Artikel

Trinity as Our Worldview: An appreciation of John Frame and Vern Poythress trinitarian approach

Kekristenan pada zaman ini banyak mengalami kegagalan dalam pembelajaran doktrin-doktrin Kristen. Pertama, kita gagal untuk mengerti doktrin secara luas atau berlimpah tetapi juga utuh sebagai satu sistem atau kerangka iman. Sehingga pembelajaran doktrin adalah pembelajaran yang sifatnya hanya menambah informasi. Kedua, karena pengertian kita tidak utuh, ketika berhadapan dengan arus zaman atau filsafat zaman, kita dengan mudahnya terbawa atau berkompromi. Ketiga, kita gagal untuk menggumulkan doktrin-doktrin ini dikaitkan dengan implikasinya bagi seluruh aspek kehidupan karena kita memang tidak mengerti doktrin ini dengan benar. Sehingga sering kali kita berjumpa dengan pernyataaan seperti “doktrin itu hanya teori saja, tidak ada kaitannya dengan praktik hidup sehari-hari.” Ini adalah beberapa dari banyak kegagalan orang Kristen dalam pembelajaran doktrin. Kegagalan inilah yang terjadi juga ketika kita mempelajari doktrin Tritunggal.

Tritunggal adalah pusat dan ciri khas dari iman kristen. Berdasarkan pengertian kita akan doktrin Tritunggal, pengertian doktrin-doktrin lain dibangun dengan lebih limpah tetapi juga utuh (untuk mengerti mengenai hal ini, dapat membaca artikel “Trinity as Our Theological Framework”). Pembelajaran seperti ini adalah pembelajaran yang menuntut kita bukan hanya mempelajari prinsip tentang Tritunggal, tetapi juga kaitannya dengan doktrin-doktrin lain, sehingga pengertian Tritunggal mengubah cara pandang kita mengenai dunia ini. Ini adalah sebuah pembelajaran yang bukan hanya menambah informasi di otak kita, tetapi juga menjadikan pembelajaran ini sebagai proses transformasi seluruh cara pandang kehidupan kita (worldview).

John Frame dan Vern Poythress adalah dua theolog yang memopulerkan sebuah pendekatan di dalam theologi berdasarkan doktrin Tritunggal. Lalu kerangka theologi ini mereka terapkan di dalam berbagai aspek kehidupan sebagai bagian dari mandat budaya. Beberapa aspek yang mereka garap adalah: epistemologi, etika, logika, bahasa, matematika, sosial, komunikasi, sains, dan beberapa aspek lainnya. Pendekatan yang mereka kerjakan adalah sebuah kemajuan dalam theologi pada zaman ini khususnya di dalam mengembangkan warisan pemikiran dari Agustinus, Calvin, dan Van Til. Artikel ini merupakan sebuah apresiasi terhadap pemikiran Frame dan Poythress dengan memberikan sekilas pandang mengenai pemikiran mereka.

Basic Concept of Multiperspectivalism
Secara umum, Frame dan Poythress menamakan pendekatan mereka multiperspectivalism. Walaupun dalam konteks yang lebih spesifik mereka menyebut pendekatan mereka adalah triperspectivalism. Berikut beberapa prinsip dasar dalam multiperspectivalism:

God is Omniscience but Human Knowledge is Finite
       Allah yang kita percaya adalah Allah yang Mahatahu. Pengertian dari kemahatahuan Allah ini memiliki dua arti: Pertama, Allah mengetahui seluruh fakta, pengetahuan, dan realitas di dalam ciptaan, sehingga tidak ada satu pun di dalam dunia ciptaan ini yang tersembunyi di hadapan Allah. Kedua, Allah yang Mahatahu berarti Allah yang mengetahui setiap kemungkinan perspective yang akan muncul. Dalam hal ini berarti pengetahuan Allah tidak dibatasi ruang dan waktu. Seluruh hal yang sudah, sedang, dan akan terjadi sudah diketahui oleh Tuhan semuanya. Ia juga dapat mengetahui setiap sudut pandang (perspective) yang mungkin ada. Frame mengatakan bahwa di dalam hal ini Tuhan bukan hanya omniscience tetapi juga omniperspectival.

       Secara kontras, hal ini berbeda dengan kita sebagai manusia. Kita hanya bisa melihat dari perspektif yang terbatas tubuh dan akal budi. Sehingga untuk memiliki suatu cara pandang yang luas kita harus melengkapinya dengan perspective dari orang lain. Untuk melihat gambaran secara utuh sebuah pohon, maka kita harus berjalan keliling dan melihat dari berbagai sudut pandang sehingga mendapatkan gambaran yang utuh. Di dalam mengerti kebenaran kita juga dapat berkonsultasi dengan orang lain untuk memiliki perspective yang lebih luas dan utuh.

Multiperspectivalism is Not Relativistic but Presupposes Absolutism
       Multiperspectivalism mengajarkan kita untuk terbuka dalam mempelajari dari sudut pandang lain sehingga kita tidak terjebak di dalam perspektif kita sendiri. Tetapi bukankah pengajaran ini menjadikan kebenaran itu bersifat relatif? Pendekatan dari Frame dan Poythress ini bukanlah relativisme tetapi justru mempresuposisikan kebenaran yang absolute. Mereka memandang bahwa perspektif yang manusia terbatas pahami tidak mungkin sama persis dengan perspektif Allah yang tidak terbatas. Perspektif manusia akan selalu dibatasi oleh tubuh dan akal budi, sehingga kita tidak mungkin membuang perspektif kita, tetapi yang bisa kita lakukan adalah mencoba untuk memahami perspektif orang lain termasuk perspektif Allah. Sehingga perspektif kita menjadi perspektif yang lebih luas. Sehingga sifat dari perspektif manusia adalah interdependent kepada perspektif yang lain. Interdependency ini bisa terjadi karena didasarkan kepada keberadaan kebenaran atau perspektif yang absolut atau bersifat independent. Aspek absolute inilah yang menjadikan perspektif kita dengan yang lain dapat sinkron dan harmonis. Oleh karena itu multiperspectivalism mempresuposisikan absolutism. Berbeda dengan relativism yang pada dasarnya mengabaikan absolutism sehingga di dalam dirinya terdapat self-contradiction.

Our God is Omniperspectival therefore His Revelation is Multiperspectival
       Allah yang omniperspectival memberikan wahyu yang juga multiperspectival. Secara sederhana hal ini bisa kita lihat secara jelas dengan adanya empat kitab Injil (Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes). Sebuah Injil yang sama tetapi diberitakan oleh empat orang yang berbeda melalui empat kitab Injil yang di dalam setiap kitabnya terdapat perspektif yang berbeda tetapi dapat saling melengkapi. Di dalam hal ini perspekif Allah memvalidasi setiap perspektif dari empat penulis kitab Injil sehingga kita bisa mengerti kebenaran melalui empat perspektif yang berbeda. Begitu juga dalam Kitab Raja-raja dan Tawarikh yang mencatatkan banyak hal yang sama tetapi beda perspektif. Secara keseluruhan, setiap penulis Alkitab Tuhan pimpin baik dalam perbedaan latar belakang, budaya, pendidikan, talenta untuk dapat menuliskan Alkitab dalam perspektif mereka masing-masing. Tetapi kuasa Allah memimpin mereka sedemikian rupa sehingga keberagaman perspektif yang ada justru menjadikan Alkitab begitu berlimpah dan membahas aspek yang luas tetapi tetap memiliki kesatuan yang utuh. Perspektif Allah yang absolut memimpin dan menjadikan perspektif setiap penulis Alkitab dapat dipakai untuk menyampaikan wahyu Allah. Hal ini adalah hal yang Allah kerjakan karena manusia diciptakan untuk belajar melalui pengalaman yang multi-perspektif.

Kekristenan dapat dengan lapang mengakui bahwa pengetahuan kita adalah pengetahuan yang terbatas dan pengetahuan yang kita miliki adalah pengetahuan yang dibatasi oleh diri kita yang terbatas secara pengalaman maupun keberadaan. Tetapi karena Allah adalah Allah yang mewahyukan diri-Nya baik melalui wahyu umum, wahyu khusus, dan terutama melalui Kristus, kita dapat dengan yakin berkata bahwa kita memiliki pengetahuan yang benar, baik pengetahuan mengenai Allah maupun segala sesuatu yang ada di dalam dunia ciptaan ini. Oleh karena itu kita harus terus mengeksplorasi segala kebenaran yang Tuhan berikan di dalam ciptaan ini di dalam berbagai perspektif. Sehingga kita dapat semakin mengenal segala kebenaran yang Tuhan wahyukan kepada kita.

Triperspectivalism: A Trinitarian-based Christian Worldview
Di dalam pendekatan yang lebih spesifik dan lebih menonjolkan ciri khas dari iman Kristen, Frame dan Poythress memberikan sebuah pendekatan yang dinamakan triperspectivalism. Di dalam pendekatan ini Frame dan Poythress mempresuposisikan beberapa pengertian tersebut:

Trinity
       Allah menyatakan diri-Nya sebagai satu Allah tetapi juga dalam tiga Pribadi. Ketiga Pribadi ini adalah tiga Pribadi yang berbeda. Bapa mengirimkan Anak dan Anak taat kepada Bapa (Yoh. 6:38-39, 12:49, 14:31). Bapa memuliakan Anak dan Anak memuliakan Bapa (Yoh. 13:31-32; 17:1-5). Roh Kudus bersaksi sesuai dengan apa yang Ia terima dari Bapa dan Anak (Yoh. 16:13-14). Di dalam setiap pekerjaan Allah, setiap Pribadi ini terlibat di dalam perspektif mereka masing-masing. Setiap Pribadi, memberikan perspektif mengenai Allah itu sendiri. Melalui Anak, kita mengenal Bapa, karena Bapa berada di dalam Anak dan Anak berada di dalam Bapa. Di dalam theologi, hal ini dikenal sebagai “the mutual indwelling of Persons in the Tritiny” atau “coinherence” atau “perichoresis”. Konsep inilah yang menjadi dasar mengapa kita bisa mengenal Bapa melalui Anak. Pemahaman ini adalah pemahaman yang bersifat perspektif. Kita mengenal Bapa melalui perspektif yang diberikan di dalam Anak.

       Pembelajaran manusia bersifat perspektif karena hal ini adalah turunan dari pluralitas Pribadi dan sifat coinherence dari Tritunggal. Pluralitas Pribadi Tritunggal mengimplikasikan pluralitas dalam perspektif. Sifat coinherence dalam Tritunggal mengimplikasikan harmony dan compatibility dari perspektif yang berbeda-beda. Pengenalan melalui satu Pribadi yang membawa kita mengenal pribadi lainnya dalam Tritunggal mengimplikasikan bahwa pembelajaran kita akan satu perspektif dapat menjadi dasar bagi pembelajaran perspektif lainnya. Sehingga Tritunggal adalah archetype dari perspectival knowledge manusia yang sebagai ectype.

       Lebih lanjut John Frame mengatakan seperti demikian:

Although all three persons are active in every act of God, there seems to be a general division of labor among the persons in the work of redemption. The Father establishes the eternal plan of salvation; the Son executes it, and the Spirit applies it to people. It was the Father who sent the Son to redeem us, the Son who accomplished redemption, and the Spirit who applies the benefits of Christ’s atonement to believers. Generalizing, we gather that the Father is the supreme authority, the Son the executive power, and the Spirit the divine presence who dwells in and with God’s people.”

       Frame memaparkan bahwa Allah mewahyukan diri-Nya secara multiperspectival melalui pekerjaan Allah yang dilakukan secara berbeda-beda oleh setiap Pribadi Tritunggal. Dan secara umum dapat digeneralisasi bahwa Bapa menunjukkan sisi Authority dari Allah, Anak menunjukkan sisi Control dari Allah, dan Roh Kudus menunjukkan sisi divine or covenantal Presence dari Allah. Sehingga di dalam setiap pekerjaan Allah kita bisa melihat ketiga perspektif ini. Konsep inilah yang menjadi salah satu dasar terbentuknya kerangka triperspectival dari Frame dan Poythress.

Divine Lordship
       Di dalam seluruh Alkitab, nama Allah yang paling banyak dituliskan adalah “Lord”. Kata ini sama dengan istilah “Yahweh”, atau sinonimnya “Adon” dalam bahasa Ibrani, dan juga “Kurios” dalam bahasa Yunani. Kurang lebih adalah sekitar tujuh ribu kali di Alkitab istilah-istilah ini muncul. Allah mengatakan bahwa nama harus terus diingat selama-lamanya (Kel. 3:15) dan setiap hal yang dilakukan Allah adalah untuk menyatakan “will know that I am the Lord” (Kel. 14:4). Sehingga Divine Lordship adalah tema yang penting dan central di dalam Alkitab. John Frame menganalisis bahwa di dalam Lordship ini terdapat tiga tema besar yang muncul: pertama “The Lord is the one who control all things by his mighty power”, kedua “the one who speaks with absolute authority and rightly requiring all to obey”, ketiga “the one who give himself to his people in covenant intimacy or presence”. Lebih lanjut Frame menyebutkan bahwa ketiga tema ini adalah tiga atribut dari Divine Lordship, yaitu: Authority, Control, dan Presence. Ketiga atribut ini berkaitan secara perspektif atau coinherence, sehingga pembelajaran akan satu aspek berkaitan erat dengan aspek lainnya. Inilah triperspectivalism, hal ini bisa digambarkan seperti dalam Ilustrasi 1.

Kerangka triperspectivalism ini dapat digunakan sebagai cara pandang di dalam melihat segala sesuatu di dalam dunia ini. Hal ini didasarkan pada pengertian bahwa dunia ini diciptakan oleh Allah Tritunggal dan setiap ciptaan Allah mencerminkan siapa Allah. Sehingga di dalam setiap aspek di dunia ciptaan Allah ini kita dapat melihat pernyataan Divine Lordship ini. Untuk melihat aplikasi dari kerangka ini, pada bagian selanjutnya kita akan mengulas secara singkat penerapan dalam beberapa aspek.

Application of Triperspectivalism
Sejarah
Di dalam buku God-Centered Biblical Interpretation, Vern Poythress memakai kerangka segitiga di dalam aspek sejarah. Ia menyatakan bahwa di dalam setiap kejadian yang sudah terjadi di masa lalu, terdapat benang merah yang menghubungkannya ke dalam zaman sekarang. Poythress mengatakan bahwa setiap kejadian sejarah, merupakan inti-inti kecil di dalam satu kerangka besar sejarah. Sehingga rangkaian peristiwa-peristiwa sejarah ini akan membawa kita untuk kembali melihat bahwa Tuhanlah yang bertakhta di dalam sejarah dan kuasa Allah sajalah yang membawa sejarah ini sampai dengan sekarang. Keseluruhan sejarah merupakan rencana Allah yang sudah ditetapkan-Nya bagi kita sehingga kita bisa sadar akan kehadiran-Nya dan topangan tangan-Nya di dalam sejarah. Untuk menjelaskan hal ini Poythress menggunakan segitiga (triad) seperti dalam Ilustrasi 2.

Di satu sisi setiap peristiwa di dalam sejarah dapat diklasifikasikan ke dalam satu atau lebih kelas (classificational perspective), sehingga kita bisa melihat ada sisi yang konsisten di antara berbagai peristiwa sejarah. Di sisi lain, setiap peristiwa yang terjadi memiliki keunikan yang menggambarkan kelas itu secara lebih spesifik dan unik (instantiational perspective) di dalam peristiwa itu, sehingga tidak pernah ada peristiwa sejarah yang identik dengan peristiwa lainnya. Setiap peristiwa sejarah memiliki kaitan atau relasi (associational perspective), baik itu relasi sebab-akibat atau complementary, sehingga seluruh event itu berkait bagaikan mata rantai yang menggambarkan rencana Allah. Setiap aspek ini coherent, mempresuposisikan satu dengan lainnya. Jikalau dikaitan dengan Divine Lorship maka classificational perspective menyatakan Authority dari Allah atas sejarah, instantiational perspective menyatakan Presence of God dalam setiap peristiwa sejarah dan associational perspective menyatakan Allah yang memiliki Control atas seluruh sejarah.

Dengan cara pandang ini kita akan melihat bahwa sejarah tidak hanya muncul dan berlalu begitu saja, tetapi setiap peristiwa sejarah adalah peristiwa yang penting yang harus kita hargai. Penghargaan ini bukan sekadar penghargaan yang tidak berdampak tetapi sebuah penghargaan yang sekaligus sebuah pembelajaran. Dengan pembelajaran akan sejarah kita mendapatkan kebijaksanaan untuk menghidupi waktu kita pada saat ini dan melanjutkan perjuangan iman ke generasi-generasi selanjutnya di masa yang akan datang. Karena kita menyadari bahwa sejarah adalah wadah di mana pekerjaan Allah dinyatakan melalui anak-anak-Nya yang rela untuk dipakai menyatakan kemuliaan Allah.

Komunikasi
Kita sering kali tidak menyadari bahwa komunikasi yang kita lakukan sehari-hari menyatakan siapa Allah. Ada pola dasar triad dalam komunikasi yaitu pembicara, isi dari pembicaraan, dan pendengar. Dalam Yohanes 1:1, Allah Bapa adalah Pembicara yang asli dan Pribadi Kedua adalah Firman Tuhan sebagai Ucapan-Nya. Dengan analogi, Mazmur 33:6 berbicara mengenai Roh Kudus seperti nafas yang membawa isi dari pembicaraan ke tempat tujuannya. Kepada siapakah komunikasi Allah ditujukan? Tuhan berbicara kepada manusia, sehingga manusia adalah tujuannya, yang menjadi pendengar itu. Roh kudus memampukan manusia untuk dapat memahami dengan benar isi dari pembicaraan itu. Di dalam konteks ini Roh Kudus juga menjadi Pendengar. Apa yang Dia dengar? Dia mendengar kebenaran dari Tuhan, kebenaran yang digambarkan sebagai “apa yang menjadi milik Kristus” (1Kor. 2:10). Lalu Roh Kudus berbicara kepada manusia untuk menyampaikan kebenaran. Dalam komunikasi intratrinitarian ini, Bapa adalah Pembicara, Anak adalah Ucapan, dan Roh adalah Pendengar. Archetype Trinitarian ini kemudian menjadi dasar dan orisinal yang dihubungkan oleh komunikasi manusia, seperti digambarkan dalam Ilustrasi 3.

Berdasarkan archetype ini kita dapat mengerti bahwa saat manusia mengungkapkan kebenaran, terdapat tiga aspek yaitu ekspresif, informatif, dan produktif. Aspek informatif menyangkut fakta bahwa komunikasi menyiratkan pernyataan yang memiliki konten informasi. Aspek ekspresif menyangkut fakta bahwa melalui komunikasi, para pembicara dapat mengekspresikan sesuatu dari diri mereka sendiri, pandangan mereka, perasaan mereka. Aspek produktif menyangkut fakta bahwa komunikasi dirancang untuk menghasilkan efek kepada pendengarnya. Aspek ekspresif berhubungan erat dengan pembicara, aspek informasi dengan isi pembicaraan, dan aspek produktif dengan pendengar, yang di mana efeknya harus diproduksi.

Ketiga aspek komunikasi ini tidak dapat dipisahkan, kita tidak bisa hanya menekankan pada salah satu aspek saja. Kebanyakan teori interpretasi dalam komunikasi dunia hanya menekankan pada salah satu aspek saja, baik itu pembicara, isi pembicaraan, atau orientasi penonton/pendengar. Demikian juga, komunikasi dalam bentuk tulisan yang berorientasi pada satu aspek saja, berpusat pada penulis, teks, atau pada pembaca. Padahal ketiga aspek pendekatan ini sama pentingnya karena ketiga aspek ini menyatakan Divine Lordship. Informational perspective menyatakan Authority Allah, expressive perspective menyatakan God’s Presence, dan productive perspective menyatakan Control Allah.

Kerangka ini membawa kita untuk menyadari bahwa sebuah komunikasi bukan hal yang sepele. Zaman di mana kita hidup sekarang adalah zaman yang sangat menyepelekan komunikasi. Kita dengan entengnya mengeluarkan sebuah pernyataan melalui sosial media tanpa berpikir ketepatan wadah penyampaian informasi tersebut. Kita dengan mudahnya menyebarkan informasi tanpa berpikir side effect yang akan timbul. Dan kita dengan mudahnya memberikan penghakiman terhadap sebuah informasi tanpa mencoba untuk mengerti dahulu apa dimaksudkan si pembicara. Konsekuensinya, kita melihat begitu banyak perselisihan yang tidak perlu karena kita menyepelekan komunikasi.

Purpose of Bible
Pengertian kita akan tujuan dari Alkitab sangat menentukan bagaimana kita menginterpretasikannya. Akan tetapi, sering kali orang Kristen sendiri tidak menyadari tujuan Alkitab secara utuh, sehingga dengan mudah dapat jatuh kepada pandangan atau interpretasi yang sempit mengenai Alkitab. Misalnya, kita berpikir bahwa tujuan dari pasal-pasal yang ditulis dalam Alkitab adalah hanya yang dimaksudkan untuk pengajaran doktrin atau perenungan oleh penulisnya. Jika kita mereduksi tujuan Alkitab hanya kepada satu pandangan yang terisolasi dari yang lainnya, maka itu akan mereduksi kelimpahan dari firman Allah bahkan bisa melahirkan pandangan yang timpang dan berbahaya.

Dalam 2 Timotius 3:16-17, dinyatakan bahwa Alkitab memiliki beberapa tujuan, yaitu untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakuan, dan mendidik orang dalam kebenaran. Walaupun ada berbagai tujuan tersebut, tetapi pada saat yang sama terdapat kesatuan tujuan dari Alkitab karena hanya ada satu Allah. Di titik ini, kita menyadari adanya konsep unity in diversity. Allah Tritunggal adalah model orisinal dari konsep tersebut, sehingga kita perlu melihat tujuan Alkitab dengan sifat Allah Tritunggal sendiri. Poythress menulisnya sebagai triad of purpose, seperti digambarkan dalam Ilustrasi 4.

Triad of purpose menyatakan ketiga aspek untuk melihat pekerjaan Tuhan dalam dunia, yaitu tindakan Allah (God’s acting), kebenaran yang dinyatakan (Word uttered), dan kehadiran Allah (God meeting). Misalnya, Kristus berinkarnasi ke dalam dunia, mengajar para murid, dan mati di atas kayu salib mengandung makna dan kebenaran Allah yang dinyatakan yang merujuk kepada satu tujuan, yaitu menggenapi rencana kekal Allah Bapa dalam menyelamatkan manusia yang merupakan aspek tindakan Allah. Kemudian, pekerjaan Roh Kudus menghadirkan Pribadi Allah dalam setiap hal yang Kristus kerjakan.

Triad of purpose menggambarkan hubungan antara ketiga Pribadi Allah Tritunggal, namun secara copy menggambarkan komunikasi Allah kepada manusia, termasuk komunikasi Allah kepada kita melalui Alkitab. God’s acting menyatakan Control Allah, Word uttered menyatakan Authority Allah, dan God meeting menyatakan Allah yang menghadirkan diri-Nya (Presence). Ketiga aspek ini bukanlah ketiga hal yang terpisah melainkan satu kesatuan, sehingga ketika kita membaca Alkitab, kebenaran Allah sedang dinyatakan di dalam kontrol Allah dan secara bersamaan Roh Kudus hadir membimbing pembacaan kita akan firman Tuhan. Dengan demikian, walaupun Alkitab memiliki tujuan yang beragam, tetapi itu bukan satu tujuan yang monolitik. Bahkan ketika fokus kepada keberagaman itu, kita tetap dapat melihat kesatuannya.

Makna
Apakah “makna” itu? Setiap orang memiliki jawabannya masing-masing. Di tengah-tengah begitu banyak pemikiran tentang “makna”, Poythress memberikan suatu kerangka pikir mengenai “makna” yang berdasarkan prinsip Tritunggal yaitu unity in diversity. Menurut Poythress, hanya melalui pemahaman akan Allah Tritunggallah kita mampu mengerti kesatuan dan keragaman di dalam kebenaran dan makna.

Poythress memperkenalkan sebuah segitiga yang dapat membantu kita lebih memahami konsep makna di dalam kesatuan dan keberagaman. Ia menamakan segitiga ini triad of meaning, seperti digambarkan dalam Ilustrasi 5.  Di dalam triad ini terdapat tiga perspektif yaitu: sense (stable meaning), application (particular instance), dan import (connection with other passages). Suatu kata atau bagian dapat diparafrasekan dalam berbagai bentuk tetapi tetap memiliki makna yang stabil. Kita dapat mengetahui bahwa yang dimaksudkan tetap sama walaupun disampaikan dengan berbagai cara. Ini adalah perspektif sense. Hal ini sangat penting dalam mengerti suatu makna, agar suatu pernyataan tetap memiliki makna yang stabil walaupun berada dalam konteks atau dinyatakan secara berbeda. Di dalam perspektif yang lain dalam makna adalah application. Hal ini berarti suatu makna dapat diaplikasikan dalam berbagai cara baik melalui perkataan, tulisan, cerita, atau bentuk-bentuk lainnya. Setiap bentuk ini adalah aplikasi yang valid dalam menyatakan suatu makna. Perspektif yang ketiga adalah import. Perspektif ini membawa kita untuk mengerti makna di dalam kaitannya dengan bagian atau makna lain yang beragam. Kaitan dengan bagian atau makna yang lain ini akan semakin melengkapi pengertian suatu makna.

Kesimpulan yang dapat kita pelajari dari pemikiran Poythress mengenai “makna” adalah setiap makna memiliki prinsip umum yang stabil (kesatuan) di mana di dalam pengaplikasiannya dapat terjadi perbedaan-perbedaan (keberagaman) namun kedua hal ini saling terkait (asosiasi). Kegagalan kita mengerti “makna” adalah karena kita menekankan satu prinsip tanpa melihat dasar Trinitas di dalamnya sehingga kita menjadi salah mengerti sebuah “makna”. Seperti aspek-aspek yang lain, triad of meaning ini memiliki sifat coinherence sehingga satu perspektif mempresuposisikan perspektif-perspektif yang lain. Triad of meaning ini juga merupakan pernyataan akan Divine Lordship. Perspektif sense menyatakan Authority, perspektif application menyatakan Presence, dan perspektif import menyatakan Control.

Kelimpahan firman Tuhan tidak mungkin dapat kita lihat jikalau kita tidak menggunakan kerangka yang benar. Sering kali kita berhadapan dengan pengertian makna firman Tuhan yang begitu kaku bahkan mati, karena kita gagal melihat suatu makna dengan benar. Semangat zaman modern yang terlalu metodologis mereduksi kelimpahan suatu makna. Di sisi lain, semangat postmodern yang terlalu bebas membawa kita ke dalam pengertian yang begitu kacau balau dan tidak ada kepastian. Triad of meaning ini membawa kita untuk terlepas dari kedua jebakan ini dengan melihat bahwa makna itu dapat dimengerti dengan begitu berlimpah tetapi juga ada keteraturan di dalamnya.

Trinitarian as Our Worldview
Calvin mengatakan bahwa pengenalan akan Allah membawa kita semakin mengenal diri, pengenalan akan diri membawa kita semakin mengenal Allah. Pemikiran ini merelasikan pengenalan akan Allah dan diri, tetapi di bagian lain Calvin juga merelasikan pengenalan ini dengan segala ciptaan lainnya atau alam. Sehingga terdapat relasi yang mutual antara pengenalan akan Allah, diri, dan alam. Inilah epistemology yang sejati dalam iman Kristen. Sehingga iman Kristen benar-benar terealisasi dan berdampak terhadap seluruh aspek kehidupan baik diri maupun alam. Inilah yang diperjuangkan oleh John Frame dan Vern Poythress dalam kerangka triperspectivalism yang mereka kembangkan. Ini adalah sebuah semangat yang ingin mengembalikan pengertian dan pembelajaran kita akan doktrin-doktrin Alkitab sebagai pembelajaran yang hidup dan terealisasi dalam hidup kita. Dengan menjadikan doktrin Tritunggal sebagai dasarnya, kita dapat melihat bahwa suatu pembelajaran doktrin yang benar dapat membawa kita ke dalam cara pandang kehidupan yang berlimpah nan utuh. Inilah salah satu semangat Reformasi yang harus kita, sebagai pemuda Kristen, wariskan dan terus perjuangkan ke zaman-zaman berikutnya. Di dalam rangka Reformasi 500 ini, biarlah ulasan atau apresiasi dari pemikiran Frame dan Poythress ini dapat menggugah kita kembali dengan semangat Reformasi ini. Semangat yang membawa kita untuk melihat kelimpahan firman Tuhan dan mendorong kita untuk semakin giat belajar dan memperjuangkan pembelajaran doktrin secara benar serta mengaplikasikannya dalam hidup kita sebagai garam dan terang bagi dunia ini.

Abraham M. Manurung, Evan Jordan,
Ira P. Hutabarat, Simon Lukmana,
Violeta N. Wijaya
Pemuda/i FIRES
(Reformed Evangelical Discussion Society)

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲