Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Absurditas

Malu, hina tanpa harga diri, kotor, bau, dan tiada masa depan. Itulah perasaan dan kondisi seorang wanita yang meninggalkan suami dan anak-anaknya demi kenikmatan sundal. Demikian juga perasaan yang sama dari seorang muda yang meninggalkan ayahnya pergi ke tempat jauh demi kenikmatan berfoya-foya. Kedua orang ini berbeda namun mereka mempunyai banyak kesamaan, mereka adalah buah hati dan kesayangan dari orang terdekat mereka, mereka sama-sama mempunyai kehidupan yang nyaman dalam keluarga mereka, mereka sama-sama mempunyai segala sesuatu yang mungkin orang lain hanya bisa dambakan. Tetapi mereka juga mempunyai kebodohan, keliaran, pemberontakan, dan ketegaan membuang laut berkat yang mereka nikmati tersebut demi mata air keruh yang segera kering.

Sang wanita harus berakhir di pasar budak, sang pemuda berakhir di kandang babi. Tiada akhir yang lebih tragis bagi mereka, tiada posisi yang lebih hina lagi bagi mereka. Demikianlah nasib mereka ... dan juga nasib kita semua, karena mereka tidak lain adalah representasi semua kita yang terjual dalam perbudakan dosa, helpless dan hopeless. Apakah Anda dalam situasi ini sekarang?

Untunglah kedua cerita tersebut tidak berakhir tragis, sang wanita dengan wajah tertunduk malu dibeli kembali dan dibawa pulang oleh sang suami. Sang pemuda dengan langkah gontai menyeret kakinya mendekati rumah ayahnya, yang kemudian dipeluk dan diterima kembali oleh sang ayah. Mereka tidak layak diterima kembali, kalaupun diterima kembali, mereka seharusnya diterima sebagai budak. Namun karena anugerah, mereka diterima kembali dengan status mereka sebelumnya sebagai istri dan anak.

Bagi kita umat tebusan Kristus, kita telah dibeli dengan harga lunas menjadi milik-Nya, menjadi anak-anak Allah, menjadi mempelai Kristus. Kita adalah sebagaimana kita ada sekarang karena Ia memberikan anugerah-Nya menebus dan menyelamatkan kita dari jurang dosa dan maut. Karena anugerah, sang anak akan taat kepada ayahnya dengan kasih. Karena anugerah, sang istri akan terus menjaga kesucian hidup bersama dengan suaminya dengan kasih. Bukankah suatu absurditas bagi Gomer setelah diterima kembali masih memikirkan untuk melacur lagi? Demikian juga si bungsu terhilang setelah diterima kembali akan meninggalkan sang ayah lagi? Bukankah absurd bagi kita yang sudah diterima kembali untuk tetap hidup di dalam dosa?

Heruarto Salim

September 2013

2 tanggapan.

1. gunawan dari bandung berkata pada 15 September 2013:

Shalom Redaksi Pillar, Mengapa renungan online nya bila dibaca via Blackberry kalimat2nya tidak bisa masuk full ke layar? Harus geser2 sehingga menyulitkan utk membacanya. Mhn sarannya apakah hrs ada setting khusus? Terima kasih. Tuhan memberkati.

Gunawan

2. Henoch dari Pasangkayu berkata pada 3 October 2013:

Yth redaksi Pilar, saya baru-baru perbaharui aplikasi Pilar di HP saya, dan yg terjadi adalah ada sekitar dua baris kalimat yang tidak kelihatan pada bagian atas layar. Demikian, terima kasih Soli Dei Gloria.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Bersyukur untuk Konvensi Internasional 500 Tahun Reformasi yang telah diadakan pada tanggal 14-20 November 2017 di Jakarta.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Sangat memberkati. Kondisi zaman ini membuktikan kemajuan pengetahuan theologia meningkat, keterampilan dalam...

Selengkapnya...

Praise God! I am always refreshed and strengthen by the devotions or article in the PILLAR bulletin. Thank you and...

Selengkapnya...

Pak Wong Ma'ruf.. saya tidak sedang menyampaikan bahwa anda telah membandingkan alquran dan alkitab. Saya hanya...

Selengkapnya...

Segara Kamu salah besar kalau saya membandingkan al Quran dengan alkitab.Saya tida pernah menyajikan ayat2 al...

Selengkapnya...

Seru ya membaca tanggapan, perdebatan ttg pengetahuan alkitab antara Pak Wong Ma ruf dan bpk Siringoringo ini....

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲