Ponder

Imago Dei

Kisah penciptaan selalu menarik. Dan kisah penciptaan menjadi semakin menarik saat dibandingkan dengan kisah penciptaan lainnya. Pernahkah Anda menyelidiki mitologi penciptaan dari peradaban kuno seperti Sumeria, Mesir Kuno, Yunani, India, dan Tiongkok misalnya?

Saat Musa menuliskan kisah penciptaan, salah satu tujuannya adalah menjadi counter-narrative dari mitologi yang beredar dan dipercayai pada masa itu. Itu sebabnya menurut saya, Anda perlu membaca kisah-kisah mitologi kuno tersebut. Namun saat ini untuk mudahnya saya akan menceritakan garis besar kisah penciptaan dari peradaban kuno yang menjadi konteks Kitab Kejadian, yaitu Sumeria dan Mesir Kuno.

Mitologi Sumeria mengisahkan bahwa manusia diciptakan untuk menggantikan pekerjaan para dewa yang dirasa berat dalam mengelola bumi. Karena itu diciptakanlah manusia menurut rupa para dewa. Manusia pertama dikatakan diciptakan di Eden yang artinya tanah yang datar. Dalam Epik Gilgamesh, Eden disebut sebagai Taman Para Dewa yang berada di Mesopotamia yakni di antara Sungai Eufrat dan Tigris. Namun setelah penciptaan manusia, terjadi keributan di antara para dewa. Seorang dewa tidak setuju jika manusia bisa menghasilkan keturunan. Akibatnya dewa tersebut menjadi musuh manusia dan makin mempersulit hidup manusia yang memang diciptakan untuk menjadi budak para dewa.

Lain lagi dengan mitologi Mesir Kuno yang menceritakan bahwa manusia diciptakan tanpa kesengajaan, yaitu lewat tetesan air mata seorang dewa. Baru setelah itu diciptakan dunia karena para dewa menyadari tidak ada tempat bagi manusia. Dalam proses penciptaan tersebut terjadi konflik antardewa.

Bagaimana menurut Anda kedua kisah tersebut? Mirip apa yang dipercayai Alkitab, manusia bukan dari kera, tapi lahir dari diri para dewa. Namun tujuan penciptaan manusia pada kedua kisah tersebut sangat jauh berbeda dengan apa yang dituliskan oleh Musa. Bacalah sekali lagi Kejadian pasal 1 dan 2 serta Mazmur pasal 8 dengan saksama, lalu bandingkan dengan kisah penciptaan manusia dalam mitologi Sumeria dan Mesir Kuno. Jika Anda melakukannya dengan serius, Anda akan terkesima menemukan sekali lagi kebesaran kisah penciptaan Alkitab!

Untuk lebih menggairahkan perenungan Anda, kalimat dari seorang filsuf Yunani Kuno yang hidup sebelum Socrates, yaitu Xenophanes, akan semakin menghidupkan sukacita Anda akan kisah penciptaan Alkitab. Ia mengatakan men create the gods in their own image. Wow! Jadi, siapa menciptakan siapa?

Pada akhirnya hanya Allah Kitab Suci yang menciptakan manusia menurut gambar-Nya, di dalam kemuliaan Allah Tritunggal yang tak tertandingi. Dialah Allah yang sejati, Allah yang rendah hati, yang rela berbagi kemuliaan-Nya dengan kita. Jadi? Akankah Anda lebih penuh sukacita dan lebih sungguh-sungguh menjadi gambar-Nya?

Terpujilah Allah yang kekal dari selama-lamanya sampai selama-lamanya!

Ev. Maya Sianturi
Pembina Remaja GRII Pusat
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

September 2015

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲