Ponder

Discernment

Istilah Bahasa Inggris di atas sangat menarik hati saya. Alkitab yang membuatnya. Hal tersebut merupakan salah satu konsep kebenaran yang paling mendasar yang diajarkan oleh Kitab Suci. Apa itu discernment? Bahasa Indonesia menerjemahkannya sebagai ketajaman. Meski terjemahan ini baik tetapi jika dilihat penjelasan dari kata dasar tajam itu sendiri dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, konotasinya cenderung negatif. Nuansanya berbeda di dalam Bahasa Inggris.

Dalam Bahasa Inggris, discernment bukan sekadar kemampuan untuk membedakan benar atau salah. Kamus Merriam-Webster mendefinisikan ketajaman sebagai kemampuan untuk melihat dan memahami orang, hal-hal, dan situasi dengan lebih jelas dan cerdas. Sedangkan, Wikipedia melihatnya sebagai sebuah aktivitas untuk membedakan nilai dan kualitas dari sebuah subyek, masalah, atau peristiwa tertentu. Lebih jauh lagi, discernment merupakan sebuah kebajikan atau virtue, kemampuan ini melibatkan kebijaksanaan dan penilaian yang baik terhadap hal-hal yang sering kali terlewatkan oleh kebanyakan orang. Lalu apa pendapat Kitab Suci?

Salah satu referensi yang menurut saya sangat lugas tentang discernment adalah Ibrani 4:12. Lebih dari definisi kamus-kamus terkenal, discernment adalah suatu ketajaman untuk membedakan, sampai dapat memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; termasuk membedakan pikiran dan maksud hati yang tersembunyi (Ibrani 4:12). Kenapa demikian? Karena kebajikan yang satu ini secara esensi hanya terdapat dalam firman Allah.

Firman Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada, itulah yang dapat mengklasifikasi dan membedakan dengan tajam. Firman Allah yang dapat memberi ketajaman dan sekaligus kepekaan untuk membedakan sampai kepada substansinya. Maka, kunci untuk menjalani hidup Kristen yang tidak kompromi adalah dengan belajar membedakan hal-hal yang berkenan dan tidak berkenan kepada Allah; hal-hal yang memuliakan Tuhan dan tidak memuliakan Tuhan. Tetapi karena kunci untuk memiliki ketajaman ini ada dalam Firman Tuhan, maka tanpa ketekunan membaca Alkitab dan menaatinya, kita tidak akan pernah memiliki kepekaan yang bertumbuh untuk membedakan hal-hal yang memuliakan Tuhan.

Pembaca dalam Kristus Tuhan, tema discernment ini, meminjam istilah Pdt. Stephen Tong, bisa dijadikan seminar, bahkan bahan diskusi dan perbincangan yang tidak akan pernah habis. Maksudnya? Maksudnya, mari kita memikirkan dan merenungkan konsep dasar yang penting ini dalam kehidupan sehari-hari. Kebajikan dari discernment ini akan menolong kita untuk mengerti mulai dari hal ‘besar’ dalam hidup seperti panggilan menikah atau tidak menikah, bekerja di dalam wilayah pelayanan gerejawi atau bekerja di ranah publik non-gerejawi; sampai hal-hal yang rutin dan ‘sepele’ seperti meresponi seorang anak, isteri, suami, mertua, dan kolega di kantor.

Mengapa saya mengangkat konsep dasar ini untuk menjadi bahan perenungan kita di penghujung akhir tahun 2013? Karena kita ada dalam konteks zaman di mana perkembangan sains dan teknologi makin meleburkan batasan-batasan. Kita sedang memasuki zaman yang makin tidak mau membedakan. Coba lihat sekeliling Anda! Jika Anda peka, jika Anda dapat membedakan dengan tajam semangat zaman ini, Anda akan menangis dan berteriak: “Kyrie eleison!”.

Ev. Maya Sianturi
Pembina Remaja GRII Pusat
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

Desember 2013

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲