Renungan Mingguan Khusus Pillar Online

Datanglah Kerajaan-Mu

“Datanglah Kerajaan-Mu” – Matius 6:10a

Istilah “kerajaan” sering kali memberikan kita sebuah gambaran fisik yang mencakup istana, raja, singgasana, dan kekuasaan. Tidaklah mengherankan jika pada masa Tuhan Yesus pun, orang-orang Yahudi juga memiliki gambaran Mesias yang datang sebagai raja secara politik. Harapannya adalah mereka akan dilepaskan dari belenggu penjajahan Kekaisaran Romawi yang berkuasa saat itu.

Pikiran mereka tidak bisa lebih jauh lagi dari realitas. Mereka tidak menemukan kerajaan secara fisik dengan segala kemegahan Versailles-nya Louise XIV atau istananya Darius di Susa. Tentu saja juga tidak ada pemimpin yang gemerlapan seperti raja-raja hebat Abad Pertengahan. Apalagi pasukan-pasukan militer yang berkilau laksana ksatria berbaju zirah.

Tentu saja makna kerajaan dalam Doa Bapa Kami, dan juga khotbah Tuhan Yesus di Markus 1:15, sangatlah berbeda dari apa yang orang-orang Yahudi pikirkan pada saat itu. Allah bertakhta atas manusia dan segala ciptaan, dan itu yang dimohonkan oleh kalimat tersebut. Bukan karena Ia belum berkuasa, tetapi justru mengembalikan kepada yang seharusnya.

Manusia dengan naturnya yang telah berdosa, berusaha merebut kekuasaan Allah. Tidak lagi mengakui Allah berkuasa atas hidupnya, manusia duduk di singgasana hidupnya. Manusia berpikir mereka telah menyingkirkan Allah dan berkuasa atas dirinya untuk menentukan sendiri hidupnya. Dan itulah yang sering kali kita lakukan di dalam hidup kita. Kita maunya mengatur hidup kita sendiri, dan melakukan apa yang kita ingin lakukan. Bukannya percaya pada kedaulatan dan pemeliharaan-Nya, kita kemudian memikirkan langkah-langkah hidup yang sebetulnya menggantungkan pengharapan pada diri kita sendiri, atau apa yang kita miliki. Memilih pekerjaan atau jurusan kuliah pun, kita lebih banyak memikirkan apa yang bisa banyak menghasilkan uang, bukan apa yang Allah ingin kita kerjakan.

Permohonan ini mengembalikan kepada apa yang seharusnya. “Datanglah kerajaan-Mu”, artinya kita mengundang Allah untuk bertakhta dalam hidup kita. Ia, sebagai Allah yang berdaulat atas hidup kita, Ia yang mengatur agar hidup kita tidak jatuh lebih jauh dalam kekacauan. Ketika Ia berdaulat, maka kita tidak memegang kendali dan mengikuti-Nya sebagai Nahkoda kapal kehidupan, bukan hanya hal-hal tertentu, tapi setiap aspek hidup kita.

Jadi, ketika mendoakan hal ini, apakah kita sungguh-sungguh akan mengakui kedaulatan-Nya, tunduk kepada otoritas-Nya, dan berserah penuh pada pimpinan-Nya? Soli Deo Gloria.

Haryono Tafianoto

Oktober 2017

Silakan memberikan tanggapan, saran ataupun komentar di bawah.
Redaksi menerima komentar terkait artikel yang ditayangkan. Isi komentar menjadi tanggung jawab pengirim. Redaksi berhak untuk tidak menampilkan ataupun mencabut komentar jika dianggap tidak etis, kasar, berisi fitnah ataupun berisi kebencian.

Pastikan alamat email anda ditulis dengan benar,
karena anda harus mengkonfirmasi tanggapan anda melalui email.
Cari
App Android
Kini tersedia aplikasi untuk ponsel atau tablet Android Anda!
Android App di Google Play
Berlangganan Pillar
Dapatkan Pillar edisi online secara rutin dengan berlangganan!

Selengkapnya...

Pokok Doa

1. Kita mengucap syukur untuk penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas rangkaian Gospel Rally, Seminar, dan Grand Concert Tour di Australia dan Selandia Baru pada akhir Oktober dan awal November ini.

Selengkapnya...

Tanggapan Terbaru
Dear Kartika. Seperti yg disampaikan di awal, Tuhan Yesus pun 'dipilih' Allah sebagai Juruslamat...

Selengkapnya...

Allah Tritunggal mengasihi manusia tidak terbatas, hanya sebagai ciptaan kita manusia memiliki keterbatasan menerima...

Selengkapnya...

wuih mantap jiwa. sangat menjadi berkat bagi saya. terimakasih ya

Selengkapnya...

Bgm caranya sy bs memiliki buletin pillar edisi cetak?

Selengkapnya...

@David Chandra : kan kita sama2 mengerti bagaimana Tuhan memulihkan Gereja-Nya dari reformasi melalui Martin Luther...

Selengkapnya...

© 2010, 2019 Buletin Pillar | Hubungi kami | GRII | Kembali ke atas ▲