Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Aksesibilitas Alkitab

Pada masa Helenistik dunia sedang dilanda oleh Yunanisasi yang berasal dari sisa-sisa kerajaan Makedonia Iskandar Agung yang telah terpecah menjadi beberapa kerajaan. Kerajaan-kerajaan tersebut pada dasarnya meneruskan visi Iskandar Agung untuk menyebarkan budaya Yunani ke seluruh penjuru dunia yang pernah ditaklukkan oleh Iskandar Agung. Alhasil, bahasa Yunani menjadi lingua franca di Mediterania dan sekitarnya, termasuk bagi bangsa Yahudi, terutama yang berada di perantauan (diaspora). Hal ini membuat generasi muda Yahudi lebih fasih berbahasa Yunani ketimbang bahasa ibu mereka, Ibrani. Ditambah dengan adanya keinginan Ptolemaios II Philadelphos, raja Dinasti Ptolemaik Mesir, untuk memasukkan Kitab Suci Yahudi ke Perpustakaan Aleksandria – menghasilkan apa yang dikenal sebagai Septuaginta, Perjanjian Lama berbahasa Yunani, pada abad ke-2 SM.

Fast forward ke abad pertama Masehi. Sekalipun dunia pada masa ini dikuasai oleh Kekaisaran Romawi, bahasa Yunani belum kehilangan perannya sebagai lingua franca dunia Mediterania. Tidak mengherankan jika kisah Yesus Kristus kemudian dituliskan dan disebarkan oleh pengikutnya dalam bahasa Yunani. Surat-surat para rasul pun ditulis dalam bahasa Yunani, terutama melalui Rasul Paulus, untuk menjangkau orang-orang non-Yahudi. Maka penginjilan beberapa dekade di awal kelahiran kekristenan menggunakan bahasa Yunani, bahasa yang umumnya dipahami orang pada zaman itu. Selang beberapa abad kemudian, Romawi pun dilanda oleh kekristenan, bahkan dijadikan agama sah Kekaisaran Romawi oleh Kaisar Theodosius I. Karena Romawi menggunakan bahasa Latin sebagai bahasa pengantar, maka Alkitab pun diterjemahkan ke dalam bahasa Latin. Masyarakat era Romawi pun bisa membaca dan mengerti firman Tuhan.

Mari kita melompat lagi beberapa abad menuju Abad Pertengahan. Keruntuhan Kekaisaran Romawi memberi kesempatan bagi berbagai kerajaan muncul di Eropa. Perlahan-lahan masing-masing komunitas mengembangkan bahasa masing-masing. Namun ironisnya, gereja tetap memaksakan diri untuk memakai bahasa Latin. Tidak heran, kalau sepanjang masa tersebut mereka yang bisa membaca dan mengerti frman Tuhan hanyalah segelintir petinggi gereja dan kaum bangsawan. Masyarakat umum hanya dapat mendengar dari mereka atau melihat kepada karya seni di dinding dan kaca gereja untuk mengetahui kisah-kisah Alkitab.

Sampailah kemudian di akhir Abad Pertengahan. Tuhan memunculkan berbagai tokoh-tokoh revolusioner seperti John Wycliffe dan Martin Luther yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa yang dipahami komunitas bangsa mereka. Di sinilah semangat kembali ke sumber, fondasi Reformasi, memberikan kesempatan bagi orang awam untuk membaca, memelajari dan merenungkan firman Tuhan secara pribadi. Satu kesempatan yang sejak awal dimiliki oleh gereja mula-mula, namun “hilang” di Abad Pertengahan!

Kini Alkitab sudah diterjemahkan dalam berbagai bahasa dan dialek serta dijual bebas di berbagai toko buku. Bahkan bisa diunduh tanpa biaya sebagai aplikasi di komputer maupun telepon selular. Tidak hanya itu, pemikiran dan tafsiran para tokoh gereja dari beberapa abad pun bisa diunduh dan dibaca dalam berbagai media. Apakah kemudahan mengakses Kitab Suci ini kemudian membuat setiap orang Kristen semakin setia membacanya?

Ada banyak ayat acuan yang mendorong bahkan memerintahkan kita untuk membaca firman Tuhan dengan setia. Lalu apakah kemudahan mengakses firman Tuhan semakin mendorong kita untuk itu atau ...? Kiranya Roh yang sudah mewahyukan Kitab Suci menjadi Roh yang menggerakkan hati kita untuk membaca, merenungkannya, dan menjadi pelaku firman (Yak. 1:22). Soli Deo Gloria.

Haryono Tafianoto

Juni 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di Bangka dan Belitung pada tanggal 25-28 Juni 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Memperdebatkan Yesus adalah Tuhan dan Yesus adalah Manusia ataupun Tritunggal Allah dengan orang yang belum menerima...

Selengkapnya...

Syalom, terdapat kesalahan penulisan ayat pd bagian penutup artikel yg berjudul "Jealous Love" di atas....

Selengkapnya...

Mungkin Mordekhai boleh disebut sebagai orang yang tunduk kepada hukum kerajaan, tetapi dia bukanlah orang yang...

Selengkapnya...

Hallo pak Stephen Tong, saya mau bertanya apakah kita percaya terlebih dahulu baru menerima roh kudus? Atau roh kudus...

Selengkapnya...

Salam. Terima kasih sebelumnya, saya sangat terberkati dengan pesan yang disampaikan. Namun alangkah baiknya definisi...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲