Ponder

Terkecoh

Tuhan itu dahsyat! Tidak hanya kuasa-Nya, keadilan-Nya, dan kasih-Nya, tetapi juga sense of humour yang dimiliki-Nya. Sense of humour yang tiada bandingnya karena penuh bijaksana dan tentu saja menyatakan kemuliaan-Nya.

Sense of humour yang baik berbeda dengan sekadar melucu apalagi banyolan slapstick. Sense of humour sepertinya bertujuan untuk mengecoh keangkuhan manusia. Dan tentu saja seperti disinggung di atas sekaligus untuk memperlihatkan kemuliaan-Nya. Tuhan itu mulia, jadi apa pun yang dilakukan-Nya tidak bisa lepas dari ekspresi kemuliaan-Nya.

Sebuah teori tentang humor yang dikemukakan oleh Peter McGraw, mengatakan “humour only occurs when something seems wrong, unsettling, or threatening, but simultaneously seems okay, acceptable or safe.” Mirip paradoks. Mirip sebuah istilah dalam bahasa Indonesia terkecoh – tapi dalam konotasi yang positif. Paradoks bisa mengecohkan manusia seperti halnya sense of humour Tuhan yang memang penuh paradoks itu. Benarkah demikian?

Kita baru saja merayakan Natal. Mari kita telusuri untuk menemukan paradoks ekspresi kemuliaan Tuhan. Lihat saja, kelahiran Sang Juruselamat adalah karya Roh Kudus, melalui anak dara. Tidak melalui pria, tetap melalui rahim perempuan. Terjadi di masa belum ada bayi tabung. Kalau tidak?!

Yusuf, si ayah angkat, hampir terkecoh, mengira Maria tidak setia, padahal kehamilan itu adalah karya Roh Kudus. Lalu karena tulus hati mau menceraikan diam-diam dan bukannya bertanya pada Maria. Aneh, tulus hati kok tidak berani bertanya ya? Tuhan intervensi dengan mengirimkan malaikat sekaligus memberitahukan nama-Nya. Oya, nama-Nya pun tidak istimewa dalam pengertian itu adalah nama yang cukup umum pada masa itu. Yesus dari Jeshua atau Joshua (Jehoshua) memang berarti Yahweh adalah keselamatan, atau Tuhan yang menyelamatkan. Tetapi sekali lagi itu adalah nama yang cukup umum.

Para majus juga sempat terkecoh, pergi mencari Sang Raja ke istana. Nyatanya di palungan. Lahir sebagai bayi biasa, bukan bayi ajaib yang langsung bisa berdiri dan melangkah. Para imam kepala dan ahli Taurat bangsa Yahudi dengan lancar mengutip nubuatan nabi Mikha tentang kedatangan Sang Raja, tetapi tak tertarik untuk datang. Apakah karena Betlehem kota kecil yang biasa? Berita Natal yang pertama tidak disampaikan kepada sekumpulan pendeta terhormat atau pejabat penting, tetapi sekelompok jelata, para gembala yang sedang bekerja menjaga kawanan domba.

Renungkanlah lagi dengan saksama detail-detail kelahiran Yesus. Kemudian cobalah bayangkan bahwa semua itu adalah gambaran Raja Kemuliaan, TUHAN jaya dan perkasa, TUHAN, perkasa dalam peperangan (Mzm. 24:8). Jika, Anda membayangkannya dengan kemuliaan manusia apalagi film Hollywood, maka Anda akan terkecoh! Tuhan mungkin tersenyum penuh pengertian. Kita perlu banyak belajar merendahkan diri.

Memasuki tahun yang baru ini, hal-hal apa yang telah mengecoh Anda sehingga tidak bertumbuh sebagaimana seharusnya?

Selidikilah aku, ya Allah dan kenallah hatiku,
ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku
lihatlah, apakah jalanku serong,
dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!
Mazmur 139:23-24

Ev. Maya Sianturi Huang
Kepala SMAK Calvin

Ev. Maya Sianturi

Januari 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲