Liputan & Wawancara

Arti Reformed Injili bagi Saya

Dalam kolom interview kali ini, Pillar ingin mengangkat sedikit tentang Gerakan Reformed Injili. Apa arti Reformed Injili bagi kita? apa keunikan gerakan ini? Dan apa kaitan gerakan ini dengan kehidupan kita sehari-hari? Kami sangat bersyukur mendapatkan kesempatan untuk meng-interview seorang hamba Tuhan yang saat ini aktif melayani di GRII Pusat, yaitu Ev. Edward Oei. Beliau lebih banyak terjun dalam pelayanan pemuda, sehingga lebih akrab dikenal dengan sapaan ‘Ko Edward’ atau ‘Ko Ed’.

P: Bisa ceritakan sedikit tentang background pendidikan dan keluarga Ko Edward?
E: Saya lahir di Medan tanggal 11 Desember 1969, pernah kuliah di Technische Universitaet Berlin di bidang Microelectronics (Design Mixed-Signal IC), kemudian melanjutkan studi di Insititut Reformed program MCS. Saya sudah berkeluarga, istri saya bernama Imelda, lulusan Technische Fachhochschule Berlin di bidang Mathematika (Statistik) dan kami dikaruniai 2 orang anak, Sarah Faith (4 tahun) dan Jonathan Timothy (2 tahun).

P: Kapan Ko Edward pertama kali menerima Tuhan Yesus?
E: Wah, kalau tepatnya kapan saya tidak tahu, karena bagi saya itu sebuah proses. Yang pasti saya dibaptis pada tahun 1991 di gereja Jemaat Kristen Immanuel di Berlin.

P: Bagaimana Ko Edward bisa kenal dengan gerakan Reformed Injili?
E: Pada sekitar tahun 1992/93 waktu di Jerman, saya melayani di perpustakaan gereja, lalu saya bertemu dengan buku-buku Pak Tong dan kaset-kaset Seminar Pembinaan Iman Kristen (SPIK) yang ada di perpustakaan itu. Sebelum itu saya tidak pernah sama sekali ikut kebaktian GRII mana pun. Pertama kali saya ikut kebaktian GRII yaitu di GRII Pusat di Granada tahun 1995. Bisa dikatakan saya mengenal gerakan Reformed Injili hanya melalui baca buku dan dengar kaset Pak Tong.

P: Mengapa Ko Edward tertarik dengan gerakan Reformed Injili? Apa keunikan gerakan ini dibandingkan dengan yang lain?
E: Di-drive oleh keinginan mengetahui prinsip Firman Tuhan yang dapat mendasari seluruh kehidupan manusia, bukan hanya kehidupan gerejawi saja, saya mulai menelusuri bidang teologi dengan membaca buku-buku. Keinginan mengetahui tersebut didasari pada satu asumsi saya waktu itu, bahwa jika Allah Pewahyu Alkitab adalah Pencipta langit dan bumi maka Alkitab yang diberikan harus dapat mendasari seluruh kehidupan, termasuk kehidupan di luar gereja. Setelah membaca buku-buku Pak Tong, mendengar kaset-kaset SPIK, saya mulai tertarik dengan doktrin Reformed yang konsisten dibanding dengan doktrin-doktrin lain yang dualisme. Bagi saya Reformed theology yang ketat menjadi ‘life’, karena tidak adanya dualisme di antara pengetahuan dan kehidupan, antara mandat Injil dan mandat budaya. Seluruh kehidupan ini mengarah kepada Allah.

P: Kenapa dulu tertarik mengambil jurusan Microelectronics?
E: Sebelum ke Jerman, saya memang ingin kuliah di bidang yang unik, yang jarang diambil orang lain, dan waktu itu adalah bidang microchip. Dan memang waktu kuliah S2 hanya ada 4 mahasiswa di dalam 1 kelas. Sampai sekarang saya masih suka mengikuti teknologi microchip dan science lainnya lewat internet, tetapi pasti sudah ketinggalan jauh dibanding kalau bekerja langsung di dalam bidang itu.

P: Apa pandangan Ko Edward tentang science?
E: Science adalah sama seperti bidang-bidang lainnya, merupakan reaksi manusia berdosa terhadap wahyu umum Allah di dalam dunia yang berdosa. Reaksi ini walaupun bisa menyatakan kebenaran, tetapi hanyalah kebenaran partial. Dan itu tidak berarti seluruh science menyatakan kebenaran karena seringkali justru melawan kebenaran. Di sini kita harus berhati-hati.

P: Bagaimana mengintegrasikan science dengan teologi Reformed?
E: Kadang-kadang memang sulit untuk menjelaskan science dengan Reformed theology. Tetapi kita bisa coba melihat apa yang men-drive suatu teknologi, atau kita bisa melihat apa filsafat di balik itu yang mempengaruhi zaman termasuk bidang teknologi. Contohnya, terakhir sebelum kembali ke Indonesia, saya bekerja di sebuah perusahaan di Jerman. Perusahaan ingin memulai suatu project yang mencoba mengaitkan microchip dengan biology. Mereka ingin melihat bagaimana microchip dapat berinteraksi dengan sel-sel tubuh. Awalnya dengan sendi-sendi tulang, di mana microchip bisa mengukur sampai mana tingkat keausan sendi itu, lalu mencoba menanamkan microchip di dalam otot, di mana microchip bisa mengambil informasi untuk membuat prosthetic arms or legs (tangan palsu dan kaki palsu). Lalu terakhir, mereka mulai mengadakan riset ke arah bagaimana chip ini bisa berinteraksi dengan sel-sel otak manusia dengan satu tujuan, untuk men-backup seluruh memori yang ada di dalam otak manusia. Mereka mulai mencoba membuat manusia se-perfect mungkin. Menurut mereka, konflik antar manusia terjadi adalah karena adanya memori-memori yang sudah lupa, ketika seseorang bertemu dengan orang ini. Kalau data itu cukup di otak kita, kita akan dapat menghindari dan menyelesaikan konflik. Itu adalah salah satu argument yang dipaparkan dalam presentasi mereka dan saya tidak setuju. Konflik di dunia ini bukan karena kita lupa, tetapi karena dosa manusia. Sedangkan dengan semangat science, mereka terus mencoba menyelesaikan semua problema manusia dengan science. Untuk dapat melihat ke dalam science dengan ketajaman yang demikian, kita perlu reformed theology. Dan bukan saja melihat kesalahan, hanya reformed theology di dalam pengertiannya tentang mandat budaya yang dapat memberikan jawaban kepada para scientist bagaimana mengintegasikan iman dan ilmu dalam seluruh kehidupan secara utuh.

P: Apakah Ko Edward tidak pernah berpikir untuk memperjuangkan mandat budaya dengan bekerja di bidang science di luar gereja?
E: Tidak pernah lagi setelah panggilan Tuhan jelas. Karena saya mempunyai panggilan yang jelas untuk menjadi hamba Tuhan untuk melayani di dalam gereja secara full time. Saya bergumul selama 5 tahun dalam memenuhi panggilan ini. Apakah saya harus di sini (red: gereja) atau di sana (red: di dunia sekuler)? Kita semua sebagai orang Kristen dipanggil secara full time, tapi panggilannya di mana? Kalau memang panggilan saya di dunia sekuler, maka saya akan stay di dalam bidang science, tapi kalau memang bukan di situ, yah saya tidak mau stay. Dalam pergumulan 5 tahun itu, Tuhan memberikan panggilan yang semakin hari semakin jelas, bebannya juga semakin jelas, dan konfirmasi dari orang-orang di sekitar saya juga membuat semakin jelas. Setelah berkeluarga, istri saya juga mempunyai beban dan panggilan yang sama, kita tidak bisa lari.

P: Dalam gerakan Reformed Injili ini, Ko Edward terbeban melayani di bidang apa?
E: Saya dipanggil untuk berjuang dalam perang paradigma di antara para pemuda. Pemuda selalu mempunyai paradigma-paradigma yang di-build dalam dunia pendidikan, dan hal itu sering berlawanan dengan prinsip Firman Tuhan sehingga harus diperangi. Salah satu caranya adalah di persekutuan pemuda saya membahas hal-hal yang lebih ke arah Christian worldview, yang langsung saya kontraskan dengan worldview yang ada di dunia ini seperti dualism, relativism, dan lain-lain.

P: Saat ini pelayanan apa saja yang sedang dilakukan?
E: Saat ini saya melayani sebagai salah satu pembina di Persekutuan Pemuda GRII Pusat, juga ikut pelayanan siswa dalam STEMI (red: salah seorang pembina di FIRES dan pelayanan-pelayanan di kampus). Dan baru-baru ini ditunjuk menjadi pemimpin redaksi bulletin Pillar ini (red).

P: Bagi Ko Edward, apa tantangan yang paling sulit dihadapi dalam gerakan ini?
E: Bagaimana untuk tetap konsisten di dalam panggilan, kebenaran, dan semangat.

P: Last question, apa rencana pelayanan Ko Edward ke depan?
E: Beban utama saya adalah pemuda, dan saya akan selalu berada di dalam Gerakan Reformed Injili ini, karena panggilan saya ada di sini. Saya selalu berdoa agar Tuhan membangkitkan sekelompok pemuda/i yang militan dalam menginjili, yang berani hidup kudus berperang menantang arus jaman ini berdasarkan kebenaran Firman Tuhan.

Terima kasih untuk waktu dan kesediaan Ko Edward untuk di-interview. Kami sangat bersyukur Tuhan menempatkan Ko Edward di tengah-tengah kami. Kami mendoakan agar Tuhan senantiasa memimpin, menyertai dan memberkati pelayanan Ko Edward. To God be the glory!

Januari 2006

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲