Q&A

Q&A November 2007

Saya mempunyai beberapa pertanyaan:

  1. Sebetulnya apa filsafat di balik musik-musik dunia seperti pop, rock, rap, dan lain-lain? Apakah musik-musik tersebut dipengaruhi oleh suatu filsafat? Mengapa orang zaman sekarang bisa sangat terbius oleh musik-musik seperti itu? Apa sih ‘bius’ yang dimiliki oleh musik-musik tersebut?
  1. Saya membaca salah satu artikel Pillar di edisi yang lalu, dikatakan bahwa musik-musik dunia mengakibatkan kita menghasilkan ekspresi jiwa yang tidak natural. Saya masih belum mengerti maksud dari pernyataan ini, bisa Pak Billy jelaskan lebih detil?
  1. Bagaimana menjelaskan kepada remaja bahwa musik-musik dunia itu kurang berkualitas? Apalagi menanggapi argumen mereka bahwa, “Yang penting kan kita memuji Tuhan!”

Izzaura Abidin

Remaja GRII Pondok Indah

Dear Sdri. Izzaura,

1.      Jawaban pertanyaan ini panjang, tapi hopefully melalui artikel-artikel yang lain di Pillar edisi ini Saudari juga bisa mendapatkan jawabannya. Intinya adalah musik-musik di atas memang dipengaruhi oleh filsafat tertentu (semua musik pada dasarnya dipengaruhi oleh spirit filsafat tertentu). Nah, masalahnya filsafat itu setia kepada Alkitab atau justru melawan Alkitab.

Mengenai kekuatan ‘bius’ musik-musik seperti itu jawabannya sebenarnya adalah sederhana, yaitu karena kita sebagai manusia berdosa memang lebih menyukai apa yang kotor daripada apa yang kudus. Coba saja perhatikan, berapa sulitnya membawa orang untuk terpengaruh berita Injil, dan berapa orang yang lebih memilih untuk terpengaruh oleh hal-hal yang buruk/jahat. Hal-hal yang lebih memuaskan nafsu manusia yang berdosa selalu mendapatkan pengaruh yang lebih besar. Ini wajar dan bahkan juga Alkitabiah, karena di situlah Tuhan justru melatih kita untuk bertekun ketika kita mengajar serta men-sharing-kan hal-hal yang baik. Selalu ada tantangan untuk tidak segera dapat diterima.

2.      Mungkin penulis artikel tersebut lebih tepat untuk menjawab pertanyaan ini. Tapi saya akan coba jawab dari perspektif saya. Selalu ada kaitan antara tubuh dan jiwa, sehingga rangsangan musik yang diterima oleh tubuh akan berinteraksi juga dengan jiwa (baca artikel “Music and Body”). Musik yang dipengaruhi oleh spirit yang memberontak misalnya akan digarap dalam tatanan komposisi musik yang sesuai dengan spirit tersebut. Dan penerimaan musik tersebut ke dalam tubuh manusia akhirnya juga turut mempengaruhi jiwa kita.

3.      Ya, jawaban/tanggapan di atas itu memang banyak kita dengar, namun sayang itu tidak Alkitabiah. Karena bagi kita, ketulusan memuji Tuhan, kesungguhan motivasi, dan sebagainya juga mencakup sikap hati yang mau memberikan yang terbaik kepada Tuhan (karena Dia layak untuk itu). Sebenarnya mengatakan “yang penting memuji Tuhan” tapi tidak mempedulikan jenis lagu yang kita pujikan kepada Tuhan adalah hal yang kontradiktif dan tidak bertanggung jawab. Tuhan mau menerima yang terbaik yang sanggup kita berikan kepada-Nya.

Pdt. Billy Kristanto

Pdt. Billy Kristanto

November 2007

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲