Ponder

Perspektif: Debora dan Barak

Sebuah video yang dibuat oleh Prager University menarik perhatian saya. Video itu berjudul War on Boys. Isinya tentang hasil penelitian lembaga yang bersangkutan mengenai salah satu masalah dasar yang dihadapi Amerika Serikat yaitu anak laki-laki semakin tidak diperlakukan sebagai anak laki-laki. Akibatnya? Statistik menunjukkan anak laki-laki mulai ketinggalan dalam pendidikan dan anak-anak perempuan didorong maju. Akibat berikutnya? Anda mestinya dapat memperkirakannya. Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih detail silakan mengunduh videonya dari YouTube.

Video di atas membuat saya semakin tertarik memikirkan soal perspektif hidup. Perspektif atau sudut pandang dalam melihat suatu kondisi, peristiwa, atau hal lainnya dapat memengaruhi alur zaman. Saat sekelompok orang tidak lagi melihat melalui perspektif yang tepat, tetapi melalui apa yang dianggap benar, kehancuran sedang mendatangi masyarakat tersebut. Seperti kasus yang disajikan dalam video War on Boys.

Video yang mengetengahkan soal bagaimana perlakuan terhadap anak laki-laki di AS, entah kenapa membuat saya teringat pada kisah Debora dan Barak. Di dalam Hakim-hakim pasal empat dikisahkan bagaimana musuh umat Tuhan yang menindas orang Israel dengan keras, panglima tentara raja Kanaan yang bernama Sisera, dikalahkan. Saya harap Anda membaca kembali bagian Alkitab tersebut untuk mengingat kembali detail ceritanya.

Kisah dibuka dengan setting standar Kitab Hakim-hakim. Setelah seorang hakim mati, orang Israel kembali berdosa, lalu ditindas oleh musuh, dan kemudian Tuhan membangkitkan seorang hakim sebagai alat-Nya untuk menolong mereka. Yang unik dalam pasal tersebut adalah munculnya Debora, satu-satunya hakim perempuan sekaligus nabiah.

Debora yang merindukan kelepasan bangsanya, lalu berinisiatif memanggil Barak untuk menyampaikan firman Tuhan kepadanya, yaitu maju berperang melawan Sisera dan pasukannya. Barak tampaknya ciut dengan fakta bahwa Sisera memiliki 900 kereta kuda (baca: teknologi perang paling mutakhir pada zaman itu). Maka Barak mengajukan syarat bahwa ia hanya mau maju berperang jika Debora turut serta! Perempuan maju ke medan perang? Ciyus? Respons Debora? Okay, I will go with you to the war!

Hal itu tidak membuat Debora melihat Barak sebagai kurang sensitif atau menuduhnya pengecut, dan sebagainya. Ia tetap melihat Barak sebagai rekan pelayanan dan pemimpin perang. Yap, betul, Debora memang kemudian mengatakan karena permintaan itu kemuliaan akan diberikan Tuhan kepada seorang perempuan. Eitss, tapi jangan berburuk sangka dulu!

Di pasal berikutnya, dituliskan tentang Nyanyian Debora yang menunjukkan perspektif Debora lebih jelas lagi. Allah yang melepaskan umat-Nya, menerima pujian tertinggi. Namun, mereka yang turut serta berjuang juga dihargai dan yang tidak turut serta dicela. Tolak ukurnya apa? Amanat Tuhan. Bagi Debora, misi Tuhan untuk melepaskan umat-Nya memberinya perspektif yang benar dalam menanggapi masalah dan kelemahan yang ada.

Debora tidak bisa mengangkat senjata dan berperang, tapi ia bisa menemani Barak berperang. Tidak peduli betapa weird untuk masa itu. Barak mungkin rada jiper, tapi ia tetap mau berperang asal Debora ikut serta. Yael mungkin hanya seorang ibu rumah tangga biasa, tetapi perkasa dalam menunaikan pekerjaan Tuhan. Suku-suku Israel yang mau berjuang, tidak ambil pusing mengapa Debora ikut ke medan pertempuran karena melihat hati Debora untuk umat Tuhan. Pada akhirnya, bukan soal kelemahan ini dan itu, tapi tentang perspektif bagaimana saling melengkapi melakukan pekerjaan Tuhan.

Jadi, bagaimana dengan keseharian hidup Anda? Apa yang sering Anda permasalahkan dalam hidup ini? Soli Deo Gloria.

Ev. Maya Sianturi Huang
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

Agustus 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲