Artikel

The God Who Has Been My Shepherd

Secara harfiah, arti nama Yakub adalah “memegang tumit seseorang”, yang secara kiasan di masa itu artinya adalah penipu. Realitasnya, Yakub hidup dengan menipu dan ditipu orang-orang di sekitarnya. Ia menipu Esau dengan semangkuk kacang merah. Yakub juga menipu ayahnya untuk mendapatkan berkat anak sulung. Ia menipu dan juga ditipu oleh Laban. Namun di balik kejadian tipu-menipu tersebut, Tuhan mereka-rekakannya menjadi turning point kehidupan Yakub.

Kejadian Yakub menipu ayahnya demi mendapatkan berkat kesulungan merupakan salah satu turning point babak baru kehidupannya. Dia harus melarikan diri dari rumahnya karena Esau ingin membunuhnya. Yakub lari dari Kanaan ke Haran. Di hari pertama dia lari, dia berhenti di Betel, kira-kira 100 km dari rumahnya. Di Betel inilah dia bertemu pertama kali dengan TUHAN melalui mimpinya yang terkenal tentang tangga dan malaikat. Setelah dia bangun dari tidurnya, dia bersumpah bahwa jika dia bisa kembali dengan selamat, TUHAN akan menjadi Allahnya. Sampai titik ini, kita melihat bahwa Yakub belum percaya kepada TUHAN.

Selanjutnya, Yakub sampai di Haran. Dia jatuh cinta kepada Rahel dan ingin menikahinya, namun ia ditipu oleh Laban sehingga harus menikahi Lea dahulu dan bekerja selama empat belas tahun kepada Laban sebagai gembala. Setelah masa itu berlalu, Yakub bekerja lagi enam tahun sebagai gembala tetapi dia berusaha sendiri. Di masa-masa ini pun dia menipu Laban sehingga ia menjadi kaya. Setelah Yakub sukses, ia melarikan diri dari Laban untuk kembali ke rumahnya di Kanaan. Di perjalanan inilah, Yakub bergumul dengan Tuhan di Pniel. Banyak penafsir mengatakan bahwa di sini Yakub sudah mulai lebih mengenal Tuhan, tetapi masih “petobat baru”.

Setelah itu Yakub bertemu Esau. Esau menerima dia serta mengajak tinggal bersama lagi, namun Yakub pun menipu Esau lagi dengan menyuruhnya pulang terlebih dahulu, lalu dia menetap di Sikhem. Di kota ini, Yakub ditipu oleh anak-anaknya, Simeon dan Lewi, lalu berpindah lagi ke Betel. Di sinilah titik di mana semua berhala di keluarganya dimusnahkan dan dia membangun mezbah bagi Tuhan.

Sayangnya, pergumulan Yakub belum berhenti. Di masa tuanya, dia kehilangan anak yang paling dia cintai (Yusuf) selama 20 tahun lebih. Ia sendiri sangat ketakutan kehilangan Benyamin, sampai ia mengatakan, “Kamu akan menyebabkan aku yang ubanan ini turun ke dunia orang mati karena dukacita.”

Ketika dia mendengar kabar bahwa Yusuf masih hidup, hatinya dingin. Dia sempat takut ditipu, tetapi Tuhan menyatakan diri-Nya kepada Yakub dan mengonfirmasi hal itu serta memimpin Yakub ke Mesir. Di akhir hidup Yakub, di dalam damai sejahtera, dia memberkati Manasye dan Efraim. Ia memulai berkatnya dengan kata-kata:

the God who has been my shepherd all my life long to this day…” (Gen. 48:15)

Sekalipun Kitab Kejadian menceritakan Habel, Abraham, dan Ishak, yang juga adalah gembala, pernyataan iman “Tuhan adalah Gembalaku” di Alkitab pertama kali keluar dari Yakub. Kristalisasi pengakuan ini lahir dari pergumulan dan perjalanan hidup Yakub yang jatuh dan bangun, serta kesehariannya selama puluhan tahun sebagai seorang gembala. Pengakuan ini bisa dikatakan sebagai salah satu kristalisasi utama pengenalan Yakub di akhir hidupnya mengenai Tuhan, serta berkontribusi besar membawa Israel mengenal konsep Tuhan yang adalah Gembala Israel (yang akhirnya paling dipopulerkan oleh Daud dalam Mazmur 23). Akhirnya, kita mendengar dari Yesus sendiri bahwa Dia adalah Gembala kita.

Sebagai pemuda/i Reformed Injili, kita tentu mengenal banyak istilah theologi, bukan? Kita mengenal Tuhan dengan berbagai nama sesuai yang Alkitab nyatakan. Namun, seberapa jauh pengenalan ini tercermin di dalam perjalanan hidup kita? Kita sering kali mengabaikan hal-hal yang terjadi di sekitar kita, sehingga panjangnya perjalanan hidup kita tidak menjadikan kita makin mengenal Tuhan. Padahal di dalam Theologi Reformed, kita belajar bahwa wahyu umum adalah salah satu bentuk pernyataan diri Allah. Bukankah seharusnya sebagai orang yang sudah ditebus, kita bisa berespons dengan tepat terhadap wahyu tersebut? Bukankah ini berarti makin panjang perjalanan hidup kita, seharusnya kita makin mengenal siapa Tuhan kita? Kiranya Tuhan memberikan kepekaan kepada kita untuk terus bergumul dalam mengenal Tuhan melalui setiap aspek hidup kita.

Abraham Madison Manurung

Pemuda FIRES

Abraham M. Manurung

Oktober 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲