Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Buluh yang Patah Terkulai

Injil Matius sering sekali mengutip nubuatan atau janji di Perjanjian Lama untuk menunjukkan bahwa Kristuslah penggenapan atas nubuatan atau janji tersebut. Salah satunya tertera di pasal 12:18-21, di mana Matius mengutip suatu bagian nubuatan tentang Kristus sebagai hamba Allah yang dijanjikan,

Lihatlah, itu Hamba-Ku yang Kupilih, yang Kukasihi, yang kepada-Nya jiwa-Ku berkenan; Aku akan menaruh roh-Ku ke atas-Nya, dan Ia akan memaklumkan hukum kepada bangsa-bangsa. Ia tidak akan berbantah dan tidak akan berteriak dan orang tidak akan mendengar suara-Nya di jalan-jalan. Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskan-Nya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkan-Nya, sampai Ia menjadikan hukum itu menang. Dan pada- Nyalah bangsa-bangsa akan berharap.

Dua ayat pertama adalah tentang Allah dan Sang Hamba Allah tersebut, lalu dua ayat terakhir adalah tentang Sang Hamba Allah dan kita manusia. Menarik sekali karena nubuatan tersebut menggambarkan kita dengan memakai dua gambaran: buluh yang terkulai dan sumbu yang pudar. Artikel singkat ini hanya akan membahas sedikit tentang keadaan kita sebagai buluh yang terkulai.

Buluh adalah sejenis tumbuhan seperti alang-alang yang tumbuh liar yang sangat umum di sepanjang tepi sungai di Israel. Seseorang dapat menemukan ribuan bahkan puluhan ribu alang-alang. Buluh yang patah sangat lumrah untuk dibuang karena selain tidak berharga sama sekali, sekaligus menjadi tidak berguna sama sekali.

Inilah keadaan kita! Manusia sekarang menempatkan kepentingannya berdasarkan jabatan di perusahaan, besarnya jumlah tabungan di bank, ranking dan pencapaian-pencapaian, gelar- gelar yang panjang setelah nama belakang, pangkat dalam pemerintahan, dan sebagainya. Namun di mata Tuhan semua manusia hanyalah buluh yang patah terkulai yang tidak berharga dan tidak berguna. Interpretasi ini mengembalikan manusia yang berpikir dirinya hebat untuk kembali sadar betapa remehnya dia.

Namun untunglah Alkitab tidak berhenti di situ, karena bagian berikutnya sama pentingnya, buluh yang patah terkulai itu tidak akan dipatahkannya. Ketika Allah rela “repot-repot” membenahi buluh yang patah terkulai, dibanding langsung membuangnya… itu bukan menunjukkan buluh itu begitu berharga seperti vas bunga langka yang pecah harus ditempel- tempel kembali, namun justru menunjukkan betapa agungnya pribadi Tuhan kita.

Gambaran ini sejalan dengan yang Alkitab nyatakan tentang manusia: remeh bagai debu, tapi juga sekaligus mulia sebagai gambar dan rupa Allah. Di tengah dunia yang begitu mengagungkan “self”, kita diingatkan betapa lemah dan remehnya kita, sehingga kita mengalihkan pandangan kita dari diri kita kepada Dia yang begitu mengasihi kita.

Heruarto Salim

Mei 2014

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Bersyukur untuk rangkaian KKR yang dipimpin oleh Pdt. Dr. Stephen Tong di Malaysia yaitu Johor Bahru dan Muar pada tanggal 18-22 November 2019. Berdoa kiranya Roh Kudus memelihara iman dari setiap orang yang telah mendengarkan Injil dan merespons terhadap panggilan untuk menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat melalui rangkaian KKR ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Terima kasih karena tulisan ini menguatkan dan meneguhkan kembali hati yang telah bertobat. Pertobatan sejati berarti...

Selengkapnya...

Tulisan Pak Erwan ini sangat inspiratif bagi diri saya bahwa sebagai pengkikut Yesus Kristus ada amanat agung yang...

Selengkapnya...

Saya mau beli buku ini, bgm caranya?

Selengkapnya...

Saya berjemaat di salah satu gereja kharismatik terbesar di Indonesia selama +/- 26 tahun, dan sejak 2016 saya...

Selengkapnya...

Artikelnya menarik karena disertai dengan fakta sejarahnya. Artikelnya menunjukkan pentingnya Canons of Dort tetapi...

Selengkapnya...

© 2010, 2020 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲