Perkara

Baptisan Roh Kudus

Di dalam kesempatan sebuah retreat, saya pernah diajak untuk menerima baptisan Roh Kudus. Walaupun saat itu saya tidak mengetahui apa artinya ’baptisan Roh Kudus’ tapi teman-teman terus mendorong saya untuk maju ke depan, akhirnya saya pun maju. Sebelum baptisan Roh Kudus dilakukan, kami terlebih dulu dijelaskan artinya dan pentingnya baptisan Roh Kudus. Waktu itu saya belum memahami Alkitab secara mendalam, sehingga penjelasan yang diberikan cukup masuk akal bagi saya pada saat itu.

Acara Baptisan tersebut dimulai dengan menyanyikan worship songs, lalu berdoa. Sambil berdoa, lagu terus dimainkan dan teman-teman yang tidak maju terus bernyanyi. Setelah beberapa saat, saya mulai mendengar banyak orang berdoa dengan ”bahasa-bahasa” aneh yang diulang-ulang (mereka mengidentifikasikan bahasa tersebut sebagai bahasa Roh), dan tidak lama kemudian semua orang di ruangan itu melakukan hal yang sama. Lalu saya didekati oleh pelayan yang bertugas pada saat itu dan dia menumpangkan tangannya di atas kepala saya sambil terus berdoa dengan ”bahasa Roh”. Dia meminta saya untuk terus berdoa dan meminta agar Roh Kudus turun serta memenuhi saya. Karena saya belum ber-”bahasa Roh” maka banyak teman-teman mulai mendekati saya dan menumpangkan tangan mereka di atas kepala saya sambil terus berdoa dalam ”bahasa Roh”. Melihat saya yang masih belum juga bisa ber-”bahasa Roh”, maka teman saya mulai menyuruh saya untuk mencoba mengikuti cara mereka berdoa.

Saya sempat mencoba meniru cara mereka berdoa, tetapi akal sehat saya berusaha menghentikan saya untuk meniru, karena saya berpikir, ”Kalau memang itu datang dari Tuhan, kenapa saya harus meniru mereka? Seharusnya hal itu datang dengan sendirinya.” Jadi saya hanya berdoa di dalam hati meminta Roh Kudus masuk ke dalam hati saya. Akhirnya, saya dianggap belum mendapatkan Roh Kudus dan mereka menganjurkan agar saya ikut kembali baptisan Roh Kudus di retreat yang akan datang. Inilah pengalaman pribadi saya sewaktu saya masih di dalam gereja Kharismatik. Pengalaman ini bukanlah pengalaman yang unik, karena setelah saya bertemu dengan beberapa teman yang pernah mengikuti baptisan Roh Kudus, mereka juga melewati proses yang sama.

Apakah sebenarnya baptisan Roh Kudus itu? Istilah baptisan Roh Kudus dimulai dari seseorang bernama John Fletcher1 yang menyatakan perlunya berkat kedua (second blessing) setelah pertobatan2. Dia menyatakan bahwa pertobatan dan baptisan air saja tidak cukup, selain itu kita juga harus melewati suatu pengalaman khusus di mana Roh Kudus masuk ke dalam hati kita serta memenuhi hati kita. Peristiwa ini ditandai dengan karunia Roh berupa ber-”bahasa Roh”.

Baptisan Roh Kudus mengambil latar belakang peristiwa Pentakosta di dalam Kisah Para Rasul pasal 2. Alkitab mencatat, saat itu Roh Kudus turun dan terlihat berupa lidah-lidah seperti nyala api dan ketika para rasul dipenuhi dengan Roh Kudus, mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa asing, tujuannya adalah agar Injil yang diberitakan dapat dimengerti oleh bangsa-bangsa lain yang hadir pada saat itu (Kis. 2:7-13). Hal inilah yang ditekankan oleh Alkitab ketika berbicara mengenai karya Roh Kudus. Roh Kudus selalu membawa orang semakin mengenal dan mencintai Firman Tuhan. Di dalam Alkitab, Paulus pun tidak pernah menyinggung tentang peristiwa baptisan Roh Kudus ini di dalam surat-suratnya.

Teologi Reformed percaya bahwa peristiwa Pentakosta terjadi hanya satu kali untuk menggenapi nubuatan di dalam Perjanjian Lama seperti apa yang dikhotbahkan oleh Petrus pada saat Pentakosta (Kis. 2:14). Tetapi inti dari khotbah Petrus bukanlah peristiwa Pentakosta itu sendiri, melainkan seruan untuk bertobat dan menyerahkan diri untuk dibaptis dalam nama Tuhan Yesus Kristus (Kis. 2:38). Dengan adanya peristiwa Pentakosta, maka Roh Kudus telah datang untuk menolong umat pilihan Tuhan dan tinggal diam bersama kita untuk selama-lamanya (Yoh. 14:16).

Sekarang pertanyaannya adalah: apakah kita membutuhkan “Second Blessing”? Benarkah kita akan diberikan “Second Blessing”? Apakah kata Alkitab tentang hal ini?

Teologi Reformed percaya kepada lima Sola yaitu Sola Scriptura, Solus Christus, Sola Gratia, Sola Fide, dan Soli Deo Gloria. Artinya, demi kemuliaan Allah, seseorang diselamatkan hanya karena anugerah melalui iman kepada Tuhan Yesus Kristus seperti yang dicatat di dalam Alkitab. Di dalam teologi Reformed kita percaya Roh Kuduslah yang menurunkan Firman dari surga, baik Firman yang menjadi daging (Tuhan Yesus Kristus) maupun Firman yang tertulis (Alkitab) dan Roh Kudus jugalah yang melahirbarukan, memberikan iman pertobatan dan menguduskan hidup umat pilihan. Sehingga, ketika kita mengaku percaya, “Yesus adalah Tuhan,” itu pun adalah pekerjaan Roh Kudus yang ada di dalam hati kita (1 Kor. 12:3). Itulah baptisan Roh Kudus yang sejati, manusia berdosa diciptakan kembali untuk kembali beribadah kepada Penciptanya di dalam Kristus Yesus.

Pada waktu kita menerima baptisan air sebagai pengakuan iman kita, sesungguhnya kelima Sola ini oleh Roh Kudus ditegakkan. Karena itu, kita tidak menerima konsep baptisan Roh Kudus seperti yang dimengerti oleh gerakan Kharismatik. Baptisan Roh Kudus sebagai Second Blessing berarti anugerah keselamatan di dalam Kristus tidak cukup, berarti juga baptisan Roh Kudus harus dilakukan secara berulang-ulang. Dan baptisan Roh Kudus yang berulang-ulang adalah penghinaan terhadap karya Allah yang bersifat ‘sekali untuk selamanya’, tuntas, dan cukup.

Sola Scriptura: The Scripture Alone is the Standard

Solus Christus: By Christ's Work Alone are We Saved

Sola Gratia: Salvation by Grace Alone

Sola Fide: Justification through Faith Alone

Soli Deo Gloria: For the Glory of God Alone

Karunia berbahasa Roh yang dicatat di dalam I Kor. 12  dan 14 harus dilihat secara menyeluruh. Rasul Paulus menegaskan bahwa tidak ada gunanya jika bahasa Roh dipraktekkan namun tidak ada seorang pun yang dapat mengerti artinya. Dan rasul Paulus justru banyak memberikan peringatan tentang penggunaan karunia bahasa Roh kepada jemaat di Korintus (1 Kor. 14) karena telah terjadi kekacauan di dalam pertemuan jemaat akibat penggunaan bahasa Roh yang tidak saling membangun (1 Kor. 14:26), bahkan rasul Paulus juga memerintahkan jemaat yang berbahasa Roh untuk berdiam diri bila tidak ada orang yang dapat menerjemahkannya (1 Kor. 14:28). Jadi, semua karunia yang diberikan Tuhan kepada kita bertujuan untuk saling membangun, dan bukan sebagai tanda baptisan Roh Kudus versi Gerakan Kharismatik.

Di dalam Kisah Para Rasul 2:4, para murid dipenuhi oleh Roh Kudus sebelum mereka berbicara dalam bahasa-bahasa asing, akan tetapi peristiwa dipenuhi Roh Kudus tidak harus disertai dengan kemampuan berbicara dalam bahasa-bahasa asing. Orang yang dipenuhi Roh Kudus mempunyai satu ciri yang pasti yaitu memuji perbuatan – perbuatan besar yang telah dilakukan Allah (Kis 2:11b) dan akan terus menerus hidup memuliakan Tuhan di dalam pimpinan Roh Kudus dengan seluruh prinsip-prinsip di dalam Alkitab. Karena itu, kita sebagai orang Kristen harus senantiasa mempunyai hidup yang dipenuhi oleh Roh Kudus, dengan demikian kita akan tidak habis-habisnya membagikan kebenaran yang melimpah kepada orang-orang di sekitar kita sebagai terang dan garam dunia. Pdt. Stephen Tong menggambarkan hidup yang dipenuhi dan dipimpin Roh Kudus seperti sebuah gelas yang diisi air sampai meluber keluar. Marilah kita berdoa agar  mempunyai hidup yang dipenuhi dan dipimpin oleh Roh Kudus, hidup yang berpusat pada Sumber Kehidupan yaitu Kebenaran dalam Kristus (Yoh. 14:15-31) dan hidup yang seperti itu ditandai dengan hati dan pikiran yang senantiasa taat kepada kebenaran Firman Tuhan.

1 Prof. Dr. Hans Maris, Gerakan Karismatik dan Gereja Kita; Momentum, 2004, Hal. 13
2 Pengertian tentang perlunya Second Blessing dicetuskan oleh John Wesley. John Wesley menyatakan bahwa setelah seseorang menerima anugerah keselamatan (First Blessing), masih diperlukan lagi anugerah pengudusan (Second Blessing).

Adhya Nandana Kumara

Januari 2006

20 tanggapan.

1. Reddy Apriano dari Jakarta berkata pada 14 September 2012:

Salom, nama saya Reddy. Saya ingin menjelaskan Rahasa Roh ini dengan Objektif, karena biasanya orang karismatik senang melebih lebihkan sedangkan orang non karismatik sering meragukan keberadaanNya saat ini. Rasul Paulus pernah membahas dengan Jelas (Bisa dibaca pada Kisah Para Rasul 19 ayat 2 sampai 6). Jika kita Baca lebih teliti Kisah Para Rasul 19 ayat 2 sampai 6 maupun latar belakang pada jaman itu, setelah Rasul Paulus menumpangkan tangan kepada jemaat yang belum bisa bahasa Roh (yang sebelumnya telah dilayani Apolos) mereka bisa bahasa Roh, tetapi hal itu tidak menandakan bahwa memiliki bahasa Roh berarti lebih Rohani (Baca 1 Kor 3:6 yang mengatakan bahwa Paulus tidak lebih baik dari apolos bahkan memiliki peranan yang saling menopang). Saya ingin cerita sedikit pengalaman saya. Ketika saya kuliah saya dimuridkan oleh kakak kelas yang berasal dari perkantas di persekutuan kampus, saya juga melayani Anak jalanan yang waktu itu di dukung oleh 14 Gereja GKI. Suatu hari kakak saya cerita ada kebaktian di senayan orang-orangnya bisa bahasa Roh. Selama ini (Setelah bertobat) saya merasa sangat dekat dengan Tuhan dan mencoba melakukan apa saja untuk menyenangkannya (Kebanyakan uang saya, saya pergunakan untuk melayani orang, untuk makan sendiri sering tidak cukup). lalu saya bertemu dengan teman-teman kuliah yang karismatik (saya lihat dalam menjaga kekudusan mereka sangat Tegas namun dari sisi kasih, ada seorang yang saya pandang egois), saya dengar mereka diskusi bagaimana Tuhan bicara secara langsung kepada mereka, saya pikir apa mungkin ya, lalu saya diajak ke persekutuan mereka di sebuah rumah, ketika prise and worship saya lihat kebanyakan dari mereka berbicara dalam bahasa Roh (Itulah pertama kali saya lihat seseorang berbahasa Roh), lalu saya berdoa kepada Tuhan : Tuhan engkau tahu mengenai aku, aku melakukan apa saya untukmu jika bahasa Roh adalah benar berasal dari Engkau saya mau bahasa Roh, dan jika saya tidak bisa yang saya tahu bahwa mereka sesat, lalu saya memohon dengan berlutut, tak lama kemudian seperti ada getaran di perut saya hingga ke mulut saya, saya mencoba diam tetapi mulut saya tanpa saya perintah mengatakan bahasa yang asing bagi saya, teman saya melihat hal tersebut hanya mengatakan : biarkan saja mengalir. Bisa bahasa Roh bukan yang bagian yang terbaiknya karena semenjak itu saya mengalami banyak perkara spiritual yang diluar nalar manusia. dan ketika saya pergi ke geraja waktu itu gereja GKI saya tidak henti hentinya ingin bahasa Roh, tetapi saya berusaha tahan agar orang-orang disana tidak kebingungan. Saya punya sahabat, teman dan kakak yang imannya lebih baik dari saya tetapi sampai saat ini tidak bisa bahasa Roh. Bahasa Roh adalah anugrah Tuhan tetapi tidak menunjukan tingkat kerohanian seseorang, bahkan iman seseorang. Tuhan Yesus Memberkati

2. Ronal dari Bandung berkata pada 17 April 2013:

Setuju dengan apa yang dialami Reedy, Saya juga dari latar belakang protestaan dan saya dulu penghina aliran kharismatik, tapi setelah saya mengalami sendiri di retreat mahasiswa, saya tidak bisa menyangkali baptisan Roh kudus itu ada dan sampai sekarang setelah saya bekerja saya semakin rindu untuk terus melayani Tuhan karena ada pengalaman spritual sejati yang terus menerus bisa saya alamai sampai sekarang. Jadi jika seorang belum mengalami maka dia akan terus menyangkali, tapi tidak jadi masalah karena baptisan Roh Kudus hanya diberikan kepada orang-orang yang haus dan rindu untuk mengalami Tuhan lebih lagi. Karena karunia ini diberikan agar kita di beri kuasa menjadi saksi dari bahasa aslinya marturia/martir yaitu siap kehilangan nyawa karena memberitakan Injil. Jadi, kita tidak boleh merendahkan orang yang sudah mengalami seolah2 itu kebohongan dan kita juga tidak bisa merendahkan orang yang belum mengalami seolah-olah dia masih berdosa. Karena karunia ini tujuan utamanya adalah untuk memuliakan Allah agar kita memberitakan Injil sampai ke ujung-ujung bumi. Tuhan Yesus memberkati

3. Yesaya dari Surabaya berkata pada 18 April 2013:

Yang penting kita harus ingat ini: Rasul Paulus menegaskan bahwa tidak ada gunanya jika bahasa Roh dipraktekkan namun tidak ada seorang pun yang dapat mengerti artinya. Dan rasul Paulus justru banyak memberikan peringatan tentang penggunaan karunia bahasa Roh kepada jemaat di Korintus (1 Kor. 14) karena telah terjadi kekacauan di dalam pertemuan jemaat akibat penggunaan bahasa Roh yang tidak saling membangun (1 Kor. 14:26), bahkan rasul Paulus juga memerintahkan jemaat yang berbahasa Roh untuk berdiam diri bila tidak ada orang yang dapat menerjemahkannya (1 Kor. 14:28).

4. Nus Nahaklay dari Ambon berkata pada 12 May 2013:

Setuju dengan Ronal dari Bandung. Dulu saya juga berlatar belakang non kharismatik. Awal mula saya menyerahkan hidup saya kepada Tuhan, saat itu saya mulai mengikuti kegiatan ibadah Pemuda dll. Ada satu gereja beraliran kharismatik punya tradisi tahunan ada ibadah pencurahan Roh Kudus sepuluh hari sebelum hari Pentakosta. Beberapa hari saya hadir dan bertanya...apakah saya bisa berbahsa lidah? beberapa malam berlalu tanpa alami sesuatu. setalh pulang saya berdoa, Tuhan saya sebagai anakMu, saya percaya Bapa memberikan kepada saya roti bukan ular atau batu. dalam kegiatan harian di rumah bisikan dalam hati saya yaitu Markus 11 :25-26 tentang hal mengampuni dan saat itu rasa terlalu gengsi kalau saya harus minta maaf kepada orang yang lebih muda usianya, tetapi suara hati itu begitu kuat dan saya pun melakukannya. pada malam hari saat mengikuti kebaktian berikutnya, suasana hati yang terikat dengan beban dan dosa benar-benar terlepas dan Puji TUHAN malan itu saya rasakan getaran yang begitu kuat dihati saya dan mulutku tidak lagi tahan kata-kata keluar bagaikan air mengalir, hai sayapenuh sukacita yang tak terkatakan..... Perjalanan pelayanan saya sampai hari ini benar-benar saya alami hal-hal yang supranatural yang belaum pernah terjadi sebelumnya. saya bisa kuat hadapai segala tantangan, godaan dalam hidup. Intinya adalah Roh Kudus diberikan kepada kita semua, asal kita siapkan bejana hati yang kosong agar diisi dengan kuasa Roh Kudus... doa saya saudara yang membaca kesaksian ini tetap di dalam Tuhan oleh karena kuasaNya ada diatas kita. Dan bagi saudaraku seiman yang belum mengalaminya berdoalah.... Roh Kuds adalah janji Allah bagi kita untuk mempersiapka kita menantikan kedtanganNya....Amin

5. Petrus Lawatan dari Jakarta berkata pada 17 May 2013:

dalam terjemahan Alkitab bahasa Indonesia (LAI) disebut bahasa Roh tetapi sebenarnya bahasa aslinya menyebutnya "bahasa lidah" atau glosolalia. dimana Roh Kudus menjamah lidah para murid Yesus dan menggerakkan lidah mereka untuk mengucapkan kata-kata yang berbeda dari bahasa yang mereka pahami. seorang yang mengalami glosolalia tetap sadar dan tahu apa yang sedang diucapkannya namun telinganya akan mendengar kata-kata yang berbeda yang keluar dari mulutnya. karena itu disebut glosolalia. bagi saudara-saudara yang "berkliblat" kepada teologi calvin tentu tidak akan menerima pengalaman ini. seperti yang dikatakan dalam artikel diatas "Teologi Reformed percaya bahwa peristiwa Pentakosta terjadi hanya satu kali untuk menggenapi nubuatan di dalam Perjanjian Lama seperti apa yang dikhotbahkan oleh Petrus pada saat Pentakosta (Kis. 2:14)." itulah sebabnya mereka tidak mengalami glososlalia tersebut. teologi mereka telah "menutup pintu" untuk mengalami pengalaman glososlalia. Charles parham dan para muridnya pernah bertanya dalam kelas kuliah kisah para rasul, tentang KPR pasal 2. pertanyaan mereka yaitu: apakah pengalaman para rasul itu hanya terjadi pada masa lampau ataukah masih terjadi pada masa kini. mereka berdoa dan berpuasa untuk memohon petunjuk dan jawaban dari Tuhan dan Tuhan menjawab doa merekaa pada tanggal 01 Januari 1901 ketika mahasiswa sedang berdoa dalam ibadah awal tahun, hadirat Tuhan menaungi mereka dan mereka berkata-kata dalam bahasa lain seperti yang terjadi dalam kisah para rasul pasal 2. sejak itu dimulailah apa yang disebut gerakan pentakosta yang meneguhkan bahwa apa yang dialami para rasul dalam kpr 2:1-13. jadi jika seseorang tidak mengalami pengalaman glosolalia ia akan sama seperti orang-orang yang melihat fenomena yang terjadi pada murid-murid Yesus dan berkata, "Tetapi orang lain menyindir: "Mereka sedang mabuk oleh anggur manis." (KPR 2:13). jadi pendapat saya...jangan beri komentar kalau belum mengalami. orang-orang yang mengalami glosolalia lebih memahami apa yang dimaksud oleh KPR 2 ketimbang orang yang hanya menguraikan ayat tersebut tetapi tidak mengalaminya. ini seperti seorang yang mengiklankan sebuah produk tetapi tidak pernah memakai dan merasakan kasiat dari produk tersebut. GBU.

6. marel dari palangkaraya berkata pada 28 May 2013:

menarik klo melihat saudara2 kita dapat mengalami pengalaman seperti itu, harus disimak dengan baik bahwa berbahasa Roh yang sebenarnya adalah karunia Tuhan yang diberikan sebagai pelengkap didalam kita melayani tuhan didalam pekerjaanNya dalam memberitakan Injil. mugkin kita bertanya2 apa sih tujuan Allah memberikan bahasa Roh kepada kita sebagai salah satu karuniaNya? dan Apa fungsinya dan kegunaannya? nah, ini yang harus kita renungkan ber sama2, Rasul Paulus berkata bahwa bahasa Roh ditujukan kepada orang2 yang bukan orang beriman (I Kor 14 :22) dengan maksud untuk mempermudah penginjilan yang mengakibatkan yang tidak mengerti menjadi mengerti, yang dimana pada saat hari Pentakosta para murid2 memiliki tugas mulia untuk mengabarkan Injil kepada seluruh Dunia namun memiliki keterbatasan bahasa karena murid2 rata2 bukan kalangan orang2 berpendidikan. jadi ini sangat relevan dengan kejadian di kitab Kisah para Rasul dimana para murid yang mengalami bahasa lidah pada saat hari pentakosta dan dimengerti banyak orang-orang asing, sehingga hal ini mengakibatkan semua orang asing dari berbagai penjuru dunia yang tidak mengerti bahasa para murid khususnya bahasa yahudi pada saat itu jadi mengerti serta kaget dan akhirnya bersedia untuk mendengar firman pada saat Petrus berkhotbah, sehingga banyak yang bertobat. jadi sebetulnya itulah maksud Tuhan mengaruniakan bahasa Roh kepada kita yang berguna untuk mempersatukan dan memperteguh umat Tuhan sehingga banyak jiwa terpanggil.namun yang kita perhatikan pada jaman sekarang ini banyak orang melakukan bahasa Roh notabene hanya dilakukan pada saat beribadah saja , yang ditujukan bagi orang yg sudah beriman saja (yang bagi Paulus bahasa Roh merupakan tanda bagi orang tidak beriman) dan tak memiliki tujuan yang jelas untuk bisa membangun bagi para jemaat yang mendengarnya (yang bagi paulus bahasa Roh hanya membangun diri orang yang mengatakannya namun tak membangun Jemaat, yang bagi Paulus tidak penting, karena yang lebih Penting adalah Membangun Jemaat, baca I Kor 14:4-9;15:20), sehingga hanya menjadikan hal2 itu sebagai fenomenal saja dan tidak memberikan dampak apa2 bagi orang beriman dan terlebih lagi bagi orang yang tidak beriman (I Kor 14:22-24). namun kita tak perlu mempeributkan hal ini terlalu panjang. Namun ingat.bahasa Roh adalah Karunia Tuhan yang tidak dapat kita halang-halangi dan juga tidak dapat kita order dan pake seenaknya, cuma Tuhan yang punya Kedaulatan untuk memberikan atau tidak memberikan kepada seseorang dan hal itu tidak selalu melekat kepada orang tersebut, sehingga tidak harus melulu tiap hari dan tiap saat berbahasa roh (sehingga hanya menimbulkan kesan lebih rohani dilihat oleh orang). ada atau tidak adanya bahasa Roh tidak menjamin orang itu penuh dengan Roh Kudus karena ingat pohon dikenal dari buahnya (Lukas 6:43-45, Matius 7:16-20) dan tidak semua orang yang menyebut nama Tuhan, Tuhan yang masuk kedalam kerajaan Sorga tetapi yang melakukan perintahNya ( Matius 7:21-23). jadi Karunia Roh seperti Mujizat kesembuhan atau bahasa Roh adalah pelengkap, dan BUAH ROH adalah yang utama. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan,kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu. Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya.Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh,"(Galatia 5:22-25). itulah yang harus menjadi hal yang harus dikejar oleh orang kristen bukan melulu mengejar mujizat atau bahasa Roh. jadi saudara2ku, jadikan Firman Tuhan itu betul2 menjadi hal yang terutama dalam hidup kita semua, karena menjadi serupa dengan Kristus adalah tujuan Hidup kita sebagai Orang Kristen. Amin

7. petruslawatan dari jakarta berkata pada 30 May 2013:

marel dari palangkaraya sedang mempertentangkan antara bahasa roh dengan buah roh, tentu saja tidak nyambung sebab keduanya tidak bisa dipertentangkan punya jalur masing-masing. jika hanya menekankan buah Roh gereja hanya menjadi gereja adem ayem dan biasa saja, tetapi jika hanya menekankan kuasa Roh kudus itu juga tidak baik, karena keduanya harus berjalan bersamaan dan tidak boleh dipertentangkan. janji Bapa yang disebutkan dalam KPR 1:4-5 adalah janji Kuasa, jadi ini tidak ada kaitannya dengan karakter atau buah Roh, justru dengan pengalaman pentakosta tersebut petrus dan murid-murid lain menjadi bersemangat untuk memberitakan Injil dan melakukan banyak mujizat. dalam pelayanan saya dan pengalaman saya, telah dirasakan pentingnya mengalami janji Bapa yang disebutkan dalam KPR 1:4-5. persoalan terjadi ketika Calvin menyatakan bahwa Pengalaman pentakosta yang dialami oleh murid-murid Yesus telah berakhir pada masa itu. doktrin ini yang kemudian diyakini sehingga sebagian orang kristen penganut doktrin ini menolak untuk mengakui bahwa pengalaman pentakosta masih terjadi sampai saat ini. bahkan menurut Rasul Petrus dalam KPR 2, janji ini masih berlaku sampai jauh kedepan bahkan melebih masa kita sekarang ini... jadi...terkadang menganut doktrin bisa membuat kita menjadi ekstrim dan tidak mau melihat pergerakan tuhan yang sedang terjadi. sedangkan Tuhan saja kreatif dan inovasi dalam setiap generasi, mengapa kita masih ketinggalan zaman.... seolah-olah tuhan masih menggunakan metode yang kita pegang 400 tahun yang lalu.

8. marel dari palangkaraya berkata pada 31 May 2013:

saudara petrus lawatan dari jakarta, saya mungkin perlu meluruskan hal ini bahwa tidak ada maksud saya mempertentangkan akan kedua hal mengenai karunia Roh dan buah Roh, karena baik karunia Roh dan buah Roh itu semua adalah anugerah dari Roh kudus yang diberikan kepada masing2 orang percaya menurut kerelaanNya. memang karunia Roh dan buah Roh adalah hal yang berbeda (dimana karunia Roh lebih sering dikaitkan menyangkut hal-hal mengenai kuasa Roh Kudus seperti mujizat dll, sedangkan buah Roh lebih menyangkut hal2 mengenai sikap hidup yaitu karakter orang percaya) namun karena berbeda tersebut bukan berarti saya mempertentangkannya (justru kedua hal ini seharusnya melengkapi karena dikaruniakan oleh satu Roh, yaitu Roh Kudus). saya hanya mengatakan bahwa karunia Roh adalah pelengkap dan buah Roh adalah utama. yang berarti bahwa buah Roh (Karakter sikap hidup orang percaya) adalah hal yang lebih utama yang mesti dimiliki oleh setiap orang percaya. tapi ingat bukan berarti saya mengatakan bahwa karunia Roh tidak penting seperti mujizat dll. karena bagi saya pribadi saya tetap percaya bahwa Tuhan sampai sekarang tetap mengaruniakan karunia Roh dan mengadakan mujizatNya kepada masing2 kita didalam melayani jemaat maupun pemberitaan Injil. tapi mungkin ada yang ber tanya2 mengapa saya katakan karunia Roh adalah pelengkap? dan buah Roh adalah yang utama?

saya berikan ilustrasi, bila dalam dunia kuliner, kita sebagai orang indonesia pasti kita akan berkata kalau nasi adalah makanan pokok sebagian besar orang indonesia,sedangkan lauk pauk seperti ikan, daging, sayur,dll hanyalah makanan pelengkap, sehingga kalau kita cuma makan daging dan sayur saja kalau tidak makan nasi pasti anggapannya sama saja seperti tidak makan kan. namun kalau kita cuma makan nasi toh, nga ada pelengkapnya seperti ikan dan sayur tentu saja makanannya pasti lh hambar. jadi kedua hal ini tentu saja melengkapi. namun bila kita berkata mana makanan pokok yang wajib ada bila kita ingin makan. tentu saja nasi kan. karena lauk pauk hanyalah pelengkap yang tentu saja beraneka ragam bentuknya, sehingga bila tak ada daging bisa diganti dengan ikan atau sayur bayam diganti sayur kangkung,atau cuma makan ikan saja nga ada sayur, it's okay, karena sekali lagi cuma pelengkap.

seperti yang saya katakan bahwa karunia Roh adalah anugerah Allah yang diberi menurut kerelaan KehendakNya kepada setiap orang percaya, sehingga ada orang yang memiliki Karunia Kesembuhan, mengajar, dll. seperti Rasul Paulus yang memiliki karunia penyembuhan sehingga banyak orang yang disembuhkan bahkan sapu tangannya saja mampu menyembuhkan.namun yang menjadi pertanyaan apakah karunia Roh tersebut selalu melekat/menetap pada diri orang percaya? bila kita membaca 2 Tim 4:20, dimana salah satu rekan Paulus, Trofimus ditinggalkan dalam keadaan sakit, hal ini mungkin menimbulkan pertanyaan kepada kita semua, paulus adalah orang yang memiliki karunia penyembuhan 'kan, kenapa dia tidak menyembuhkan rekannya itu? padahal bila dia sembuh maka paulus tidak perlu meninggalkannya dalam keadaan sakit kan?apa Paulus kurang beriman kah!? tidak mungkin. bila kita baca lagi kasus dalam 2 Kor 12:7-10, dimana iblis menaruh "duri dalam daging" paulus, dia 3 kali berdoa, dan akhirnya apa yang diperolehnya, kesembuhan kah? tidak. ambil satu contoh kasus nabi Elisa dalam 2 Raj 13:14-20, Elisa adalah nabi yang juga dikaruniai mujizat spektakuler seperti membelah sungai, munculnya tentara malaikat, dan menyembuhkan orang sakit. namun apa yang terjadi pada akhir hayatnya, dia sakit keras dan sakit kerasnya itulah yang mengakibatkan kematiannya. padahal aneh bagi kita untuk direnungkan bersama kenapa orang yang memiliki karunia mujizat tersebut dan mampu menyembuhkan orang banyak kadang2 tidak mampu menyembuhkan dirinya maupun orang lain. apa kah lantas kita mengatakan bahwa orang2 tersebut kurang percaya atau tak memiliki Iman? tentu saja tidak bukan.

9. marel dari palangkaraya berkata pada 31 May 2013:

===sambungan tanggapan sebelumnya===

bagi kita orang percaya hal ini tidak usah mengherankan. kenapa? karena karunia Roh tidak melekat dan menetap sifatnya pada orang yang dikaruniakan tersebut, karunia tersebut digunakan dan berfungsi hanya bila Allah menghendakiNya dan hanya untuk Hormat dan KemuliaanNya, jadi tidak bisa kita pakai sekehendak hati kita.(dan itu berlaku untuk Karunia yang lain seperti bahasa Roh).sehingga karunia Roh tersebut hanya diberikan kepada orang kristen untuk MELENGKAPI orang kristen didalam pelayanan. jadi bila seandainya ketika kita melayani, Tuhan mengadakan mujizat kesembuhanNya melalui pelayanan kita, biarkan mujizat itu terjadi, jangan kita halang-halangi. namun bila tidak, jangan kita paksakan dan menuntut Tuhan melakukan mujizatNya sesuai kehendak kita, karena mujizat itu hanya terjadi sesuai dan seturut kehendakNya.

Namun hal apa yang Tuhan tuntut pada diri kita agar selalu melekat/menetap di hidup kita sebagai orang percaya? tentu saja hidup berbuah kan. seperti yang dikatakan Yesus dalam Yohanes 15;16 "...Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap..." buah apa yang dimaksud? tentu saja buah Roh (Galatia 5:22-25), karena seperti yang dikatakan Tuhan bahwa Pohon dikenal dari buahnya (Lukas 6:43-45, Matius 7:16-20) sehingga kehidupan kristen kita bukan dikenal dari karunia2 mujizat kita, tetapi dari karakter hidup kita, karena apalah artinya kita memiliki karunia mujizat namun sikap hidup kita tidak sesuai kehendakNya, Tuhan Yesus telah memperingatkan kita melalui Matius 7:21-23 yaitu "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga.Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga?Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" dari nast matius 7 ini, kita pasti berpikir kenapa orang yang memiliki karunia mujizat bisa sampai tidak dikenal Tuhan bahkan dikatakan "pembuat kejahatan". kita semua pasti tau jawabannya bukan. jadi itulah yang menjadi alasan saya mengapa saya katakan bahwa karunia Roh hanya pelengkap yang berguna didalam melayani Tuhan dan memberitakan Injil, namun bukan yang utama, karena yang utama adalah hidup berbuah bagi Kristus.

mengenai hal seperti metode Ibadah saya tidak akan membahas mengenai hal itu, karena bagi saya ibadah itu adalah berbicara soal sikap hati kita bukan soal metode atau cara ibadahnya, dan mengenai orang percaya yang memilliki karunia Roh tidak ada maksud saya mengkritik orang2 yang memiliki karunia tersebut, jikalau memang hal itu adalah pemberian Tuhan sesuai KehendakNya didalam dia melayani GerejaNya dengan motivasi benar, Justru saya akan mendukungnya selalu di dalam doa.

tetapi saya akan mengkritik orang2 yang hidupnya selalu mengejar2 mujizat, yang selalu menuntut Tuhan agar keinginannya selalu dikabulkan, dan ikut Tuhan untuk mencari harta agar dia bisa kaya dan hidup dalam kemewahan, namun tidak mau menjalankan Firman yang Tuhan tuntut agar hidup sesuai dengan kehendakNya, jika ada orang2 diantara kita seperti itu, Bertobatlah dan kembali hidup seturut dengan Firman Tuhan sehingga kita betul2 dapat hidup berbuah bagiNya. GBU. Amin

10. Kudeng Sallata dari Makassar berkata pada 3 June 2013:

Saya sangat setuju 100% pemahaman yang disampaikan oleh Pak/ibu Marel (maaf) dari Palangkaraya tentang karya Roh Kudus dalam kehidupan kita ummatNya. Dalam pemahaman saya, Roh Kudus adalah pengganti Yesus Kristus melanjutkan pekerjaan Yesus mendampingi kita ummatNya di dunia ini setelah DIA meninggalkan kita naik ke surga sesuai janjinya. Peran dan fungsiNya memang sangat penting dalam kehidupan kita sebagai orang pilihanNya terutama membimbing kita hidup mendekati dan melakukan perintahNya. Jadi tidak ada niat untuk menghalangi atau memintanya karena Karya Roh Kudus dalam kehidupan kita bukan kehendak kita manusia tetapi oleh kehendakNya. GBU amin

11. yendra saputra dari taluk,sumatra barat berkata pada 26 September 2013:

saya seorang muslim tetapi saya ingin masuk kristen apakah saya harus di baptis kah ?

12. Juan dari Singapura berkata pada 26 September 2013:

Halo Yendra,

Untuk menjadi Kristen, yang menjadi prioritas utama bukan hal-hal yang tampak di luar (misal: sudah dibaptis atau belum).

Terlebih dahulu, kita harus sungguh-sungguh menerima Yesus Kristus sebagai Tuhan, Juruselamat, dan Raja atas hidup kita. Kita sadar bahwa kita begitu berdosa dan hina, tanpa Kristus kita tidak bisa apa-apa dan akan binasa.

Jika kita sudah sungguh-sungguh menerima dan mau mengikut Kristus (bahkan sebelum dibaptis), kita sudah dapat dikatakan sebagai orang Kristen.

13. Kudeng Sallata dari Makassar berkata pada 1 October 2013:

Sdr Yendra Saputra dari Taluk, Salam kenal dan Selamat mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Memang benar dan sependapat saran yang disampaikan Mr Juan dari Singapura. Iman timbul karena mendengar Firman Allah dan alangkah indahnya apabila Iman yang sudah muncul dihati sanubari anda ini dilanjutkan dengan Pembabtisan dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus (Tritunggal) sebagai simbol pertobatan (meninggalkan kehidupan lama berubah manjadi hidup baru) untuk memenuhi amanat agung Tuhan Yesus (Mat.28:20). Untuk melaksanakan pembabtisan tentu diperlukan Gereja sebagai lembaga yang berwewenang melaksanakan babtisan. Oleh sebab itu anda perlu bergabung ke salah satu gereja sebagai alat persekutuan Tuhan untuk bersekutu bersama dengan anggota jemaat lainnya. Sekali lagi selamat Tuhan memberkati Amin

14. Kudeng Sallata dari Makassar berkata pada 1 October 2013:

Sdr Yendra Saputra dari Taluk, Salam kenal dan Selamat mengenal Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya. Memang benar dan sependapat saran yang disampaikan Mr Juan dari Singapura. Iman timbul karena mendengar Firman Allah dan alangkah indahnya apabila Iman yang sudah muncul dihati sanubari anda ini dilanjutkan dengan Pembabtisan dalam nama Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus (Tritunggal) sebagai simbol pertobatan (meninggalkan kehidupan lama berubah manjadi hidup baru) untuk memenuhi amanat agung Tuhan Yesus (Mat.28:20). Untuk melaksanakan pembabtisan tentu diperlukan Gereja sebagai lembaga yang berwewenang melaksanakan babtisan. Oleh sebab itu anda perlu bergabung ke salah satu gereja sebagai alat persekutuan Tuhan untuk bersekutu bersama dengan anggota jemaat lainnya. Sekali lagi selamat Tuhan memberkati Amin

15. Rina Heisenberg dari Jakarta berkata pada 31 March 2014:

Shalom, saya seorang mahasiswa theologi.sederhananya saya setuju dengan baptisan Roh Kudus, karena memang ada tertulis dalam Alkitab, namun ketika seseorang yang telah dibaptis dengan baptisan Roh Kudus akan selalu ditandai oleh dapat berbahasa Roh, saya setuju walaupun belum terbukti secara akurat, namun perlu diketahui bahwa "karunia berbahasa Roh Kudus" tidak bisa dipelajari atau tidak bisa dipaksakan kepada seseorang sebagai tanda tinggi-rendahnya tingkat iman individu dalam menerima karunia Tuhan apalagi disebut sebagai identitas yang signifikan bagi orang yang telah beroleh keselamatan dari Allah. Soli Deo Gloria

16. silo dari jakarta berkata pada 30 April 2015:

Demikian juga halnya dengan saudara2 kekasih Tuhan dari pengikut Calvinis/Reformed/Protestan. Seperti yg telah saya jelaskan dibagian sebelumnya, bahwa kalangan pentecostal klasik jelas pada posisi meyakini ajaran ttg bahasa roh, dan sebaliknya kalangan Protestan jelas pada posisi menolak ajaran ttg bahasa roh. Bagi saudara2 kekasih Tuhan dari Protestan, dasar ajaran penolakan terhadap bahasa roh bisa baca tulisan: Calvin ( misalnya:Commentary on Acts), James Dunn, H. Berkhof, F.D. Bruner, Stephen Tong,

17. kudeng sallata dari makassar berkata pada 21 May 2015:

Kepada saudara2ku yang kekasih, kalangan protestan tidak pernah menolak atau menyangkali adanya roh kudus , demikian juga teologi calvinis bahkan sebaliknya, selalu mengharapkan bimbingan roh kudus dlm kehidupan kita org pilihanNya, karena kita tidak pernah melakukan yg benar dihadapanNya, selalu roh kudus yg menerjemahkan perbuatan dan kelakuan kita kepada Allah bapa (perkerjaan Allah Tritunggal) demikian sebaliknya perintah Allah dlm Alkitab diterjemahkan kepd kita org pilihannya shg kita bisa mengerti firmanNya. Tidak manusia yg bisa mengerti firman tanpa pertolongan Roh kudus. Jadi tidak ben ar kalau ada anggota gereja yg menolak roh kudus. Kalau tidak mengerti mungkin ada tapi tidak menolak. Kiranya Allah Tritunggal tetap mengasihi kita semua amin.

18. Nn dari Jakarta berkata pada 1 September 2015:

Mengenai ibadah pencurahan Roh Kudus, bukankah ketika seseorang dibaptiskan atas nama Allah Bapa, Anak, dan Roh Kudus maka dia sudah menerima karunia Roh Kudus? Lalu apa maksudnya lagi diadakan ibadah pencurahan Roh Kudus? Bukankah ini sama saja dengan menghujat kuasa Tuhan dengan menganggap Roh Kudus adalah suatu hal yang dapat dengan mudahnya pergi dan dipanggil kembali?

19. Syalom dari Bandung berkata pada 3 August 2016:

Ini mah haters kaum injili doang

20. Yohan Moniaga dari Manado berkata pada 18 August 2016:

Menarik sekali membaca komentar saudara semua, menurut saya yang di singgung oleh NN dari jakarta itu benar. Roh Kudus itu Sudah ada sejak hari pentakosta, jadi tidak perlu di undang lagi. Yang jadi permasalahan adalah Bahasa roh, menurut saya memang lebih tepat kalau disebut bahasa lidah, agar supaya kita bisa membedakan bahwa ketika orang pertama kali mengalami karunia bahasa lidah bukan berarti dia baru mengalami jamahan Roh Kudus. Karena seseorang otomatis di baptis Roh Kudus pada saat hatinya percaya dengan sungguh bahwa Yesus adalah Tuhan dan berkomitmen untuk berubah hidup dari jahat ingin menjadi orang baik (bertobat), saat itulah Roh Kudus membaptis Dia. Banyak juga kesaksian orang bermanifestasi bahasa roh ketika dia menerima Tuhan pertama kali (terjadi bersamaan), Bahasa roh adalah karunia atau pelengkap kekristenan kita dan bahasa roh bisa di miliki oleh semua orang seperti anjuran Paulus, yang jadi masalah adalah kita sendiri mau atau tidak mendapat karunia ini. Mungkin ada beberapa aspek yang saya dapatkan secara pribadi ingin saya bagikan biar kita mengerti bahwa Bedakanlah: Baptisan Roh Kudus dengan manifestasi bahasa roh.

Mungkin menjadi pertanyaan perlukah bahasa roh kita miliki? Kalau tidak mengapa? Kalau perlu untuk apa?

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

Halo Jones, Saya sendiri juga melayani dalam wadah sekolah minggu (SD). Tanggapan singkat saja dari saya. Untuk...

Selengkapnya...

Bagaimana caranya kita menerapkan pemahaman alkitab terhadap anak anak seperti saudara kita yang belajar di mda misalnya

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲