Artikel

Unconditional Election

Canons of Dordt adalah salah satu dokumen yang paling penting secara otoritas dan kredibilitas di dalam membahas doktrin predestinasi. Tercantum pada dokumen ini adalah tanda tangan dari sekitar 89 pemimpin gereja-gereja Reformed yang berkumpul di kota yang bernama Dordrecht, Belanda (Synod of Dordt, 1619). Enam puluh dua dari antara mereka adalah orang Belanda dan dua puluh tujuh lainnya adalah para pemimpin gereja Reformed dari delapan negara yang berbeda. Tertulis di dalam dokumen ini adalah respons para pemimpin gereja Reformed terhadap ajaran Jacobus Arminius (1562-1609) yang begitu memengaruhi gereja zaman itu. Signifikansi dan pengaruh dari dokumen ini sebenarnya bisa makin kita apresiasi di waktu kita melihat besarnya pengaruh dari pengajaran Arminianismeyangterus terasa sampai hari ini, 400 tahun sejak zaman itu.

Sebagai seorang Kristen, salah satu pertanyaan klasik yang selalu muncul adalah mengenai keselamatan. Tidak heran jikalau Anda sudah sering bergulat dengan pertanyaan seperti: “Jikalau Allah mengasihi, mengapa hanya sebagian yang diselamatkan?” Sentral dalam pertanyaan ini adalah kenyataan bahwa memang tidak semua orang percaya kepada Injil Kristus. Lalu bagaimanakah kita harus memberi penjelasan dan pertanggungjawaban atas apa yang kita percayai saat berhadapan dengan hal seperti ini? Dunia dan sejarah sudah membuktikan bahwa ada banyak jawaban yang sudah pernah diberikan untuk menjawab pertanyaan ini, namun di sinilah kita harus menyadari bahwa apa yang kita percayai bukanlah doktrin dan teori yang kosong. Sebaliknya, apa yang kita percayai adalah kebenaran atau kesesatan yang pasti akan membentuk cara pandang dan cara hidup kita. Sejalan dengan peringatan 400 tahun Synod of Dordt, tulisan ini berniat untuk mengontraskan pandangan Arminianisme dengan pandangan Reformed mengenai doktrin pilihan (election). Secara khusus, tulisan ini akan mencoba untuk menjabarkan asumsi yang mendasari kedua pemikiran ini dan juga implikasi dari memegang kedua pandangan ini.

Arminianisme dan Theologi Reformed adalah theologi yang sama-sama kristiani, walaupun ada banyak perbedaan di antara kedua ajaran ini. Kedua pandangan ini memiliki paling tidak tiga persamaan yang bisa kita lihat.
Arminianisme dan Theologi Reformed sama-sama memercayai bahwa jalan keselamatan hanyalah melalui iman di dalam Yesus Kristus yang telah disalibkan bagi umat-Nya.
Arminianisme dan Theologi Reformed sama-sama memercayai bahwa rekonsiliasi hanya bisa didapat oleh manusia melalui anugerah.
Bahkan Arminianisme dan Theologi Reformed sama-sama memercayai bahwa Allah memilih umat-Nya.

Akan tetapi, kesamaan ini hanyalah secuil potongan es yang kelihatan di atas permukaan air. Membawahi persamaan ini adalah asumsi dan fondasi iman yang begitu bertolak belakang. Theologi Reformed adalah theologi yang memercayai bahwa Allah adalah Pribadi yang secara mutlak dan berdaulat memilih siapa yang akan Dia selamatkan (Canons of Dordt). Pada sisi yang berseberangan, Arminianisme tidak percaya bahwa keselamatan manusia itu bergantung mutlak terhadap penentuan dan pemilihan Allah. Sebaliknya, Arminianisme memercayai bahwa Tuhan memilih berdasarkan pra-pengetahuan-Nya yang terlebih dahulu melihat ke depan dan mengetahui siapa yang akan merespons Injil. Maka, mirip dengan pandangan Semi-Pelagianisme, Arminianisme sebenarnya memegang presuposisi bahwa penyebab utama penerimaan Injil adalah berdasarkan pada kehendak manusia untuk memilih dan bukan kepada penentuan Allah (Saved by Grace, Hoekema).

Implisit di dalam ajaran Arminianisme adalah sebuah asumsi bahwa setiap manusia mempunyai kesempatan untuk percaya kepada Tuhan. Namun, pertanyaan yang perlu kita jawab adalah: apakah kita, manusia berdosa, sungguh dapat memilih untuk percaya/tidak percaya? Secara fenomena, kita akan melihat bahwa hal inilah yang biasa terjadi di waktu seseorang mendengar tentang Injil dan ditantang untuk percaya, bukan? Tetapi Agustinus (354-430) menegaskan bahwa jikalau orang bisa menerima Injil, itu bukanlah karena kehendak bebas dia untuk memilih, tetapi karena kedaulatan dan anugerah Allah yang sudah berkehendak untuk menyelamatkan (Hoekema, 1989). Setiap manusia memang dicipta dengan kehendak bebas (free will) untuk memilih, hal ini diberikan kepada manusia karena kita adalah peta dan teladan Allah (Kej. 1:26). Akan tetapi, Alkitab juga menyatakan bahwa manusia telah jatuh dalam dosa dan kehilangan kemuliaan Allah (Rm. 3:23). Bahkan, Alkitab menyatakan bahwa tidak ada yang mencari Allah, tidak ada yang berbuat baik, tidak ada yang berinklinasi terhadap memilih yang baik (Rm. 3:10-12). Maka, hal ini menimbulkan pertanyaan yang harus kita jawab, apakah manusia masih mempunyai kapasitas untuk mengambil keputusan yang bersifat rohani? Arminianisme memercayai bahwa setiap manusia masih mempunyai anugerah yang cukup untuk mengambil keputusan tersebut. Namun, firman Tuhan tanpa ragu menyatakan bahwa manusia yang berdosa sebenarnya sudah tidak lagi mempunyai kemauan untuk menerima apa yang berasal dari Roh Allah (1Kor. 2:14). Dan jikalau ini masih belum cukup, Paulus berulang kali sudah menyatakan bahwa kita dahulu adalah orang-orang yang mati di dalam dosa (Ef. 2:1; Rm. 6:11; Rm. 6:23; Kol. 2:23). Maka, salah satu premis dari iman kepercayaan Reformed adalah fakta bahwa tidak ada orang mati yang masih bisa berespons terhadap anugerah Tuhan (total depravity).

Synod of Dordt menyimpulkan bahwa berbedanya respons satu orang dari orang lainnya terhadap Injil sama sekali bukan karena satu pribadi lebih suci, lebih baik, ataupun lebih bijak dari pribadi yang lain, tetapi apa yang membedakan respons seseorang dari yang lain adalah fakta sederhana ini: apakah Allah berkenan memberi belas kasih-Nya atau tidak? Keselamatan adalah pemberian Allah, agar tidak ada yang dapat bermegah selain bermegah di dalam salib Kristus. Keselamatan adalah pemberian yang dari Allah. “Pilihan Allah” di sini juga bukan berdasarkan pra-pengetahuan mengenai siapa yang akan beriman atau tidak, dan juga bukan pra-pengetahuan tentang kebaikan apa pun yang ada di dalam diri manusia.

Atas Dasar Apakah Kita Dipilih?
Apabila keselamatan bukanlah berdasarkan keputusan manusia, melainkan pilihan dan kerelaan Allah sendiri, atas dasar apakah Dia memilih siapa yang selamat dan tidak selamat? Pemilihan tersebut hanyalah berdasarkan hikmat dan kehendak-Nya saja; bukan berdasarkan jasa, kedudukan, harta, moralitas, ataupun segala hal yang manusia bisa kerjakan (Ul. 10:14-15). Iman, kesucian, ketaatan, dan segala kualitas baik manusia itu bukanlah syarat untuk dipilih, melainkan buah dari pemilihan. Maka, bagi orang yang percaya kepada Kristus, kita tidak boleh sombong. Sumber keselamatan kita ada pada kehendak Allah itu sendiri, kehendak yang kekal, dan kehendak yang mutlak. Kehendak Allah untuk memilih kita adalah kasih yang murni yang diberi kepada kita yang tidak layak mendapatkannya. Inilah yang hari ini disebut oleh Theologi Reformed sebagai doktrin pilihan tanpa syarat (unconditional election).

Mengenai isu yang dipilih dan yang tidak dipilih, di sinilah kita perlu menyadari bahwa Allah itu berpribadi, berkehendak, tetapi juga mutlak adil. Pilihan (election) adalah kehendak dan wilayah Allah. Alkitab yang kita baca sebenarnya dengan begitu konsisten menyatakan hal ini kepada kita. Ada banyak sekali ayat (Rm. 9:19) dan bagian Alkitab yang secara eksplisit menyatakan kedaulatan dan kebesaran Allah di dalam peristiwa keselamatan. Bahkan Alkitab mencatat bahwa Allah mengeraskan hati Firaun (Kel. 7:3) dan melembutkan hati manusia (Yeh. 11:19). Di dalam sepanjang keseluruhan Alkitab, sebenarnya kita bisa melihat bahwa tidak ada keselamatan yang pernah terjadi di luar dari inisiatif dan ketetapan Tuhan. Jikalau kita melihat perjanjian Allah dengan Abraham (covenant of grace), di sini kita langsung bisa melihat bahwa Allah adalah Pribadi yang menginisiasi, menjamin, menopang, dan bahkan Dia sendiri juga yang memilih Abraham sebagai penerima janji tersebut. Namun, ini bukanlah suatu peristiwa yang kebetulan ataupun sesekali saja terjadi. Di sepanjang keseluruhan Perjanjian Lama hingga Perjanjian Baru, kita sebenarnya bisa melihat bahwa kedaulatan dan penetapan Tuhanlah yang menjaga dan menggenapi segala janji-Nya. Hal inilah yang terus kita lihat mulai dari sejak Abraham sampai dengan Anda dan saya. Tidak pernah ada satu manusia pun—selain dari Yesus Kristus—yang bisa menghidupi standar yang sudah Tuhan tetapkan. Kita semua miskin dan membutuhkan Kristus untuk menyelamatkan kita hari demi hari.

Implikasi dari Arminianisme vs Implikasi dari Theologi Reformed
Jikalau basis kepercayaan kita sebagai orang Kristen adalah pilihan pribadi kita terhadap Injil, kepercayaan kita sebenarnya adalah sebuah kepercayaan yang berpusat pada manusia (antroposentris). Kita adalah manusia yang terus berubah dan di dalam kehidupan yang sering naik dan turun, iman kita pun juga sering kali mengikuti pola jatuh bangun ini. Lalu jaminan apakah yang kita akan miliki apabila keselamatan adalah berdasarkan keputusan dan kehendak kita sendiri? Apakah kita bisa yakin untuk tidak pernah berubah? Tidak mungkin! Hanya Allah yang tidak berubah. Lalu bagaimana dengan iman kita? Di waktu kita jatuh, apakah kita seperti Demas yang hilang ataukah kita seperti Daud yang kembali? Jikalau iman kita bukanlah berdasarkan janji, pada waktu kita jatuh, kita bisa dengan begitu cepat kehilangan iman kita. dan waktu kita tidak jatuh, kita akan cepat merasa sombong. Kedua kemungkinan ini bukanlah iman kristiani sejati yang kita lihat di dalam Alkitab, namun inilah yang diajarkan oleh Arminianisme.

Sebaliknya, Theologi Reformed menegaskan bahwa yang percaya kepada Injil Kristus adalah mereka yang pasti dipilih oleh Allah. Dan jikalau kita dipilih oleh Dia, kehendak Allahlah yang menjadi fondasi yang tidak akan pernah goyah. Kita tidak memungkiri bahwa hidup ini naik dan turun, tetapi bagi yang percaya kepada Allah, kita telah ditetapkan dari semula, sebelum dunia dijadikan, untuk berespons terhadap panggilan-Nya (predestined). Bagi yang dipanggil oleh-Nya, kita juga akan dibenarkan, dikuduskan, dan dipermuliakan oleh Allah sendiri (Rm. 8:30), inilah janji Tuhan yang tidak dapat berubah. Fakta ada yang menerima ataupun menolak adalah cermin akan kedaulatan dan kehendak Allah untuk memberi kepada siapa Dia mau berikan (Ef. 1:11).

Lalu bagaimana dengan mereka yang tidak dipilih? Apakah ini berarti Tuhan itu tidak Mahakasih? Jikalau Allah tidak mengasihi kita, Kristus pasti tidak akan mati bagi kita. Jikalau Allah tidak mengasihi kita, Roh Kudus pasti tidak akan rela untuk masuk ke dalam hati kita yang kotor dan penuh dengan dosa. Jikalau Allah tidak mengasihi kita, pasti tidak ada kesempatan bagi siapa pun untuk selamat, karena dari awal kita semua adalah orang yang sudah berdosa (1Kor. 15:22). Namun sebaliknya, anugerah dan Injil Kristus memberi setiap kita kesempatan untuk percaya. Mengenai perihal mengetahui siapa yang dipilih dan tidak dipilih, itu adalah kedaulatan dan rahasia kehendak Allah.

Bagi yang dipilih-Nya, kita juga diberi-Nya pekerjaan baik untuk kita kerjakan bersama (Ef. 2:10). Panggilan kita sebagai manusia adalah untuk menyangkal diri, memikul salib, dan mengikut Kristus. Panggilan kita adalah panggilan yang agung dan tinggi, panggilan kita adalah untuk menjadi makin serupa dengan Yesus Kristus; dan bukan itu saja, tetapi kita diajak untuk berbagian di dalam pelebaran Kerajaan Allah. Tanpa kita sadari, mungkin kita sering kali menganggap panggilan orang Kristen sebagai beban yang berat. Tetapi biarlah doktrin unconditional election bisa mengingatkan kita bahwa kita dipilih dan dikasihi-Nya, jauh sebelum kita bisa memberikan respons, dan bahwa bagi kita yang percaya kepada Dia, semata-mata merupakan anugerah sehingga kita sudah diselamatkan. Iman kita adalah iman yang taat karena kasih setia-Nya, bukan karena ketakutan akan neraka ataupun demi keselamatan, melainkan ini semua adalah demi rencana kekal Allah dan demi kemuliaan nama-Nya. Marilah kita berjuang bersama untuk mengabarkan Injil dan untuk menyatakan kemuliaan Kristus melalui kehidupan yang layak di mata Tuhan.

Jack Setio
Pemuda GRII Melbourne

Referensi:

Bavinck, H. (2006). Reformed Dogmatics: Sin and Salvation in Christ (Vol 3). Grand Rapids, Michigan: Baker Academic.
Hoekema, A. A. (1989). Saved by Grace. Grand Rapids, Michigan: William B. Eerdmans Publishing Company.
Synod of Dort. (1619). The Canons of Dort. Retrieved September 14, 2019, from Puritan Reformed Theological Seminary: https://prts.edu/wp-content/uploads/2016/12/Canons-of-Dort-with-Intro.pdf.
Vandergugten, S. (1989, September 16-30). The Arminian Controversy and the Synod of Dort. Retrieved September 21, 2019, from SpindleWorks: https://spindleworks.com/library/vandergugten/arminian_c.htm.

Jack Setio

Oktober 2019

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan Tuhan selama 30 tahun bagi GRII.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Syalom.......!!! Selamat siang pa saya mau inggin bertanya berkolaborasi dengan zaman milenial pa,pertanyaannya...

Selengkapnya...

Sebenernya simple mengenai ilmu tentang hidup. Ya kita harus terima kenyataan , dan kita harus punya tujuan hidup....

Selengkapnya...

maaf ternyata kesalahan pada setingan di komputer saya, syalom

Selengkapnya...

hurufnya sulit di baca... mungkin akan leih baik klw menggunakan huruf standart syalom TUHAN MEMBERKATI

Selengkapnya...

Sepertinya bagian Penutup tidak menjawab pertanyaan. Sy sebagai org awam yg mau datang kpd TY jadi bingung dengan...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲