Ponder

Ides of March

Judul di atas bukan nama sebuah film yang saat ini sedang beredar di Jakarta. Ides of March atau dalam bahasa Latinnya Idus Martias adalah sebutan untuk tanggal 15 Maret pada kalender Romawi. Penanggalan Romawi memakai kata idus yang berarti ‘setengah’ untuk menyebutkan tanggal yang berada di setiap pertengahan bulan. Ides of March awalnya merupakan sebuah hari yang dikhususkan untuk memperingati dewa Mars dengan mengadakan parade militer.

Dalam perjalanan waktu, sejarawan Romawi, Plutarch, membuat istilah Ides of March menjadi terkenal sebagai hari di mana Julius Caesar mati dibunuh oleh sekelompok senator yang dipimpin oleh Marcus Brutus. Menurut Plutarch, seorang pelihat meramalkan bahwa Caesar akan dibunuh tidak lewat dari tanggal 15 Maret 44 SM. Tetapi Julius Caesar mengabaikan hal ini meskipun pelihat tersebut telah memperingatkannya. William Shakespeare kelak mendramatisasi peristiwa ini di dalam karyanya Julius Caesar. Kalimat yang terkenal dari adegan tersebut adalah peringatan sang peramal: “Beware the ides of March.” Sejak itu Ides of March lebih diingat sebagai hari terbunuhnya Julius Caesar, hari pengkhianatan Brutus, salah satu hari yang sangat menentukan dalam sejarah Romawi. Mengapa demikian? Silakan Anda mencari jawabannya dengan meng-google. Ini adalah salah satu bagian yang sangat menarik dalam sejarah.
Sejarah Indonesia di zaman Orde Baru, setiap bulan September memropagandakan apa yang dikenal sebagai pengkhianatan G30S/PKI. Propaganda ini kemudian diikuti dengan cerita mengenai Surat Perintah Sebelas Maret atau Supersemar yang sampai hari ini masih merupakan kontroversi sejarah tentang siapa yang sesungguhnya mengkhianati siapa.

Pengkhianatan bukanlah hal yang hanya lumrah dalam dunia politik. Pengkhianatan bahkan menjadi hal yang sering kali terdapat dalam keseharian hidup. Bukankah sejarah manusia dari mulanya menurut Alkitab ditandai oleh pengkhianatan? Pengkhianatan terhadap Sang Pencipta dan pengkhianatan terhadap harkat martabatnya sebagai ciptaan. Bahkan di dalam Perjanjian Baru dituliskan mengenai dua kisah pengkhianatan yang terkenal. Pengkhianatan Yudas Iskariot dan Simon Petrus. Menariknya, meski sama-sama pengkhianatan, kedua cerita ini berakhir berbeda. Mengapa demikian? Lalu menurut Anda, mengapa seseorang melakukan pengkhianatan? Silakan Anda memikirkannya…

Ev. Maya Sianturi
Pembina Remaja GRII Pusat
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

Maret 2012

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲