Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Anak Manusia Tersalib

Titik pusat kekristenan dan titik pusat kehidupan Kristus sewaktu di dunia adalah kematian- Nya di atas kayu salib dan kebangkitan-Nya, yang baru saja kita rayakan minggu lalu. Namun Yesus Kristus bukanlah satu-satunya manusia yang tersalib, ada ratusan bahkan mungkin ribuan orang Yahudi lainnya yang pernah disalibkan oleh prajurit Romawi. Tetapi apakah yang membuat Satu Orang yang tersalib ini dirayakan sepanjang masa di seluruh penjuru dunia? Karena Ia bukan sekadar manusia tersalib, Christ was the crucified God-man.

Kristus adalah Anak Allah yang tersalibkan demi menebus umat manusia. Namun bukankah di keempat Injil, kita membaca berulang-ulang kali Yesus merujuk kepada diri-Nya sebagai Anak Manusia dibandingkan sebagai Anak Allah? Gelar “Anak Manusia” muncul 86 kali di empat Injil, dan 79 kali diucapkan oleh Yesus merujuk kepada diri-Nya sendiri. Banyak yang menafsirkan bahwa Yesus lebih suka merujuk diri-Nya sebagai “Anak Manusia” karena Ia lebih ingin mengidentifikasikan diri-Nya dengan umat manusia yang ditebus-Nya.

Tetapi mari kita coba teliti cuplikan adegan pengadilan Yesus di hadapan Mahkamah Agama. Matius 26:63-66 mencatat, “Lalu kata Imam Besar itu kepada-Nya: "Demi Allah yang hidup, katakanlah kepada kami, apakah Engkau Mesias, Anak Allah, atau tidak." Jawab Yesus: "Engkau telah mengatakannya. Akan tetapi, Aku berkata kepadamu, mulai sekarang kamu akan melihat Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa dan datang di atas awan-awan di langit." Maka Imam Besar itu mengoyakkan pakaiannya dan berkata: "Ia menghujat Allah. Untuk apa kita perlu saksi lagi? Sekarang telah kamu dengar hujat-Nya. Bagaimana pendapat kamu?" Mereka menjawab dan berkata: "Ia harus dihukum mati!”

Yesus ditanya apakah Dia “Anak Allah” tetapi Yesus menjawab “Anak Manusia”. Reaksi Imam Besar adalah langsung mengoyakkan pakaian dan keputusan akhir adalah Yesus harus dihukum mati karena menghujat Allah. Mengapa jawaban “Anak Manusia” dari Tuhan Yesus menimbulkan respons yang begitu drastis?

Karena Imam Besar yang mengerti Perjanjian Lama mengetahui rujukan “Anak Manusia” merujuk kepada Daniel 7:13-15 sebagai Mesias yang Ilahi. Jadi, julukan “Anak Manusia” sebenarnya lebih tepat menunjukkan sisi ke-ilahi-an Yesus dibandingkan sisi kemanusiaan- Nya. Kristus “Anak Manusia” yang ilahi itulah yang disalibkan, bukan sekadar seorang manusia Yahudi yang terdakwa.

Ada ribuan manusia tersalib, namun hanya satu “Anak Manusia” yang tersalib. Jadi, tidak mengherankan di antara ribuan manusia tersalib, sejarah hanya mencatat penyembahan ditujukan kepada Kristus yang tersalib.

Heruarto Salim

April 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Akhirnya, kita harus sadar, semakin kita mencoba untuk menarik semuanya untuk diri kita, maka kita akan semakin...

Selengkapnya...

SHALOM, PAK TONG TERIMA KASIH SEKALI, SAYA SANGAT DIBERKATI SEKALI DENGAN PENGAJARANPAK TONG INI, KAPAN YA PAK TONG...

Selengkapnya...

Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲