Artikel

Yakub, Sang Penikung yang Tertikung (Bagian 1)

Pernahkah kita ditikung orang lain, atau pernahkah kita menjadi penikung? Entah dalam pekerjaan, uang, pasangan, dan sebagainya; kisah menikung-ditikung bukanlah hal yang asing di telinga kita. Hanya ada 2 pilihan, tertikung atau menikung. Tragisnya, hal ini kadang dilakukan oleh orang yang dekat dengan kita. Menikung dan ditikung bukanlah fenomena baru dalam kehidupan manusia, tetapi pola ini sudah muncul dalam Alkitab Perjanjian Lama, artinya sudah lama dari zaman jebot. Mari kita menyoroti Yakub, tokoh yang merupakan manifestasi dari pola ini, si penikung ulung.

Jacob the Heel Grabber
Nama Yakub berasal dari bahasa Ibrani Ia’akov yang memiliki arti supplanter, yaitu orang yang merebut milik kepunyaan orang lain (dalam bahasa zaman now adalah penikung).[1] Nama ini diperoleh Yakub karena ia menarik tumit kakaknya, Esau, pada saat mereka dilahirkan. Sepanjang hidupnya, Yakub dipenuhi dengan pergumulan untuk mencari, merebut, dan mendapatkan hal yang ia harapkan. Jauh sebelum Yakub lahir, ia sudah berkelahi dengan Esau di dalam kandungan sehingga membuat Ribka sangat kesakitan sampai ingin mati.[2] Sebenarnya Ribka itu mandul, tetapi suaminya terus berdoa baginya. Ketika Tuhan mengabulkan doa suaminya, justru hidupnya malah menderita. Ribka pun berteriak kepada Tuhan, dan jawaban Tuhan sungguh mengagetkan. Allah berfirman bahwa ada dua bangsa dalam rahimnya, yang tua akan menjadi hamba yang muda. Ternyata kesakitan yang diderita Ribka adalah hal kecil jika dibandingkan dengan apa yang akan terjadi setelahnya, yaitu anak-anaknya akan menentukan masa depan bangsa-bangsa. Kita mungkin sering bertanya, "Jika ini adalah benar kehendak Tuhan, mengapa begitu berat dijalani?" Pimpinan Tuhan sering kita asosiasikan dengan kemudahan, kelancaran, sukacita, atau masa depan cerah penuh bahagia. Padahal Alkitab sering mengisahkan bahwa beratnya hidup adalah tanda Tuhan sedang bekerja.[3] Manusia sering kali salah berfokus, kita berfokus kepada penderitaan yang sedang kita alami dan gagal melihat apa yang Tuhan sedang ingin kerjakan di balik fenomena penderitaan tersebut.

Sejak dalam kandungan, Yakub sudah berusaha menikung posisi kesulungan, bahkan sampai proses kelahiran pun Yakub tetap menarik tumit Esau yang sudah keluar terlebih dahulu.[4] Tumit di sini mengingatkan kita pada perjanjian Allah dengan Adam di mana ular akan meremukkan tumit dari keturunan perempuan.[5] Yakub berusaha untuk merebut posisi pihak lain seperti usaha setan merebut posisi Allah.[6] Selain itu, setan – yang adalah bapa dari segala dusta – hadir dalam karakter penipu dari Yakub.[7] Melihat pola ini, seharusnya orang tuanya waspada terhadap perkembangan karakter Yakub, yang walaupun merupakan garis keturunan Mesias, namun mempunyai ciri keturunan ular. Alkitab kemudian mengisahkan Esau dan Yakub yang tumbuh dengan sangat berbeda. Adalah suatu hal yang baik jika mereka bisa mengembangkan potensi masing-masing. Namun, justru orang tua mereka malah menciptakan situasi yang tidak kondusif bagi pertumbuhan spiritual Esau dan Yakub.[8] Mungkin memang sulit bagi Ishak yang mencintai hidup berpetualang untuk bisa mengapresiasi Yakub, demikian juga sulit bagi Ribka untuk mengapresiasi Esau. Tetapi bukannya berkomunikasi dan mencari kehendak Tuhan, mereka justru memperlakukan anak-anak mereka sesuai preferensi masing-masing. Tidak ada kesehatian dalam keluarga; yang ada hanyalah kompetisi.

Kisah keluarga ini terus berlanjut. Setelah melakukan perburuan seharian, dengan perut lapar Esau pulang dan Yakub tidak menyia-nyiakan kesempatan ini. Yakub berhasil menikung hak kesulungan kakaknya yang berharga itu dengan semangkuk sup kacang merah. Banyak hal ironis yang kita jumpai di sini. Yakub mungkin peka bahwa Tuhan telah berjanji kalau ialah yang akan menerima hak kesulungan. Ia menginginkan hal yang baik, yaitu janji Tuhan dalam bentuk hak kesulungan. Sayangnya, ia tidak percaya akan waktu Tuhan dan memakai cara sendiri untuk memastikan kepemilikan hak itu dengan cara memanipulasi kakaknya untuk bersumpah kepadanya.[9] Namun di sisi lain, kita melihat bagaimana Esau terobsesi pada kebutuhan fisiknya sampai ia merendahkan hak kesulungan yang dianggapnya tidak berguna saat itu.[10] Dalam hidup ini, kadang kita melihat orang-orang yang sangat terobsesi pada janji Tuhan sehingga mereka melakukan segala cara untuk memperolehnya sekalipun waktunya belum tiba. Namun kita juga melihat orang-orang yang hanya memikirkan kebutuhannya sendiri dan menghina janji Tuhan kepadanya sebagai umat Tuhan.

Usai Yakub “menggenggam tumit” kakak kembarnya, tiba saatnya untuk menggenggam tumit ayahnya. Dalam Kejadian 37, dikisahkan bahwa Ishak merasa bahwa dirinya semakin tua, sehingga ia pun memutuskan untuk memberkati anaknya. Ironisnya, anak yang dipanggilnya bukanlah pilihan Tuhan, melainkan Esau, favoritnya. Bukan hanya mata jasmaninya yang rabun tetapi mata rohaninya juga. Padahal dalam pengalaman hidupnya sendiri, ia mengalami bagaimana Tuhan melewatkan Ismael dan memberikan hak kesulungan kepada dirinya sekalipun Abraham telah memohon agar Ismael-lah yang diperkenan Tuhan.[11] Dalam kasus Abraham, ia harus melepaskan Ismael karena itu usaha manusia, bukan pemberian Tuhan. Melepaskan sesuatu yang sudah kita usahakan dengan jerih payah memang sangat sulit. Padahal Tuhan sanggup memelihara Ismael melampaui yang Abraham mampu lakukan.[12] Sering kita tidak percaya kebijaksanaan Tuhan dan ingin mengontrol sendiri hidup kita. Hal yang sama dialami oleh Ishak. Ishak seharusnya tahu melalui firman Tuhan bahwa yang muda akan memperoleh hak kesulungan, tetapi cintanya kepada Esau membuatnya berusaha memberontak terhadap rancangan Tuhan. Atas nama cinta, manusia yang bodoh sering menolak pilihan Tuhan yang bijaksana. Pergumulan dalam memilih kehendak Tuhan atau keinginan diri ternyata dialami oleh Abraham, Ishak, dan puncaknya pada kisah Yakub nanti.

Sekali lagi, Yakub seharusnya beriman bahwa Tuhan akan memberikan berkat itu dengan cara dan waktu Tuhan. Namun ia lebih memilih ikut cara ibunya, yang sekalipun penampilan luarnya dikatakan Alkitab sangat cantik ternyata dalamnya sangat buruk.[13] Yakub awalnya menolak rencana ibunya, tetapi ironisnya bukan karena itu tindakan yang salah, tetapi karena risikonya besar. Diperlukan keberanian yang besar sekali untuk menipu ayahnya, karena jika gagal, bukan berkat tetapi kutukan yang didapatkan. Setelah dijamin dengan dukungan ibunya, Yakub pada akhirnya berani menipu ayahnya. Yakub hanya memulai dengan menggunakan satu kata saja, “Bapa!” karena takut identitasnya terbongkar melalui suaranya.[14] Ishak awalnya tidak percaya dan bertanya, “Siapakah kamu?” Lalu Yakub menjawab, “Esau anakmu.” Di sini, Yakub menipu identitasnya sendiri, sungguh ironis jika mengingat asosiasi nama Yakub. Dia tidak bisa menerima identitas dirinya dan ingin berada di posisi kakaknya Esau. Suatu motivasi tulus dari seorang anak yang mengharapkan cinta dan pengakuan ayahnya, karena selama ini ayahnya tidak pernah mencintainya.[15] Ishak menguji berkali-kali, tetapi tetap saja tidak menyadari penipuan Yakub. Matanya rabun, perabaannya tidak dapat membedakan bulu kambing dan bulu Esau, bahkan indra perasanya tidak dapat membedakan kambing ternak dan kambing buruan, sesuatu yang berkaitan dengan kegemarannya. Tetapi kebutaannya yang paling terutama adalah ia tidak lagi dapat melihat kehendak Tuhan, tidak dapat meraba pimpinan Tuhan, dan tidak dapat mengecap nikmatnya anugerah Tuhan.[16]

Setelah Ishak sadar bahwa Yakublah yang ia berkati, ia mendadak merinding ketakutan.[17] Bukan sedih, bukan marah, tetapi ketakutan. Inilah respons orang berdosa ketika Tuhan yang suci mendadak melakukan intervensi dalam hidupnya. Ia akhirnya sadar bahwa selama ini ia sudah melawan Tuhan. Bersyukur Ishak masih peka untuk mendengar suara Tuhan (seperti pendengaran fisiknya yang masih bekerja[18]). Kesadaran ini membuatnya dengan berat hati memberikan berkat yang lebih mirip kutukan kepada Esau. Karena ia ingat bahwa Tuhan sudah berfirman kalau Esau akan menjadi hamba Yakub sekalipun ia sangat mencintai Esau. Meski dengan meraung-raung sekalipun, inilah sesuatu yang pantas didapatkannya, karena sedari awal Esau merendahkan hak kesulungannya.[19] Selain itu, dalam hal memilih istri pun Esau nampaknya tidak memedulikan kehendak Tuhan maupun orang tuanya, sehingga ia memilih istri penyembah ilah asing. Esau menunjukkan sifatnya sebagai orang yang hanya peduli pada keinginannya dan tidak peduli keinginan Tuhan ataupun orang lain.

Tidak terima dengan kondisinya, ia ingin mencari siapa penyebab tragedi yang ia alami dan di matanya sudah jelas siapakah orang itu: sang penikung yang telah menipunya dua kali.[20] Suatu hal yang tidak bisa kita bayangkan bahwa saudara yang seharusnya saling mengasihi dan mengampuni akhirnya membenci sampai ingin membunuh. Pola Kain dan Habel sepertinya terulang di sini.[21] ESV memakai kata comforts himself untuk menjelaskan psikologi Esau.[22] Membenci dan menyakiti adalah cara manusia berdosa untuk mencari comfort dalam dirinya yang telah disakiti. Dalam dunia berdosa ini, kadang kita sering ditipu dan disakiti oleh orang lain entah dalam sekolah, pekerjaan, bisnis, persahabatan, dan lain-lain. Dan terkadang manusia mempunyai dorongan kuat untuk balas menyakiti dengan lebih kejam. Ini juga yang dirasakan oleh Esau.  

Sementara Yakub berpikir ia telah mendapatkan hak dan berkat kesulungan, maka berkat Tuhan akan turun atas dirinya, tetapi kenyataannya sekarang ia harus melarikan diri dengan tidak memperoleh apa-apa. Ia kehilangan semuanya, bahkan hak untuk tinggal aman sebagai anak di keluarga itu pun telah lenyap. Ia berpikir telah menikung hak Esau, tetapi seluruh haknya malah tertikung. Sebenarnya tikungan pertama ia peroleh dari ibunya sendiri. Dalam peristiwa ini, tanpa ia sadari ia sudah dijebak oleh manipulasi ibunya sendiri. Ribka mempunyai nama yang dalam bahasa Ibrani berarti mengikat atau menjebak.[23] Ribka yang merasa mempunyai kontrol atas hidup anaknya akhirnya malah tidak bertemu anaknya lagi selamanya. Yakub harus lari dan kehilangan keluarganya untuk menghindari murka Esau. Orang tua biasanya memiliki sifat seperti ini, mereka ingin memberikan yang mereka anggap baik kepada anaknya sehingga cenderung mengatur masa depan anaknya, padahal sering kali hal itu menunjukkan ketidakpercayaan kita kepada penyertaan Tuhan secara pribadi atas anak tersebut. Kita bisa melihat bahwa seluruh keluarga ini, baik Ishak, Ribka, Yakub, maupun Esau, adalah keluarga yang terpecah dan berantakan dengan dosa masing-masing. Tetapi bersyukur Tuhan masih mengasihi dan ingin memakai Yakub, sehingga Ia mencabut Yakub dari situasi keluarga yang toxic ini agar Yakub bisa bertumbuh melalui cara Tuhan.

Reflection
TUHAN tidak pernah lupa dan ingkar akan janji-Nya. Yakub yang sedang dalam pelarian bermimpi ada tangga turun dari sorga sampai ke bumi. TUHAN turun dan masuk dalam hidup orang berdosa seperti Yakub. Sebenarnya, dalam situasi Yakub sekarang, adalah sangat layak jika Allah yang adil mencari dan menghukum Yakub, tetapi justru sebaliknya yang terjadi. Yakub beroleh berkat yang melampaui berkat Ishak, yaitu perjanjian Allah kepada Abraham.[24] Ia yang tanpa tempat tinggal dijanjikan tanah, ia yang seorang diri dijanjikan keturunan, ia yang seorang perampas berkat orang lain dijanjikan akan menjadi berkat bagi seluruh bangsa, dan terutama ia yang tidak berdaya akan disertai oleh TUHAN.[25] Itulah Allah kita, Allah yang penuh kasih karunia terhadap umat-Nya yang berdosa. Sebelumnya Yakub hanya mendengar dari kakek dan ayahnya tentang siapakah TUHAN yang mereka sembah, tetapi inilah pertama kalinya Yakub berjumpa secara personal dengan TUHAN. Yakub terbangun dan ketakutan lalu ia segera mendirikan tugu batu dan bernazar untuk merespons perjanjian dengan Allah.[26] Ia segera berespons ketika firman Tuhan datang, berbeda dengan ayahnya yang tidak peka terhadap firman Tuhan. Sekalipun kerohanian kita naik turun seperti hidup Yakub, asalkan memiliki kepekaan akan firman Tuhan, itu jauh lebih baik dari pada hidup lancar yang tidak peka pada firman Tuhan seperti Ishak.

Kisah Yakub belum berakhir di sini. Di bagian kedua akan dibahas tikung-menikung dalam kehidupan percintaannya. Sebelum mengakhiri bagian pertama ini, Sinclair Ferguson melihat ada suatu kaitan menarik antara pribadi Kristus dengan Yakub dalam Surat Filipi:[27]

who, though he was in the form of God, did not count equality with God a thing to be grasped, but emptied himself, by taking the form of a servant, being born in the likeness of men. – Philippians 2:6-7 (ESV)

Yakub mempunyai tendensi untuk terus menipu, merebut, mendapatkan semua yang diinginkannya, tetapi Kristus mempunyai karakter yang sebaliknya, karena Ia bahkan tidak mempertahankan milik-Nya, tetapi rela melepaskan semuanya. Kristus benar-benar adalah the greater Jacob yang dinantikan perempuan Samaria di sumur Yakub.[28] Kristus tidak hanya menebus kegagalan Yakub, tetapi juga menebus kegagalan kita semua. Laus Deo!

Hendrik Santoso Sugiarto
Pemuda GRII Singapura

Endnotes:
[1] Ia’akov (לעקוב) memiliki akar kata akev (עֲקֵב) yaitu tumit, karena ketika Yakub lahir, ia memegang tumit Esau. Memegang tumit (grasp the heel) adalah sebuah idiom Ibrani yang berarti perebut milik kepunyaan orang lain (supplanter).
[2] Kejadian 25:22.
[3] Kejadian 39:20-21, Keluaran 5:22-6:1.
[4] Kejadian 25:26.
[5] Kejadian 3:15.
[6] Yesaya 14:4, Yehezkiel 28:2.
[7] Yohanes 8:44, Wahyu 12:9, 13:14.
[8] Kejadian 25:28.
[9] Kejadian 25:33.
[10] Kejadian 25:34.
[11] Kejadian 17:18.
[12] Kejadian 17:22.
[13] Kejadian 24:16.
[14] Kejadian 27:18.
[15] Timothy Keller, Counterfeit Gods: The Empty Promises of Money, Sex, and Power, and the Only Hope that Matters (Hodder & Stoughton, 2009), 47.
[16] The Life of Jacob: Losing the Blessing - Sinclair Ferguson: https://www.sermonaudio.com/sermoninfo.asp?SID=fpc-090907am.
[17] Genesis 27:33 (ESV).
[18] Kejadian 27:22.
[19] Ibrani 12:17.
[20] Kejadian 27:36.
[21] Kejadian 4:5-8.
[22] Genesis 27:41-42 (ESV) Now Esau hated Jacob because of the blessing with which his father had blessed him, and Esau said to himself, “The days of mourning for my father are approaching; then I will kill my brother Jacob.” But the words of Esau her older son were told to Rebekah. So she sent and called Jacob her younger son and said to him, “Behold, your brother Esau comforts himself about you by planning to kill you.”
[23] Rivkah (רִבְקָה) memiliki akar kata rbq (רבק) yaitu terikat, dan dapat pula berarti jebakan.
[24] Kejadian 28:13-15.
[25] Nancy Guthrie, The Promised One: Seeing Jesus in Genesis (Crossway Books, 2011).
[26] Kejadian 28:16-22.
[27] The Life of Jacob: The Chief of Twisters - Sinclair Ferguson: https://www.sermonaudio.com/sermoninfo.asp?SID=fpc-090207am.
[28] John 4:12 (ESV).

Juni 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk situasi keamanan dan politik di Indonesia, kiranya Tuhan berbelaskasihan kepada bangsa kita ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
3.Huldreich Zwingli a) He turns, in September 1522, to a lyrical defense of the perpetual virginity of the mother...

Selengkapnya...

2. John Calvin a) Helvidius displayed excessive ignorance in concluding that Mary must have had many sons, because...

Selengkapnya...

Apa kata para Refomator tentang Keperawanan kekal Maria : 1. Marthin Luther : a) Christ, our Savior, was the...

Selengkapnya...

Saya rasa jika Yesus dari salib mungkin saja banyak orang akan percaya bahwa Ia adalah Anak Allah. Namun andaikata...

Selengkapnya...

Kata siapa drum tidak alkitabiah? Mazmur 150:5 (TB) Pujilah Dia dengan ceracap yang berdenting, pujilah Dia dengan...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲