Ponder

Baobab

Jika Anda termasuk kaum pencinta pohon (tree lover), Baobab pasti bukan nama yang asing di telinga Anda. Di Indonesia komunitas pencinta pohon rasanya belum ada. Komunitas penggemar tanaman hias ada, juga komunitas penggemar anjing atau kucing, bahkan ada komunitas penggemar ayam laga. Mengapa kali ini saya mengangkat tema tentang pohon? Silakan Anda memikirkannya sejenak sambil saya juga memikirkan rangkaian kalimat berikut yang harus saya tulis.

Pohon memiliki banyak manfaat bagi kehidupan manusia. Salah satu yang terpenting adalah bahwa pohon menjadi penyuplai oksigen secara cuma-cuma (bayangkan berapa harga satu tabung oksigen di rumah sakit ternama). Selain itu pohon juga mengurangi polusi udara karena menyerap CO2. Sejumlah kegunaan penting lain pohon juga masih bisa dicatat. Untuk itu saya menyarankan Anda membuat sendiri daftarnya. Karena setelah itu saya berharap Anda tergerak untuk menanam pohon!

Baiklah, mari kita kembali kepada urusan Baobab. Baobab atau adansonia digitata adalah pohon khas Madagaskar yang memiliki masing-masing satu saudara yang hidup di Afrika, Jazirah Arab, dan Australia. Pohon ini disebut sebagai pohon paling gemuk di dunia. Tidak heran tokoh Rafiki dalam  film The Lion King menjadikan baobab sebagai rumahnya. Konon pohon ini kadang dijadikan sebagai rumah oleh penduduk lokal yang nomaden.

Baobab juga memiliki buah yang besar mirip seperti cempedak tetapi berkulit licin. Buahnya sangat bergizi karena dianggap memiliki vitamin C melebihi jeruk dan mengandung kalsium yang melampui susu sapi. Biji buahnya dapat dijadikan sup, menjadi perasa, atau diolah menjadi minyak sayur. Daunnya juga dapat dimakan sebagai salad yang penuh vitamin dan serat. Bahkan penduduk asli Australia mengambil daunnya sebagai obat-obatan.

Batang Baobab yang gemuk itu sungguh menjadi berkat, kulit batangnya dapat diambil untuk dijadikan pakaian, tali, senar alat musik, dan topi tahan air. Pohon ini memiliki kemampuan untuk memproduksi ulang di mana kulit kayunya yang diambil. Yang lebih penting lagi batangnya dapat menyimpan air hingga 120.000 liter. Maka pohon ini menjadi wadah penyimpanan air yang vital bagi kehidupan para pengelana yang hidup di sekitarnya. Suku Bushmen Kalahari memasukkan semacam sedotan rumput ke dalam lubang batang Baobab untuk mengisap airnya.

Hal yang mungkin paling unik dari pohon ini adalah bentuknya yang seperti pohon terbalik. Bentuk yang unik, memiliki banyak kegunaan, dan berumur panjang sampai mencapai ribuan tahun, membuat pohon ini sering disebut sebagai pohon kehidupan (tree of life). Pohon kehidupan, bukankah istilah ini akrab di telinga orang Kristen?

Tahukah Anda bahwa cerita tentang pohon kehidupan merupakan mitologi yang terdapat dalam banyak kebudayaan? Silakan menanyakannya kepada mbah Google dan Anda akan terkejut menemukan bahwa cukup banyak mitologi mengenai pohon kehidupan.

Di dalam kekristenan, pohon kehidupan dapat ditemukan dalam kisah penciptaan, penebusan, dan akhirnya konsumasi. Jadi, setiap kali Anda melihat pohon (saya harap Anda sungguh melihat keberadaannya saat melewati jalan-jalan kota Jakarta yang semrawut itu), apa yang terbersit di benak Anda? Ada banyak hal yang bisa Anda renungkan darinya, mulai dari anugerah Tuhan, pohon tersebut sampai hidup Anda sendiri …

Ev. Maya Sianturi
Pembina Remaja GRII Pusat
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

Maret 2011

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Bersyukur untuk Konvensi Internasional 500 Tahun Reformasi yang telah diadakan pada tanggal 14-20 November 2017 di Jakarta.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Sangat memberkati. Kondisi zaman ini membuktikan kemajuan pengetahuan theologia meningkat, keterampilan dalam...

Selengkapnya...

Praise God! I am always refreshed and strengthen by the devotions or article in the PILLAR bulletin. Thank you and...

Selengkapnya...

Pak Wong Ma'ruf.. saya tidak sedang menyampaikan bahwa anda telah membandingkan alquran dan alkitab. Saya hanya...

Selengkapnya...

Segara Kamu salah besar kalau saya membandingkan al Quran dengan alkitab.Saya tida pernah menyajikan ayat2 al...

Selengkapnya...

Seru ya membaca tanggapan, perdebatan ttg pengetahuan alkitab antara Pak Wong Ma ruf dan bpk Siringoringo ini....

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲