Artikel

With No Power Comes No Responsibility

Bagi kita yang hidup di awal tahun 2000-an pasti pernah mendengar kata-kata pada judul artikel ini. Kalimat tersebut merupakan pelesetan dari kutipan ini, “With great power comes great responsibility”. Kutipan yang dapat kita temukan pada film superhero Spider-Man. Suatu kutipan yang sangat baik untuk mengingatkan kita akan adanya tanggung jawab di setiap kekuatan dan kelebihan yang kita miliki. Sudah 17 tahun berlalu sejak kutipan tersebut didengungkan melalui film Spider-Man pertama[1], tetapi seperti biasa kutipan hanya sebatas kata-kata. Anak muda zaman sekarang sangat tidak mencerminkan kehidupan seperti kutipan tersebut. Justru mereka dengan bangganya membuat pelesetan seperti judul di artikel ini. Seolah-olah mereka ingin lari dari tanggung jawab. Bukan karena tidak ada “power”, tetapi lebih kepada ingin hidup bebas, tanpa perlu terikat oleh tanggung jawab. Kegelisahan ini yang akhirnya dimanifestasikan dalam bentuk film animasi yang baru dirilis akhir tahun 2018, yaitu Spider-Man: Into the Spider-Verse. Tidak hanya sampai di sana, film ini juga memberikan pesan resolusi bagaimana seharusnya anak-anak muda harus berubah dari sikap melarikan diri dari tanggung jawab. Kemudian, pada bagian terakhir artikel ini penulis mencoba merefleksikan bagaimana respons kekristenan terhadap isu yang coba diangkat oleh film animasi tersebut.

No Power, No Responsibility
Seperti yang penulis sampaikan di awal, bukan soal tidak ada kemampuan sehingga kita tidak perlu bertanggung jawab. Kutipan tersebut hanyalah alibi untuk menutupi keberdosaan kita saja. Justru kita mungkin mempunyai talenta dan kemampuan yang sangat baik, entah itu dalam hal kemampuan inteligensi, kemampuan berbicara di depan publik, keahlian di dalam bidang seni, ataupun hal-hal yang bersifat fisik seperti olahraga misalnya. Tetapi kenyataannnya, kita mengabaikan setiap tanggung jawab untuk mengembangkan kemampuan tersebut, kita cenderung ingin melakukan apa yang menyenangkan dan nyaman bagi kita. Jadi bukan soal karena tidak ada kemampuan maka tidak ada tanggung jawab, melainkan kita lari dari tanggung jawab itu supaya kita tidak merasa terbeban dengan kemampuan tersebut.

Gaya kehidupan seperti ini dapat kita temukan pada adegan awal film animasi ini. Seorang anak remaja bernama Miles Morales hidup di dalam keluarga yang harmonis. Kedua orang tuanya sangat mencintai dia dan sangat memperhatikan pendidikannya. Lalu, mereka memindahkan dia ke sekolah yang lebih elit dengan harapan ia dapat menjadi seorang anak remaja yang berprestasi dan memiliki masa depan yang cerah. Tetapi kelakukan Miles Morales justru berkebalikan, ia tidak menikmati kehidupan sekolah barunya walaupun ia tergolong cukup pintar, hingga bisa membuat nilai nol pada ujian pilihan ganda[2]. Miles Morales merasa tidak sepaham dengan orang tuanya. Justru ia merasa lebih dekat dengan pamannya oleh karena memiliki kesamaan hobi terhadap seni grafiti jalanan. Miles lari dari tanggung jawabnya sebagai siswa sekolah dan hanya ingin melakukan kegiatan hobinya dalam bidang seni grafiti. Hal ini makin memburuk pada saat ia harus menghadapi nasib yang tidak dapat ia perkirakan sebelumnya.

Taking the Power, Taking the Responsibility
Nasib atau takdir yang tidak disangka oleh Miles adalah secara tidak sengaja ia mendapatkan kekuatan seperti Spider-Man dari gigitan laba-laba ajaib. Sialnya, Miles berada pada momen yang tidak mengenakkan. Saat itu Spider-Man sedang berusaha menghentikan mesin penghubung dunia paralel yang dikerjakan oleh musuhnya, Kingpin. Bukannya melihat kehebatan Spider-Man yang berhasil mengalahkan musuhnya, ia justru harus melihat Spider-Man mati dan gagal menghancurkan mesin paralel tersebut. Miles mulai merasa tertekan seolah-olah takdir telah memutuskan dia menjadi penerus Spider-Man secara tiba-tiba. Lebih buruknya lagi, ada tanggung jawab tambahan yang mau tak mau ia harus kerjakan untuk menyelesaikan misi yang tertunda ini.

Secara tidak sengaja juga, ia bertemu dengan berbagai jenis Spider-Man yang hadir ke dunia Miles[3] untuk membantu menyelesaikan misi tersebut. Kelima jenis Spider-Man ini sangat berbeda satu sama lain. Ada yang berperan sebagai Spider-Man wanita, hingga ada babi yang menjadi karakter Spider-Man. Perjalanan untuk menyelesaikan misi tersebut tidaklah semulus yang dibayangkan Miles. Ia masih berkutat dengan kekuatannya yang tidak stabil. Ia tidak dapat mengeluarkan kekuatannya sesuai kemauannya. Permasalahan makin runyam ketika kelima Spider-Man ini dapat sewaktu-waktu lenyap begitu saja karena tubuh mereka tidak cocok dengan dunia Miles. Hal ini membuat Miles makin tertekan untuk menyelesaikan misi ini secepatnya agar kelima Spider-Man ini dapat segera kembali ke dunia asal mereka.

Puncaknya, ia ditinggalkan oleh Spider-Man yang lain oleh karena Miles masih belum sanggup memakai kekuatannya dengan stabil. Di sinilah poin menarik yang ingin disampaikan oleh film ini, bahwa kuncinya terletak pada sikap hati Miles yang harus rela menerima nasib atau takdirnya sebagai penerus Spider-Man. Melalui kesiapan hati itulah, maka ia pun siap menjalankan tanggung jawab atas kekuatan yang telah ia terima. Jika ia tidak siap menerima tanggung jawab tersebut, ada konsekuensi yang harus diterima. Konsekuensi itu tidak berdampak kepada diri Miles, melainkan berdampak kepada orang lain, yaitu salah satu dari kelima Spider-Man itu harus tinggal di dunia Miles agar Spider-Man yang lain dapat kembali ke dunia mereka dengan risiko Spider-Man yang tinggal harus mengalami kematian lebih cepat. Miles sadar akan konsekuensi itu. Saat itulah ia menerima tanggung jawab atas kekuatannya dan barulah potensi kekuatan dalam dirinya keluar. Pada akhir cerita, mereka berhasil menyelesaikan misi tersebut. Kelima Spider-Man berhasil kembali ke dunia mereka masing-masing dan Miles telah sukses mengemban tanggung jawab atas kekuatan yang ia miliki untuk menjadi penerus Spider-Man berikutnya.

Salah satu produser dari film animasi ini, Christopher Miller pernah berkata demikian, “One of the key themes of the movie is that we all have powers, and we all need to face up to our responsibilities, regardless of who we are or where we are born.[4] Inti yang ingin disampaikan oleh film ini adalah setiap dari kita manusia mempunyai kekuatan yang harus kita pertanggungjawabkan kepada orang-orang di sekitar kita. Tidak peduli dari negara mana, dari suku apa, warna kulit apa, kaya atau miskin, tua atau muda, setiap manusia harus sadar akan tanggung jawabnya terhadap sesamanya melalui kekuatan yang ia miliki. Hal ini makin dipertegas ketika memasuki bagian akhir dari film tersebut yang menuliskan pesan dari Stan Lee, pencipta komik Marvel yang tertulis demikian, “That person who helps others simply because it should or must be done, and because it is the right thing to do, is indeed, without a doubt, a real superhero.” Pada akhirnya, film ini mau menyatakan bahwa pahlawan yang sejati bukan soal kemampuan yang hebat saja, melainkan saat ia perlu membantu orang lain, maka ia pun layak disebut sebagai pahlawan.

Pesan pada film ini merupakan kritik terhadap zaman postmodern saat ini yang sudah sangat kelewatan, seperti pada pernyataan di paragraf awal tadi, bagaimana anak muda zaman sekarang cenderung egois dan hanya mementingkan diri sendiri. Tidak peduli dengan perkataan dan kondisi orang lain, yang penting kita merasa nyaman dengan apa yang kita lakukan. Kita merasa ingin melakukan segala sesuatu dengan cara kita sendiri, tanpa harus mengikuti cara yang di masa lampau. Semua merasa diri paling benar dan orang lain salah. Bagi para filsuf, sikap seperti ini sangatlah berbahaya. Jika dibiarkan begitu saja, yang terjadi adalah kekacauan, karena semua ingin menjalani hidup dengan caranya masing-masing tanpa peduli akibatnya kepada orang lain.

Karena itu, film ini mau mengajarkan kita untuk sadar akan kondisi diri saat ini dan melihat kondisi di sekitar kita. Bahwa cara kita hidup saat ini sangat berdampak bagi orang lain. Tidak hanya hidup seenaknya seorang diri, tetapi melihat bagaimana hidup kita sangat terkait dengan orang lain. Bukan hanya di zaman ini saja, tetapi juga melihat sejarah perjalanan manusia hingga saat ini.

Prinsip ini dapat kita temukan pada film ini di dalam beberapa hal. Salah satunya yaitu di awal cerita, Miles tidak hanya harus pindah sekolah, tetapi juga tinggal di apartemen kecil bersama rekannya yang lain. Uniknya, di bagian awal hingga pertengahan film, mereka berdua tidak saling berinteraksi dan tidak berkomunikasi sama sekali. Justru pada akhir film ketika Miles telah berubah, barulah terjadi interaksi di antara mereka. Bukankah adegan ini sangat jelas mau menyampaikan pesan utama dari film ini, yaitu tanggung jawab untuk berelasi dengan orang lain di sekitar kita?  

Our Response as Christians
Para filsuf sekuler sudah menyadari akan bahaya kehidupan postmodern saat ini. Mereka berusaha memberikan kritik dan nasihat melalui berbagai media hiburan, termasuk film animasi ini. Lalu bagaimana dengan kekristenan? Jikalau para filsuf dunia hanya sampai pada tanggung jawab untuk mengasihi sesama, bukankah kekristenan jauh melampaui hal itu? Kesadaran akan tanggung jawab sebagai manusia yang hidup di tengah manusia yang lain dan berharap akan dunia yang lebih baik, itulah yang diinginkan oleh para filsuf sekuler. Maka, kekristenan lebih daripada itu, bahwa kita sebagai orang Kristen pada dasarnya dituntut untuk mengasihi sesama oleh karena Allah yang telah lebih dahulu mengasihi kita. Kasih Allah terhadap manusia, itulah yang menjadi dorongan utama mengapa kita punya tanggung jawab untuk mengasihi sesama kita.

Sayangnya, kita selalu mengabaikan begitu saja firman Tuhan tersebut, seolah-olah merasa diri sudah pandai dan mengerti di luar kepala. Lebih buruknya lagi, kita tidak sungguh-sungguh menghidupi firman itu. Kita justru malah menghidupi kekristenan layaknya Miles di adegan awal yang hanya mementingkan dirinya sendiri. Bukankah banyak di antara kita yang merasa menjadi orang Kristen cukup hanya datang ibadah di hari Minggu? Padahal di Alkitab jelas ditunjukkan kepada kita tanggung jawab sebagai orang yang telah dilahirbarukan. Entah itu di dalam penginjilan kepada orang yang belum percaya (Mat. 28:18-20), hidup di dalam persekutuan erat dengan rekan seiman (Mzm. 119:63), hingga tuntutan untuk tidak serupa dengan dunia ini (Rm. 12:2). Pada faktanya, kita mengabaikan hal itu semua dan hanya melakukan kegiatan-kegiatan kristiani yang cocok dan nyaman buat kita.

Pesan dari film ini pun di dalamnya mengandung kebahayaan. Kita diajarkan untuk hidup bertanggung jawab kepada sekitar kita, sehingga ketika kita hidup bertanggung jawab dan hidup harmonis dengan sekitar kita, kita dianggap sudah memaknai kehidupan ini dengan baik. Namun, kekristenan memiliki cara pandang yang lebih tinggi. Bagi kekristenan, tanggung jawab hidup ini tidak ditentukan oleh masyarakat ataupun diri sendiri, tetapi ditentukan oleh Allah. Allah menciptakan kita untuk menjalankan misi yang Ia berikan kepada kita. Itu adalah tanggung jawab kita sebagai ciptaan-Nya. Terlebih lagi, di dalam konteks dunia yang sudah jatuh ke dalam dosa ini, kita dipanggil untuk menjadi garam dan terang untuk membawa manusia-manusia berdosa kembali berekonsiliasi dengan Allah dan menjadi manusia yang seharusnya. Sehingga bagi kekristenan, hidup yang bertanggung jawab adalah hidup yang bertanggung jawab menjalankan kehendak Allah, dan dengan menjalankan hal ini, kita hidup menjadi berkat bagi sesama kita. Hidup damai satu dengan lainnya di dunia ini bukanlah tujuan akhir dari kehidupan kita sebagai manusia. Tanpa menyadari bahwa tujuan akhir hidup kita adalah Tuhan, manusia akan senantiasa merasa kosong dan perlu mencari jawaban atas kekosongan tersebut. 

Biarlah pesan pada analisis film ini menjadi tamparan keras bagi kita untuk sekali lagi bertobat di hadapan Tuhan, supaya kita tidak ditelan oleh arus zaman ini. Justru sebaliknya, kita yang telah menerima kebenaran sejati dari Allah seharusnya mendidik zaman ini. Sudah saatnya kita sebagai orang Kristen mewartakan kebenaran dan terang dari Allah kepada dunia yang berdosa ini. Kita menjalankan peran sebagai garam dan terang dunia, sebagaimana seharusnya manusia kembali bertanggung jawab di hadapan Allah dan sesama manusia. Dunia ini butuh jawaban, kita punya jawabannya: seluruh umat manusia butuh Kristus agar dapat hidup sebagai manusia sesungguhnya di hadapan Sang Pencipta dan menjadi berkat bagi sesama ciptaan-Nya, manusia.  

Trisfianto Prasetio
Pemuda FIRES

Endnotes:
[1] Film Spider-Man di sini mengacu pada film trilogi Spider-Man versi Sam Raimi.
[2] Pada konteks film, ujian pilihan ganda tersebut memakai format benar dan salah. Secara logika, jika kita konsisten mengisi salah satu saja, pasti tidak mungkin dapat nilai nol. Tetapi pada film ini diceritakan Miles bisa mendapat nilai nol dengan format ujian seperti itu. Berarti sebenarnya Miles tahu jawaban yang benar, tetapi sengaja pilih jawaban yang salah.
[3] Kemunculan lima jenis Spider-Man ini diakibatkan oleh gagal berfungsinya mesin penghubung dunia paralel saat diaktifkan sebelumnya.
[4] Spider-Man: Into the Spider-Verse (2018) Trivia.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di Sumatra Utara yaitu di kota Kisaran, Rantauprapat, Pematangsiantar, dan Tarutung pada 7-10 Mei 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Mungkin Mordekhai boleh disebut sebagai orang yang tunduk kepada hukum kerajaan, tetapi dia bukanlah orang yang...

Selengkapnya...

Hallo pak Stephen Tong, saya mau bertanya apakah kita percaya terlebih dahulu baru menerima roh kudus? Atau roh kudus...

Selengkapnya...

Salam. Terima kasih sebelumnya, saya sangat terberkati dengan pesan yang disampaikan. Namun alangkah baiknya definisi...

Selengkapnya...

Sangat memberkati. Mohon berbagi renungan harian nya. Terima kasih banyak Tuhan Yesus memberkati

Selengkapnya...

Menurut saya, Yang harus kita tanyakan dalam diri kita adalah apakah musik puji-pujian/lagu yg kita bawakan tersebut...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲