Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

13 Years a Slave

Sebuah surat kabar di awal bulan ini menulis: Oscars 2014: "12 Years a Slave" wins best picture! Film “12 Years a Slave” adalah sebuah film drama sejarah yang diadopsi dari catatan harian Solomon Northup, seorang berkulit hitam merdeka yang diakali oleh penjual budak kemudian dijual sebagai budak untuk bekerja di perkebunan kapas selama 12 tahun sebelum akhirnya dibebaskan. Film ini adalah sebuah kisah nyata yang mengharukan tentang perjuangan dan pengharapan yang gigih akan kebebasan.

Sebenarnya di Alkitab juga dicatat tentang kisah yang lebih seru tentang seorang anak muda berumur 17 tahun yang dijual sebagai budak dengan kisah yang lebih mengenaskan. Mengapa mengenaskan? Karena dia adalah anak bungsu yang dijual oleh kakak-kakaknya sendiri dan dia dijual karena dia menjadi anak kesayangan sang ayah. Ya, pembaca pasti sudah bisa menebak dengan mudah nama si anak muda ini, dialah Yusuf. Yusuf diutus oleh Yakub kepada kakak-kakaknya yang sedang menggembalakan domba. Ketika sampai kepada mereka, tidak menyangka bahwa bukanlah pelukan hangat yang menyambutnya, melainkan tatapan dingin dari mereka. Kewajiban seorang kakak adalah melindungi adiknya dari kecelakaan, tetapi kakak-kakak Yusuf justru melakukan sebaliknya, merancang kecelakaan bagi Yusuf. Setelah menjebloskan dia ke dalam sumur, Alkitab mencatat bahwa mereka dengan santai makan-makan bersukaria, seakan-akan tidak ada rasa penyesalan atau rasa bersalah sedikit pun.

Yehuda berkata ketika dia melihat seorang kafilah Ismael lewat, "Apakah untungnya kalau kita membunuh adik kita itu dan menyembunyikan darahnya? Marilah kita jual dia kepada orang Ismael ini.” Apakah mereka pernah memikirkan perlakuan macam apakah yang adik mereka yang masih muda itu akan terima sebagai budak? Tidak! Karena yang terpikir di benak mereka sepertinya keuntungan 20 syikal perak dari hasil penjualan darah daging mereka sendiri.

Tidak bisa dibayangkan kecamuk hati Yusuf, perasaan terbuang dan dikhianati oleh saudara sendiri, perasaan takut akan masa depan yang menyeramkan selama berminggu-minggu dalam perjalanan menuju ke Mesir. Anak kesayangan yang biasa tidur enak ini, harus tidur kedinginan bersama dengan budak-budak lainnya. Setelah akhirnya cukup “sukses” meniti karir di rumah Potifar, kisah sukses itu kandas kembali dengan dipenjaranya Yusuf. Yusuf yang berhasil menafsir mimpi sang juru minum raja mendapatkan secercah harapan agar dapat dibebaskan. Namun hari berganti hari, minggu berganti minggu dan bulan berganti bulan, tidak tampak ada tanda-tanda sang juru minum ingat kebaikan budi Yusuf. Yusuf saat itu mungkin sudah berpikir, tidak ada harapan lagi baginya untuk bisa keluar dari penjara itu, mungkin dia akan selama-lamanya mendekam di penjara. Hopeless and helpless...

Justru di dalam keadaan tidak ada pertolongan dari pihak manapun lagi, Allah Sang Penentu Sejarah dalam satu hari mampu membalik nasib Yusuf dari seorang narapidana menjadi orang paling berkuasa setelah Firaun di Mesir. Yusuf berumur 30 tahun saat itu. Hal ini berarti ia sudah menjadi budak selama 13 tahun. Masa itu adalah masa Tuhan membentuk hidup Yusuf yang akan dipakai untuk menyelamatkan keluarganya, penerus pemilik janji Tuhan dari kelaparan besar selama 7 tahun.

Kematangan rohani Yusuf bisa dilihat dari kepahitan hatinya, dari menyalahkan saudara- saudaranya atau orang-orang yang membuat susah dirinya kepada Sang Sutradara yang selama ini di belakang layar. Dijual oleh saudara-saudara sendiri, dipenjara karena difitnah oleh nyonya bos, dilupakan selama 2 tahun oleh juru minum yang sudah ditolongnya… semua pengalaman ini cukup untuk menghancurkan seseorang. Tetapi, yang terjadi justru pengalaman-pengalaman menyakitkan tersebut dipakai oleh Tuhan untuk menempa Yusuf untuk menjadikan Yusuf seperti emas yang murni.

Perlu 13 tahun untuk seorang Yusuf mengucapkan "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar” (Kejadian 50:20).

Siapkah Anda dibentuk oleh Tuhan?

Heruarto Salim

Maret 2014

1 tanggapan.

1. Willie Ekaputra dari Berlin berkata pada 31 March 2014:

Saya terkesan oleh artikelnya.Thx 4 sharing.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲