Artikel

The Significance of Knowing Him in Christian Life (Lessons from Hosea)

Perjalanan hidup kekristenan baik secara individual maupun komunal adalah perjalanan yang penuh dengan tantangan dan bahaya. Berkali-kali Alkitab mencatat kegagalan umat Allah untuk tetap setia menjalani hidup sebagai umat kepunyaan Allah. Mereka seharusnya terikat dalam perjanjian antara Allah sebagai tuan dan mereka sebagai hamba yang mengabdi kepada-Nya, tetapi berkali-kali mereka menyerongkan hati kepada ilah lain. Hal ini bukan hanya terjadi sekali atau dua kali, tetapi berkali-kali dan bahkan ada masa di mana Tuhan membuang dan menyerahkan mereka menjadi budak dari bangsa lain. Namun, belas kasihan dan kesetiaan Tuhan juga terus ada bagi umat-Nya ini, berkali-kali Alkitab mencatat bahwa Tuhan mengingat akan umat-Nya dan memberikan kesempatan untuk mereka kembali kepada-Nya. Relasi seperti inilah yang mewarnai perjalanan hidup umat Allah. Relasi ini tergambar dengan jelas di dalam kisah hidup Nabi Hosea.

Nabi Hosea dikenal karena kehidupan pernikahannya yang tidak mudah yang harus ia jalankan. Banyak dari kita tahu bahwa dia diperintahkan Tuhan untuk menikahi seorang pelacur. Hosea pun menuruti Allah dan menikahi Gomer, yang memberikannya tiga orang anak (Yizreel, Lo-Ruhama, dan Lo-Ami), tetapi kehidupan keluarga Hosea tidaklah indah karena Gomer meneruskan kebiasaan perzinahannya. Ia pun meninggalkan Hosea untuk mengejar kekasih-kekasihnya. Dan pada klimaks kitab ini pun Hosea akhirnya menunjukkan kasihnya dan membeli kembali Gomer untuk menjadi istrinya (Hos. 1-3). Pernikahan Hosea menjadi sebuah gambaran akan relasi Allah dengan umat-Nya. Allah adalah Sang Suami yang mengasihi Israel, dan Israel pun adalah umat yang tidak setia, yang mengejar akan kekasih-kekasihnya (ilah-ilah lain). Akhirnya terwujudlah gambar yang indah akan kasih Allah terhadap umat yang dipilih-Nya, yang tidak terhambat, walaupun umat Israel tidak setia kepada Allahnya. Gambaran ini menunjukkan kasih Allah yang tidak layak Israel terima tetapi tetap Allah tunjukkan kepada umat-Nya.

Tetapi kita mungkin harus mundur sedikit dan berpikir, apakah yang menyebabkan Israel pertama-tama jatuh sebegitu bobroknya? Bagaimanakah mereka masuk ke dalam kondisi yang sangat buruk? Kitab Hosea pun memberikan kita suatu penjelasan yang mendasar mengapa Israel menjauh dari Tuhan, yaitu karena mereka tidak mengenal Allah, atau dengan kata lain mereka tidak memiliki pengenalan akan Allah yang sejati. Aspek inilah yang akan dibahas dalam artikel ini. Kita pun bisa melihat beberapa contoh ini di dalam Kitab Hosea, misalnya dalam Hosea 4:6 ditulis: “umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah,” dan dalam ayat 14 juga ditekankan bahwa “umat yang tidak berpengertian akan runtuh,” Banyak juga contoh-contoh lain dalam Kitab Hosea yang menunjukkan bahwa umat Israel kekurangan pengetahuan, seperti Hosea 5:4, 8:12-14, dan 11:3. Poin utamanya ialah bahwa alasan perilaku Israel yang berdosa adalah salahnya pengertian mereka akan siapa Allah mereka; mereka tidak mempunyai pengetahuan akan Allah yang sejati. Permasalahan ini tidaklah susah jika dipikirkan.

Alasan dari berbagai dosa mereka seperti perzinahan, pembunuhan, dan penyembahan berhala adalah karena mereka tidak sepenuhnya mengenal Allah. Seumpama seperti seorang murid yang mengikuti ulangan, jika mereka tahu bahwa gurunya malas atau tidak perhatian, mereka kemungkinan besar akan menyontek, tetapi jika mereka tahu bahwa gurunya sangat galak, mereka tidak akan berani untuk melakukan hal tersebut. Jika orang Israel mengerti betapa sucinya Tuhan Allah, bahwa Ia adalah Allah yang membawa nenek moyang mereka keluar dari Mesir (Im. 11:44-45), bahwa Allah mereka adalah Allah yang membenci dosa (Mzm. 5:6), respons mereka seharusnya sama seperti Yusuf yang dibujuk oleh istri Potifar dan berkata, “Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?” (Kej. 39:9).

Masalah ini adalah akar dari banyak dosa dan ajaran sesat. Mengapakah banyak agama mengajarkan bahwa kita dapat mencapai sorga dengan perbuatan baik kita? Jelas karena mereka tidak mengenal bahwa Allah itu suci dan mata-Nya “terlalu suci untuk melihat kejahatan” (Hab. 1:13). Jika mereka betul-betul mengenal Allah dan kesucian-Nya, mereka hanya bisa memohon belas kasihan Tuhan bagi mereka, orang-orang berdosa.

Konsep ini pun juga berlaku untuk orang Kristen. Sayangnya, banyak sekali orang Kristen yang berpikir bahwa dirinya Kristen, tetapi kehidupannya bersama Allah hanyalah dua jam kebaktian Minggu dan hidup yang bermoral baik tanpa keinginan untuk mengenal Allah lebih lagi. Mereka tidak tertarik untuk mengenal Allah dengan mempelajari doktrin-doktrin yang penting tentang Dia agar dapat mengenal-Nya lebih baik lagi. Jika hidup seorang Kristen seperti ini, wajar saja hidupnya penuh dengan dosa. Walaupun dari luar hidup orang tersebut mungkin kelihatan baik-baik saja—dia baik terhadap teman-temannya, dia tidak curang di kantor, dia menghormati orang tua—namun hidup dia adalah hidup yang berada di dalam dosa, terutama dosa penyembahan berhala, karena Tuhan tidak berada di pusat hidupnya. Dan dari dosa tersebut, cara dia melihat dan mengerti apa yang dimaksud dengan kehidupan seorang Kristen akan menjadi berantakan. Tidak mungkin bagi orang tersebut untuk menghidupi suatu hidup yang berkenan di mata Tuhan.

Alasan mengapa kita berdosa adalah kita tidak mengenal Allah, atau setidaknya kita tidak mengenal-Nya dengan benar. Saat kita memandang rendah dosa dalam hidup kita, saat kita tidak berperang untuk mematikan dosa, saat kita tidak berjuang untuk hidup kudus hari demi hari, ini adalah karena kita tidak mengenal Allah. Inilah alasan kekristenan dalam zaman kita dipenuhi dengan ajaran yang tidak alkitabiah dan orang Kristen yang hidup tidak sesuai dengan Alkitab, karena dasar dari iman mereka sangat kurang akan ajaran yang benar. Hal ini sangat berbahaya, dan tidak boleh diremehkan.

Di sisi lain, ada juga orang-orang Kristen yang sering datang ke gereja, mereka mungkin mengikuti pelayanan, senang membaca buku theologi, tetapi di saat yang sama mereka tidak memiliki pengenalan akan Allah. Dan hasilnya, sebagian besar ataupun keseluruhan dari pengertian mereka tentang siapa Allah, tentang pujian, ataupun tentang kehidupan mereka sendiri tidak sesuai dengan Alkitab. Ini bukanlah yang Tuhan kehendaki, persembahan seperti ini tidak ada maknanya di hadapan Allah. Ingat apa yang tertulis di dalam Hosea 6:6, “Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari korban-korban bakaran.” Kita harus berhati-hati untuk tidak menjadi orang yang demikian aktif di dalam pelayanan gereja tetapi sama sekali tidak mengenal Allah. Jika hidup kita seperti ini, kita sama saja dengan para orang Farisi pada zaman Tuhan Yesus. Mereka pun mengikuti segala hukum, mereka memuji dalam Bait Allah, mereka mengajar dan berpuasa, mereka menghafal Taurat, tetapi mereka tidak mengenal Allah yang mengarang kitab dan hukum mereka. Saat Kristus, yang adalah penggenapan nubuat para nabi di Perjanjian Lama, datang ke dalam dunia, para orang Farisi (yang seharusnya mengenal-Nya dalam kitab-kitab Perjanjian Lama) malah tidak mengenal-Nya, bahkan mereka menolak dan menyalibkan-Nya karena mereka takut akan pengaruh-Nya yang sangat besar. Orang-orang ini menunjukkan bahwa mereka tidak pernah mengenal Allah, mereka hanya mengenal hukum-Nya. Mereka tahu apa yang tertulis di dalam Kitab Suci, tetapi mereka tidak mengenal Allah yang dinyatakan oleh Kitab Suci. Sangat mungkin mereka bisa mengulang Hukum Taurat dari awal sampai akhir, tetapi mereka tidak mengenal Allah. Di dalam bahasa Indonesia, kita bisa membedakan antara pengetahuan dan pengenalan. Orang-orang Farisi bisa dibilang memiliki pengetahuan tentang Allah tetapi mereka tidak memiliki pengenalan akan Allah.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimanakah kita mengenal Allah? Seorang theolog abad ke-20 bernama J. I. Packer dalam bukunya Knowing God menulis bagaimana mengubah “pengetahuan kita tentang Allah” menjadi “pengenalan kita akan Allah”. Jawaban dia adalah meditasi. Meditasi yang disebutkan di sini bukanlah duduk diam dan mengosongkan pikiran. Yang dibicarakan di sini ialah meditasi Kristen. Ini kata-kata Packer, “Meditation is the activity of calling to mind, and thinking over, and dwelling on, and applying to oneself, the various things that one knows about the works and ways and purposes and promises of God. It is an activity of holy thought, consciously performed in the presence of God, under the eye of God, by the help of God, as a means of communion with God.” Salah satu poin utama dari kutipan ini adalah mengenal Allah sambil mengerti relasi kita dengan Allah. Jika kita mengerti bahwa Allah itu suci sesuai dengan Imamat 11:44, dan juga melihat betapa kita sering jatuh ke dalam dosa yang sama, biarlah kedua kebenaran ini membawa kita makin mencari akan kesucian hidup. Jika kita mengerti akan kedaulatan Allah atas segala sesuatu, saat kita menghadapi segala kesusahan dunia ini, biarlah kita mengingat Roma 8:28 dan hidup mengimani akan janji Tuhan.

Jangan sampai kita menjadi orang Kristen yang tidak acuh terhadap pengenalan akan Allah. Pada saat yang sama, janganlah kita mengaku diri kita sebagai orang Kristen yang tahu banyak tentang doktrin, tradisi, dan Alkitab, tetapi tidak mengenal Allah. Jika ini terjadi, kita pun kehilangan tujuan asli dari kehidupan Kristen kita. Bukankah tujuan kita diselamatkan adalah untuk menerima hubungan intim dengan Allah kita, untuk mengenal-Nya? Ditulis dalam 1 Petrus 3:18 bahwa Kristus mati untuk membawa kita kembali kepada Allah, dan Yohanes 17:3 mengatakan, “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.” Mari jangan kehilangan makna kekristenan dan menjatuhkan diri ke dalam kehidupan yang penuh kerusakan dan berhala seperti kehidupan umat Israel pada zaman Nabi Hosea, tetapi mari mengejar pengenalan akan Allah dengan sungguh-sungguh, karena inilah hak yang diberikan kepada semua anak Allah.

Poin kedua yang saya ingin tunjukkan di artikel ini ada di ayat ke-6 dari pasal ke-4 ini yang mengatakan demikian, “Umat-Ku binasa karena tidak mengenal Allah.” Jika kita mengerti konteks ayat ke-4 sampai 6, Allah sebenarnya sedang menegur imam-imam dan nabi-nabi karena kurangnya pengenalan Israel akan Allah mereka. Biarlah ini menjadi peringatan bagi setiap pendeta atau pemimpin gereja di dunia, kita bertanggung jawab di hadapan Tuhan bagi pengenalan jemaat Tuhan akan Allahnya. Setiap kali kita diberikan tanggung jawab untuk memperhatikan suatu gereja, untuk memimpin dan mengajar suatu kelompok orang, tujuan utama kita bukan untuk menyelesaikan setiap masalah kehidupan, tujuan utama kita juga bukan untuk mereka belajar lebih banyak doktrin saja (walaupun tentu ini pasti bagian dari tanggung jawab kita), tetapi tujuan terakhir kita adalah agar mereka mengenal Allah di dalam kehidupan mereka.

Adalah hal yang benar bahwa bagi seseorang untuk memiliki pengenalan akan Allah harus ada, dari sisi orang tersebut, suatu dorongan untuk memiliki relasi yang intim dengan-Nya, tetapi ini tidak menghapus peran sang pendeta atau pemimpin pemuda untuk membawa pengajaran yang alkitabiah dan doktrin yang kuat, demi membuka jalan bagi orang-orang Kristen untuk mengenal Allah bersama-sama sebagai satu gereja Tuhan. Dorongan di dalam orang Kristen untuk mengenal Allah harus disadari dan dijawab oleh pemimpin-pemimpin gereja Tuhan. A. W. Tozer di dalam bukunya The Pursuit of God menulis, “It is a solemn thing, and no small scandal in the Kingdom, to see God’s children starving while actually seated at the Father’s table.” (Melihat anak-anak Allah kelaparan saat mereka duduk di meja Sang Bapa adalah suatu hal yang serius dan bukan skandal yang kecil di Kerajaan Allah.) Suatu kesadaran akan urgensi ini harus ada di dalam diri setiap pendeta, setiap pemimpin pemuda, setiap guru Sekolah Minggu, dan setiap orang yang Tuhan telah karuniakan kesempatan berkhotbah atau mengajar. Biarlah setiap orang sadar akan apa yang harus dilakukan, yaitu bukan untuk memberikan jemaat suatu pengetahuan tentang Allah melainkan suatu pengenalan akan Allah.

Marilah kita belajar dari Kitab Hosea ini. Sebagai anak-anak Allah yang diberikan hak istimewa untuk bisa mengenal Allah, marilah kita kejar pengenalan akan Allah dengan hati yang sungguh-sungguh rindu untuk mengenal Dia. Dan saat kita terus-menerus mengenal Dia, hidup kita akan diubah menjadi lebih seperti Dia. Kitab 1 Yohanes mencatat dengan jelas bahwa segala sesuatu yang ada di dalam dunia ini akan lenyap, tetapi hanya orang-orang yang mengerti dan menjalankan kehendak Allah yang akan hidup selamanya. Kiranya Allah menolong kita dan terus menganugerahkan pengenalan diri-Nya kepada kita, sehingga kita semua dapat menjadi umat Allah yang terus setia menjalankan kehendak-Nya hingga Kristus datang kembali.

Cristofer Soenarto
Pemuda GRII Melbourne

Cristofer Soenarto

Januari 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk SPIK Keluarga 2019, kiranya firman yang akan dibawakan oleh setiap pembicara dapat memberikan pengertian yang holistik baik mengenai relasi kasih Tuhan dengan manusia maupun relasi kasih antarmanusia. Berdoa kiranya setiap peserta dapat mengerti prinsip kebenaran yang disampaikan dan mampu menerapkannya seturut hikmat-Nya.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
terimaksih dengan artikel ini saya bisa mendapatkan pemahaman yang sangat luar biasa tentang berdoa yang di inginkan...

Selengkapnya...

apakah ada buku tentang kritik Stephen Tong dalam kharismatik?

Selengkapnya...

Shalom, lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengaku pernah ke sorga? Adakah mereka sudah dimuliakan? Mohon...

Selengkapnya...

Shalom, lalu bagaimana dengan orang-orang yang mengaku pernah ke sorga? Adakah mereka sudah dimuliakan? Mohon...

Selengkapnya...

Yesus itu adalah firman Allah yang telah menjadi manusia, Kata kunci : "Firman Allah telah menjadi manusis"...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲