Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Arti Lain dari Tidak Ketinggalan Zaman

Siapa yang langsung senang jika dibilang kuno? Banyak orang, terutama para remaja dan pemuda, takut dikatakan ketinggalan zaman. Karena itu, tidak sedikit uang yang dikeluarkan demi terlihat update, baik untuk busana, model rambut, gadget, dan lain-lain. Label “kuno” membawa keminderan tersendiri bagi orangnya. Karena ada kepercayaan bahwa sejarah ini sedang maju (progress), apa yang di depan pasti lebih baik daripada yang di belakang. Kuno berarti ketinggalan, terbelakang, dan oleh sebab itu aneh dari zamannya.

Mari kita mengambil sedikit waktu untuk mengevaluasi sikap kita di atas terhadap kata “kuno” dan “ketinggalan zaman”. Pertama-tama, harus diakui mengikuti perkembangan zaman adalah hal yang perlu bagi setiap orang. Itu menunjukkan kepedulian terhadap pergerakan sejarah dan kejadian di sekeliling kita. Orang yang tidak mengikuti perkembangan zaman adalah orang yang tidak mau tahu apa yang sedang terjadi dan sejarah mau mengarah ke mana. Sebagai individu yang Tuhan tempatkan dalam satu zaman, kita bertanggung-jawab untuk mengenal zaman kita, dan terlibat aktif di dalamnya.

Namun, apakah tidak ada arti lain dari “tidak ketinggalan zaman” selain dari arti positif di atas? Jika kita mengamati kecenderungan masyarakat sekarang, kelihatannya yang dihidupi oleh mereka adalah makna yang lain. “Tidak ketinggalan zaman” bukan mempelajari zaman dan melakukan kehendak Allah di dalamnya. “Tidak ketinggalan zaman” menjadi bermakna “melebur dengan perubahan zaman”. Orang berlomba-lomba membuka diri untuk dipengaruhi oleh zaman. Masyarakat meminta-minta kepada zaman, “Pengaruhilah saya! Pengaruhilah saya!” Orang yang tidak dipengaruhi oleh zaman dianggap aneh, lucu, dan patut ditertawakan. Tanpa sadar, kita sudah menjadi hamba zaman.

Meskipun tidak ada orang yang dapat terhindar dari pengaruh zaman, orang yang menjalani makna pertama di atas dapat memilih untuk membuka diri kepada pengaruh zaman yang mana. Ini karena dia sadar bahwa dia adalah hamba Allah, bukan hamba zaman.

Apakah Anda orang yang mengikuti perkembangan zaman? Dalam arti yang mana Anda tidak ketinggalan zaman?

Erwan

November 2011

1 tanggapan.

1. Petrus M dari Sanggau berkata pada 29 November 2011:

Kalimat "Tidak ketinggalan zaman" bukan saja digandrungi oleh kelompok remaja namun sdh mewabah bak kebutuhan hidup yang begitu substansi dan krusial bagi mayoritas orang. Hal tersebut tidak semata-mata karena takut dilabeling sbg yang kuno, namun harus dilihat sebagai ekses dari natur asli manusia yang mendominasi sebelum mengalami perjumpaan dengan Kristus. Realita tersebut sesungguhnya memaksa setiap Kristen sejati untuk menentukan respons yang bertanggung jawab dan koheren dengan prinsip kebenaran supaya tidak menghambakan diri kepada zaman yang pula akan binasa. Soli DEO gloria.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk pimpinan dan penyertaan Tuhan sehingga izin pendirian dan pelaksanaan Calvin Institute of Technology telah diberikan oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi pada tanggal 18 Oktober 2018.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Akhirnya, kita harus sadar, semakin kita mencoba untuk menarik semuanya untuk diri kita, maka kita akan semakin...

Selengkapnya...

SHALOM, PAK TONG TERIMA KASIH SEKALI, SAYA SANGAT DIBERKATI SEKALI DENGAN PENGAJARANPAK TONG INI, KAPAN YA PAK TONG...

Selengkapnya...

Kisah yang membaharui pikiran saya. Perbandingan dua orang ini dan karakternya menyadarkan untuk lebih tunduk pada...

Selengkapnya...

Puji Tuhan, harapan saya terkabul, bisa mendengar secara langsung khotbah pendeta Dr. Sthepen Tong dan foto bersama...

Selengkapnya...

Mohon penjelasannya terkait "Etika hidup kita ditentukan oleh kebenaran Allah, bukan oleh diri kita...

Selengkapnya...

© 2010, 2018 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲