Ponder

Chivalry & Calvary

Sejarah selalu menyimpan hal-hal yang menarik untuk direnungkan. Salah satu bagian sejarah yang sangat memikat untuk ditelaah adalah Abad Pertengahan yang dimulai tahun 500 M. Menilik tahun dimulainya Abad Pertengahan, itu berarti empat belas tahun setelah keruntuhan Kekaisaran Romawi Barat. 

Abad Pertengahan biasanya diasosiasikan sebagai abad kegelapan. Mengapa? Pembaca yang budiman harusnya membacanya sendiri dalam buku sejarah karena hal itu jauh lebih menyenangkan. Tetapi satu hal yang membuat saya harus menahan air mata saat mengajarkan bagian ini di sekolah tempat saya mengajar adalah mengenai peran gereja. Gereja harusnya menyatakan terang Kristus di tengah-tengah dunia yang gelap ini. Faktanya pada Abad Pertengahan, gereja justru menyeret zaman masuk ke dalam kegelapan. Puncak penyesatan yang dilakukan gereja adalah dengan mendirikan institusi yang disebut Inquisition. Institusi apakah itu? Anda dapat menanyakannya kepada mbah google tentunya.

Singkatnya, di masa kegelapan Abad Pertengahan terjadi kemerosotan di dalam banyak aspek kehidupan. Selain kemiskinan spiritual dan depresi ekonomi, juga terjadi kemunduran intelektual. Sistem politik berubah dari satu penguasa tunggal (Romawi) menjadi banyak penguasa kecil-kecil yang menghidupkan sistem feodalisme. Sistem feodalisme ini membuat banyak rakyat hidup dalam kemelaratan dan kebodohan.

Terlepas dari semua kegelapan yang mengungkung Abad Pertengahan, tetap masih ada berkas-berkas sinar yang menyeruak di tengah-tengahnya. Salah satu berkas sinar tersebut adalah chivalry. Sejak abad ke-12, chivalry dipahami sebagai kode etik moral, spiritual, dan sosial dari para ksatria. Chivalry merupakan kualifikasi ideal dari seorang ksatria yaitu kekuatan, keberanian, keteguhan hati, dan kesetiaan atau pengabdian. Seorang ksatria harus menunaikan kewajibannya kepada Tuhan (gereja), saudaranya sebangsa, dan melindungi mereka yang lemah termasuk perempuan. Dewasa ini jika kita berbicara tentang seorang ksatria mungkin lebih sering dikaitkan dengan sikap terhadap seorang wanita. Tidak demikian halnya pada masa Abad Pertengahan. Jika kita berbicara tentang keksatriaan pada era Abad Pertengahan, maka hal itu lebih terkait dengan pengabdian dan pelayanan.

Anda bisa membayangkan? Abad Pertengahan, abad kegelapan. Namun di tengah kegelapan itu muncul para ksatria dengan kode etik hidup yang didasarkan pada nilai-nilai kekristenan. Para ksatria itu bukan rahib, bukan imam apalagi uskup atau kardinal. Siapa para ksatria? Silakan Anda menanyakannya kembali kepada mbah google. Karena apa yang ingin sesungguhnya saya sampaikan adalah soal perayaan Jumat Agung. Jumat Agung adalah sebuah peringatan akan pengorbanan Kristus di Bukit Kalvari.

Abad pertengahan yang gelap itu telah menghasilkan para ksatria dengan chivalry sebagai kebanggaan mereka. Kebanggaan menyatakan pengabdian dan pelayanan mereka. Saat ini kita hidup di tengah-tengah zaman di mana pengajaran gereja yang sehat (sound doctrine) dapat diakses oleh siapapun. Lalu apa dampaknya dalam hidup kita? Para ksatria identik dengan chivalry yang menjadi kemuliaan mereka. Apakah juga Kalvari menjadi kemuliaan kita? Bisakah kita mengatakan seperti apa yang ditulis oleh Paulus bahwa ia tidak mau bermegah selain dalam salib Tuhan Yesus Kristus (Galatia 6:14)? Silahkan renungkan dan Selamat Paskah!

Ev. Maya Sianturi
Pembina Remaja GRII Pusat
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

April 2011

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲