Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Bapa Kami yang di Sorga (Bag. III)

“Karena itu berdoalah demikian: Bapa kami yang di sorga...” (Mat. 6:9a)

Biasanya kita mengajukan permohonan kepada orang atau institusi yang kita anggap memiliki wewenang untuk mewujudkan hal itu. Seorang anak akan mengajukan permintaan kepada orang tuanya, siswa kepada guru, bawahan kepada atasannya, warga kepada pemerintahnya, dan seterusnya. Apakah hal itu kemudian ditanggapi atau dipenuhi, itu adalah urusan yang berbeda.

Pernahkah kita memikirkan dengan serius kepada siapa sebetulnya kita mengajukan petisi dalam doa kita? Dalam doa yang diajarkan Tuhan Yesus, kita memanggil Allah yang bertakhta di sorga, Sang Pencipta yang Maha-berdaulat, sebagai Bapa. Ia adalahTuhan yang memiliki kuasa melampaui para raja, pemerintah, dan penguasa. Dengan kuasa-Nya yang begitu besar, apa yang tidak mungkin bagi Dia? “Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Luk. 1:37).

Kenyataannya kita tetap saja sulit percaya bahwa Allah Bapa mampu dan mau melakukan apa pun untuk kita. Bukankah kita lebih sering bergantung kepada diri dan apa yang ada di dunia ini ketimbang kepada Dia yang ada di sorga? Sebagai anak-Nya, kita memanggilnya- Nya Bapa. Namun kita tidak memiliki iman seperti seorang anak kecil yang yakin dan percaya kepada ayahnya. Pada akhirnya kita berkelit dan bersembunyi di balik pragmatisme dengan mengatakan bahwa kita hanya mau “realistis” di dalam ketidakberdayaan kita. Padahal seharusnya kesadaran bahwa Ia adalah Allah yang bertakhta di sorga menjadi dasar bagi pengharapan kita akan kuasa dan campur tangan-Nya.

Tentu saja dasar pengharapan ini tidak bisa dilepaskan dari konteks selanjutnya, “dikuduskanlah nama-Mu.” Jika kita mengakui Dia sebagai Bapa yang di sorga, sepantasnya apa yang kita minta adalah hal yang seturut dengan kesucian-Nya.

Jadi apakah kita sungguh-sungguh percaya Ia adalah Bapa yang ada di sorga? Yakinkah kita bahwa Ia adalah Allah yang berkuasa yang mampu melakukan apa pun di dalam ketetapan- Nya? Kenyataan itu harusnya mendorong kita untuk makin suka berdoa. Soli Deo Gloria.

Haryono Tafianoto

Agustus 2017

3 tanggapan.

1. Jerry Kojansow dari Manado berkata pada 28 August 2017:

mohon penjelasan untuk kalimat ".....apa yang kita minta adalah hal yang seturut dengan kesucian-Nya." Lebih khusus lagi 'seturut dengan kesucian-Nya'. Terima kasih, Tuhan Yesus memberkati.

Salam, Jerry

2. Marcel Lantera dari Palangka Raya berkata pada 28 August 2017:

Meminta menurut kesucianNya, ini artinya bahwa kita harus meminta bukan dengan motivasi berdosa, berpusat pada diri, dan hanya mencari keuntungan diri kalau di Yakobus 4:3 ini bisa disebut berdoa untuk memuaskan hawa nafsu (ambisi, keserakahan,egoisme).

dan penting bagi kita untuk memahami "seturut dengan KesucianNya", menjelaskan kepada kita bahwa ketika kita menghadap Allah yang Kudus di dalam doa, kita pun harus menjaga agar hidup kita juga Kudus di hadapanNya dan menjauhi segala perbuatan dosa (I Petrus 1:16) sebab apabila tidak, doa kita tidak akan diterima oleh dia (Yesaya 59:1-2)

Maka dalam berdoa haruslah Allah yang menjadi pusat, dan doa merupakan alat bagi kita untuk mengenal Dia dan KehendakNya dan meminta bahwa sekiranya Segala kehendakNya dan JanjiNya dapat terwujud didalam hidup kita. bukan sebaliknya, berdoa untuk menjadikan Allah sebagai alat untuk meminta segala keinginan-keinginan untuk memuaskan diri. Hendaklah kita seperti Yesus berdoa " bukan KehendakKu, melainkan KehendakMu yang terjadi". amin

3. Jerry Kojansow dari Manado berkata pada 29 August 2017:

Terima kasih untuk penjelasannya, Tuhan Yesus memberkati....Shalom

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Berdoa untuk Konvensi Nasional 500 Tahun Reformasi dengan tema “Reformasi dan Dinamika Sejarah” yang diadakan di 17 kota di seluruh Indonesia.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Amatir Bicara: Kadang-kadang Allah memakai Iblis untuk mencapai maksud-maksud ilahi-Nya dengan mengizinkan Iblis...

Selengkapnya...

Inilah seharusnya y dimiliki setiap orang percaya, bukan menjadi suatu komunitas "VIV". Karena sering yg...

Selengkapnya...

Cardinal Newman famously said, “To be deep in history is to cease to be a Protestant.”

Selengkapnya...

www.biblearchaeology.org/post/2008/11/08/The-Manger-and-the-Inn.aspx Artikel ilmiah dalam jurnal ini menjelaskan...

Selengkapnya...

Terimakasih. Saya merasa sangat diberkati, diperingatkan juga dikuatkan dengan penyajian kisah reformasi dan...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲