Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Bertheologi di Bawah Panas Terik

Entah itu kisah nyata atau fiktif, Tim Lane dan Paul Tripp telah memberikan ilustrasi yang sangat baik tentang kegiatan bertheologi. Dikisahkan di dalam bukunya Bagaimana Orang Berubah, bahwa ada seorang pemuda yang sangat percaya diri dan mengalami kesuksesan di dalam kariernya, siap untuk menyongsong masa depan yang cerah. Suatu hari, pemuda tersebut dipanggil oleh bosnya. Dia mengira bahwa pembicaraan di kantor bosnya adalah tentang masa depannya yang lebih baik di perusahaan tersebut. Namun, yang terjadi adalah dia dipecat karena telah melakukan kesalahan fatal yang terjadi di luar perhitungannya. Dunia pemuda tersebut runtuh, termasuk pandangannya tentang kehidupan. Dalam metafora para penulis, pemuda tersebut sedang berada di bawah panas terik.

Lane dan Tripp kemudian mengatakan hal yang sangat benar, “Sangat sedikit orang yang bangun di pagi hari dan memutuskan untuk mengubah theologi mereka. Perubahan di dalam sistem kepercayaan seseorang jarang terjadi dengan kesadaran diri seperti itu.”1 Seseorang sering kali berubah ketika mengalami panas terik, penderitaan, dan kesakitan. Kondisi-kondisi seperti itulah, bukan teori, yang sering kali mengubah orang.

Hal yang dapat kita refleksikan dari ilustrasi Lane dan Tripp di atas adalah bahwa kita sering merevisi atau membangun ulang theologi kita di bawah panas terik. Tidak jarang ada jurang yang sangat besar antara theologi yang dipelajari di dalam perpustakaan ber-AC dengan theologi yang dikonstruksi di bawah panas terik, dan yang jenis kedualah yang kita hidupi karena dibangun dengan darah dan daging, bukan dengan konsep yang abstrak. Ambillah pemuda di atas sebagai contoh. Dia bisa saja telah mengambil kelas theologi yang membahas atribut Allah di ruang kelas yang sejuk, bahwa Allah itu baik dan penuh kasih. Namun, theologi yang dia pelajari di dunia nyata yang keraslah yang dia percayai dengan sepenuh hatinya: Apakah Allah sungguh baik dan penuh kasih?

Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa theologi yang disusun dari hasil pembacaan dan penggalian firman Tuhan yang bertanggung jawab itu tidak penting untuk dipelajari. Itu sangat penting. Namun, theologi harus terinkarnasi dan dihidupi di dalam kehidupan sehari- hari, dan theologi yang mendarah daging itu adalah theologi yang terbentuk di dalam kondisi nyata. Tugas kita adalah mengalibrasi theologi di bawah panas terik dengan Kitab Suci, dengan bantuan theologi teoretis sebagai instrumen.

Bagaimana sistem kepercayaan kita tentang Allah, manusia, dan dunia terbentuk di masa-masa paling kelam? Kiranya Roh Kudus memimpin kita terus di dalam pemahaman dan pengenalan kita kepada Allah di bawah panas terik.

1. Tim Lane dan Paul Tripp (2013). Bagaimana Orang Berubah? Surabaya: Penerbit Momentum. hal. 131-132.

Erwan

Juli 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

Berdoa untuk Gerakan Reformed Injili dalam menjalankan mandat Injil melalui pemberitaan Injil baik secara pribadi, berkelompok, maupun massal.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Menurut saya artikel yg membingungkan...terakhir dinyatakan iman dan perbuatan baik tidak dapat dipisahkan.....awal...

Selengkapnya...

Awalnya saya bingung, saya sedang berlatih agar bisa menjadi seorang atlet tinju profesional.. Namun bagaimanakah...

Selengkapnya...

Contoh lain bhw di dlm Alkitab terdapat konsep seseorang dpt memperoleh pengurangan atau pembebasan hukuman sbg...

Selengkapnya...

Akan tetapi, seseorang tidak perlu bergantung pada dirinya saja untuk melunasi utang tersebut. Kekristenan pada zaman...

Selengkapnya...

Gereja Roma Katolik pada zaman itu memercayai dua hal yang fundamental berkaitan hal ini. Pertama, bahwa manusia...

Selengkapnya...

© 2010, 2017 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲