Ponder

Japanese Food & Self Identity

Makanan Jepang alias Japanese Food memang sudah mendunia. Tidak saja terkenal enak, tetapi juga terkenal mahal. Mengapa? Karena kualitas dan cara penyajiannya.

Jika Anda berkesempatan untuk pergi ke Jepang, mungkin Anda akan terkejut melihat makanan Jepang yang digelar. Dari convenience store, kedai makanan di stasiun kereta sampai mall, aneka makanan Jepang dipajang rapi dan sangat memikat hati. Tak puas rasanya mata memandangi berbagai jenis makanan yang dipajang demikian menarik.

Pengamatan saya menyimpulkan makanan Jepang dapat mewakili nyaris seluruh kepribadian Jepang alias orang Jepang. Perhatikan saja, mulai dari kualitas kandungan/bahan makanan, cita rasa sampai penampilannya. Nyaris tak bercela. Untuk meyakinkan diri Anda, cobalah untuk melihatnya melalui mesin pencari. Tidak heran kalau harganya pun sulit untuk menjadi murah!

Memikirkan bahwa makanan Jepang mewakili kepribadian alias identitas orang Jepang membuat saya berpikir ulang tentang identitas diri sebagai orang Kristen. Tuhan Yesus setelah bercakap-cakap dengan perempuan Samaria berkata kepada murid-murid-Nya bahwa makanan-Nya ialah melakukan kehendak Bapa-Nya. Murid-murid Yesus diajak untuk mengenang pengorbanan Yesus saat menikmati kesakralan perjamuan kudus. Dengan kata lain, identitas orang Kristen ditandai dengan melakukan kehendak Tuhan dan mengenang karya keselamatan Yesus yaitu Injil.

Saya sangat kagum dengan kreativitas dan ketekunan orang Jepang dalam menyajikan makanan Jepang sehingga makanan Jepang memiliki reputasi sebagai makanan enak yang sehat. Saat yang sama hal itu membuat saya merenungkan kembali identitas orang Kristen. Apakah orang Kristen dikenal sebagai umat yang menyajikan makanan rohani yang terbukti menyehatkan jiwa manusia?

Makanan Jepang terkenal mahal, tapi tetap dicari. Bagaimana dengan pengajaran Kitab Suci yang sehat? Adakah Saudara dan saya bertekun dan berkreasi melebihi orang Jepang untuk menunjukkan betapa berharganya makanan rohani yang disebut sebagai firman Allah?

Ev. Maya Sianturi
Pembina Remaja GRII Pusat
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

Juli 2015

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲