Artikel

To Kill A Mockingbird

To Kill a Mockingbird adalah buku novel yang ditulis oleh Harper Lee dengan latar belakang daerah yang terkenal dengan kekristenan yang kental. Saking terkenalnya, daerah tersebut diberi istilah “Bible Belt” di Amerika Serikat pada tahun 1930-an. Ironisnya, tempat ini adalah tempat di mana banyak sekali ketidakadilan dan korupsi terjadi pada zaman itu. Bahkan yang lebih parah adalah adanya pemisahan ras berdasarkan warna kulit yang sangat keras dan kaku. Komunitas orang hitam menjadi sangat asing dan tabu untuk orang-orang kulit putih. Pemisahan itu sangat mutlak dan sangat mencolok terjadi dalam kehidupan sehari-hari sehingga sepertinya ada dua macam kehidupan yang sangat berbeda di dalam satu waktu dan daerah yang sama.

Pemeran utama buku ini adalah seorang pengacara yang ditunjuk oleh pengadilan untuk membela seorang berkulit hitam. Orang kulit hitam ini dituduh telah memerkosa anak perempuan dari seorang pria kulit putih yang asusila dan tidak dihargai oleh komunitas orang kulit putih itu sendiri. Sang orang kulit hitam itu dituduh memerkosa setelah anak perempuan pria kulit putih menjebak dia untuk bersetubuh dengannya. Namun, setelah dia menolak, sang anak perempuan menghasut dan mengadu ke ayahnya bahwa orang kulit hitam itu berniat untuk memerkosanya. Pengadilan yang tidak membela kebenaran akhirnya membuat orang kulit hitam itu dijatuhkan hukuman penjara oleh juri yang semuanya adalah orang berkulit putih. Pada akhir cerita, orang kulit hitam ini pun putus asa karena tidak mendapatkan keadilan dan mencoba untuk melarikan diri, dan ia tertembak oleh penjaga penjara sehingga mati pada saat itu juga.

Di dalam novel tersebut, di salah satu kesempatan, pengacara yang bernama Atticus Finch memberi pelajaran kepada anaknya sendiri dan berkata, “You will never understand a person until you consider things from their point of view—until you climb inside his skin and walk around it.” Sang pengacara ingin menjelaskan bahwa kita tidak boleh menjatuhkan hukuman kepada seseorang berdasarkan asumsi yang berlaku secara umum, dalam hal ini berdasarkan perbedaan warna kulit atau ras mereka, tetapi harus dari bukti-bukti yang sudah ditemukan. Di dalam Alkitab, kita menemui kasus yang sama yang menimpa Yusuf yang mengalami tuduhan pemerkosaan dari istri Potifar. Pada saat itu, status Yusuf adalah sebagai budak yang dibeli oleh Potifar, sehingga secara kedudukan saja, Yusuf sudah kalah. Tidak mungkin bagi seorang budak dapat memenangkan pembelaan terhadap lawannya di dalam pengadilan. Sudah pasti ia akan dinyatakan bersalah dan dijatuhi hukuman. Padahal, pada kenyataannya Yusuf dihasut. Hal yang sama terjadi dengan kasus Tuhan Yesus baik di hadapan pengadilan agama maupun negara. Yesus berada di dalam posisi yang dihasut. Bedanya, Yesus dihasut oleh suara publik atau mayoritas. Seandainya kita berada sebagai masyarakat umum saat itu atau sebagai seorang yang bekerja di rumah Potifar, apa yang menjadi respons kita? Apakah kita hanya sekadar mengikuti otoritas atau pendapat masyarakat umum? Atau kita akan menyelidiki kebenaran kendati kebenaran itu bertentangan baik dengan otoritas maupun opini publik?

Sebagai pemuda Kristen, kita harus kritis dalam menanggapi setiap isu ketidakadilan. Kita tidak bisa hanya mengikuti tren atau berita yang sedang menjadi viral tanpa menyelidiki kebenarannya. Di dalam konteks besarnya pengaruh dunia digital saat ini, setiap harinya kita dibanjiri dengan berbagai informasi, apalagi di tengah masa pandemi seperti ini. Jikalau kita menjadi seorang yang menerima informasi tanpa sikap yang kritis, kita akan menjadi seorang yang hidup di tengah kebohongan. Kita menjadi seorang yang menyerahkan diri ke dalam tipu muslihat dan kebohongan tersebut. Alkitab memberikan nasihat yang sederhana tetapi sangat penting bagi kita saat ini. Di dalam Kitab Yakobus dikatakan bahwa kita harus menjadi seorang yang cepat mendengar tetapi lambat berkata-kata. Maksud dari kalimat ini adalah kita harus menjadi seorang yang cepat menangkap atau peka terhadap segala informasi yang ada di sekitar kita. Kita dituntut menjadi seorang yang cepat mengetahui apa yang terjadi di sekitar. Tetapi, kita harus lambat di dalam berkata-kata, yang berarti kita harus hati-hati di dalam menanggapi setiap hal yang terjadi di sekitar kita. Bukan menjadi seorang yang “latah” di dalam berespons, tetapi memikirkan, menyelidiki, dan mengambil keputusan yang bijaksana. Sehingga setiap keputusan yang kita ambil dapat dipertanggungjawabkan dan tidak kita sesali di kemudian hari. Inilah yang Alkitab ajarkan bagi kita.

Lukas Sutandi

Pemuda GRII Sydney

Lukas Sutandi

November 2020

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲