Ponder

nosce te ipsum

Salah satu kata-kata bijak yang sangat terkenal adalah ‘Kenalilah dirimu sendiri’. Know thyself dalam bahasa Inggris atau nosce te ipsum dalam bahasa Latin. Pepatah ini terukir di halaman depan Kuil Dewa Apollo di Delfi. Menurut Wikipedia, tidak pernah diketahui secara pasti siapa yang pertama kali menyatakan ungkapan ini. Kemungkinan besar, pepatah ini adalah sebuah peribahasa yang memang telah beredar luas di zaman Yunani Kuno.

Pengenalan akan diri memang menjadi tema yang menarik sepanjang zaman. Sampai hari ini filsafat, psikologi, dan ilmu-ilmu humaniora lainnya tidak pernah berhenti mempelajari tema ini. Mengapa mengenal diri? Karena salah satu sumber masalah manusia yang paling mendasar adalah mengenal diri. Bukankah salah satu penyebab utama kejatuhan manusia pertama dalam dosa adalah karena tidak mengenal diri?

John Calvin, sang Reformator, pernah melontarkan sebuah gagasan cemerlang mengenai pengenalan diri. Duplex cognitia Dei. Dua lapis pengetahuan yang tidak dapat dipisahkan meski dapat dan harus dibedakan yaitu mengenal Allah dan mengenal diri. Manusia sebagai gambar dan rupa Allah tidak mungkin dapat mengenal dirinya tanpa terlebih dahulu mengenal Sang Khalik, Tuhan Pencipta. Demikian pula pengenalan akan Allah selayaknya membuat manusia semakin mengenal siapa dirinya. Sayangnya, aksioma yang diketahui luas di kalangan penganut ajaran Reformed hanya berlaku sebatas slogan. Cobalah tanyakan kepada diri Anda sendiri, seberapa jauh dan seberapa sering Anda pernah memikirkan aksioma Calvin tadi untuk mengevaluasi kehidupan Anda?

Dalam sebuah buku yang berjudul Questions of Character terdapat sebuah istilah yang menarik, solipsism. Menurut buku yang ditulis oleh Joseph L. Badaracco, Jr., pengajar Etika Bisnis di Harvard Business School itu, solipsisme adalah sebuah istilah filosofis mengenai versi ekstrem dari bahaya pengenalan diri. Apa itu solipsisme? Solipsisme adalah sebuah pengakuan bahwa diri adalah satu-satunya realitas, fakta yang sering kali membius para pemimpin. Orang Farisi sebagai pemimpin agama umat Allah memiliki penyakit ini. Menurut Badaracco, penyakit ini muncul karena lupa membandingkan diri dengan orang lain. Dalam perumpamaan tentang orang Farisi dan pemungut cukai (Luk. 18:9-14), si orang Farisi gagal mengenal diri meski sudah membandingkan diri dengan orang lain. Mengapa? Karena tidak seorang manusia pun yang patut dijadikan standar. Semua manusia berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Lalu? Lihatlah kepada manusia itu, ecce homo (Yoh. 19:5b). Dialah satu-satunya pribadi yang patut dijadikan standar perbandingan diri untuk mengenal diri. Jadi, bagaimana dengan Anda?

Ev. Maya Sianturi
Pembina Remaja GRII Pusat
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

November 2012

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲