Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Baju Kebesaran

Tahukah Anda apa “Baju Kebesaran” Presiden Joko Widodo? Kemeja putih lengan panjang yang digulung. Itulah baju yang dikenakan untuk patung lilin Presiden Jokowi di Museum Madame Tussauds (Hongkong). Baju putih adalah ciri khas presiden kita yang sederhana, pro rakyat and anti korupsi. Namun demikian, baju di museum tadi akan diganti secara berkala misalnya dengan batik Solo, Yogyakarta, Bandung, Madura, dan sebagainya sebagai sarana promosi Indonesia.

Di dalam kitab Perjanjian Lama, ada cerita tentang Yusuf yang diberikan pakaian dari kain halus oleh Firaun; tentang Ester yang diberikan pakaian ratu; tentang Mordekhai yang diberi pakaian kerajaan, bahkan yang biasa dipakai oleh raja sendiri. Lalu di dalam kitab Perjanjian Baru, ada perumpamaan tentang orang-orang jalanan yang diberikan pakaian pesta; ada penglihatan tentang pengantin Anak Domba yang dikaruniakan kain lenan halus yang berkilau-kilauan dan yang putih bersih. Itulah “Baju Kebesaran” yang diberikan kepada orang-orang yang kepadanya Tuhan berkenan.

Kitab Kolose 3:9-10 mengatakan “kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya”. Gambarannya seperti kita melepaskan baju yang lama, yang kotor, yang hina, dan memakai baju yang baru, yang bersih, yang mulia. Kita semua harus melepaskan semua jalan dan kebiasaan lama yang jahat (percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat, keserakahan, marah, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor, dusta) dan hidup sesuai dengan jalan Kerajaan Kristus yang mulia (belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran, mengampuni, tidak mendendam, kasih, damai sejahtera, bersyukur) (Kol. 3:5-15).

Jangan mau ditipu oleh si Iblis, hai orang percaya yang sudah ditebus oleh darah-Nya yang kudus! Jangan lepaskan “Baju Kebesaran”-mu dan kembali mengenakan pakaian lamamu. Jangan sampai di “Perjamuan Kawin” nanti, engkau kedapatan tidak mengenakan pakaian pesta yang sudah disediakan bagimu. Jangan sampai engkau berada di kegelapan yang paling gelap, dengan ratapan dan kertak gigi (Mat. 22:13). Kenakanlah manusia barumu, yang terus- menerus diperbarui, sampai engkau dikaruniakan jubah putih yang berkilau-kilauan itu.

Yana Valentina

Maret 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

Terima kasih telah diingatkan bagaimana kasih Tuhan kepada kita, melalui reformasi yang dimotori Martin Luter dengan...

Selengkapnya...

Mohon maaf : Luther memanggil Copernicus sebagai “keledai/ orang bodoh yang mencari perhatian”, lengkapnya...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲