Artikel

Yakub, Sang Penikung yang Tertikung (Bagian 2)

Bayangkan jika apa yang Anda harap-harapkan akhirnya ditikung oleh orang lain, entah itu beasiswa, pekerjaan, atau misalnya pujaan hati Anda yang menikah dengan orang lain. Sedih, kesal, marah–semua perasaan bercampur aduk menjadi satu. Lagi-lagi, tema tikung-menikung kita jumpai pada babak selanjutnya dalam kisah kehidupan Yakub: pencarian pasangan hidup. Kali ini kita akan melihat bagaimana pernikahan Yakub harus berakhir dengan ditikung oleh orang yang dekat dengannya.

Di kisah sebelumnya, kita melihat bagaimana Yakub yang adalah seorang pendosa mengalami peristiwa spiritual yang menakjubkan. Yakub mendapat mimpi dan melihat tangga yang turun dari sorga sampai bumi, di mana pertama kalinya ada titik kontak antara sorga dan bumi, yang sebenarnya adalah bayang-bayang dari Kristus.[1] Sebelumnya kita ingat bahwa pernah ada usaha manusia untuk menghubungkan bumi dan sorga melalui pembangunan Menara Babel. Tetapi itu adalah usaha yang sia-sia, karena jarak sorga dan bumi adalah jarak spiritual, bukan jarak geografis. Demikian juga tangga yang mencapai langit ini bukanlah suatu tangga yang bersifat geografis karena Tuhan melampaui ruang dan waktu. Prinsip ini berbalikan dengan Menara Babel, karena hanya Tuhanlah yang mampu menemukan manusia, sebaliknya tidak ada usaha apa pun yang manusia mampu lakukan untuk menemukan Tuhan. Tetapi meskipun dia telah mengalami perjumpaan personal dengan Tuhan, hal itu tidak serta-merta mengubah hidupnya. Setelah Yakub mengalami pengalaman spiritual yang spektakuler, nama Tuhan tidak muncul lagi dalam bagian narasi kehidupan Yakub yang selanjutnya.[2] Ia adalah orang yang baru saja mengalami pengalaman spiritual, tetapi perjumpaannya dengan Tuhan tidak memiliki signifikansi apa-apa dalam kesehariannya. Sering kali hidup kita juga demikian, di satu sisi kita mengikut Tuhan, di sisi lain kita hidup dengan cara kita sendiri. Di daerah baru ini, hidupnya kosong setelah berpisah dari keluarganya sehingga dalam hal ini ia harus mengisinya dengan pengejaran akan cinta. Tetapi justru dalam pergumulan inilah Tuhan terus membentuk kehidupan Yakub.

Setelah mencapai Haran, Yakub segera mencari kerabat ibunya dan kerabat pertama yang Yakub temui adalah Rahel. Ada kemungkinan Yakub menyukai Rahel sejak pertama kali bertemu. Sangat umum bagi laki-laki untuk tebar pesona demi menarik perhatian wanita. Reaksi pertama yang Yakub lakukan ketika bertemu Rahel adalah dia menunjukkan dominasinya dengan cara menggulingkan batu penutup sumur yang hanya bisa digulingkan oleh beberapa laki-laki. Alkitab mencatat pada saat itu para penggembala belum memberi minum domba-dombanya karena masih menunggu semuanya berkumpul dan dikatakan juga karena batu itu sangat besar.[3] Ketika Rahel datang, dikatakan Yakub menggulingkan batu itu seorang diri dan memberi minum domba-dombanya.[4] Kita sering melihat pola alpha male dalam dunia binatang, di mana terdapat kompetisi untuk berebut naik dalam hierarki kekuasaan dan yang di atas memiliki kesempatan lebih untuk mendapatkan si betina. Kita bisa melihat pola yang sama di dunia manusia; bahwa wanita lebih tertarik kepada laki-laki yang perkasa, cerdas, sukses, dan sebaliknya, laki-laki mengejar wanita tercantik. Relasi Yakub dan Rahel tidak lebih daripada ketertarikan natural. Dalam menggumulkan relasi, orang beriman seharusnya berbeda dengan dunia berdosa pada umumnya dan mempunyai karakteristik yang melampaui hal itu. Dalam menggumulkan hal ini pun tidak dicatat Yakub melibatkan Tuhan.

Kita tahu bahwa dalam kisah sebelumnya, Yakub selalu berada di dalam bayang-bayang kakaknya. Kakaknya adalah pemburu yang gagah perkasa sedangkan ia hanyalah anak rumahan. Tetapi ternyata di negeri yang baru ini, ia telah menjadi orang yang paling perkasa dan bukan lagi si anak mami. Benarkah secepat itu Yakub berubah? Pada kenyataannya, perubahan yang terjadi hanyalah fenomena lahiriah saja, karena dari kehidupannya dapat dilihat bahwa ia masih adalah Yakub si penikung yang sama. Still the same old Jacob.

Mungkin sekali standar keperkasaan di Kanaan dan di sekitar keluarga Abraham dan Ishak jauh melampaui standar keperkasaan di negeri ini. Dalam banyak kasus, orang yang kalah bersaing di suatu daerah yang sangat kompetitif akan mencari daerah lain yang lebih rendah standarnya, di mana ia bisa menjadi yang terbaik dan tidak merasa terancam. Sama seperti Yakub yang lari dari ancaman Esau yang lebih kuat darinya. Dalam kasus lain sering terjadi juga orang terbaik di suatu wilayah yang terbelakang akan mencari kesempatan di negeri lain yang lebih kompetitif untuk mengembangkan potensi dominasinya. Talent flow semacam ini akan membuat daerah yang maju semakin maju dan yang terbelakang semakin terbelakang. Orang percaya memang tidak bisa lepas dari permainan dan persaingan dunia. Tetapi kita tidak boleh hanya mempertimbangkan aspek survival. Terkadang justru kita harus setia bersaksi di sekitar orang yang secara performa lebih dari kita, namun juga siap turun inkarnasi dalam lingkungan yang jauh di bawah harapan kita.

Tidak lama setelah itu, Yakub bertemu ayah dari Rahel, yaitu Laban yang merupakan saudara ibunya. Kita sudah familier dengan Laban ketika hamba Abraham mencarikan istri untuk Ishak. Sejak awal, matanya selalu terpaku pada hal material seperti perhiasan.[5] Ia tidak melihat ikatan kovenan Abraham dengan Allah, tetapi berlimpahnya harta yang Abraham miliki. Ketika Laban menjumpai Yakub, mungkin ia kecewa karena Yakub tidak membawa apa-apa. Tetapi setelah Yakub menceritakan masa lalunya, Laban melihat kedekatan antara dirinya dan Yakub yang merupakan penikung yang tamak. Karena itu ia memanggil Yakub “dagingku dan tulangku”, mengingatkan kita pada kata-kata Adam kepada Hawa.[6] Sekarang mata Laban melihat potensi pada tenaga dan otot Yakub ketika mendengar kisah Yakub menggulingkan batu besar dan juga kepolosan Yakub yang sekarang sedang jatuh cinta kepada anaknya. Laban, seorang manipulator berpengalaman, melihat potensi sekaligus kelemahan Yakub sebagai kesempatan baik untuk dimanipulasi. Laban hanya melihat orang lain sebagai objek yang bisa dimanfaatkan untuk memperkaya dirinya. Laban memperalat saudaranya, Ribka, untuk memperoleh perhiasan Abraham. Ia juga memperalat anak-anaknya yaitu Lea dan Rahel, untuk menyandera Yakub. Ini bukanlah hal yang mengherankan, Yakub menikung karena dia terlebih dahulu terperangkap oleh tipu daya ibunya yang tak lain tak bukan adalah saudara Laban. Mereka semua adalah bagian dari keluarga penipu.

Laban mulai memanipulasi Yakub dengan bertanya apakah upah yang Yakub inginkan untuk bekerja baginya. Yakub, yang dikatakan cinta kepada Rahel, menjawab bahwa ia rela bekerja selama tujuh tahun untuk memperoleh Rahel.[7] Tetapi kita akan melihat dalam bagian berikutnya bahwa sebenarnya ia tidak benar-benar mencintai Rahel, semua pengejaran ini hanyalah untuk mengisi kekosongan hatinya. Tujuh tahun bekerja setara dengan 126 syikal, yaitu sekitar empat kali lebih mahal daripada mahar anak gadis di zaman itu, yang menunjukkan bahwa Yakub tidak berpikir rasional dalam menawar.[8] Laban sebenarnya tidak pernah sekalipun berkata “ya” atas tawaran Yakub. Laban hanya berkata, “Lebih baik ia kuberikan padamu daripada orang lain,” untuk memanipulasi Yakub yang bahkan sudah tidak dapat menawar dengan rasional.[9] Betapa licik dan lihainya Laban! Setelah tujuh tahun berlalu, Yakub meminta apa yang menjadi upahnya kepada Laban dengan menggunakan kata vulgar dan sudah menjadi skandal di kalangan rabi-rabi sejak dahulu.[10] Ini menunjukkan bahwa Yakub ingin menikahi Rahel bukan karena ia mencintai Rahel, tetapi karena ia ingin melampiaskan birahinya dengan Rahel. Hati Yakub kosong, sehingga ia berpikir sekslah yang akan memberinya kepuasan sejati. Sebaliknya bagi Laban, anak-anaknya hanyalah objek yang bisa diperjualbelikan seperti pelacur, khususnya bagaimana ia berusaha menjual “komoditas tak laku” yang selama ini menjadi beban dalam hidupnya yaitu Lea.

Di perikop sebelumnya, penulis Kejadian tiba-tiba mengubah fokus cerita pada perbandingan Lea dan Rahel.[11] Lea adalah pribadi yang minder. Dikatakan, sejak kecil ia selalu hidup dalam bayang-bayang adiknya yang selalu melampaui dia baik dalam karakter maupun kecantikan.[12] Sebaliknya, dikatakan bahwa Rahel itu elok, tidak hanya parasnya tetapi juga sikapnya. Sedangkan Lea dikatakan matanya tidak berseri, sebenarnya dalam bahasa Ibrani artinya lebih kompleks dari itu.[13] Talmud Yahudi mengaitkan bentuk matanya dengan anak yang terlalu sering menangis meratapi nasibnya.[14] Kadang kita bisa melihat kaitan antara paras dan karakter. Anak yang cantik atau berbakat akan sering memperoleh pujian sejak kecil. Sementara anak yang tidak elok seperti Lea, akan sering memperoleh ejekan ataupun cacian sejak kecil. Ini akan memengaruhi pembentukan kepribadian anak tersebut. Mungkin anak ini akan terbiasa berkata-kata kasar atau penuh kepahitan dan hal-hal negatif, sehingga membuat orang di sekitarnya tidak terlalu nyaman berada di dekatnya, lalu menganggap karakter anak ini buruk. Lalu bisa kita lihat bahwa pengaruh ini menurun, di mana anak-anak Lea berkarakter buruk jika dibandingkan anak-anak Rahel. Namun, hal-hal yang kelihatan di luar ini belum tentu menunjukkan apa yang sebenarnya di dalam hati orang tersebut. Bahkan nanti bisa kita lihat sekalipun karakter Lea tidak terlalu baik, ia memiliki kebesaran hati jauh melampaui Rahel yang tetap tidak puas meskipun telah memperoleh hal-hal yang baik.

Dalam kisah ini kita melihat usaha Laban untuk menjual Lea. Ia harus memutar otak dagangnya untuk bisa membuat komoditas yang tidak laku ini terjual. Namun, bukan memakai promosi seperti buy one get one free, Laban justru memakai hidden terms and conditions: jika ingin membeli Rahel, maka Lea harus dibeli dahulu dengan harga yang sama. Dan kita tahu pada akhirnya strategi dagang ini berhasil, dan pernikahannya dengan Rahel berhasil “ditikung” oleh Lea. Keesokan paginya, ia terkejut dan melabrak Laban. Tetapi Laban tidak khawatir karena sudah banyak pengalaman menipu dan memang sejak awal tidak jelas perjanjiannya apa. Laban hanya berkata bahwa kebiasaan di sini kakak dinikahkan terlebih dahulu barulah adik. Jawaban ini menusuk tepat pada trauma masa lalunya. Dia adalah adik, sama seperti Rahel dan dia ingin Rahel melangkahi kakaknya sama seperti dia melangkahi Esau. Laban menipunya sama persis seperti ia menipu Ishak. Sama seperti Ishak menyentuh dan mencium Yakub dalam kebutaan dan tertipu, maka ia menyentuh dan mencium Lea dalam kegelapan dan tertipu. Dalam Midrash Yahudi dikisahkan terdapat dialog imajiner antara Yakub dan Lea. Ketika Yakub marah pada Lea, ia hanya menjawab bahwa tidak mungkin ada murid tanpa guru. Ketika Ishak memanggil Esau dalam kegelapan, Yakub menjawab. Maka sekarang ketika Yakub memanggil Rahel dalam kegelapan, Lea menjawab.[15] Perlakuan yang sama persis seperti yang ia lakukan di masa lalu. Sekarang ia tahu bagaimana rasanya ditipu, dikhianati, dan ditikung oleh kerabatnya sendiri. Terkadang Tuhan membalikkan perlakuan kita kepada orang lain untuk menunjukkan betapa jahatnya kita.

Yakub mungkin bertanya dalam hatinya, “Tuhan mengapa hal ini terjadi padaku, bukankah Engkau berjanji untuk menyertaiku?” Penyertaan Tuhan tidak selalu berarti hidup akan menjadi lancar. Kita masih hidup dalam dunia berdosa yang penuh kejahatan dan cobaan. Yakub mudah sekali ditipu sekalipun telah mengalami perjumpaan dengan Tuhan. Ia belum dewasa secara rohani, masih bergantung pada pemikirannya sendiri dan bukan bersandar pada hikmat Tuhan. Dari kisah ini kita bisa belajar bahwa kita sangat membutuhkan hikmat Tuhan untuk hidup dalam dunia yang jahat. Tetapi di sisi lain kita juga harus ingat bahwa Tuhan telah berjanji untuk tidak meninggalkan Yakub. Kita bisa melihat bahwa sekalipun Tuhan seperti tidak beserta dengan Yakub, tetapi Tuhanlah yang menjalin semua peristiwa ini untuk membentuk karakter Yakub yang rusak. Tuhan ada dalam situasi ini sekalipun Yakub tidak lagi melibatkan Tuhan dalam hidupnya. Tuhan bisa memakai kejahatan dan dosa manusia untuk menggenapkan rencana-Nya.

Melihat kelemahan Yakub, Laban secara licik menawarkan Rahel sebagai upah untuk tujuh tahun bekerja lagi padanya.[16] Banyak yang berpikir Yakub bekerja selama empat belas tahun sebelum memperoleh Rahel, tetapi sebenarnya Rahel diberikan seminggu setelah pernikahannya dengan Lea.[17] Laban penipu ulung tahu bahwa Yakub tidak akan lagi mudah percaya padanya. Jadi Rahel diberikan cepat agar Yakub tidak meninggalkannya untuk tujuh tahun lagi. Yang Laban inginkan hanyalah memperbudak orang-orang terdekatnya. Dalam hal ini, seolah-olah Yakub telah memperoleh impiannya yaitu menikah dengan gadis idamannya. Namun, ternyata kehidupan pernikahannya tidak seindah yang ia bayangkan. Dalam artikel selanjutnya, akan dibahas bagaimana justru pernikahan yang Yakub harapkan ini ternyata menjadi bencana dalam hidupnya. Ya, bencana; karena tikung-menikung tidak akan pernah lepas dari kehidupannya, tak terkecuali kehidupan pernikahannya.

Yakub memulai dengan motivasi yang salah. Sesuai namanya, ia terus berusaha mengejar dan mengambil semua hal untuk mengisi hidupnya yang kosong. Yakub miskin cinta sehingga ia mengejar cinta. Keluarganya pun tidak sungguh-sungguh mencintainya, karena itu ia mencari sumber cinta dari tempat yang lain–dan sayangnya Yakub salah. Ia rela mengorbankan apa pun bahkan memberikan tawaran tidak rasional demi mendapatkan cinta. Tetapi apakah benar cinta yang didapatnya? Nyatanya dalam pengejaran cintanya itu, ia memperoleh penipuan dan kesia-siaan. Sungguh ironis! Tetapi sebaliknya, hidup Kristus sangat penuh dengan cinta kasih; dan dari starting point inilah Ia mengisi hidup manusia yang kosong dengan cinta-Nya. Kristus tidak pernah tertipu dan tahu betul harga yang harus Ia bayar, tetapi Ia tetap rela mengorbankan hidup-Nya. Jika Yakub rela bekerja tujuh tahun demi kekasihnya, maka Kristus lebih lagi karena Ia rela menderita dan mati untuk gereja-Nya.[18] Kita yang sekali lagi disadarkan akan hal ini, sebagai gereja, apakah yang menjadi respons kita? Terus mencari cinta pada tempat yang salah, atau berbalik kepada Sang Kasih itu sendiri? Sola gratia.

Hendrik Santoso Sugiarto
Pemuda GRII Singapura

Endnotes:
[1] Yohanes 1:51.
[2] The Life of Jacob: The Knots Tied - Sinclair Ferguson: https://www.sermonaudio.com/sermoninfo.asp?SID=fpc-092307am.
[3] Kejadian 29:7-8.
[4] Kejadian 29:10.
[5] Kejadian 24:30.
[6] Kejadian 2:23.
[7] Kejadian 29:18.
[8] Robert Alter. Genesis: Translation and Commentary (Norton 1997).
[9] Kejadian 29:19.
[10] Genesis 29:21 (interlinear) weabowah eleha (וְאָב֖וֹאָה אֵלֶֽיהָ) secara literal berarti memasukkan ke dalamnya (Rahel), yang merujuk pada aktivitas seksual.
[11] Kejadian 29:16.
[12] Kejadian 29:17.
[13] Rakkot (רכות ) secara literal berarti lemah, tetapi bukan berarti tidak dapat melihat jauh, mungkin lebih bermakna sayu dan lelah.
[14] Bava Batra 123a.
[15] Midrash Bereishit Rabbah 70:19.
[16] Kejadian 29:27.
[17] Kejadian 29:28.
[18] Efesus 5:2.

Hendrik Sugiarto

Agustus 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

bersyukur dalam segala keadaan, semakin terberkati... biarlah kehidupan ini jadi seperti yang Tuhan perkenankan...

Selengkapnya...

Terima Kasih Yah...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲