Ponder

A Man Named Luther (1)

Pada tahun 2003 sebuah film yang mengisahkan kehidupan Luther diluncurkan. Namun ada sejumlah ketidakakuratan yang terdapat di film tersebut. Berbeda genre dengan film tersebut, tahun 2015 Lutheran Hour Ministries membuat sebuah film dokumenter tentang Luther. Film ini sebenarnya dimaksudkan sebagai sebuah studi Alkitab tentang sang Reformator. Seri pertama yang terdiri dari lima sesi, mengeksplorasi kehidupan Luther dan konteks zamannya. Bagi saya, film terasa segar, karena seperti “didongengkan” tentang Luther dengan lebih pribadi. Para narasumber bercerita sedemikian rupa seolah-olah Luther adalah kenalan dekat mereka. Lewat film ini saya merasa seperti lebih mengenal Luther dan pergumulan hidupnya. Saya sangat merekomendasikan untuk menonton film ini apalagi tahun depan kita akan merayakan 500 tahun peristiwa Reformasi.

Zaman Luther adalah zaman di mana sebagian besar orang buta huruf (tidak berpendidikan), buku sangat jarang, Alkitab begitu sakral dan hanya bisa dipahami oleh para rohaniwan. Ditambah dengan tingginya angka kematian, tidak heran banyak orang hidup dalam ketakutan. Gereja yang pada waktu itu berkuasa luar biasa, tentu saja semakin memanfaatkan kebodohan masyarakat. Ajaran-ajaran yang tidak sehat yang digelontorkan sejak ratusan tahun sebelumnya semakin merajalela. Ajaran purgatori yang mungkin paling ditakutkan itu, mencapai puncaknya pada masa ini, lewat penjualan surat pengampunan dosa (indulgencia) oleh Paus Leo X, yang berasal dari keluarga Medici.

Siapa Luther? Tentu saja ia adalah anak zaman. Luther juga sangat mencemaskan apa yang akan terjadi setelah kematian. Apakah Tuhan akan melapangkan jalannya ke sorga karena melakukan seluruh tuntutan syariat agama? Atau Tuhan akan mengirimkannya ke purgatori karena tidak dapat memenuhi tuntutan kebenaran Tuhan? Luther terlalu serius meresponi hal ini sehingga ia super khawatir terhadap masalah ini. Akibatnya, jiwanya sangat gelisah bahkan cenderung neurotik. Namun, pergumulan Luther ini membuat saya merenung. Apa yang menjadi kegelisahan terdalam zaman ini? Lalu, apa pula yang menjadi kegelisahan terbesar diri saya? Hal-hal rohanikah atau ...?

Masuk biara mungkin sekali menjadi suatu kebetulan yang diinginkan oleh Luther. Bukankah dengan demikian ia bisa lebih fokus untuk mencari pembenaran Tuhan atas dirinya? Memilih masuk biara Ordo Agustinus yang terkenal disiplin pastilah hal yang disengaja. Di biara yang sangat ketat ini, Luther menjalankan hidup asketis yang melampui biarawan lainnya. Bahkan menurut pengakuan Luther, ia akan membunuh dirinya jika terus demikian. Maka Luther pun yakin, jika cara hidup asketis (biara) dapat menjadi tiket masuk ke sorga, maka pastilah ia mendapatkannya. Masalahnya, semakin Luther menjalankan syariat agama dan segala macam perbuatan baik, makin frustrasilah dirinya. Mengapa? Karena Luther justru makin disadarkan akan kekudusan Tuhan dan keberdosaan dirinya. Semakin disiplin ia mencatat dosa-dosanya, mengakuinya, menyesah dirinya, dan berbuat amal lebih banyak, justru membuatnya menumpuk kebencian pada Tuhan. Kok bisa?

Pernahkan Saudara berbuat sejumlah kebaikan yang penuh perjuangan bagi seseorang, lalu orang itu berkata kepada Saudara, “Apa yang kaulakukan itu sampah!” Bagaimana perasaan Saudara? Bukankah demikian perasaan Luther di hadapan Tuhan? Bedanya, Luther terpaksa harus mengakui bahwa apa yang ia lakukan memang sampah, karena Tuhan itu sempurna. Ini sebuah fakta yang terlalu menyakitkan hati dan menghancurkan sampai ke ujung jari! Tapi memang demikianlah adanya. Sejauh ini, dapatkah Anda melihat betapa besar sukacita dari berita Kabar Baik (baca: Injil)?

Saya akan melanjutkan tulisan ini di edisi PILLAR berikutnya. Selamat Hari Reformasi ke-499!

Ev. Maya Sianturi Huang
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

November 2016

1 tanggapan.

1. Reny dari Bali berkata pada 14 December 2016:

Saya senang membaca bulletin pillar, isinya bagus dan muda di mengerti. Saya ingin berlangganan bulletin pilar, apakah ada nomor yg bisa di hubungi atau website yang bisa saya kunjungi? Saya menginginkan langganan dalam bentuk Hard copy. Thanks

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲