Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Bapa Kami yang di Sorga (Bag. II)

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga...” (Mat. 6:9a)

Pernahkah Anda berpikir kenapa Yesus mengajarkan doa tersebut dengan “Bapa kami yang di sorga....”, bukan “Bapa aku yang di sorga...”, mengapa harus memakai kata ganti “kami”? Bukankah di Matius pasal 6 ini, kita diminta masuk ke kamar dan menutup pintu?

Doa Bapa Kami bukan hanya mengajar kita untuk memanggil Allah sebagai Bapa, tetapi juga menjadi satu bagian dari sebuah keluarga. Kita diberikan sebuah identitas, diadopsi sebagai anak-anak Allah ketika memanggil Allah sebagai Bapa. Dan ketika kita diadopsi menjadi anak-anak- Nya, kita semua menjadi saudara seiman, sebuah keluarga di dalam Kristus, yaitu anak-anak Allah (Gal. 3:26).

Apa artinya menjadi sebuah keluarga? Di dalam sebuah keluarga, seorang anak memiliki kedekatan dengan anggota keluarga lainnya. Ia mengasihi saudara-saudaranya dan orang tuanya. Bahkan lebih lagi, ia dikelilingi oleh orang-orang yang mengasihinya dan yang bisa diandalkan olehnya. Kalau bukan dengan saudara sendiri, siapa yang akan kita cari untuk menemukan sebuah komunitas penuh kasih?

Itulah gereja. Sebuah perkumpulan orang-orang percaya, yang bersama-sama memanggil Allah sebagai Bapa, dan bersama-sama di dalam Kristus untuk menyatakan kasih-Nya bagi saudara seiman. Inilah keindahan dari sebuah komunitas orang percaya. Memperhatikan kebutuhan setiap anggota keluarga, saling mendorong, saling berbagi, saling mendoakan, dan bersama-sama bertumbuh makin dekat dengan Bapa di dalam Kristus. Intinya, seperti Kristus yang telah mengasihi kita, bahkan menjadikan kita anak-anak Allah, kita juga menunjukkan kasih yang sama kepada saudara seiman kita.

Maka, ketika kita mengucapkan kalimat pertama dari Doa Bapa Kami, seharusnya doa ini mengingatkan kepada kita, siapa saudara-saudara kita, dan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai saudara bagi mereka yang juga memanggil Bapa. Sudahkah kita menjadi anggota keluarga yang menunjukkan kasih kepada saudara-saudara seiman kita? Soli Deo Gloria.

Haryono Tafianoto

Juli 2017

1 tanggapan.

1. marsius silalahi dari Kota madya pagar alam berkata pada 21 July 2017:

Terimakasih pejelasannya, baru ini saya tau makna bapak kami.selama ini hanya diucapkan saja sebagai doa hapalan.

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk Kebaktian Pembaruan Iman Nasional II bertemakan “Bertobatlah! Dan Hidup Suci” yang telah diadakan di Bangka dan Belitung pada tanggal 25-28 Juni 2019.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Syalom, terdapat kesalahan penulisan ayat pd bagian penutup artikel yg berjudul "Jealous Love" di atas....

Selengkapnya...

Mungkin Mordekhai boleh disebut sebagai orang yang tunduk kepada hukum kerajaan, tetapi dia bukanlah orang yang...

Selengkapnya...

Hallo pak Stephen Tong, saya mau bertanya apakah kita percaya terlebih dahulu baru menerima roh kudus? Atau roh kudus...

Selengkapnya...

Salam. Terima kasih sebelumnya, saya sangat terberkati dengan pesan yang disampaikan. Namun alangkah baiknya definisi...

Selengkapnya...

Sangat memberkati. Mohon berbagi renungan harian nya. Terima kasih banyak Tuhan Yesus memberkati

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲