Ponder

Shame

Apa itu malu atau shame? Sebuah perasaan sosial yang menyakitkan akibat tindakan seseorang yang tidak sesuai aturan sosial atau kebiasaan yang ada? Menurut Alkitab, malu lebih dari sekadar perasaan. Malu adalah sebuah kesadaran yang menyakitkan akan kenyataan bahwa sebagai orang berdosa kita telanjang di hadapan Allah (Kej. 3:7).

Telanjang di hadapan Allah... Tanpa pakaian, tanpa penutup. Meminjam pendapat seseorang, ini adalah visibilitas yang tidak diinginkan, dan keinginan untuk menutupinya merupakan jantung dari respons akan rasa malu tersebut. Sumber di Wikipedia mengatakan akar dari kata malu (shame) yang berasal dari kata yang lebih kuno yang berarti “menutupi”. Menutupi diri baik secara literal maupun figuratif, memang merupakan ekspresi alami dari rasa malu. Singkatnya, kita bisa melihat bahwa rasa malu terkait dengan usaha untuk menutupi.

Dalam kisah kejatuhan manusia, Adam dan Hawa merasa malu saat mereka tahu bahwa mereka telanjang. Sebagai respons terhadap kondisi itu, mereka pun menyemat daun-daun pohon ara untuk menutupi diri. Bahkan mereka kemudian bersembunyi ketika Tuhan mencari mereka. Kenapa harus bersembunyi? Untuk menutupi diri, karena daun-daun pohon ara tersebut pasti gagal menyembunyikan ketelanjangan mereka.

Apa yang sesungguhnya yang terjadi saat manusia jatuh dalam dosa? Mengapa ketelanjangan membuat manusia malu? Paulus menjelaskan dengan gamblang di dalam suratnya kepada jemaat di Roma yaitu manusia telah kehilangan kemuliaan Allah. Jubah kemuliaan itu tidak lagi menutupi diri manusia. Maka sepanjang masa manusia berusaha untuk menutupi rasa malu mereka dengan berbagai cara. Manusia berusaha untuk menutupi kehilangan mereka akan kemuliaan Allah dengan segala macam pencitraan dan make-up. Atau bahkan lebih parah lagi, mereka mungkin sengaja mempertontonkan rasa malu mereka, karena sudah kehilangan daya dan gairah untuk terus menutupinya. Namun seburuk-buruknya usaha manusia menutupi rasa malu mereka, dan sebodoh-bodohnya mereka yang mempertontonkan rasa malu mereka, tidak ada yang lebih memalukan daripada menolak Dia yang telah menanggung malu manusia.

Yesus dari Nazaret, Anak Allah yang menjadi manusia, sengaja datang memenuhi rencana Bapa untuk melakukan tugas penyelamatan manusia. Puncak dari rencana itu adalah Yesus harus mati di kayu salib. Sebuah hukuman paling tercela dan paling memalukan pada zaman-Nya. Di atas kayu salib, seluruh visibilitas keberdosaan manusia dipertontonkan. Namun di atas kayu salib pula, kemuliaan kasih Allah pada manusia berdosa mencapai titik kulminasi, menutupi setiap keberdosaan yang memalukan itu. Tidak ada tempat bagi manusia untuk menutupi rasa malunya selain dengan basuhan darah-Nya yang tercurah dari Golgota. Seperti penggalan syair sebuah lagu: kemuliaanku hanyalah salib Tuhan Yesus. Jika salib Kristus memang adalah kemuliaan yang telah menutupi rasa malu kita, bukankah seharusnya fakta ini mendorong kita untuk bergiat memberitakan Injil kasih karunia tersebut? Soli Deo Gloria.

Ev. Maya Sianturi Huang
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

April 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk acara Global Convention on Christian Faith and World Evangelization dan Seminar Reformasi 2020 yang telah dilaksanakan pada bulan Oktober 2020.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲