Q&A

Q&A Februari 2007

Agama Sejati

Q: Teman saya pernah berkata bahwa agama itu buatan manusia, jadi agama itu tidak bisa membawa manusia ke sorga. Apakah benar pernyataan dari teman saya itu?

Okto Saragi

A: Memang ada dua pandangan dan realita agama. Agama yang palsu adalah seperti apa yang diungkap secara implisit oleh Ludwig Feuerbach, yaitu, “Allah adalah ciptaan manusia yang dicipta menurut gambar dan rupa manusia.” Itu berarti agama merupakan produk budaya dan pikiran manusia, yang membutuhkan pemuasan terhadap sensus divinitatis, setelah kejatuhan. Sensus divinitatis adalah suatu kesadaran ilahi yang ada di dalam diri manusia, yang telah ditanam oleh Allah sendiri, sehingga pada dasarnya manusia menyadari, di dalam lubuk hatinya, bahwa ada “Allah” yang mencipta dan menguasai alam semesta ini. Tetapi hanya kembali kepada Firman, yang berinkarnasi yaitu Yesus, dan yang tertulis yaitu Alkitab, barulah manusia mendapatkan jawaban pengenalan akan Allah yang sejati. Jadi, manusia baru bisa mengenal Allah dan sorga apabila ia kembali kepada pencerahan yang Allah lakukan, bukan upaya dirinya sendiri melalui perjuangan agama-agama humanistik. Agama humanistik adalah agama yang melihat segala sesuatu dari kepentingan manusia, sehingga berslogan: “Sebab segala sesuatu adalah dari saya dan oleh saya dan kepada saya. Bagi saya kemuliaan sampai selama-lamanya.” Pemikiran agama ini berpusat pada kepentingan dan usaha perjuangan manusia, sehingga Allah hanyalah merupakan simbol dari pengharapan manusia. Allah itu hanya suatu ilusi proyeksi dari obsesi manusia itu sendiri, tetapi bukan penyangkalan diri, kerendahan dan pengakuan kegagalan diri, dan ketaatan kembali kepada Allah yang hidup, yang akan mengatur hidupnya. Agama seperti yang disebut terakhir ini saja yang bisa membawa manusia kembali kepada Allah dan sorga, karena segala sesuatu memang harus dengan slogan: “Sebab segala sesuatu berasal dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Rom. 11:36).

Pdt. Sutjipto Subeno

Pdt. Sutjipto Subeno

Februari 2007

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk situasi keamanan dan politik di Indonesia, kiranya Tuhan berbelaskasihan kepada bangsa kita ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Shallom... Terima kasih untuk renungan yang sangat memberkati. Kata-katanya tersusun dengan sangat bagus, saya sangat...

Selengkapnya...

Yth bpk Admin, 1. Kenapa umat Kristen harus memegang 2 kitab yaitu Taurat dan Injil. 2. Dalam memegang kedua...

Selengkapnya...

Saya sangat tertarik dengan ajaran reformed injili.. Setiap kali ada kegiatan di solo saya pasti harus bisa datang.....

Selengkapnya...

Terkadang kepahitan merupakan obat yg paling manjur untuk bertahan dalam menjalankan kehidupan sehari hari asalkan...

Selengkapnya...

Mohon setiap tulisan diikutsertakan Firman Tuhan. Artinya setiap tulisan dasarnya dari Firman Tuhan di usahakan...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲