Artikel

The Covenant of Consummation and the Lord of the Covenant

Kehidupan tidak pernah menjadi lebih mudah. Mungkin ini adalah kalimat yang menggambarkan realitas yang kita hadapi di dalam kehidupan. Di setiap tahap kehidupan, kita selalu menjumpai kesulitan-kesulitan, yang terkadang membuat kita putus asa. Kita berharap setelah melewati tahap tersebut, kita akan mendapatkan kelegaan dan mengejar kehidupan yang lebih mudah dijalani. Namun, realitas menyatakan bahwa kehidupan yang lebih mudah itu hanyalah sebuah mimpi, karena makin kita dewasa, makin besar tanggung jawab yang harus kita jalani, dan itu berarti kehidupan makin kompleks. Kehidupan yang menjadi makin kompleks tersebut sering kali membuat tawar hati banyak orang. Mereka memilih untuk menyerah dan menjalani hidup ini dengan hanya mengikuti arus saja. Dengan kata lain, sudah tidak ada lagi semangat juang dalam kehidupan mereka. Sementara di sisi yang lain, ada juga segelintir orang yang memilih tetap berjuang, dan beberapa di antaranya dianggap mencapai keberhasilan dalam hidupnya. Namun, jikalau kita bertanya mengenai perjalanan hidup mereka, pasti banyak kesulitan yang harus dihadapi. Mereka pun pasti setuju bahwa kehidupan yang mereka jalani makin lama menjadi makin kompleks, tetapi mereka memilih untuk tetap berjuang. Apa yang menjadi perbedaan di antara 2 kelompok ini (antara yang putus asa lalu menjadi tawar hati dengan kelompok yang memilih berjuang)? Harapan. Kelompok yang tetap berjuang memiliki suatu harapan di dalam hidupnya, yang terus mereka kejar.

Sebagai orang Kristen, kita mungkin dapat langsung menyadari bahwa kesulitan-kesulitan di dalam kehidupan ini adalah bagian dari hukuman Allah atas dosa manusia. Di dalam Kitab Kejadian, sewaktu manusia jatuh ke dalam dosa, Allah menghukum manusia dengan kesulitan dan kesakitan yang harus dialami dalam menjalani hidup ini (berpeluh dalam bekerja dan melahirkan dengan kesakitan). Namun, Allah tidak hanya menghukum manusia saja, Ia pun memberikan janji keselamatan kepada manusia. Di satu sisi Allah menghukum manusia atas dosanya, tetapi di sisi lain Allah memberikan harapan anugerah keselamatan kepada manusia. Inilah yang menjadi salah satu karakteristik relasi perjanjian antara Allah dan umat-Nya di sepanjang sejarah.

Karakteristik relasi perjanjian Allah ini terpapar di sepanjang sejarah perjanjian Allah dengan bangsa Israel, seperti yang sudah kita bahas dalam artikel-artikel sebelumnya. Khususnya, dalam artikel sebelumnya kita membahas mengenai perjanjian Allah dengan Daud, di mana melalui Daud Kerajaan Israel berdiri sebagai bayang-bayang dari Kerajaan Allah yang secara sempurna akan dinyatakan nanti. Di sisi lain juga, kita sudah membahas bahwa peranan raja di dalam Kerajaan Israel sangatlah krusial, raja yang lalim akan menuntun Israel pada kehancuran, sedangkan raja yang saleh akan mendatangkan berkat bagi bangsa tersebut. Namun, sejarah kerajaan Israel lebih banyak diisi oleh raja-raja yang lalim dibanding yang saleh, begitu juga dengan bangsa Israel sendiri yang tidak taat kepada Allah, sehingga akhirnya mereka harus menerima hukuman dari Allah. Mereka dibuang oleh Allah. Mereka diasingkan dari Tanah Perjanjian yang Tuhan berikan kepada mereka, dan semua ini adalah akibat dari kegagalan mereka untuk setia kepada perjanjian dengan Allah. Pembuangan ini tidak hanya berkait dengan perjanjian Allah dengan Abraham, yang kepadanya dijanjikan Tanah Perjanjian, tetapi juga berkait dengan perjanjian lain, seperti Musa yang berkait dengan hukum Allah yang mereka langgar.

Namun, di tengah masa pembuangan ini Tuhan mengirimkan para nabi-Nya untuk menyatakan teguran-Nya sekaligus pengharapan akan pemulihan yang akan Ia berikan. Walaupun Israel telah gagal di dalam kesetiaannya, Allah tidak gagal di dalam menjalankan rencana-Nya. Karya keselamatan yang Ia rencanakan tetap berjalan. Kehendak-Nya untuk membentuk sekelompok orang yang ditebus-Nya dan menjadi milik-Nya tetap Ia laksanakan, sehingga Allah mengirimkan para nabi untuk menyatakan hope beyond devastation. Namun, karya Allah pun tidak lagi menggunakan bentuk perjanjian seperti perjanjian dengan umat-Nya di Perjanjian Lama. Allah menetapkan suatu perjanjian yang baru, yang lebih bertahan lama dan efektif. Berkaitan dengan hal ini, Palmer Robertson menyatakan seperti demikian:

“The expectation of hope beyond devastation took many forms. The prophets spoke most frequently of a return to the land of promise, of a restoration of acceptable workshop, of a renewal of a regal messianic line. Specifically, one unifying motif having to do with these restoration expectations involved the anticipation of a new covenant relationship, the Lord would bring to certain fruition his commitment to redeem a people for himself. Since the covenant throughout Israel’s history has structured God’s relationship with his people, it might have been anticipated that the future age of restoration also would assume covenantal form. By the inauguration of a new covenant relationship. The original purposes of God to redeem a people to himself would find satisfactory realization.”

Berdasarkan penjelasan dari Robertson ini kita dapat mengerti bahwa karakter dari new covenant adalah untuk menggenapi apa yang kurang atau gagal diselesaikan oleh covenant sebelumnya. Lebih jelasnya, hal yang tidak mungkin diraih melalui perjanjian-perjanjian sebelumnya menjadi mungkin atau bahkan pasti diraih melalui perjanjian yang baru ini. Dengan kata lain, perjanjian yang baru ini menjadi penggenapan terakhir dari perjanjian-perjanjian sebelumnya yang belum tergenapi. Robertson pun melanjutkan penjelasannya.

“Because of its unique role in gathering together the various strands of covenantal promise throughout history, this last of God’s covenants appropriately may be designated as the covenant of consummation. This covenant supersedes God’s previous covenantal administration. At the same time, it brings to focal realization the essence of the various covenants experienced by Israel throughout history. Consummation characterizes the substance of this final covenant throughout.”

Di dalam kutipan ini kita dapat melihat keunikan dan krusialnya new covenant yang menyempurnakan dan menyelesaikan covenant yang dibuat pada masa-masa sebelumnya. Pada artikel ini kita akan melihat singifikansi dan keunikan dari new covenant yang semuanya berpusat di dalam satu Pribadi, yaitu Yesus Kristus.

Keunikan New Covenant
Untuk mengerti mengenai konsep new covenant ini, kita akan melihat beberapa hal yang menjadi poin utama dari bagian Yeremia 31:31-34.

Penggenapan komitmen dari perjanjian-perjanjian sebelumnya
       Di dalam new covenant, Allah menggenapkan atau memenuhi janji-janji-Nya dari covenant yang Ia adakan sebelumnya. Ketaatan kepada hukum Allah yang tidak dijalankan dengan setia oleh bangsa Isreal di bawah Mosaic covenant akan dipenuhi dan digenapi di dalam provisi dan perjanjian yang baru. Bukan hanya perjanjian dengan Musa, perjanjian Allah dengan Abraham pun akan digenapi dan dipenuhi. Tanah Perjanjian yang Allah berikan kepada bangsa Israel akan menjadi realitas yang tidak terguncangkan. Yehezkiel menyatakan bahwa Daud akan menjadi raja dari Israel, bangsa Israel akan berjalan sesuai dengan perintah Allah yang diberikan melalui perjanjian dengan Musa, dan mereka akan tinggal di dalam tanah yang Tuhan janjikan melalui perjanjian dengan Abraham (Yeh. 37:24, 25), sehingga new covenant tidak dapat dianggap sebagai perkembangan dari hal-hal yang tidak dikenal oleh umat Allah. Namun, perjanjian baru ini berkesinambungan dengan perjanjian-perjanjian sebelumnya dan akan menumbuhkan buah dari rencana keselamatan Allah. Perjanjian-perjanjian yang gagal untuk dipertahankan karena ketidaksetiaan bangsa Israel akan digenapi dan disempurnakan di dalam perjanjian yang baru ini.

Pembaruan secara internal melalui pekerjaan Roh Kudus
       Salah satu hal yang unik dari perjanjian baru adalah internalized inscription of the law of God atau hukum Allah yang akan diukir secara internal di dalam hati setiap orang. Yeremia 31:33 mengatakan, “Tetapi beginilah perjanjian yang kuadakan dengan kaum Israel sesudah waktu itu, demikianlah firman Tuhan: Aku akan menaruh Taurat-Ku dalam batin mereka dan menuliskannya dalam hati mereka; maka Aku akan menjadi Allah mereka dan mereka akan menjadi umat-Ku.” Hati dari setiap umat Allah akan diukirkan hukum Allah sehingga hati manusia akan menjadi Taurat Allah itu sendiri. Pada bagian lain (Yer. 32:40), dikatakan bahwa Allah menaruh rasa takut akan Dia di dalam hati setiap umat-Nya sehingga mereka tidak akan beralih dari-Nya. Yeremia 3:17 mengatakan bahwa melalui karya tersebut umat Allah tidak akan berjalan menurut kekerasan hatinya lagi. Oleh karena itu, perjanjian baru memiliki aspek unik di dalam mengubah setiap umat Allah dari dalam hati mereka, hal inilah yang unik dan berbeda dengan perjanjian-perjanjian sebelumnya.

Pengampunan dosa secara total
       Salah satu aspek lain yang sangat berkaitan dengan hati yang baru adalah pengampunan atas seluruh dosa umat Allah. Pengampunan ini menjadi prinsip yang menjadi dasar dalam perjanjian baru ini. Yeremia 31:34 mengatakan, “Dan tidak usah lagi orang mengajar sesamanya atau mengajar saudaranya dengan mengatakan: Kenallah Tuhan! Sebab mereka semua, besar, kecil, akan mengenal Aku, demikian firman Tuhan, sebab Aku akan mengampuni kesalahan mereka dan tidak lagi mengingat dosa mereka.” Allah akan menghapus seluruh dosa mereka dan mengampuni mereka.

Karakter perjanjian baru yang tidak akan pernah berakhir atau berlangsung selama-lamanya
       Salah satu aspek perjanjian baru yang paling esensial adalah karakternya yang berlangsung selama-lamanya atau everlasting. Sebenarnya karakter everlasting ini juga terdapat dalam perjanjian-perjanjian sebelumnya, seperti perjanjian dengan Abraham, Musa, dan Daud. Namun, aspek everlasting yang berada dalam perjanjian baru ini berkait dengan dimensi eskatologis. Perjanjian ini bukan hanya perjanjian yang baru, tetapi juga perjanjian yang terakhir, karena melalui perjanjian ini akan dihasilkan buah yang penuh dari karya penebusan Allah yang tidak mungkin dicapai oleh perjanjian-perjanjian sebelumnya. Perjanjian sebelumnya dikatakan everlasting hanya sejauh dari cakupan realisasi perjanjian tersebut.

Berkaitan dengan relasi antara old dan new covenants, kita harus melihat relasi ini bukan hanya di dalam adanya aspek baru, tetapi juga ada kesinambungan di antara kedua perjanjian ini. Robertson mengatakannya demikian, “In any case, a clear line of continuity must be seen in the relationship of the old covenant to the new. While the new covenant will be at radical variance with the old covenant with respect to its effectiveness in accomplishing its goal, the substance of the two covenants in terms of their redemptive intention is identical.” Keempat aspek yang kita bahas di atas menjadi aspek yang dapat dimengerti dengan benar jikalau kita melihat adanya aspek terobosan atau baru dari new covenant ini, sekaligus ada kesinambungan di dalamnya. New covenant menjadi perjanjian yang signifikan karena adanya “pembatalan” perjanjian-perjanjian yang lama disebabkan ketidaksetiaan bangsa Israel, namun di sisi yang lain janji-janji Allah dalam old covenant semuanya tergenapi di dalam new covenant. Begitu juga dengan aspek pengampunan. Sistem pengampunan dosa dengan cara mempersembahkan binatang secara inheren tidak memiliki kuasa untuk menghilangkan dosa dari umat Allah. Justru sistem pengorbanan binatang tersebut menandakan bahwa dosa mereka masih belum diampuni (karena terus dilakukan berulang kali). Sistem korban ini hanyalah melambangkan substitutionary death dari si pembuat dosa. Namun, melalui new covenant, dosa sepenuhnya diampuni dan tidak lagi diingat oleh Allah. Sehingga new covenant membawa aspek yang baru, yaitu pengampunan dan penghapusan total atas dosa manusia, tetapi di sisi lain berkesinambungan dengan old covenant di dalam tipologi realitas pengampunan.

Yesus Kristus sebagai Lord of the Covenant
Berdasarkan pembahasan singkat kita di atas, kita dapat mengerti bahwa new covenant adalah relasi yang baru antara Allah dan umat-Nya. Relasi ini dibentuk melalui seorang Pribadi yang bernama Yesus Kristus. Berulang kali di dalam kitab-kitab Injil, Yesus dikatakan datang sebagai Lord of the covenant yang menggantikan Yahweh sebagai Head of the covenant. Hanya Allah yang dapat mengambil peranan ini. Oleh karena itu Yesus datang ke dunia ini mengambil rupa seorang manusia, namun di dalam kemanusiaan-Nya tetap terpancar dengan jelas bahwa Dia adalah sepenuhnya Allah. Sehingga Ia datang ke dalam dunia ini sebagai Lord of the Covenant yang datang untuk membebaskan manusia dari dosa. Di dalam pribadi Yesuslah seluruh perjanjian ini tergenapi. John Frame menyimpulkan hal ini seperti demikian:

“All previous revelations, all previous covenants, are fulfilled in Him. He is the prophet greater than Moses, the priest who replaces the priests of temple, the King greater than David. Jesus’ sacrifice on the cross fulfils and replaces the animal sacrifices of the temple, for only his sacrifice took away the sins of his people. It is in Jesus’ death that his people have died to sin, and in his resurrection we, too, have been raised to newness of life……
So the work of Christ is the source of all human salvation from sin: the salvation of Adam and Eve, of Noah, of Abraham, of Moses, of David, and of all of God’s people in every age, past, present, or future. Everyone who has ever been saved has been saved through the new covenant in Christ. Everyone who is saved receives a new heart, a heart of obedience, through the new covenant work of Christ. So though it is a new covenant, it is also the oldest, the temporal expression of the pactum salutis.”

Sebagai orang Kristen yang adalah umat Allah, kita seharusnya menyadari akan kesentralan Kristus di dalam karya keselamatan Allah. Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa sebagai bagian dari umat Allah, kita tidak mungkin hidup terpisah dari kebergantungan terhadap Kristus yang dinyatakan oleh Alkitab. Kristus tidak bisa hanya dianggap sebagai guru moral yang agung saja. Kita juga tidak bisa menganggap Kristus hanya sebagai pribadi yang berada di dalam sejarah atau bahkan tokoh fiktif. Paulus mengatakan bahwa jikalau Kristus tidak benar-benar bangkit maka sia-sialah iman kita. Maka, sebagai umat-Nya marilah kita bersandar kepada Dia dan terus menuntut hidup kita makin mengenal dan makin serupa dengan-Nya. Kiranya Tuhan menolong kita.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

November 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Kita mengucap syukur untuk penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas rangkaian Gospel Rally, Seminar, dan Grand Concert Tour di Australia dan Selandia Baru pada akhir Oktober dan awal November ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dear Kartika. Seperti yg disampaikan di awal, Tuhan Yesus pun 'dipilih' Allah sebagai Juruslamat...

Selengkapnya...

Allah Tritunggal mengasihi manusia tidak terbatas, hanya sebagai ciptaan kita manusia memiliki keterbatasan menerima...

Selengkapnya...

wuih mantap jiwa. sangat menjadi berkat bagi saya. terimakasih ya

Selengkapnya...

Bgm caranya sy bs memiliki buletin pillar edisi cetak?

Selengkapnya...

@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲