Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Bagi Saya, Natal Itu ...

Saat memasuki bulan Desember tahun ini, saya mendengar di radio sebuah iklan dari salah satu supermarket. Iklannya kira-kira seperti ini. Saya tidak merekamnya sehingga saya hanya dapat merekonstruksi berdasarkan ingatan saya seadanya. Suara anak kecil: “Bagi saya, Natal itu liburan.” Ibu-ibu: “Natal itu saat untuk beres-beres rumah.” Kakek: “Natal itu waktunya ketemu cucu-cucu. Saya punya 12.” Anak kecil: “Natal itu ... dapat hadiah, tetapi bukan ulang tahun.” Pemuda: “Natal itu saatnya ngenalin pacar.” Bapak: “Natal itu kumpul keluarga.” Pemudi: “Natal itu ke gereja dan makan-makan.” “Apapun gayamu, rayakan Natal hanya dengan (nama supermarket) ... dapatkan voucher ... jika belanja dengan kartu ....” Mungkin Anda juga sering mendengarkan iklan tersebut di radio, entah saat Anda menempuh perjalanan dengan mobil atau di rumah. Apa perasaan Anda sebagai orang Kristen?

Bulan-bulan “religius” di Indonesia biasanya dimanfaatkan oleh pelaku ekonomi untuk meningkatkan penjualan mereka dengan bungkusan bahasa religius. Tidak heran misalnya, pada saat bulan Ramadhan dan hari raya Idul Fitri, banyak iklan pun disiarkan dengan nuansa Islam. Natal pun tidak terkecuali. Namun, jika kita bandingkan iklan-iklan pada masa-masa hari raya kedua agama di atas, kita akan melihat perbedaan yang cukup mencolok. Dalam iklan-iklan bernuansa Islam, misalnya, kita dapat menemukan kata-kata seperti “menyambut hari kemenangan”, “bersedekah”, “bulan yang suci”, dan lain-lain, yang setidaknya mengungkapkan sedikit isi ajaran agama tersebut. Hal seperti ini tidak kita temukan pada iklan-iklan di masa-masa Natal. Ambillah iklan di atas sebagai contoh. Apa yang dikatakan oleh anak kecil, kakek, bapak, ibu, pemuda, dan pemudi di atas tentang makna Natal bagi hidup mereka? Apakah itu isi ajaran Kristen?

Setidaknya ada dua hal yang dapat menjadi kesimpulan kita. Pertama, jika suara-suara di atas mewakili suara orang Kristen di Indonesia, kita harus menangisi kedangkalan iman orang Kristen di Indonesia. Apa yang mereka katakan sama sekali tidak ada kaitannya dengan esensi Natal. Semua yang mereka katakan dapat saja terjadi di hari Idul Fitri, Imlek, dan perayaan hari raya agama lainnya. Kedua, jika esensi Natal dimasukkan ke dalam iklan, produsen tidak akan mau karena bagaimana mungkin memanfaatkan berita tentang Yesus Kristus lahir berinkarnasi untuk menyelamatkan orang berdosa untuk mengajak orang berbelanja di supermarketnya dengan kartu kredit bank tertentu dan dengan iming-iming voucher belanja? Pesan dan makna Natal yang sejati tidak dapat dipasangkan dengan iklan produk. Kebenaran itu tidak dapat dimanfaatkan. Hanya makna palsu Natal yang dapat dijual.

Jika suara Anda menjadi salah satu suara dalam iklan di atas, apa yang akan Anda katakan tentang Natal?

Erwan

Desember 2013

1 tanggapan.

1. Jakoba Widjaja dari Jakarta Barat berkata pada 19 December 2013:

Banyak cara orang merayakan Natal.Di negara Eropah dan Amerika Natal identik dgn pohon natal,kado bahkan juga dirayakan dgn pesta bersama kerabat. Waktu saya kecil keluarga kami juga melakukan hal yg sama. Saya pikir tdk ada salahnya juga,selama kita mengerti makna sesungguhnya dr Natal. Tanggapan saya natal atau yg kita kenal dgn hari kelahiran Yesus Kristus merupakan awal dari karya keselamatan manusia yg sdh dipersiapkan Allah sedemikian sempurnanya.

Setelah Adam pertama jatuh dalam dosa,dampaknya sangat besar bagi seluruh manusia di dunia ini(Rm 5:12) shg tdk ada harapan bagi manusia selain ke neraka.Inilah takdir yg tdk bisa dihindari oleh manusia,krna upah dosa adalah maut.

Namun Allah yg penuh dgn belas kasih tdk ingin manusia yg diciptakan menurut gambar dan rupa-nya itu binasa. Dan karena tdk ada satu manusiapun bisa menyelamatkan dirinya sendiri,maka inisiatif dtg dr Allah utk menyelamatkan manusia.

Sebelum Yesus lahir di dunia Allah memberi Hukum Taurat kpd bangsa Yahudi yg adalah keturunan Abraham. Meski pada zaman itu ada bangsa2 besar lainnya spt Mesir,Babylonia dll.Allah hanya mempercayakan Hukum Taurat kpd bgs Yahudi melalui Musa di gunung Sinai.

Celakanya karena masalah kedagingan,tdk seorangpun yg dapat menataati hukum Taurat. Jd bagaimana ? Apakah tdk ada jalan lain? Syukur kpd Allah krna mengutus Anak-nya yg dtg dalam daging utk mentaati seluruh Hukum Taurat bagi manusia(Rm 8:3-4)

Inilah rencana keselamatan yg sdh ditencanakan Allah jauh sebelum Yesus lahir di dunia.Setelah genap waktunya maka Firman yg bersama-sama dgn Allah pada mulanya lahir dari seorang perempuan.DIA lah Yesus yg dpt menggenapi seluruh Hukum Taurat utk manusia(Gal 4:4). DIA adalah Allah sekaligus manusia. Kalau DIA bukan Allah DIA tdk dpt menghapuskan dosa. Jika DIA bukan manusia,DIA tdk bisa mati dgn mencurahkan darah di Kalvari utk menebus dosa kita. Demikian dia disebut manusia Yesus Kristus(1Tim2;5)

Maka pada waktu Natal hal yg tdk boleh kita lupakan adalah makna sesungguhnya dari kelahiran Yesus adalah bhw saat itu adalah awal dr karya keselamatan Allah yg berakhir di Kalvari utk menyelamatkan umat manusia(Yoh19:30) Dan berbahagialah kita yg percaya akan hal ini karena itulah yg disebut dgn kasih karunia yg tdk semua org di dunia memperolehnya.

Demikian tanggapan saya.Selamat menyambut hari Natal dan Tahun Baru 2014.Kiranya damai sejahtera dari Tuhan Yesus Kristus menyertai kita semua.Amin.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲