Artikel

Yesaya: Mengenal Raja yang Kudus dan Menjadi Hamba-Nya yang Dikuduskan

Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:8)

Di dalam Alkitab, kita melihat Tuhan berfirman kepada umat-Nya dan memanggil mereka untuk diutus menjalani hidup yang dipersembahkan kepada-Nya. Dimulai dengan Adam yang mengenal Tuhan Sang Pencipta langit dan bumi lalu diberikan mandat oleh-Nya untuk beranak cucu, bertambah banyak, memenuhi bumi, dan menaklukkannya di bawah pemerintahan Allah (Kej. 1:28). Lalu, kita juga melihat ada pribadi seperti Abraham yang dipanggil oleh Tuhan untuk keluar dari negerinya dan pergi ke tanah yang Tuhan janjikan (Kej. 12:1-4). Tuhan juga menampakkan diri kepada Musa, menyatakan bahwa Tuhan adalah Allah yang kudus dan juga setia kepada perjanjian-Nya sehingga Ia mengutus Musa untuk membebaskan umat-Nya dari tangan Firaun dan membawa mereka ke Tanah Perjanjian (Kel. 3:1-10). Di Perjanjian Baru kita juga mengenal Paulus yang pada awalnya dipanggil Tuhan di jalan menuju Damsyik, untuk diutus-Nya menjadi rasul bagi bangsa-bangsa lain, raja-raja, dan orang-orang Israel (Kis. 9:1-18).

Panggilan Tuhan kepada tokoh-tokoh Alkitab secara spesifik ini merupakan hal yang signifikan bagi pelayanan mereka setelahnya. Di dalam sebuah panggilan, Tuhan juga sekaligus menyatakan berita/firman bagi umat-Nya di zaman itu. Panggilan Tuhan kepada tokoh-tokoh Alkitab ini menyatakan pribadi Tuhan dan relasi diri-Nya dengan umat-Nya. Panggilan ini juga akan menjadi fondasi dan titik tolak dari natur pelayanan dan berita yang akan diberitakan oleh orang-orang yang Tuhan panggil di zaman mereka masing-masing. Nabi Hosea di awal pelayanannya diperintahkan oleh Tuhan untuk menikahi seorang perempuan sundal. Pernikahan ini akan menggambarkan pesan dari keseluruhan berita yang Hosea sampaikan kepada bangsa Israel, yaitu kesetiaan Tuhan kepada bangsa Israel yang sudah melacur dan berzinah kepada apa pun selain Tuhan. Demikian juga dengan panggilan Tuhan kepada Nabi Yesaya yang akan dibahas lebih dalam di dalam artikel ini (Yes. 6:1-13). Panggilan Tuhan kepada Nabi Yesaya ini begitu memengaruhi Yesaya dan pesan yang ia beritakan kepada umat Tuhan di konteks saat itu. Melalui visi dan panggilan yang ia terima, Yesaya mengenal siapakah Tuhan sekaligus mengenal siapakah dirinya di hadapan Tuhan. Selain itu, di dalam penglihatan tersebut, Tuhan di dalam kedaulatan-Nya juga menebus dosa Yesaya berdasarkan kasih karunia. Setelah mengalami semuanya ini, Yesaya dengan berani menjawab panggilan Allah dan rela diutus oleh-Nya.

Mengenal Sang Raja yang Kudus
Di dalam Yesaya 6:1-4 dituliskan bahwa Allah menyatakan diri-Nya kepada Yesaya melalui suatu penglihatan. Perlu dimengerti bahwa penglihatan ini bukanlah sebuah produk dari keadaan penuh ekstase dan juga bukanlah pengalaman mistis yang tidak menggunakan nalar. Dengan kata lain, ini bukanlah suatu produk kontemplasi atau imajinasi dari manusia kepada Allah, dari bawah ke atas, dari bumi ke sorga. Namun, ini merupakan wahyu dari Allah kepada manusia. Allah yang tak terbendung dan penuh akan diri-Nya sendiri (self-contained fullness) yang atas kerelaan-Nya mengakomodasikan dan membatasi diri-Nya agar dapat dimengerti oleh kapasitas manusia ciptaan yang sangat terbatas. Ini adalah bentuk “perendahan diri” (condescension) Allah kepada manusia. Allah yang tidak membutuhkan apa pun di luar diri-Nya karena Ia penuh di dalam diri-Nya sendiri, rela menjalin relasi secara personal dengan manusia ciptaan yang terbatas. Dengan ini, apa yang Yesaya lihat bukanlah suatu produk imajinasi dari pikirannya atau suatu khayalan yang abstrak. Nabi Yesaya sungguh-sungguh melihat Allah karena Ia betul-betul menyatakan diri-Nya. Tetapi di saat yang sama, karena Allah adalah Allah dan bukan manusia, Yesaya tidak melihat Allah di dalam kepenuhan-Nya, namun ia melihat Allah sebagaimana Allah rela nyatakan akan diri-Nya yang sesuai dengan kapasitas Yesaya. Karena Alkitab juga mencatat bahwa tidak ada seorang pun yang pernah melihat Allah (Yoh. 1:18; Kel. 33:20).

Terlebih lagi di dalam ayat 1, Yesaya menuliskan bahwa ia “melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci.” Hal ini menunjukkan bahwa Tuhan yang menyatakan diri-Nya di hadapan Yesaya adalah Tuhan Sang Raja yang berkuasa atas langit dan bumi. Bahasa Ibraninya menggunakan “Adonai” yang menyatakan kedaulatan Allah. Terlebih lagi, ia juga menerima penglihatan ini di dalam tahun matinya Raja Uzia. Mengapa Yesaya perlu menuliskan informasi tentang kematian Raja Uzia? Palmer Robertson mengatakan bahwa bagian ini mengontraskan antara kekuasaan Tuhan, Raja di atas segala raja, dan kekuasaan seorang manusia, Raja Uzia. Raja Uzia adalah seorang raja Yehuda yang menggantikan Raja Amazia. Pada awal kejayaannya, Uzia mencari Tuhan dan Tuhan menolongnya melawan musuh-musuh bangsa Yehuda dan membangun kekuatan militer yang kuat. Namun, di saat Uzia menjadi kuat, ia menjadi sombong, dan menjadi tidak setia kepada Tuhan, serta tidak menghargai Bait Allah. Tuhan pun menghukumnya dengan kusta sampai pada hari kematiannya (2Taw. 26). Maka, memang bisa diperdebatkan apakah Raja Uzia adalah seorang raja yang takut akan Tuhan atau tidak, tetapi pada intinya ia merupakan manusia yang berdosa dan adalah seorang raja yang gagal. Seorang manusia yang menjadi raja yang memiliki kuasa yang terbatas dan penuh akan kegagalan dikontraskan dengan Sang Raja yang berdaulat atas segala sesuatu dan tidak akan pernah gagal. Maka di dalam konteks inilah Yesaya menerima penglihatannya.

Selain itu, dikatakan juga bahwa Allah berdiri di atas takhta-Nya. Hal ini juga merupakan hal yang signifikan karena di dalam Alkitab, terutama di dalam Mazmur 9, kemahakuasaan Allah yang duduk di atas takhta sering kali dikaitkan dengan penghakiman (Mzm. 9:5, 8). Di dalam bagian Alkitab yang lain, raja-raja di bumi pun juga memiliki fungsi dalam penghakiman (Mzm. 122:5; 1Raj. 7:7; 1Raj. 10:9). Tuhan menyatakan diri kepada Yesaya di dalam situasi kegagalan raja-raja Yehuda karena Tuhan adalah Raja Sejati dan satu-satunya Juruselamat bagi umat-Nya. Hal ini akan digenapi oleh Sang Keturunan Daud, yaitu Mesias, yang akan meneguhkan Kerajaan Allah yang kekal, penuh keadilan dan kebenaran, tidak seperti raja-raja yang tidak mampu mendatangkan keadilan di tengah-tengah umat Tuhan. Yesaya bahkan menuliskan bahwa Yerusalem yang dahulu setia dan penuh keadilan menjadi seorang pelacur, dan ia yang di mana kebenaran dahulu tinggal di dalamnya, sekarang penuh dengan pembunuh (Yes. 1:21). Dengan demikian, kedatangan Mesias yang akan menegakkan keadilan dan kebenaran merupakan sebuah berita buruk bagi mereka yang telah melacur dari Tuhan dan bermain-main dengan kekudusan Allah (Yes. 1:19, 20, 27-31; Rm. 1:18-20). Jelaslah bahwa penglihatan Yesaya ini bukan suatu pengalaman yang menyenangkan tetapi menyeramkan. Ini adalah sebuah deklarasi Tuhan sebagai Raja di atas segala raja yang akan menghakimi Israel dan berperang melawan siapa pun yang melawan Tuhan, bahkan umat-Nya sendiri yang telah melacur dari Tuhan.

Pewahyuan akan Allah sebagai Raja yang adil dan geram melihat kebobrokan Israel ini juga makin jelas di bagian berikutnya yang menyatakan kekudusan Allah. Di ayat 2, para serafim berdiri di sebelah atas Allah dengan dua sayap mereka menutupi muka, dua lagi menutupi kaki mereka, dan dua sayap untuk terbang. Hal yang menarik adalah kata di dalam bahasa Ibrani untuk “serafim” sebenarnya juga muncul di dalam Bilangan 21:6 sebagai “ular-ular tedung” yang mematikan sebagian dari bangsa Israel yang melawan Tuhan dan hamba-Nya Musa. Di dalam Bilangan 21:6, ular-ular tedung ini diperintahkan Tuhan untuk menjalankan penghakiman, maka tidak heran juga bahwa para serafim di dalam Yesaya 6 ini pun dilihat sebagai utusan Allah untuk melaksanakan penghakiman akibat murka Allah. Para serafim ini berseru menyatakan kekudusan Tuhan dan kemuliaan-Nya yang memenuhi bumi. Mereka berseru hingga alas ambang pintu bergoyang dan keseluruhan rumah dipenuhi asap. Jelas di dalam bagian ini, Yesaya menuliskan tentang keberadaan Allah yang penuh akan kekudusan yang begitu menyeramkan, bahkan makhluk-makhluk yang suci seperti para serafim pun menutupi muka dan kaki mereka.

Kita sering kali mengerti kekudusan hanya sebagai kesucian moral atau berhubungan dengan dosa saja, namun sebenarnya arti dari kata “kekudusan” memiliki makna yang lebih dari itu, bahkan inti dari pemahamannya bukanlah mengenai kesucian secara moral atau etika. Kekudusan, yang berasal dari kata “qadosh”, memiliki arti “terpisah”, sehingga pada dasarnya kekudusan Allah menunjukkan keilahian-Nya yang secara kualitatif berbeda atau terpisah dari manusia. Geerhardus Vos menambahkan bahwa kekudusan juga bisa menunjukkan suatu sifat yang tidak dapat didekati (unapproachability). Allah adalah Allah dan bukan manusia, Allah yang independen secara absolut berbeda dari manusia yang bergantung kepada Allah secara absolut, sehingga secara esensi Allah adalah kudus (terpisah) dari ciptaan-Nya, termasuk manusia. Terlebih lagi, Allah tidak hanya kudus terhadap ciptaan-Nya saja namun Allah juga kudus terhadap dosa. Mata Allah terlalu suci untuk melihat kejahatan (Hab. 1:13) dan Ia jijik melihat dosa (Mzm. 5:5-7). Sehingga di dalam penglihatan Yesaya, ia tidak hanya melihat Allah sebagai satu-satunya yang melampaui segala ciptaan-Nya, tetapi juga adalah Allah yang begitu geram terhadap dosa. “Sebab Engkau bukanlah Allah yang berkenan kepada kefasikan; orang jahat takkan menumpang pada-Mu. Pembual tidak akan tahan di depan mata-Mu; Engkau membenci semua orang yang melakukan kejahatan” (Mzm. 5:5, 6).

Apakah kita secara pribadi telah mengenal dan melihat kekudusan Allah? Banyak orang Kristen gagal menjadi saksi Kristus karena mereka telah mengabaikan kekudusan Allah. Di dalam seluruh Alkitab, kasih Allah tidak pernah dinyatakan terlepas dari kekudusan-Nya, namun kita cukup berani untuk memisahkan keduanya. Terlebih lagi, tidak hanya mengenai kasih Allah, tetapi juga seluruh wahyu Allah tidak bisa kita pisahkan dari fakta kekudusan Allah. Kita begitu mudah untuk melupakan dan melarikan diri dari fakta bahwa Allah adalah sungguh-sungguh kudus adanya. Hal ini sangat mungkin terjadi dalam diri seorang yang mengaku Kristen bahkan mengaku “Reformed” tetapi sama sekali tidak pernah memiliki ide sedikit pun akan kekudusan Allah. Bahkan, mereka yang belajar theologi sekalipun, tidak ada jaminan memiliki hubungan pribadi dengan Allah dan mengenal kekudusan-Nya. Kita bisa mengakui dan menyuarakan kalimat, “Allah adalah kudus,” namun tidak pernah mengenal atau melihat kekudusan Tuhan sebagaimana yang Yesaya pahami di dalam penglihatan-Nya. Pengenalan akan Allah seharusnya membawa kita kepada kerendahan hati melihat kebesaran dan kekudusan Allah, tetapi pengetahuan theologi kita menjadi sesuatu yang mati karena tidak adanya hati yang takut akan Allah.

Mengenal Diri yang Tidak Kudus
Ketika Yesaya melihat dan mengenal kekudusan Tuhan, ia pun mengenali dirinya. Ia langsung berteriak menyatakan keberdosaannya di hadapan Tuhan yang kudus dan juga akan betapa celaka dirinya menghadapi Tuhan sebagai Raja dan Hakim yang Agung. Saat ia melihat Tuhan, Yesaya hanya bisa dengan jujur menyatakan bahwa dirinya berdosa di hadapan Allah dan dirinya begitu celaka. Baginya tidak ada kemungkinan untuk melarikan diri dari Allah dan penghakiman-Nya. Di hadapan kekudusan Allah, para serafim memuji Allah yang kudus, sedangkan Yesaya mengutuki dirinya yang najis karena dosa. Namun, kita juga tidak boleh melupakan bahwa Yesaya juga menyatakan keadaan bangsanya sendiri yang berisi dengan orang-orang najis bibir. Yesaya dan bangsa Israel seharusnya memuji Allah dengan penuh sukacita, penuh kasih, penuh kerelaan, dan penuh hormat. Tetapi karena keberdosaan mereka, bangsa ini telah gagal untuk setia kepada Tuhannya dan hanya bisa mengutuk dirinya sendiri. Seperti itulah diri kita! Adakah keindahan pada diri kita yang sebanding dengan keindahan Allah yang sempurna? Sama sekali tidak! Adakah kebijaksanaan dan kemegahan dalam diri kita yang bisa dibandingkan dengan diri Allah yang sempurna itu? Sama sekali tidak! Bahkan, jika seseorang telah melihat kesempurnaan akan kekudusan Allah, segala yang dahulu ia banggakan sebagai kehebatan dirinya akan dianggapnya seperti sampah.

Namun, di dalam anugerah dan belas kasihan-Nya, Tuhan melaksanakan penebusan dosa kepada Yesaya seperti yang dinyatakan di dalam ayat 6 dan 7. Tuhan melayakkan Yesaya di hadapan-Nya dengan mengirim serafim untuk menyentuhkan bara dari mezbah ke mulut Yesaya sebagai simbol akan pengampunan dan penebusan akan dosa. Seorang pendeta bernama Albert N. Martin dalam artikel berjudul The Practical Implications of Calvinism membahas bagian perikop ini dan mengatakan bahwa orang seperti Yesaya yang telah mendapatkan pengenalan akan diri yang benar adalah orang yang akan menghargai betapa besarnya anugerah Tuhan. Mereka yang melihat betapa tinggi Allah yang kudus dan betapa rendahnya manusia yang berdosa akan menghargai dengan mahal anugerah pengampunan di dalam Kristus. Yesaya melihat jarak antara dirinya dan Tuhan begitu besar, sehingga ketika ia mengetahui bahwa Tuhan melayakkannya, ia sadar anugerah tersebut tidak murah, namun sebuah berkat yang tidak terhingga dan tidak mungkin dibayar oleh dirinya. Banyak dari kita melupakan betapa kudusnya Allah dan betapa berdosanya diri sehingga anugerah pengampunan dosa tidak lagi bernilai sebagaimana seharusnya bagi kita. Jika bagi Yesaya jarak antara dirinya dan Tuhan adalah sebuah jurang yang tak terhingga lebarnya, mungkin bagi kita jarak tersebut hanyalah sejengkal jari. Salah satu faktor penyebabnya ialah karena kita tidak pernah merenungkan kemiskinan dan kebobrokan diri kita di hadapan Tuhan. Menurut John Calvin, perenungan akan hal ini akan mendorong kita untuk menengadah kepada Tuhan. Ia berkata bahwa kita tidak akan bisa benar-benar mengenal Tuhan jika kita masih puas dan tenang dengan diri kita sendiri yang berdosa ini. Ketika seseorang puas dengan dirinya sendiri atau dalam kata lain, tidak merasa ada yang tidak beres dengan dirinya di hadapan Tuhan, ia tidak akan mencari Tuhan dengan penuh kesungguhan dan mengharapkan belas kasihan Tuhan. Bahkan, mereka yang puas dengan dirinya sendiri sebetulnya tidak pernah mengenal dirinya sendiri. Maka dari itu, saat seseorang tidak mengenal dirinya, ia pun tidak akan bisa mengenal Tuhan dan anugerah-Nya yang rela menyelamatkan manusia berdosa.

Respons Seorang Hamba yang Telah Dikuduskan
Setelah mengenal Tuhan yang kudus dan bagaimana Tuhan menebus dosanya dalam belas kasihan-Nya, Yesaya pun dilayakkan oleh Tuhan untuk pelayanan yang Tuhan sudah rencanakan baginya. Yesaya sudah dikuduskan oleh Tuhan. Ini berarti Yesaya sudah dikuduskan dari kenajisan bibirnya, dan di saat yang sama ia sudah dikuduskan untuk menggunakan bibirnya memberitakan firman Tuhan. Ia sekarang telah dilayakkan untuk berdiri di hadapan Allah tanpa harus takut akan penghukuman karena dosanya. Hal ini ditunjukkan dengan Yesaya yang mampu mendengar Allah (ay. 8), tidak hanya melihat Allah. Allah pun bertanya dengan sebuah pertanyaan retorik yang bertujuan untuk menghasilkan sebuah respons penuh kesungguhan dari Yesaya. Kita pun membaca bahwa Yesaya menjawab pertanyaan Allah dengan sigap, penuh kesadaran, dan kerelaan untuk diutus Tuhan. Yesaya di sini menunjukkan respons seorang hamba yang dengan penuh kerelaan dan penuh kesadaran menanggapi panggilan Tuhannya yang telah menaklukkan dirinya dengan kasih.

Respons Yesaya bukanlah suatu tanggapan di dalam keadaan ekstase tanpa nalar sehingga ia tidak bisa berpikir dengan jernih akan panggilan tersebut. Tanggapan Yesaya ini juga bukanlah lahir dari suatu pemaksaan atau rasa takut karena ditodong oleh Tuhan dengan sebuah ancaman. Namun, ini merupakan tanggapan yang lahir dari pengenalan akan Tuhan dan anugerah-Nya yang benar sehingga melahirkan sebuah respons yang benar. Dalam kata lain, Yesaya menanggapinya karena ia takut akan Allah, bukan karena ancaman akan hukuman (yang akan menghasilkan pelayanan yang bersifat legalistik), tetapi karena ia takut menyakiti hati Bapanya di sorga yang sudah begitu mengasihinya. John Calvin dalam hal ini membedakan antara childlike fear dan servile fear. Childlike fear adalah takut akan Allah yang ada di dalam hati setiap orang di dalam Kristus, yaitu takut menyakiti hati Allah lebih dari takut akan penghukuman bahkan melebihi takut akan neraka. Ini merupakan rasa takut yang penuh hormat dan kasih seperti seorang anak kepada bapanya. Namun, servile fear adalah takut akan Allah yang ada di dalam hati setiap orang yang di luar Kristus, mereka yang pada hakikatnya lebih takut terhadap penghukuman Allah melebihi Allah sendiri. Ini merupakan rasa takut yang biasa kita dapatkan di dalam diri seorang budak terhadap tuan yang menindas, atau seorang karyawan terhadap bosnya yang tidak mengasihinya.

Terkadang kita salah kaprah saat menanggapi panggilan Tuhan kepada kita untuk menjadi pengikut Kristus. Kita kerap kali melihat beratnya panggilan tersebut tanpa sukacita di dalam menjalankannya. Kita sering menganggap anugerah Tuhan sebagai sesuatu yang tidak bisa kita tolak atau irresistible, seakan-akan Tuhan memaksa kita untuk menjalankannya. Namun, kita tahu bahwa saat Tuhan menyelamatkan seorang manusia, ia melaksanakan restorasi akan gambar dan rupa Allah dalam dirinya, sehingga seluruh hidupnya (nalar, emosi, dan kehendak) dikuduskan Tuhan. Selain itu, saat menyelamatkan kita, Tuhan tidak hanya membebaskan kita dari dosa, tetapi juga membebaskan kita untuk mengasihi Tuhan. Tuhan bukanlah diktator, melainkan seorang Bapa yang melalui Roh Kristus meluluhkan hati anak-anak-Nya agar rela menaati apa yang Bapa inginkan. Maka dari itu, Tuhan memanggil setiap kita untuk masuk dan hidup di dalam Kerajaan-Nya.

Jika kita melihat sekilas ayat 9-13, secara garis besar kita bisa melihat natur dari panggilan Tuhan kepada Yesaya. Hal yang paling membingungkan adalah panggilan Yesaya ini tidak menjanjikan banyak buah, bahkan bisa dibilang tidak akan ada buahnya sama sekali. Dikatakan di dalam ayat 9 dan 10, bahwa pemberitaan Yesaya bukannya membuat pendengarnya bertobat, tetapi sebaliknya akan membuat hati mereka makin keras, telinga makin berat untuk mendengar, dan mata mereka makin buta, agar mereka benar-benar tidak bisa melihat, tidak bisa mendengar, dan mengerti dengan hati mereka agar mereka pun disembuhkan.

Terlebih lagi, pengharapan yang Tuhan berikan hanya bagi kaum pilihan Tuhan yang tersisa (ay. 13). Sungguh pengutusan yang aneh! Namun inilah yang Tuhan inginkan, karena Ia ingin menyatakan kemuliaan dan keadilan-Nya di hadapan orang-orang yang melawan Tuhan. Pelayanan Yesaya akan menghilangkan fungsi indra bangsa Israel, agar dipastikan bahwa mereka tidak bisa mengerti firman Tuhan, dan akhirnya pun tidak dapat mengenal Tuhan karena kedegilan hati mereka. G. K. Beale dalam hal ini menunjukkan bahwa ada alasan yang signifikan mengapa Tuhan menyatakan adanya pelumpuhan akan indra bangsa Israel, yaitu karena dosa pemberhalaan. Karena sama seperti bangsa Israel yang akan memberatkan telinga dan menutup mata mereka, begitu pula dengan berhala-berhala yang dibuat oleh tangan mereka yang seakan-akan mempunyai mata tetapi tidak bisa melihat, dan telinga yang tidak bisa mendengar (Mzm. 115:4-8; 135:15-18). Yesaya yang melihat dan mendengar Allah sekarang diutus oleh Allah untuk memberitakan-Nya kepada bangsa Israel yang tidak bisa melihat dan tidak bisa mendengar.

Jika dipikir-pikir, kita mungkin akan enggan untuk menerima panggilan seperti ini karena seperti sia-sia panggilan pelayanan demikian. Tetapi kita harus bertanya, apakah yang menjadi pengharapan yang kita rindukan bagi diri kita dalam melayani Tuhan? Apakah sanjungan dan pujian manusia atau pengakuan dari Tuhan kita? Terkadang kita bisa melihat pelayanan kita menjadi suatu ajang aktualisasi diri dan pementasan diri, bukan lagi sebuah bentuk ketaatan kita kepada Bapa kita di sorga. Namun, jikalau kita sekali lagi mengerti akan siapakah Tuhan yang kudus, kita yang berdosa, dan besarnya anugerah Tuhan bagi kita, kita tidak punya alasan untuk tidak melayani Dia dengan sukacita. Jika kita sadar bahwa Allah di dalam Kristus ialah segalanya yang kita inginkan dan dambakan, ketaatan kepada-Nya merupakan kenikmatan yang tidak bisa digantikan dengan pujian manusia.

Refleksi
Pengenalan akan Tuhan dan pengenalan akan diri, merupakan salah satu buah pemikiran John Calvin yang ia tuliskan dalam bukunya Institutes of the Christian Religion. Sungguh aneh jika kita berkata bahwa diri kita adalah seorang Kristen Reformed tetapi tidak menghidupi prinsip ini. Adalah sebuah kontradiksi jika seorang Kristen adalah seorang yang tinggi hati, karena mereka yang mengerti kebenaran dan menghargai anugerah keselamatan di dalam Kristus, adalah mereka yang mengerti benar kekudusan Allah yang menyeramkan bagi orang berdosa. Mereka jugalah yang paling rela diutus ke mana saja Allah inginkan dan berbahagia di dalam ketaatan mereka dalam menggenapi perintah-Nya. Saat kita memperingati peristiwa Reformasi yang terjadi di masa lampau, biarlah kita tidak melupakan perjuangan Luther dan Calvin yang ingin menegakkan fakta kekudusan Allah, keberdosaan manusia, dan keindahan anugerah di dalam Kristus Yesus. Biarlah kiranya kita tidak hanya mengetahui atau menghafal akan buah-buah pemikiran para Reformator, tetapi boleh menghidupinya karena pemikiran tersebut lahir dari kebenaran firman Tuhan yang menghidupkan.

Nathanael Sitorus
Mahasiswa STT Reformed Injili Internasional

Referensi:
1. Bavink, Herman. Reformed Dogmatics (Volume 2): God and Creation (Baker Academic, 2004).
2. Beale, Gregory K. We Become What We Worship (IVP Academic, 2008).
3. Calvin, John. Institutes of the Christian Religion (Westminster John Knox, 2006).
4. Martin, Albert N. “The Practical Implications of Calvinism”, diambil dari https://www.monergism.com/thethreshold/sdg/The Practical Implications of Calvinism.pdf.
5. Robertson, O. Palmer. The Christ of the Prophets (P&R, 2008).
6. Young, E.J. The Book of Isaiah Volume 1 (Eerdmans, 2001).

Nathanael Sitorus

November 2018

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

bersyukur dalam segala keadaan, semakin terberkati... biarlah kehidupan ini jadi seperti yang Tuhan perkenankan...

Selengkapnya...

Terima Kasih Yah...

Selengkapnya...

puji Tuhan...iamn yg disertai praktek syukur dalam segala musim hidup ini semakin meneguhkan pengharapan akan...

Selengkapnya...

Apakah orang Kristen harus merayakan hari raya Purim juga?

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲