Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Ada Apa Dengan Atribut Natal?

Pada Desember ini, warga Indonesia sedang menghadapi tantangan radikalisme yang semakin meningkat, dari pembubaran KKR Natal secara paksa, sampai penyisiran atribut Natal di pusat-pusat perbelanjaan. Apa yang dapat direnungkan orang Kristen dari peristiwa- peristiwa yang terjadi belakangan ini?

Pertama, orang Kristen perlu lebih giat menyuarakan wawasan politik yang diwariskan oleh gereja kepada demokrasi, yaitu memisahkan ranah agama dari politik. Negara bukan gereja, masjid, vihara, pura, dan lain-lain. Negara terbentuk dengan kesepakatan dan aturan main hidup bersama antara orang-orang yang berbeda keyakinan dan kebudayaan. Tidak bisa cara hidup satu golongan dijadikan hukum bagi golongan yang lain. Harus ada hukum yang mengatur supaya cara hidup yang beragam itu bisa hadir bersama-sama dan saling menghargai hak golongan lainnya di dalam menjalankan ibadah atau kebudayaan masing- masing tanpa mengganggu keragaman tersebut. Selain itu, warga dari satu golongan tidak boleh menjadi penegak hukum (apalagi memakai hukum golongannya sendiri dan bukan konstitusi), karena yang berhak dan berkewajiban melakukan itu hanyalah pemerintah.

Kedua, penyisiran dan pembersihan atribut Natal oleh ormas yang radikal kali ini mungkin meresahkan masyarakat, dan justru karena itu Natal menjadi banyak dibahas. Banyak yang kembali merenungkan makna asli dari Natal dan menemukan makna Natal yang sebenarnya tidak ada pada atribut Natal. Jadi, penyisiran ini justru mengingatkan orang Kristen akan makna Natal yang sesungguhnya. Bertahun-tahun sudah dibahas di dalam Buletin PILLAR dan kebaktian-kebaktian Natal yang setia pada pesan Natal yang sesungguhnya bahwa Natal adalah tentang kelahiran Mesias, hadiah yang tak ternilai dari Allah Bapa kepada umat manusia, dan tidak ada hubungannya dengan Sinterklas. Mungkin penentangan kali ini diizinkan oleh Tuhan untuk mengejutkan dan membangunkan orang Kristen yang telah lama terbuai oleh perayaan Natal yang menyeleweng. Inilah saatnya orang Kristen melakukan pencarian spiritual terhadap Bayi dalam palungan, yang seharusnya menjadi pusat perhatian Natal.

Ketiga, tanpa dikoordinasi dan diatur-atur oleh pengurus gereja, ormas radikal membantu orang Kristen mengingat kembali suasana Natal yang mula-mula, suasana malam yang kelam dan penuh ironi. Seperti kita ketahui, kelahiran Yesus Kristus sang Raja adalah ancaman bagi penguasa dunia. Raja Herodes yang merasa terancam akan kehadiran Yesus saat itu memerintahkan agar anak-anak di bawah dua tahun se-Betlehem dibunuh. Suasananya dideskripsikan oleh Matius sebagai berikut, “Terdengar suara di Rama, tangis dan ratap yang amat sedih; Rahel menangisi anak-anaknya dan ia tidak mau dihibur, sebab mereka tidak ada lagi” (Mat. 2:18). Yusuf dan Maria yang mendapat peringatan dari malaikat Tuhan sampai harus menyingkir ke Mesir. Namun, di dalam situasi penuh teror seperti itulah, Anak Allah tetap berhasil hidup di dunia ini, dan berita tentang Dia pun tersebar ke seluruh dunia sampai hari ini. Penguasa dunia tidak dapat menghentikan pekerjaan Allah. Inilah suasana Natal: mencekam, tetapi tetap ada damai dan pemeliharaan Tuhan.

Indonesia akan menjadi saksi bahwa meskipun Injil berusaha ditindas, tidak ada yang dapat menghentikan kabar baik itu diberitakan. Yesus Sang Mesias telah lahir, dan Dia menjalani 33 tahun hidupnya di bumi, disalibkan, dibangkitkan, terangkat ke sorga, dan menjadi Raja Damai, yang akan memerintah seluruh dunia dengan kasih dan keadilan. Selamat Natal!

Erwan

Desember 2016

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲