Ponder

Tidak Layak

Kerendahan hati itu selalu menarik, yang palsu sekalipun. Tentu saja kesejatian tidak ada bandingnya. Salah satu kisah kerendahan hati yang asli dapat ditemui dalam diri Rut, khususnya saat ia pertama kali berhadapan dengan Boas. Boas memperhatikan kehadirannya. Boas menanyakan perihal dirinya. Boas berbicara dengannya. Boas bahkan memintanya untuk memungut jelai di ladangnya dan memerhatikan dirinya.

Bagaimana reaksi Rut? Rut sama sekali tidak merasa ge-er apalagi kemudian memasang status feeling blessed, lalu mengajak Boas untuk selfie bareng. Yang Rut lakukan adalah sujud berterima kasih dan merasa diri tidak layak mendapat belas kasihan Boas, karena ia seorang asing, seorang perempuan Moab. #Kagum. Mengapa? Di zaman I deserve it ini jika kita menilik apa yang telah dilakukan Rut untuk mertuanya, Naomi, sepantasnya kita terperangah. Rut telah mengerjakan banyak hal yang sangat baik untuk Naomi. Ia meninggalkan kesempatan untuk menikah lagi, meninggalkan orang tua, keluarga, tanah kelahiran, bahkan agamanya, untuk mengikut Naomi, mertuanya. Mertua yang sudah tua. Mertua yang tidak bisa memberinya anak laki-laki. Mertua yang tidak bisa memberinya harta dan kehidupan. Mertua yang hanya menjadi beban baginya karena ia harus bekerja untuk menghidupi mereka berdua. Namun sepertinya bagi Rut, apa yang ia lakukan adalah hal yang biasa, hal yang sewajarnya ia lakukan. Tetapi anehnya, ia tidak merasa apa yang Boas lakukan untuknya adalah hal yang biasa, hal yang pantas ia terima. Ada apa dengan logika berpikir Rut?

Saya tidak punya jawaban pasti mengapa Rut berpikir demikian. Saya hanya punya hipotesis mengapa Rut berpikir seperti itu. Rut sadar bahwa dirinya adalah orang asing. Asing dari anugerah Allah, asing dari beribadah kepada Yahweh, Allah yang hidup. Asing dari covenant Allah, dari janji Tuhan kepada Abraham dan keturunannya. Asing dari umat Allah, ia bukan tunas Israel asli, tapi tunas liar yang dicangkokkan. Kehadiran suaminya dan Naomi dalam hidupnya yang membuatnya ‘terbawa’ dalam keajaiban kasih karunia, menjadi bagian dari umat Allah dan sepertinya itu lebih dari cukup bagi Rut. Lebih dari cukup untuk membuatnya mengasihi Naomi dengan segenap hatinya. Lebih dari cukup untuk membuatnya merasa tidak layak mendapat belas kasihan dan perhatian Boas yang begitu besar.

Pembaca yang budiman, setiap kali kita dimampukan untuk melakukan perbuatan baik bagi seseorang, apakah kita lalu merasa layak untuk dapat penghargaan? Merasa layak untuk juga mendapat kebaikan yang sama bahkan lebih? Ataukah kita memiliki kesadaran seperti Rut?

Demikian jugalah kamu. Apabila kamu telah melakukan segala sesuatu yang ditugaskan kepadamu, hendaklah kamu berkata: Kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna: kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan. (Luk. 17:10)

Ev. Maya Sianturi Huang
Kepala SMAK Calvin

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pelayanan Tim Aksi Kasih (TAK) GRII untuk COVID-19 yang telah melayani pembagian Alat Pelindung Diri (APD) untuk 213 rumah sakit/puskesmas dan pembagian sembako di 31 provinsi di Indonesia. Berdoa kiranya melalui pelayanan ini, gereja dapat menjadi saluran kasih.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Kalau itu suara Bapa dari Surga, mat 3:17 & Mat 17:5. Bagaiman menjelaskannya denga Yihanes 5:37, dimana suara...

Selengkapnya...

Dengan hormat Pdt. Stephen Tong, kutiplah ayat dengan benar! Di dalam kitab Yesaya 1 tidak pernah mengatakan “Aku...

Selengkapnya...

tema pertanyaan2 yg selalu menteror manusia selama dia ada(hidup). Dan semua mengejarnya hanya dg "alat" yg...

Selengkapnya...

Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲