya diberikan yang sisa, itu pun kalau kita masih rela memberikannya. Lebih parah lagi, manusia bisa memanfaatkan pelayanan dan penyembahan kepada Allah sebagai sarana atau showcase untuk mendapatkan kemuliaan bagi diri. Manusia berdosa memanfaatkan Allah bagi kemuliaan diri, inilah kerusakan manusia yang sudah jatuh dalam dosa. We are sinners!

Di dalam fungsi sebagai raja, seharusnya manusia menggunakan kuasanya untuk menggarap dunia ini di dalam true righteousness. Di dalam kebenaran dan kebijaksanaan dari Tuhan, manusia seharusnya mengusahakan dan mengatur alam semesta ini. Dengan segala kompleksitas yang ada di dalam alam semesta ini, manusia diciptakan sebagai wakil Allah untuk menggarapnya. Layaknya seorang raja yang memerintah suatu kerajaan, manusia dipanggil untuk menggarap dunia ini di dalam kebenaran dan keadilan. Namun, kejatuhan manusia ke dalam dosa menjadikan manusia penuh dengan tipu daya dan ketidakadilan di dalam mengusahakan alam semesta ini. Sebagaimana seorang raja yang lalim mengatur di dalam keegoisan dan menimbulkan kekacauan di dalam pemerintahannya, manusia berdosa mengusahakan dengan egois tanpa memikirkan efek samping atau dampak bagi sekitarnya. Mereka mungkin saja sangat rajin berusaha, bahkan menghalalkan segala cara, demi memenuhi ambisi diri yang berdosa. Inilah kerusakan manusia yang seharusnya berada sebagai wakil Allah yang benar. Kita tidak lagi menjunjung tinggi perjanjian yang diberikan Allah kepada kita sebagai wakil-Nya di dunia ini. Kita membuang perjanjian ini, kita melanggarnya, dan kita merusaknya. We are covenant breakers!

Rusaknya ketiga fungsi ini menjadikan manusia tidak lagi dapat berfungsi dengan benar sebagai gambar Allah di tengah-tengah dunia ini. Sebaliknya, manusia secara aktif memberontak dan melawan Allah. Mereka membangun kebenarannya masing-masing, bukan tunduk kepada kebenaran Allah, mengejar apa yang menjadi ambisi diri, bukan menggenapkan kehendak Allah, dan melakukan segalanya bagi kemuliaan diri, bukan kemuliaan Allah. Inilah manusia berdosa yang rusak. We are broken!

The Broken Covenant and the Covenant of Redemption
Sebagai focal point dari covenantal relationship manusia dengan Allah, kegagalan manusia di dalam ujian ketaatan ini memberikan dampak yang sangat fatal bagi kehidupan manusia. Bukan hanya kegagalan manusia di dalam menjalankan fungsinya sebagai gambar Allah, relasi manusia pun menjadi rusak. Di hadapan Allah, manusia berdiri sebagai seteru-Nya. Di hadapan sesama, manusia menjadi pemangsa sesamanya. Di hadapan alam, manusia menjadi perusak dan mengeksploitasinya. Di hadapan diri, manusia menjadi musuh terbesar bagi dirinya sendiri. Inilah kerusakan relasi yang begitu mengerikan dari kehidupan manusia berdosa.

Jikalau kita melihat di dalam Kitab Kejadian, ketika manusia sudah jatuh ke dalam dosa, Tuhan langsung membuat perjanjian yang lain, yaitu covenant of redemption. Di dalam sepanjang sejarah Alkitab, kita dapat melihat bahwa Allah melakukan berbagai perjanjian yang lebih spesifik dengan berbagai tokoh besar Alkitab. Perjanjian-perjanjian ini adalah bagian dari covenant of redemption, yang merupakan bagian dari karya keselamatan yang Allah kerjakan bagi manusia, sehingga manusia dapat direkonsiliasikan kembali dengan Allah. Hal ini akan kita bahas dalam artikel selanjutnya.

Melalui artikel ini, kiranya kita dapat menyadari bahwa status manusia sebagai orang berdosa bukanlah hal yang sepele, tetapi hal yang serius, karena keberdosaan kita adalah kerusakan terhadap hal yang paling esensial dalam relasi manusia dengan Allah, yakni kerusakan focal point dari covenantal relationship manusia dengan Allah dan hal ini merusak kehidupan manusia secara menyeluruh. Kiranya Tuhan menolong kita untuk menyadari siapa diri kita di hadapan Allah. Kita hanyalah manusia berdosa, broken covenant breakers yang hopeless dan helpless, namun mendapat anugerah di dalam Kristus Yesus. Haleluya!

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

April 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk rangkaian Grand Concert Tour 2019 di Kaohsiung, Taipei, dan Hong Kong pada tanggal 15-21 Juli 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
baik

Selengkapnya...

saya mau bertanya aja, kalau di katakan bahwa "when they were created, human can be self-centered",...atau...

Selengkapnya...

Terima kasih untuk renungan tentang kasih Allah.

Selengkapnya...

Asumsikan ada terbatas banyaknya bilangan genap jika dan hanya jika terdapat M yang merupakan bilangan terbesar dari...

Selengkapnya...

YESUS BERJANJI AKAN KESELAMATAN JEMAAT-NYA SAMPAI AKHIR ZAMAN, GEREJA KATOLIK TERBUKTI EKSIS SAMPAI SEKARANG DAN...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲