Artikel

The Existential Moment of Epistemological Revival

Di dalam hidup seorang manusia, terdapat berbagai peristiwa penting yang dapat mengubah hidupnya secara signifikan. Beberapa di antaranya seperti masa ketika dia jatuh cinta, memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi, dunia kerja, saat mulai berkeluarga, dan lain sebagainya. Setiap peristiwa ini bisa menjadi sebuah batu loncatan atau titik balik yang mengubah hidup seseorang. Hal tersebut adalah existential moment. Setiap existential moment adalah saat yang krusial bagi seseorang dalam menentukan arah hidupnya. Ia harus mengambil keputusan mengenai bagaimana ia akan berespons terhadap momen ini. Keputusan yang benar akan membawa hidupnya berkembang ke level yang lebih tinggi, tetapi keputusan yang salah akan membawa kehidupannya stagnan atau bahkan terpuruk. Existential moment diberikan oleh Tuhan untuk kita respons dengan tepat. Ketika kita dapat merespons peristiwa ini dengan tepat, kita akan semakin disadarkan akan kebenaran Allah, dan kita juga semakin didorong untuk hidup dengan lebih setia kepada-Nya. Salah satu existential moment yang akan dibahas pada artikel ini adalah mengenai kematian

Kematian adalah salah satu peristiwa yang paling krusial dan penting di dalam hidup manusia. Siapa pun manusia itu, setinggi apa pun jabatannya, sebanyak apa pun kekayaannya, tidak dapat terhindar dari yang namanya kematian. Inilah kuasa kematian yang begitu menakutkan bagi manusia berdosa. Namun, jikalau kita menelusuri cerita detik-detik sebelum kematian seseorang, maka kita akan menjumpai kisah-kisah yang sangat menarik dan inspiratif. Bahkan ada yang mengatakan bahwa kalimat-kalimat yang diucapkan seseorang sebelum ajal menjemputnya, adalah kalimat-kalimat yang jujur dari dalam hatinya. Bisa jadi kalimat-kalimat ini adalah kalimat-kalimat yang penting. Misalnya saja Leonardo da Vinci, sesaat sebelum kematiannya, ia mengatakan, “I have offended God and mankind because my work did not reach the quality it should have.” Dari kalimat ini kita dapat merasakan passion dari hidupnya yang ingin memberikan yang terbaik bagi Tuhan, dan ia merasa seluruh karyanya tidak ada yang dapat memenuhi standar Tuhan. Kalimat-kalimat seperti ini, atau bahkan kisah-kisah kematian seseorang begitu menginspirasi kita. Jikalau kematian-kematian orang yang jauh dari kehidupan kita bisa begitu inspiratif, bagaimana dengan kematian dari orang-orang yang begitu dekat dengan kita? Bukan hanya kesedihan yang amat dalam yang akan kita alami, tetapi juga sebuah perenungan yang amat dalam akan juga kita alami. Sehingga, kematian seseorang bukan hanya menjadi existential moment bagi orang yang mengalaminya, justru dampak yang lebih besar akan dirasakan oleh orang-orang terdekatnya. Mengapa hal ini bisa terjadi? Karena keberadaan manusia merupakan media yang Tuhan juga pakai untuk pewahyuan, peringatan, dan pendidikan akan kebenaran-Nya.

Doktrin Wahyu
Di dalam Theologi Reformed kita diajarkan bahwa wahyu Allah dapat dibagi menjadi dua, yaitu wahyu umum (general revelation) dan wahyu khusus (special revelation). Wahyu umum berarti Tuhan menggunakan ciptaan-Nya untuk menyatakan kebenaran-Nya. Wahyu khusus berarti Tuhan menyatakan wahyu-Nya secara khusus baik melalui nabi dan rasul, maupun melalui Anak-Nya sebagai puncak dari wahyu khusus. Namun, seorang theolog bernama John Frame membuat pembagian yang sedikit lain. Ia membagi wahyu Allah menjadi tiga, yaitu general revelation, special revelation, dan existential revelation.

Pembagian ini sejalan dengan kerangka berpikir John Frame, yaitu triperspectivalism. Melalui kerangka ini Frame membawa kita untuk melihat segala sesuatu di dalam keluasan dan keutuhan. Ia ingin membongkar cara berpikir zaman modern yang terlalu menyeragamkan segala sesuatu, tetapi kehilangan keindahan di dalam keberagaman. Namun, ia juga ingin kita berhati-hati terhadap pola berpikir dari zaman postmodern yang terlalu menekankan perbedaan tetapi akhirnya kehilangan aspek harmoni di dalam perbedaan tersebut. Cara pandang triperspectivalism ini ingin membawa kita untuk menggali keindahan di dalam keberagaman tetapi juga menikmati keharmonisan yang ada di dalam keberagaman ini. Inilah cara pandang yang berdasarkan konsep doktrin Tritunggal.
Maka pembagian wahyu Allah menjadi tiga jenis bukan dimaksudkan untuk kita pisah-pisahkan, tetapi justru hendak mengajak kita semakin menggali segala keberagaman sekaligus juga melihat harmonisasi satu dengan yang lainnya. Frame ingin kita kembali melihat aspek subjektivitas manusia yang sering kali diabaikan atau ditindas oleh pola berpikir zaman modern. Aspek subjektivitas sering kali dianggap sebagai hal yang tidak penting atau bahkan menyesatkan. Memang benar, di satu sisi jikalau kita mengabsolutkan subjektivitas sebagai kebenaran, maka kita sedang mengulangi kesalahan yang manusia pertama lakukan ketika memilih untuk memakan buah pengetahuan yang baik dan jahat. Namun di sisi lain, kita pun harus menyadari bahwa Tuhan juga sering memakai subjektivitas sebagai media untuk menyampaikan kebenaran-Nya. Misalnya para penulis Kitab Mazmur, mereka menulis setiap ayat sebagai sebuah ungkapan hati mereka yang bersifat subjektif. Namun, Tuhan memakai dan mengonfirmasi subjektivitas ini sehingga apa yang diungkapkan oleh para pemazmur adalah kebenaran. Frame ingin kita menyadari bahwa Tuhan pun sanggup dan mungkin memakai setiap pribadi manusia untuk menyatakan kebenaran-Nya. Inilah existential revelation, yaitu media manusia yang Tuhan pakai untuk menyatakan kebenaran-Nya.

Salah satu fungsi di dalam diri manusia yang merupakan alat untuk menyatakan kebenaran Allah adalah hati nurani. Tuhan menanamkan fungsi hati di dalam diri manusia, sehingga kita dapat menyadari suatu kebenaran. Ketika seseorang berbuat dosa, hati nurani akan menegur dan membuat orang tersebut tidak tenang. Mungkin kita mengingat akan kalimat yang diucapkan oleh Luther di Diet of Worms, “My conscience is held captive by the word of God. And to act against conscience is neither right nor safe.” Melalui hati nurani, Tuhan bisa menyadarkan seseorang akan kebenaran ketika zamannya sudah berbelok jauh dari kebenaran.

Kita mungkin menyadari, ketika kebenaran yang sama diberitakan, ada orang yang bisa langsung berespons dan menerima lalu menjalankan kebenaran tersebut. Orang-orang seperti ini adalah orang-orang yang menerima anugerah Tuhan sehingga ia bisa sadar akan kebenaran dan langsung berespons dengan menjalankannya di dalam hidup. Inilah existential revelation. Selain pemberitaan firman Tuhan, saat kita bisa merelasikan segala sesuatu yang terjadi di sekeliling kita dengan kebenaran firman Tuhan, ini pun adalah sebuah pernyataan yang Tuhan berikan kepada kita. Di dalam bahasa theologis, hal ini disebut sebagai iluminasi dari Roh Kudus. Hal ini pun merupakan bagian dari existential revelation.

Namun, kita harus menyadari bahwa fungsi hati nurani pun sudah tercemar oleh dosa. Saat kita berbuat dosa, fungsi hati nurani ini dapat terus ditekan dan Alkitab menggunakan istilah “mengeraskan hati nurani”. Seseorang yang hati nuraninya sudah mengeras, orang tersebut sangat sulit untuk menerima kebenaran. Tetapi pengerasan hati nurani ini tidak bersifat final, karena bisa saja terjadi peristiwa-peristiwa yang bisa mengejutkan dan menyadarkan orang yang sudah mengeraskan hatinya ini. Calvin mengatakan bahwa kita tidak mungkin bisa terus menindas kebenaran yang Tuhan nyatakan kepada diri kita. Tuhan bisa secara tiba-tiba memberikan sebuah kejutan di dalam berbagai bentuk yang membuat kita perlu berpikir dan merenungkan kembali kebenaran Allah ini. Ini pun bagian dari existential revelation juga.

Kematian sebagai Pernyataan Allah
Berdasarkan konsep existential revelation inilah kita bisa memahami kematian sebagai sebuah existential moment yang menuntut respons kita di hadapan Allah. Sebagai orang Reformed, kita percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dalam dunia ini ada di dalam kendali tangan Allah yang berdaulat. Bahkan melalui hal yang jahat pun Tuhan bisa mereka-rekakannya bagi kebaikan. Sehingga hal yang begitu mengerikan dan memilukan hati seperti kematian pun bisa Tuhan pakai untuk menyatakan kebenaran-Nya kepada manusia. Bukankah kita sering mendengar kisah orang-orang yang berubah hidupnya menjadi semakin baik ketika mereka menghadapi sebuah fakta kematiannya yang mendekat atau fakta kematian dari orang-orang terdekat di sekitarnya? Melalui kematian setidaknya semua manusia harus menyadari betapa terbatas dan lemah dirinya di hadapan realitas dunia ini.

Kita mungkin bisa membangun kehidupan ini dengan begitu arogan bahkan berani menentang Allah dengan segala kesombongan kita. Namun di hadapan kematian, kita harus berpikir ulang akan segala arogansi yang kita bangun. Hingga akhirnya suka tidak suka kita harus mengakui kedaulatan Allah dan betapa lemahnya diri kita sebagai manusia. Kematian adalah existential moment yang seharusnya menyadarkan kita akan kebodohan dan ketidakberdayaan manusia.

Kematian di Tengah Sekularisme
Sebuah pertanyaan yang perlu kita renungkan bersama-sama saat ini adalah, “Apakah kematian tetap menjadi sebuah existential moment bagi kita, khususnya pemuda, di zaman ini?” Sekularisme adalah tantangan yang tak terhindarkan bagi pemuda zaman ini. Kehidupan yang benar-benar mengabaikan banyak hal asalkan dapat menikmati hidup adalah cara pandang yang merebak di kalangan pemuda saat ini. Misalnya saja kehidupan pemuda berkaitan dengan masalah gaya hidup dan keuangan. Kita mungkin sering melihat sebuah konten video di media sosial berkaitan dengan gaya hidup kaum milenial saat ini. Salah satu yang disoroti adalah gaya hidup “ngafe”. Hampir setiap hari mereka mengeluarkan sejumlah uang untuk ngopi di kafe yang cosy. Jumlah yang mereka keluarkan per hari untuk kopi, jikalau diakumulasikan bertahun-tahun, nilainya dapat dipakai untuk mendapatkan sebuah rumah yang sederhana. Namun yang menjadi menarik adalah sebuah video konten balasan yang mengatakan, “Untuk apa memiliki sebuah rumah jikalau engkau bisa menikmati secangkir kopi yang nikmat setiap hari?” Konten balasan ini menggambarkan semangat dari kaum milenial yang ignorant terhadap banyak hal. Mereka tidak terlalu peduli dengan menabung bagi hari depan dan lebih memilih menggunakan uangnya bagi hal-hal yang dapat memberikan kenikmatan bagi diri mereka sekarang. Moto mereka adalah, “Kejarlah impianmu, perolehlah kenikmatan atau passion yang engkau inginkan, jangan terikat oleh konsep-konsep orang lain, jadilah dirimu sendiri.” Inilah semangat yang merebak di kalangan pemuda saat ini.

Dengan semangat seperti ini, kematian tidak lagi dianggap sebagai hal yang mengerikan. Mereka bahkan tidak peduli jikalau nanti masuk neraka, yang penting hari ini mereka dapat menikmati hidupnya. Di hadapan kematian, mereka tidak lagi memikirkan akan makna hidupnya, mereka lebih peduli dengan kesenangan hidupnya. Bahkan yang lebih ekstrem lagi, ada sekelompok orang yang justru sedang memperjuangkan hak untuk mati. Jikalau zaman dahulu banyak orang menghindari kematian, pada masa ini justru ada orang yang memperjuangkan hak untuk mati sebagai sebuah penghargaan terhadap hak asasi manusia. Prinsip dari semangat ini adalah, “Aku adalah penentu hidupku sendiri, tidak ada yang boleh mengaturnya selain diriku sendiri”. Di tengah kondisi seperti ini, bagaimanakah respons kita sebagai pemuda Reformed?

Refleksi
Berkaitan dengan perkembangan sejarah, Van Til mengatakan bahwa semakin lama Tuhan akan mencabut anugerah umum dari umat manusia. Sehingga, umat manusia semakin lama akan semakin bebal. Segala peringatan atau wahyu yang Tuhan nyatakan, semakin lama semakin manusia tindas. Mereka tidak mau hidupnya diatur oleh keberadaan lain selain dirinya sendiri. Dengan kata lain, manusia ingin menjadi tuhan atas dirinya sendiri. Konsekuensi dari semangat seperti ini adalah manusia akan semakin mengeraskan hatinya dan menjadi semakin tidak peka terhadap peringatan dan pernyataan Allah. Apakah ini membuktikan bahwa Tuhan tidak berkuasa? Tidak, justru ini adalah sebuah bentuk penghukuman yang Tuhan berikan kepada umat manusia yang semakin hari semakin mengabaikan Allah. Tuhan membiarkan manusia semakin keras hatinya, semakin bodoh, dan tidak sadar akan kebenaran. 

Sebagai pemuda Reformed yang hidup di zaman ini kita harus waspada dan berhati-hati agar tidak terbawa arus dunia ini. Kita harus berdoa dan memohon Tuhan memberikan kepekaan terhadap segala pernyataan yang Ia nyatakan bagi kita. Kita perlu juga memohon, agar kita dapat berespons dengan tepat terhadap setiap situasi yang Tuhan izinkan terjadi, sehingga kehidupan kita justru semakin dibentuk oleh Tuhan dan kita semakin sadar akan kebenaran. Dengan kata lain, kita perlu memohon existential revelation ini terus dihadirkan melalui hidup kita. 

Kehidupan kita sebagai pemuda di zaman ini akan diperhadapkan dengan berbagai realitas hidup. Kematian bisa terjadi kapan pun, kepada siapa pun, dan di mana pun. Namun yang perlu kita ingat adalah bagaimana kita berespons terhadap hal ini. Pdt. Stephen Tong pernah menyatakan sebuah kalimat, “Man is not what he thinks, man is not how he behaves, man is not what he eats, man is how he reacts before God.” Biarlah kita belajar untuk berespons dengan tepat di setiap situasi yang kita hadapi, termasuk konteks berduka yang dikarenakan kematian orang-orang terdekat kita. Dengan respons yang tepat, Tuhan akan semakin membentuk kita sebagai umat-Nya. Tanpa respons yang tepat dan tanpa existential revelation, hati kita akan semakin keras dan semakin jauh dari Tuhan. Respons seperti apa yang akan engkau berikan di hadapan setiap pernyataan Allah? Kiranya Tuhan menolong kita untuk berespons dengan tepat di hadapan-Nya.

Simon Lukmana
Pemuda FIRES

Simon Lukmana

Mei 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk situasi keamanan dan politik di Indonesia, kiranya Tuhan berbelaskasihan kepada bangsa kita ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Shallom... Terima kasih untuk renungan yang sangat memberkati. Kata-katanya tersusun dengan sangat bagus, saya sangat...

Selengkapnya...

Yth bpk Admin, 1. Kenapa umat Kristen harus memegang 2 kitab yaitu Taurat dan Injil. 2. Dalam memegang kedua...

Selengkapnya...

Saya sangat tertarik dengan ajaran reformed injili.. Setiap kali ada kegiatan di solo saya pasti harus bisa datang.....

Selengkapnya...

Terkadang kepahitan merupakan obat yg paling manjur untuk bertahan dalam menjalankan kehidupan sehari hari asalkan...

Selengkapnya...

Mohon setiap tulisan diikutsertakan Firman Tuhan. Artinya setiap tulisan dasarnya dari Firman Tuhan di usahakan...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲