Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Ada Apa Dengan Yunus?

Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia. (Yun. 4:1)

Marah itu hal yang wajar dan dapat terjadi kepada siapa pun. Namun sebenarnya tidaklah selalu demikian. Marah atas dasar apa dan marah kepada siapa tentunya efeknya berbeda. Satu ayat pendek tersebut di atas sudah menjelaskan banyak hal: Yunus marah kepada Tuhan. Hah! Manusia boleh marah kepada Tuhan? Tuhan salah apa? Ayat 2b menjelaskan “kesalahan” Tuhan di mata Yunus: “bahwa Engkaulah Allah yang pengasih dan penyayang, yang panjang sabar dan berlimpah kasih setia serta yang menyesal karena malapetaka yang hendak didatangkan-Nya.”

Biasanya orang marah kepada orang yang pembenci, yang tidak sabaran, dan yang tidak setia, atau yang mendatangkan malapetaka. Aneh bukan kalau seseorang marah dengan alasan- alasan yang terbalik dari semua hal tersebut? Apalagi marahnya kepada Tuhan pula, dan yang lebih mengherankan lagi, yang marah adalah seorang nabi, yang notabene harusnya lebih “rohani” atau lebih “beres” dibanding kebanyakan orang.

Ada apa dengan Yunus? Apa yang membuat hatinya kesal? Kata kesal sepertinya bukan terjemahan yang terlalu tepat menggambarkan keadaan sebenarnya dari Yunus. Dalam bahasa aslinya “ra’ah - evil” memberikan gambaran yang lebih tepat. Ternyata itu alasan sebenarnya: hati Yunus dipenuhi oleh “evil” kejahatan. Ironis bukan? Yunus marah karena Tuhan berbelas kasihan kepada orang-orang Niniwe karena mereka memang begitu jahat di mata Yunus, tidak pantas mendapatkan belas kasihan dari Tuhan, apalagi dari Yunus. Namun Yunus sendiri sekarang tidak lebih baik dari orang-orang jahat tersebut yang menganggap orang lain tidak layak hidup, dengan pemikiran bahwa “mereka tidak layak dikasihani, mereka layaknya mati!” 

Ironis keduanya adalah nabi aneh ini juga mendapatkan belas kasihan Tuhan yang seharusnya tidak layak ia terima, sama seperti orang-orang Niniwe telah dapatkan sebelumnya. Tetapi…. kalau kita mengerti kekejaman orang-orang Asyur itu, bukankah wajar jika Yunus marah? Namun kita tidak dipanggil untuk hidup wajar, kita dipanggil untuk mengikuti jalan seorang Nabi yang lebih besar dari Yunus yang berespons sangat tidak wajar. Ia mengalami segala kejahatan yang sangat tidak adil namun Ia bukan hanya tidak marah, Ia mengampuni dan mendoakan mereka. Kita sedang marah terhadap seseorang? Kita sedang diperlakukan tidak adil? Berhati-hatilah, jangan-jangan kita bukan sedang memperjuangkan keadilan, namun memperjuangkan balas dendam. Lihatlah kepada Kristus, Ia menanggung semua itu bagi kita, sehingga kita bisa belajar mengampuni seperti yang telah Ia lakukan.

Heruarto Salim

Juli 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲